← Back to list

The Last TWO Year

Mylchehua · 2026-06-16 11:45 · 0 claps · 17.1 min read
Open on Medium ↗

The Last TWO Year

[Orang yang Tidak Terduga]

Rumah sakit selalu berbau sama. Gen sudah hafal aroma itu sejak ia berusia tiga tahun. Campuran antiseptik, udara pendingin yang terlalu kering, dan sesuatu yang tidak punya nama tapi selalu berhasil membuat seluruh tubuhnya merasa berat begitu melangkah masuk. Seperti gravitasi di sini bekerja sedikit lebih keras dari tempat lain. Seperti bangunan ini sendiri tahu bahwa orang-orang yang datang ke sini tidak pernah benar-benar datang dengan ringan. Delapan belas tahun. Itu usianya. Dan delapan belas tahun itu ia habiskan dengan ritme yang tidak pernah berubah seperti metronom tua yang tidak ada lagunya tapi terus berdetak. Rumah, rumah sakit, rumah sakit, rumah. Berputar dan berputar, tanpa benar-benar pergi ke mana-mana. Hari ini ia duduk di kursi tunggu koridor lantai empat, menunggu jadwal pemeriksaan yang selalu datang lebih lama dari yang dijanjikan. Jaketnya, abu-abu kedodoran yang sudah menemaninya tiga tahun, ia tarik lebih rapat meski termometer di dinding bilang suhu ruangan normal. Tubuhnya sudah lama tidak bisa dipercaya soal normal. Ia sedang mencoret buku catatannya dengan pola abstrak ketika dari seberang koridor, pintu laboratorium penelitian terbuka dan seseorang keluar sambil membawa berkas tebal dengan ekspresi yang paling tepat digambarkan sebagai marah secara intelektual. "Sepuluh miliar persen tidak masuk akal. Siapa yang merancang protokol ini, orang buta?" Gen mengangkat kepala. Remaja itu berdiri di depan pintu dengan jas lab putih yang terlalu longgar di bahunya. Rambutnya hitam dengan strip putih di tengah, berantakan dengan konsistensi yang membuat Gen tidak yakin itu disengaja atau tidak. Yang paling susah diabaikan adalah matanya. Tajam dengan cara yang tidak biasa. Mata seseorang yang terbiasa melihat sesuatu sampai ke lapisan paling dalam dan tidak berhenti sebelum sampai ke sana. Gen, yang sudah bertahun-tahun mengasah kemampuan membaca orang dari kebosanan yang akut, memutuskan orang ini menarik. "Kalau protes sama berkasnya," katanya cukup keras untuk menyeberangi koridor, "berkasnya nggak akan berubah, tahu." Orang itu menoleh. Matanya memindai Gen dengan cara yang tidak sopan tapi tidak bermaksud kasar, lebih seperti refleks, cepat dan kalkulatif. Lalu sesuatu di ekspresinya bergeser sedikit. "Aku tahu. Tapi mengekspresikan ketidaksetujuan secara verbal membantu mengklarifikasi pikiran." Ia melihat seragam rumah sakit di bawah jaket Gen. "Kamu pasien?" "Bintang emas buat kamu. Detektif ulung." "Kamu sakit tapi masih sempat sarkastik. Menarik." "Aku sudah sakit delapan belas tahun. Kalau nggak sarkastik, aku mau ngapain?" Dan di situlah sesuatu bergerak di wajah orang itu yang Gen kenal betul bedanya dari kasihan. Ia sudah hafal kasihan seperti orang hafal rasa obat yang terlalu sering ditelan. Ini berbeda. Ini lebih dekat ke rasa ingin tahu yang sungguhan. "Ishigami Senku. Riset farmakologi. Magang penelitian." "Gen Asagiri. Pasien tetap. Penghuni tidak resmi lantai empat." Senku duduk dua kursi dari Gen. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat. "Penyakit apa?" Pertanyaan itu biasanya membuat orang lain canggung lebih dulu dari yang ditanya. Tapi Senku menanyakannya langsung seperti bertanya soal cuaca, dan justru karena itulah terasa seperti bentuk rasa hormat yang tidak dibungkus. "Nama panjangnya bikin lidah keseleo. Intinya jantung dan paru-paru aku nggak bisa akur." "Defisiensi fungsi kardiopulmoner progresif?" "Versi gampangnya, iya." "Sudah berapa lama dalam penanganan?" "Sejak lahir." Gen tersenyum dengan cara yang sudah lama ia latih, ringan dan tidak mengundang belas kasih. "Aku ini edisi spesial. Cacat dari pabrik." Senku tidak tertawa, tidak juga terlihat tidak nyaman. Ia mengangguk pelan seperti menerima fakta baru, lalu mengetuk berkasnya. "Kamu bosan?" "Selalu." "Baik. Bantu aku cari kesalahan di protokol ini. Dua mata lebih baik dari satu." Gen menatap halaman penuh angka itu. Lalu menatap Senku. Lalu tertawa, bukan senyum yang ia latih, tapi tawa yang keluar dari tempat yang lebih dalam yang jarang ia buka untuk orang asing. "Kamu nggak normal ya, Ishigami." "Sepuluh miliar persen tidak. Apakah itu masalah?" "Nggak." Gen meraih berkas itu. "Sama sekali nggak." Begitulah awalnya. Tidak ada momen besar, tidak ada yang terasa seperti awal dari sesuatu yang penting. Hanya dua orang di koridor berbau antiseptik yang ternyata cocok dengan cara yang tidak keduanya antisipasi. Senku mulai muncul di lantai empat lebih sering dari yang jadwalnya perlukan. Gen tidak bertanya, Senku tidak menjelaskan, dan ada kenyamanan dalam aturan tidak tertulis itu. Gen memperhatikan hal-hal kecil karena memang itu yang ia lakukan. Cara Senku memperlambat langkah di koridor tanpa komentar. Cara kursi selalu ada di posisi yang sedikit lebih nyaman untuk kondisi pernapasan Gen sebelum ia tiba. Cara Senku tidak pernah menawarkan bantuan secara langsung tapi selalu ada di jarak yang tepat kalau diperlukan. Logika, katanya untuk segalanya. Tapi logika tidak bergerak seperti itu. Logika tidak memperhatikan hal-hal yang tidak diminta. Gen menyimpan pengamatannya dan tidak berkata apa-apa. Di akhir bulan kedua, Senku datang dengan ekspresi yang berbeda. Lebih serius, tablet di tangan, dan tanpa basa-basi. "Aku sudah membaca semua rekam medismu." Gen hampir menumpahkan jus jeruknya. "Senku, itu—" "Aku minta izin resmi dari kepala departemen. Semua prosedural." Senku meletakkan tabletnya di antara mereka. "Kondisi kamu lebih kompleks dari yang dijelaskan doktermu." "Aku tahu." "Kamu tahu?" "Aku bisa baca hasil EKG sendiri sejak umur dua belas." Gen menatap layar yang penuh angka-angka yang sudah hafal seperti hafal nama sendiri. "Aku tahu berapa lama waktu yang mungkin aku punya, Senku." Senku diam sebentar. Matanya bergerak antara data dan wajah Gen. "Ada jalur penelitian yang belum dieksplorasi. Senyawa kombinasi dari beberapa studi terbaru, kalau dikombinasikan dengan protokol yang tepat—" "Senku." "Secara teoritis bisa memperlambat progresi—" "Senku." Ia berhenti. Gen menatapnya. Ada sesuatu yang tumbuh di dadanya, hangat dan sedikit menyakitkan, seperti bagian yang sudah lama mati rasa tiba-tiba dialiri sesuatu. "Kenapa kamu mau repot-repot? Buat aku." Senku menatapnya dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. "Karena aku bisa," katanya. "Dan kalau aku bisa melakukan sesuatu dan memilih untuk tidak melakukannya, itu bukan logika. Itu kebodohan." Gen tertawa pelan. "Ishigami Senku, kamu ini manusia paling nggak romantis yang pernah aku temui." "Aku tidak mencoba romantis." "Tapi kamu berhasil." Gen menyandarkan kepala ke dinding, menatap langit-langit yang sudah ia hafal setiap retaknya. "Delapan belas tahun aku bolak-balik sini. Nggak ada yang pernah bilang ke aku bahwa mereka bisa melakukan sesuatu dan memilih untuk melakukannya. Biasanya mereka bilang maaf, kami sudah melakukan yang terbaik." Tenggorokannya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama yang tepat. Senku tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak, kaku dan canggung, tangan seseorang yang jauh lebih terbiasa memegang pipet daripada orang, dan meletakkan telapaknya di atas punggung tangan Gen. Tiga detik. Mungkin tidak sampai. Tapi Gen merasa itu lebih lama dari itu. "Aku belum bilang aku bisa menyembuhkan kamu," kata Senku. "Aku bilang ada jalur yang belum dieksplorasi. Data dulu, optimisme belakangan." Gen mengangguk. Matanya masih terasa hangat. "Oke. Data dulu." Malam itu, sendirian di kamarnya, Gen menatap langit-langit dan merasakan sesuatu yang belum pernah berbentuk seperti ini sebelumnya. Bukan harapan. Ia sudah terlalu lama berdamai dengan berbagai kemungkinan untuk membiarkan harapan tumbuh terlalu tinggi tanpa izin. Tapi sesuatu yang lebih hangat dari sekadar menerima. Lebih hidup dari sekadar bertahan. Baru kali ini, pikir Gen, ada seseorang yang melihat angka-angka di rekam medisku dan memilih untuk tidak berhenti di sana. Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala satu per satu. Gen tersenyum ke arahnya, dan untuk pertama kali dalam waktu yang lama, senyum itu tidak perlu dilatih dulu.

[Waktu yang Dipinjamkan]

Dua tahun berlalu seperti satu napas panjang yang tidak tahu kapan harus berhenti. Mereka mengembangkan ritme yang tidak pernah disepakati tapi terasa seperti perjanjian paling nyata yang pernah Gen miliki. Senku datang setiap hari. Pagi sebelum sesi lab, atau sore ketika matahari turun ke posisi yang membuat koridor lantai empat berwarna kuning tua, atau malam kalau eksperimen berjalan lama dan ia mampir sebelum pulang seperti itu hal yang lumrah. Gen tidak pernah menanyakannya dan Senku tidak pernah menjelaskannya dan itulah yang membuat semuanya terasa lebih nyata dari perjanjian mana pun yang pernah diucapkan dengan kata-kata. Mereka berbicara tentang segala hal. Tentang penelitian Senku yang perlahan bergerak semakin spesifik ke arah yang Gen tahu ditujukan untuknya. Tentang buku-buku yang Gen baca karena terlalu banyak waktu dan terlalu sedikit tempat yang bisa dikunjungi. Tentang teori-teori kecil yang Gen susun tentang orang-orang yang ia amati dari jendela kamarnya. "Wanita dengan tas merah itu," kata Gen suatu sore, menunjuk ke lobi bawah dari balik kaca jendela. "Dia datang tiga kali seminggu tapi bukan sebagai pasien. Sepatunya terlalu bagus untuk keluarga yang sedang masa sulit, tapi matanya terlalu lelah untuk seseorang yang tidak merasakan beban." Senku mengikuti arah pandangnya. "Kamu menganalisis orang asing sebagai hobi?" "Kamu menganalisis senyawa kimia sebagai hobi." "Itu menghasilkan data yang terukur." "Analisisku juga terukur. Satuannya saja yang berbeda." Gen memiringkan kepala. "Tebakanku, dia dokter dari luar kota yang pulang untuk neneknya yang sakit tapi tidak mau mengakui seberapa berat itu karena terbiasa menjadi yang kuat." Senku mengamati wanita itu sebentar. "Tidak bisa dibuktikan." "Tidak perlu dibuktikan untuk benar." Senku tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Gen sudah belajar membaca tanda-tanda kecil itu karena senyum Senku tidak pernah mudah, tidak pernah penuh, tapi ketika muncul selalu terasa seperti sesuatu yang dimenangkan bukan diberikan. Ada sore-sore yang terasa seperti milik mereka sendiri, terlepas dari jadwal pemeriksaan dan hasil lab dan semua angka yang mengitari hidup Gen. Sore ketika Senku membawa dua kopi dari kantin bawah dan meletakkan satu di meja tanpa komentar, lalu duduk dan membuka catatannya seperti itu hal yang paling normal di dunia. Sore ketika Gen tertidur di kursi dan terbangun dengan jaket abu-abunya yang diselipkan lebih rapi di bahunya, dan Senku tetap ada di kursi sebelah sedang membaca berkas dengan wajah yang tidak mengaku apa-apa. Gen tidak berkata apa-apa soal jaket itu. Senku juga tidak. Ada bahasa lain yang berkembang di antara mereka, bahasa yang tidak terdiri dari kata-kata dan justru karena itulah terasa lebih jujur. Tapi tubuh tidak pernah menunggu keputusan kepala. Kondisi Gen melemah dengan cara yang tidak dramatis dan justru karena itu terasa lebih kejam. Bukan jatuh sekaligus, tapi turun setahap demi setahap seperti air yang surut dari wadah yang retak kecil di bagian bawah. Napasnya lebih pendek. Energinya lebih terbatas. Episode kritis yang tadinya berbulan-bulan sekali kini datang lebih dekat satu sama lain, dan jarak antara dua hal yang buruk itu terus dipangkas tanpa izin. Senku melihatnya. Tentu saja melihatnya karena ia hafal setiap angka di rekam medis Gen seperti hafal rumus yang paling sering ia gunakan. Tapi mereka tidak membicarakannya secara langsung, tidak karena takut melainkan karena beberapa hal bisa diketahui bersama tanpa harus disuarakan, dan keheningan yang mengetahui itu berbeda rasanya dari keheningan yang menghindari. Sampai malam setelah episode yang cukup buruk untuk membuat Gen menghabiskan dua hari di unit perawatan intensif. Ketika Gen kembali ke kamarnya dan Senku muncul di pintu dengan ekspresi yang sengaja dibuat datar, Gen tidak perlu banyak melihat untuk tahu. "Kamu nggak tidur." "Aku tidur." "Senku." "Secukupnya." Kantung matanya lebih gelap. Rambutnya lebih berantakan dari biasanya, dan biasanya sudah berantakan. Jas labnya seperti tidak diganti. "Duduklah." Senku duduk di kursi yang sudah dua tahun menjadi miliknya, kursi yang bahkan sudah bergeser ke posisi sedikit lebih dekat dari pengaturan standar dan tidak ada yang pernah mengembalikannya. Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata. Di luar jendela, malam berjalan terus seperti biasa. "Penelitiannya berkembang," kata Senku akhirnya. "Senyawa kombinasi yang aku formulasikan bulan lalu menunjukkan respons yang menjanjikan pada model seluler—" "Senku." "Aku butuh tiga sampai empat bulan lagi untuk—" "Senku, lihat aku." Senku berhenti. Ia mengangkat kepala dan menatap Gen, dan di matanya yang selalu terlalu tajam itu, di balik semua kekakuan dan semua logika yang ia bangun seperti tembok, ada sesuatu yang terlalu manusiawi untuk disembunyikan sepenuhnya. Gen tersenyum. Sungguhan, tidak perlu dilatih. "Aku baik-baik saja. Hari ini aku baik-baik saja." "Kamu hampir—" "Tapi nggak. Hari ini nggak. Dan hari ini yang ada." Senku menatapnya lama, terlalu lama untuk seseorang yang tidak pernah betah diam tanpa alasan produktif. "Aku tidak suka variabel yang tidak bisa aku kendalikan," katanya akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasanya, lebih terbuka juga, mungkin tanpa ia sadari. "Aku tahu." "Dan kondisimu adalah variabel yang tidak bisa aku kendalikan sepenuhnya." "Aku tahu itu juga." Senku diam lagi. Kali ini lebih panjang. "Ini tidak efisien." Kata-katanya tidak terdengar seperti keluhan tentang sistem. Terdengar seperti seseorang yang baru menemukan bahwa ada hal-hal di dunia yang tidak tunduk pada cara ia biasa bekerja, dan menemukan itu jauh lebih menyakitkan dari yang ia siapkan. "Aku tidak bisa bekerja dengan baik kalau ada hal yang tidak bisa aku prediksi." "Hal apa?" Senku tidak langsung menjawab. "Kamu," katanya akhirnya. Satu kata, diletakkan ke udara dengan cara yang terasa seperti pengakuan yang tidak biasa keluar dari mulutnya, tapi keluar juga akhirnya. Gen menatapnya. Dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang hangat dan sakit dalam waktu yang sama. "Aku tahu," kata Gen pelan. Ia meraih laci meja di samping ranjangnya, membukanya pelan, dan mengeluarkan sesuatu yang sudah beberapa hari ia simpan di sana tanpa tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikannya. Gantungan kunci kecil. Manik-manik biru tua dan putih, dirangkai dengan benang yang tidak terlalu rapi, membentuk pola yang tidak simetris tapi jelas disengaja. "Ini," kata Gen, mengulurkannya ke arah Senku. "Aku buat waktu nggak bisa tidur beberapa hari lalu. Tangan aku perlu sesuatu yang dikerjakan kalau pikiranku lagi terlalu ramai." Senku menerimanya. Meneliti sebentar dengan ekspresi yang serius, seperti menganalisis sesuatu yang memerlukan perhatian penuh. "Polanya tidak simetris." "Aku tahu." "Kenapa tidak diperbaiki?" "Karena aku nggak mau." Gen bersandar ke bantal, menatap Senku yang masih membolak-balik gantungan kunci itu di antara jarinya. "Hal-hal yang tidak sempurna lebih jujur. Kalau aku bikin sempurna, kesannya kayak aku lagi pura-pura sesuatu." Senku diam sebentar, matanya masih di gantungan kunci itu. "Kenapa biru?" "Warna favoritmu kan? Biru tua." Gen mengangkat bahu ringan. "Aku perhatiin dari jaket yang kamu pakai waktu pertama kali kita ketemu. Kamu pikir aku nggak ngamat-ngamatin kamu?" Senku akhirnya mengangkat matanya, menatap Gen dengan ekspresi yang sulit dibaca tapi matanya bicara lebih dari yang biasanya ia izinkan. "Kamu sudah lama mau ngasih ini?" "Beberapa hari." Gen tersenyum tipis. "Aku nunggu momen yang pas. Tapi kayaknya momen yang pas itu nggak pernah datang sendiri, jadi ya sekarang aja." Senku tidak berkata apa-apa. Tapi tangannya menggenggam gantungan kunci itu dan tidak melepaskannya. "Aku tidak tahu bagaimana membalas sesuatu seperti ini," katanya akhirnya. "Nggak perlu dibalas." "Tapi—" "Senku." Gen memotongnya pelan. "Kamu sudah datang ke sini setiap hari selama dua tahun. Kamu sudah ubah seluruh arah penelitianmu karena aku. Kamu nggak tidur dua hari waktu aku di ICU." Suaranya turun sedikit. "Kalau itu bukan balasan, aku nggak tahu apa lagi yang kamu mau kasih." Senku menatapnya. Lama. Dengan cara yang berbeda dari cara ia biasa menatap sesuatu. Bukan cara menganalisis, bukan cara mencari data. Cara yang lebih sederhana dan justru karena itu terasa lebih besar. "Bawa itu ke mana-mana," kata Gen akhirnya, suaranya ringan tapi matanya tidak. "Biar aku bisa ikut ke tempat-tempat yang nggak bisa aku pergi." Tenggorokan Senku bergerak sekali. Ia memasukkan gantungan kunci itu ke saku jas labnya, bukan sembarangan, tapi dengan cara yang pelan dan disengaja, seperti meletakkan sesuatu di tempat yang sudah ia putuskan dari tadi. "Aku tidak berjanji akan selalu membawanya," katanya. Gen tahu itu bohong. Senku juga tahu bahwa Gen tahu. "Iya," kata Gen. "Aku tahu." Di luar jendela, langit sore berwarna campuran oranye dan ungu, jenis langit yang di hari lain mungkin biasa saja, tapi hari itu terasa seperti sesuatu yang ingin diingat. Tidak ada yang berkata apa-apa setelah itu untuk beberapa saat. Tapi ada sesuatu yang berubah di ruangan itu, sesuatu yang tidak kasat mata tapi terasa oleh keduanya, seperti dua hal yang sudah lama berada di orbit yang sama akhirnya mengakui bahwa itu bukan kebetulan. Ada satu momen yang Gen tidak pernah lupakan. Sore itu Senku datang lebih awal dari biasanya dan menemukan Gen sedang duduk di tepi ranjang, memandangi tangannya sendiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di luar jendela gerimis turun pelan, jenis gerimis yang tidak cukup lebat untuk disebut hujan tapi cukup untuk membuat segalanya terasa lebih sunyi. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Senku, duduk di kursinya. Gen diam sebentar. Kemudian, "Aku kadang mikir, kalau aku nggak sakit, aku jadi orang seperti apa." Senku tidak langsung menjawab. Ia melihat Gen, benar-benar melihat, dengan cara yang berbeda dari cara ia melihat data. "Aku tidak tahu orang seperti apa yang akan kamu jadi kalau kamu tidak sakit," kata Senku akhirnya. "Tapi aku tahu bahwa orang yang ada di depanku sekarang adalah orang yang paling menarik yang pernah aku temui. Dan itu bukan simpati. Simpati tidak ada dalam kosamataku." Gen menatapnya. "Itu cara kamu bilang kamu suka aku?" "Itu cara aku bilang fakta." "Bedanya tipis banget, Senku." "Memang." Gen tertawa, dan untuk beberapa menit gerimis di luar jendela terasa seperti latar yang pas, bukan untuk kesedihan tapi untuk sesuatu yang lebih tenang dari itu, sesuatu yang tidak perlu nama. Di hari lain, ketika Senku sedang menjelaskan perkembangan penelitiannya dengan panjang lebar dan Gen mendengarkan setengah terpejam, tiba-tiba Gen berkata: "Senku, kalau kamu nggak pernah ketemu aku, kamu tetap akan baik-baik saja kan?" Senku berhenti bicara. "Maksudnya?" "Maksudnya kamu tetap punya hidup yang lengkap. Penelitian kamu, karir kamu, semua itu tetap ada." Gen membuka matanya, menatap langit-langit. "Aku cuma mau mastiin kamu nggak butuh aku untuk jadi baik-baik saja." Senku diam cukup lama. "Pertanyaan itu tidak valid," katanya akhirnya. "Kenapa?" "Karena aku sudah ketemu kamu. Hipotesis tanpa variabel yang sudah ada tidak bisa diuji." Suaranya turun sedikit. "Dan aku tidak tertarik menguji dunia di mana aku tidak ketemu kamu." Gen menutup matanya lagi. Senyumnya pelan. "Kamu terlalu pintar untuk bilang hal sesederhana itu." "Aku tidak bilang itu sederhana." Musim berganti. Kondisi Gen tidak ikut berubah ke arah yang lebih baik. Senku bekerja lebih keras dari sebelumnya. Gen bisa melihatnya dari hal-hal kecil yang Senku tidak sadari ia perlihatkan, dari kantung mata yang semakin dalam, dari cara bicaranya yang lebih cepat kalau sedang menjelaskan perkembangan, dari cara tangannya yang biasanya sangat tenang kadang terlihat kaku di sela jari seperti menahan sesuatu yang tidak bisa dirumuskan. Sampai satu sore ketika Gen memanggilnya untuk duduk dan berkata sesuatu yang sudah ia susun dalam kepalanya terlalu lama. "Aku mau bilang makasih." "Kalau kamu mau bilang menyerah—" "Bukan." Gen menggeleng. "Bukan itu. Aku mau bilang makasih." Ia memandangi tangannya di atas selimut, tangan yang lebih kurus dari dua tahun lalu, yang lebih mudah lelah, yang sudah banyak merasakan jarum dan dinginnya peralatan medis. "Delapan belas tahun aku bolak-balik sini dan dua tahun terakhir ini jadi dua tahun yang paling penuh. Paling terasa. Kamu nggak kasih aku harapan palsu. Kamu nggak kasih aku kasihan. Kamu kasih aku seseorang yang lihat aku bukan sebagai pasien dengan prognosisnya, tapi sebagai..." Gen berhenti sebentar, mencari kata yang tepat, "seseorang yang worth diperhatikan." Senku tidak berkata apa-apa. Tapi rahangnya mengeras sedikit, cara yang biasa muncul kalau ada sesuatu yang ia tidak mau tampakkan. "Kamu tahu kan," lanjut Gen, lebih pelan, "tentang gimana aku lihat kamu." "Aku tahu." "Dan kamu?" Senku memalingkan wajah sebentar. Sebentar saja, lalu kembali. "Data tidak bohong," katanya. "Dan semua datanya menunjuk ke satu kesimpulan yang sama." Matanya menatap Gen langsung. "Kamu." Gen tertawa kecil, matanya panas. "Itu cara paling Senku untuk bilang hal itu." "Memang cara Senku. Aku tidak punya cara lain." "Aku tahu." Gen meraih tangannya, ringan, singkat. "Itu juga yang aku suka."

Mereka duduk bersama dalam keheningan yang tidak terasa seperti kekosongan, tapi seperti sesuatu yang penuh dengan hal-hal yang tidak perlu diucapkan karena sudah diketahui oleh keduanya. Tiga minggu kemudian, di malam yang tidak ada yang minta, krisis itu datang. Tidak dengan dramatis. Tidak ada pertanda besar, tidak ada kesempatan untuk bersiap. Hanya napas yang tiba-tiba tidak mau diajak bekerja sama, monitor yang berbunyi dengan nada yang tidak boleh berbunyi, dan wajah-wajah yang bergerak cepat dengan ekspresi yang tidak perlu dijelaskan kepada seseorang yang sudah delapan belas tahun belajar membacanya. Senku ada di sana. Gen tidak tahu bagaimana dan tidak sempat bertanya. Yang ia tahu hanya bahwa ketika segalanya mulai terasa seperti televisi yang volumenya perlahan dikecilkan, ketika suara-suara di sekitar menjadi semakin jauh dan semakin samar, ia menemukan wajah Senku di antara semuanya. Dan ia bertahan di sana. Senku tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada formula, tidak ada data, tidak ada tentang penelitian yang masih berjalan dan enam minggu lagi dan senyawa yang menjanjikan. Tangannya menggenggam tangan Gen, kuat dan nyata, seperti seseorang yang memutuskan bahwa satu hal ini tidak akan ia lepaskan meski tidak punya kendali atas hal-hal lain. Gen tersenyum. Senyum terakhir yang ia miliki, ia berikan ke sana. Ke mata yang selalu terlalu tajam itu, yang di momen ini menjadi satu-satunya hal paling nyata di antara semua yang semakin samar. Makasih, kata Gen tanpa suara. Untuk semuanya. Senku menerimanya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya yang sangat logis, yang sangat terlindungi oleh angka dan rumus dan tembok yang ia bangun dari hal-hal yang bisa ia kendalikan, Ishigami Senku menangis. Tidak dengan suara. Hanya air mata yang mengalir seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan oleh tembok yang terlalu kuat, yang akhirnya menemukan retaknya sendiri dan mengalir lewat sana tanpa bisa dihentikan. Di luar jendela, malam berjalan terus seperti tidak terjadi apa-apa. Kota tetap bercahaya. Tapi di kamar itu, satu cahaya padam dengan cara yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh cahaya mana pun yang lain.

[Obat yang Terlambat Datang]

Lima tahun berlalu. Senku tidak pernah menjadi orang yang berdiam terlalu lama di satu tempat. Selalu ada eksperimen berikutnya, konferensi berikutnya, jalur penelitian berikutnya yang menunggunya. Hidupnya bergerak cepat karena ia membuatnya bergerak cepat, karena berhenti terlalu lama selalu terasa seperti membuang waktu yang tidak bisa dikembalikan. Tapi ada satu tempat yang ia kembali lagi dan lagi, dengan frekuensi yang tidak pernah ia akui kepada siapa pun. Ia datang hari ini bukan karena jadwal. Ia datang karena kemarin sebuah jurnal mendarat di mejanya, dan ketika ia membacanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang retak dengan cara yang tidak bisa ia rapatkan kembali sebelum ke sini terlebih dahulu. Makam itu ada di bagian pemakaman yang lebih sunyi. Pohon di sebelah kirinya tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu. Ada bekas bunga yang baru saja habis dibawa angin. Senku berdiri di depan batu nisan itu dengan tangan di saku. Angin bergerak. Matahari ada di posisi yang membuatnya harus sedikit menyipitkan mata. "Hei," kata Senku. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Gantungan kunci kecil dengan manik-manik biru tua dan putih, polanya tidak simetris, beberapa maniknya sudah pudar, benangnya kusam di satu ujung. Tapi masih utuh. Ia selalu membawanya, bukan di laci atau di kotak, tapi di sakunya, ke mana pun ia pergi, selama lima tahun. Ia menimbangnya di telapak tangan. "Jurnal kemarin," mulai Senku, suaranya datar seperti membacakan abstrak. "Ada tim dari Eropa yang mempublikasikan hasil uji klinis fase tiga. Senyawa kombinasi berbasis modifikasi reseptor kardiopulmoner." Jeda kecil. "Angkanya sangat bagus. Efektivitas delapan puluh tiga persen pada kasus dengan profil yang mirip kondisimu." Angin bergerak di antara pepohonan. "Senyawa dasarnya hampir identik dengan formulasi yang aku kembangkan waktu itu. Yang aku mulai kerjakan dua tahun sebelum kamu pergi." Nada bicaranya tidak berubah, tapi ada sesuatu di bawahnya, di lapisan paling dasar, seperti frekuensi yang tidak terdengar tapi terasa. "Artinya pendekatanku benar. Jalurku sudah benar dari awal." Tangannya menggenggam gantungan kunci itu lebih erat. "Mengapa baru sekarang." Bukan pertanyaan. Tiga kata yang diletakkan ke udara seperti batu yang terlalu lama digenggam dan akhirnya harus dilepaskan. "Kalau waktunya berbeda. Kalau sumber dayanya berbeda. Kalau kolaborasi ini sudah ada dua tahun lebih cepat saja." Suaranya turun ke nada yang tidak pernah ada di tempat lain selain di sini. "Aku sudah hitung semua variabelnya, Gen. Berkali-kali. Dan setiap kali hasilnya sama." Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Tidak perlu. Ia berdiri di sana dengan tangan yang tidak gemetar karena tubuhnya memang tidak punya kebiasaan itu, tapi cara ia menggenggam gantungan kunci itu adalah cara seseorang yang tidak ingin hanyut dan sedang mencari sesuatu untuk dipegang. "Aku masih ingat," katanya setelah diam yang panjang. "Waktu kamu tanya apakah aku akan baik-baik saja tanpa kamu." Suaranya tidak bergetar, tapi ada kualitas berbeda di sana, seperti seseorang yang sedang berbicara sangat hati-hati supaya sesuatu tidak pecah. "Aku bilang pertanyaan itu tidak valid karena aku sudah ketemu kamu. Waktu itu itu terasa seperti jawaban yang logis." Jeda. "Sekarang aku tahu itu bukan hanya logika. Itu juga jawaban yang paling jujur yang pernah aku berikan." Angin bertiup lagi. Bayangan pohon bergerak di rumput. "Orang-orang di lab baru tanya kenapa aku masih bawa ini." Jarinya menyentuh gantungan kunci itu. "Aku bilang itu pengingat metodologi. Bahwa pendekatan yang tidak sempurna masih lebih baik dari tidak ada pendekatan sama sekali." Suaranya turun, hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Mereka percaya itu. Kamu pasti akan ketawa." Ia menatap nama di batu nisan itu. Gen Asagiri. Diukir bersih, tanpa ornamen berlebihan, persis seperti yang pernah Gen sebut dalam obrolan yang terasa tidak penting waktu itu dan Senku simpan tanpa pernah bilang bahwa ia menyimpannya. "Aku tidak bisa tidak memikirkanmu," katanya. Bukan keluhan, bukan dramatis. Hanya fakta yang diakui. "Lima tahun. Seharusnya ada titik di mana pengaruh suatu variabel berkurang. Itu yang seharusnya terjadi secara statistik." Ia menggeleng pelan. "Tapi ada hal-hal yang tidak bekerja seperti model statistik mana pun yang pernah aku pelajari. Dan kamu adalah salah satunya." Diam lagi. Diam yang berbeda dari diam di koridor rumah sakit itu dulu, lebih berat di tepinya, tapi di tengahnya ada sesuatu yang sama, sesuatu yang tidak berubah meski lima tahun sudah berlalu. "Kamu pernah bilang," lanjut Senku, lebih pelan dari sebelumnya, "bahwa kamu senang karena sempat bertemu aku. Bahwa dua tahun itu jadi dua tahun yang paling penuh." Rahangnya mengeras sedikit. "Aku tidak pandai dengan kata-kata seperti itu. Kamu tahu itu. Tapi kalau aku bisa meminjam caramu bicara sebentar—" ia berhenti, menarik napas pendek, "dua tahun itu juga jadi dua tahun yang paling berarti dalam hidupku. Dan aku tidak yakin ada yang akan menggeser itu." Ia mengembalikan gantungan kunci itu ke sakunya. Bukan di laci, bukan di kotak. Di saku, seperti biasa. "Ini tidak efisien," katanya, mengulang kata-kata dari dulu, tapi dengan nada yang berbeda sekarang. Bukan penolakan. Lebih seperti penerimaan yang masih dalam proses, yang mungkin tidak akan pernah selesai, dan ia sudah mulai berdamai dengan kemungkinan itu. "Tapi sepertinya beberapa hal memang tidak dirancang untuk efisien." Ia berdiri di sana beberapa saat lagi. Membiarkan angin bergerak. Membiarkan dirinya ada di sini tanpa terburu-buru, tanpa eksperimen berikutnya, tanpa versi dirinya yang tidak pernah berhenti berlari. Hanya di sini. Di depan nama yang tidak bisa ia hapus dari ingatan mana pun yang ia miliki. Beberapa menit yang tidak ia hitung. Lalu, seperti biasa, ia berbalik dan berjalan pulang. Gantungan kunci bermanik biru tua dan putih ada di sakunya, mengikuti setiap langkahnya. Polanya tidak simetris, beberapa warnanya sudah pudar. Lebih menarik gitu, pernah kata seseorang, dengan senyum yang tidak perlu dilatih. Senku tidak pernah membuktikan bahwa itu salah. Dan mungkin tidak akan pernah mencoba.

-TAMAT.


메타데이터
post_id
c3b6b876d2b7
slug
the-last-two-year-c3b6b876d2b7
url
https://medium.com/@mygky/the-last-two-year-c3b6b876d2b7
canonical_url
https://medium.com/@mygky/the-last-two-year-c3b6b876d2b7
author_url
https://medium.com/@mygky
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11