← Back to list

Apa Salahnya 1001 Gereja?

Protes terhadap segala diskriminasi hak berlembaga dan bernaung umat Kristen.

pneumadina · 2026-04-15 22:44 · 60 claps · 3.4 min read
#agama #religion #kristen #islam #ham
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General 🕊️ · Religion

Apa Salahnya 1001 Gereja?

Photo by Kevin Grieve on Unsplash

Photo by Kevin Grieve on Unsplash

Penulis: AskingTheo Kategori: Opini Tema: Agama

Disclaimer: Saya bukan umat Kristen dan tulisan ini bukan atas dasar kepentingan “gereja”-isasi (kalau ada istilah demikian). Tulisan ini memprotes penyegelan dan penggerudukan paksa gereja-gereja ataupun rumah-rumah doa Kristen, di antaranya:

Tulisan ini memprotes segala tindakan diskriminatif pada gereja-gereja dan rumah-rumah doa Kristen, di antaranya:

Telinga saya “kebakaran” mendengar dalih-dalih menjijikan yang melarang pembangunan ataupun kegiatan peribadatan kalangan minoritas, terutama dalih “tidak/belum ada surat izinnya”. Saya balas dengan tulisan ini supaya oposisi-oposisi kedamaian bisa ikut kebakaran jenggotnya. Saya lupa: orang-orang intoleran itu TTa: Tuli dan Tuna-aksara.

Cacat pikir dan cocoklogi dengan dalih “belum punya IMB (izin mendirikan bangunan)” justru menelanjangi egosentrisme kaum diskriminatif dan takfiri itu sendiri. Mari kita balikkan dengan fakta dan data bahwa 85 persen rumah ibadah di Indonesia tidak punya IMB. Jumlah terbanyaknya? Masjid.

Dari 85 persennya, apa mayoritas terbanyaknya? Masjid dan musala! Sungguh ironis, bukan?

Lantas, dengan jumlah sebanyak itu, apakah kita perlu balas dendam dengan menutup paksa dan bakar saja kubah-kubah berwarna-warni itu? Jelas tidak! Yang perlu kita protes adalah birokrasi dan prosedur perizinan di negeri kita yang belibet dan lama.

Baca data berikut ini, kalau tidak percaya: https://indonesia.ucanews.com/2013/04/10/85-persen-rumah-ibadah-tak-berizin-mayoritas-masjid/

Biarkan saja semua rumah ibadah beroperasi secara sehat dan lancar sembari menunggu proses rilis IMB-nya muncul. Mau itu padepokan, kuil, candi, gereja, masjid, dan seterusnya. Selama rumah-rumah ibadah tersebut tidak menggelapkan dana, menindas, mempraktikkan kriminalitas, mendoktrinkan ekstremisme-terorisme, dan semacamnya, tentu tidak masalah! Bukankah sesama penganut agama, etnis, bangsa, spesies, dan bahasa seharusnya saling suportif dan toleran?

Begitu pula dengan pesantren yang mana jumlahnya lebih gila-gilaan lagi. Saat ini, hanya ada 50 pesantren yang memiliki IMB dari 42.000 pesantren. Apakah 42 ribu pesantren tersebut harus kita grebek dan bakar saja?

Tidak percaya? Boleh cek data berikut ini: https://www.tempo.co/politik/menteri-pu-hanya-50-dari-42-ribu-pesantren-yang-memiliki-imb-2076982

Tergantung. Kalau ada paham, sistem, dan budaya yang tidak senonoh, hancurkan saja. Yang jelas, setiap lembaga pendidikan tidak boleh ada segala bentuk diskriminasi, penindasan, rasisme, etnosentrisme, dan paham ataupun gerakan apapun yang mengguncang ruang-ruang kedamaian di antara kita.

Saya menduga, kalau sebagian umat ekstremis baca tulisan ini, mereka akan marah-marah ke Universitas Paramadina, bukan Pneumadina — atau malahan Universitas Islam Madinah. Barangkali serupa dengan protes Trans Studio Mall Cibubur karena dicap feodal berjalan — padahal, yang bikin statement-nya itu Trans7.

Saya dengar-dengar, semua agama mengajarkan cinta dan kasih sayang. Lantas, yang menyegel, mempersekusi, diskriminatif, intoleran, dan egois itu apa dan siapa? Bukankah mereka juga mengaku-ngaku sebagai umat “beragama”? Agamanya di mana dan apa? Umat Islam yang sedang membaca tidak perlu tersinggung — karena dari kasus-kasus di atas, hampir seluruhnya dari kalangan umat Islam yang intoleran. Saya haqqul yaqiin, masih banyak umat Islam yang sangat toleran kepada sesama.

Di tulisan sini, tidak ada penyerangan terhadap umat Islam, kecuali kaum takfiri, eksklusif, dan intoleran yang saya rasa sangat jauh dari Islam yang saya kenal. Orang-orang ekstremis seperti Abdul Rasyid yang menolak pengoperasian gereja di Teluknaga perlu dinista karena mencoreng nama baik Islam. Ia telah “murtad” karena batinnya telah menolak kebijakan Piagam Madinah yang dibangun nabinya sendiri, yang menjamin kesetaraan hak kaum-kaum marjinal seperti Yahudi dan Kristen untuk hidup bersandingan secara harmonis.

Sumber-Sumber:


메타데이터
post_id
c3dbb2013d13
slug
apa-salahnya-1001-gereja-c3dbb2013d13
url
https://medium.com/@pneumadina/apa-salahnya-1001-gereja-c3dbb2013d13
canonical_url
https://medium.com/@pneumadina/apa-salahnya-1001-gereja-c3dbb2013d13
author_url
https://medium.com/@pneumadina
status
ok
fetched_at
2026-06-11 10:13:20