10 Tembang Kenangan Favorit dari Didi Kempot
Mengenang 6 tahun berpulangnya Sang Maestro
10 Tembang Kenangan Favorit dari Didi Kempot
Mengenang 6 tahun berpulangnya Sang Maestro

“Umpamane kowe uwes mulyo…” ~Mulyono
Sebagai wong Solo yang menghabiskan masa kecil dan tumbuh besar di tanahnya, pasti secara sengaja atau tidak sengaja pernah mendengarkan tembang dari Didi Kempot. Sependek ingatan saya, sewaktu saya kecil dulu bapak dan ibuk kerap nyetel radio yang memutarkan lagu-lagu putra seniman tradisional Ranto Gudel tersebut (Nama Ranto Gudel muncul dalam lagu JHF-Cintaku Sepahit Topi Miring). Konon di beberapa daerah di Jawa Tengah dan DIY, banyak radio-radio lokal yang memiliki segmen siaran tersendiri, khusus untuk memutarkan lagu-lagu pelantun “Cucak Rowo” ini.
Saya pun tak sengaja mendengarkan lagu-lagu beliau, dan tanpa sengaja hafal di luar kepala. Sebut saja nomor-nomor seperti “Stasiun Balapan”, “Jambu Alas”, “Kuncung”, “Nunut Ngiyup”, hingga “Cintaku Sekonyong-Konyong Koder” mengudara lewat radio dan masuk telinga saya. Lagu-lagu beliau secara tidak langsung turut menyemarakkan masa kecil saya, walaupun saya belum sepenuhnya mengerti. Hanya bermodal enak di telinga dan mendengarkannya sambil lalu. Sampai saat ini pun, saban mendengarkan lagu beliau kenangan akan masa kecil dan kehidupan yang masih baik-baik saja yang terputar di kepala.
Didi Kempot merajai genre campursari dan keroncong dangdut (congdut) pada masanya. Hingga 2019 karya-karyanya makin melejit — termasuk tampil di Synchronize Fest — setelah makin banyaknya kawula muda yang turut mendengarkan lagu-lagu beliau. Mereka dengan bangga mengkultuskan diri sebagai sobat ambyar atau sad boys. Puncaknya ketika beliau mendapat sebutan Lord dan julukan agung sebagai The God’s Father of Broken Heart. Mengingat lagu-lagu yang beliau tulis memang tercipta untuk mewakili perasaan patah hati yang pasti pernah dirasakan oleh tiap-tiap insan di dunia.
Lirik-lirik pada lagunya yang sederhana, jujur, bahkan kelewat apa adanya menjadikan pendengar merasa terwakilkan. Nyatanya tidak perlu lirik yang ndakik-ndakik dan penuh metafora hanya untuk menyentil hati para penikmat lagu. Hal inilah yang dapat digapai oleh lirik lagu berbahasa daerah — dalam hal ini bahasa Jawa — untuk mewakili perasaan para pendengarnya — yang juga berbahasa Jawa. Sebuah daya yang belum tentu mampu disentuh oleh lirik-lirik lagu berbahasa lain.
Lagu-lagu Didi Kempot memang banyak mengangkat isu patah hati dan kemelaratan dalam waktu yang sama. Sebut saja seperti lagu “Aku Dudu Rojo” dan “Cidro” yang menelurkan lirik-lirik legendaris. Kegagalan cinta dan kemiskinan menjadi duet mematikan dalam menciptakan lagu yang begitu nggrantes. Nelangsa. Maka, tak heran siapapun yang mendengarkan lagu-lagu ambyar pemilik nama asli Dionisius Prasetya ini, akan merasakan patah hati luar biasa. Sekalipun sedang tidak jatuh cinta. Saya rasa hanya beliaulah yang memiliki ‘kekuatan’ itu, membuat orang mengalami patah hati bahkan tanpa repot-repot merasakan kasmaran lebih dulu. Lagu-lagunya adalah buaian, liriknya adalah mantra yang sangat memfasilitasi pendengar untuk merayakan cabarnya hati.
Daya itulah yang membuat saya merasa lebih fasih menghayati dan mudah terhubung dengan karya-karya adik Mamiek Prakoso — pelawak senior Srimulat — itu. Kesamaan bahasa, budaya, dan keresahan mungkin menjadi faktor utama mengapa lagu-lagu beliau terasa lebih greget di hati. Mungkin juga karena perangkat musik yang tercampur dan lirik yang tersari dengan apik. Saya secara personal lebih menyukai lagu-lagu Didi Kempot versi lawas. Pure campursari. Versi original yang lebih menyayat ketimbang versi yang dikenal publik sekarang — yang mendapat sentuhan dangdut koplo.
Selain gaya vokalnya yang nyeni dan njawani, serta kepiawaiannya dalam berterus terang lewat lagu, Didi Kempot juga pandai menggunakan nama-nama tempat sebagai latar cerita dalam lagunya. Sebut saja seperti, “Stasiun Balapan”, “Terminal Tirtonadi”, “Tanjung Emas Ninggal Janji”, “Parangtritis”, hingga “Pantai Klayar”. Walaupun premis di mayoritas lagu Didi Kempot ialah perasaan sedih seorang laki-laki yang ditinggal pergi sang pujaan hati, tetapi setiap judul lagu memiliki ‘energi’ yang berbeda. Setiap lagu — meski dengan premis yang sama — memiliki sisi unik yang tidak dapat digantikan atau diwakilkan satu sama lain. Dan yang tak kalah penting, lewat premis dan lagu-lagunya, Didi Kempot merobohkan tembok maskulinitas laki-laki yang diharuskan selalu tangguh dan kuat. Dalam lirik-liriknya, penyanyi kelahiran 31 Desember 1966 ini memperbolehkan bahkan mewajarkan cah lenang untuk menangis.
…
Ada banyak penyesalan dalam hidup saya, salah satunya adalah belum atau tidak sempat bertemu bahkan menghadiri konser Didi Kempot secara langsung. Walaupun begitu, pernah bertemu secara langsung atau tidak, karya dan jasanya pantas untuk dikenang.
Saya pun enggan menambah daftar penyesalan saya dengan tidak membahasnya satu kalipun dalam tulisan saya. Maka, berikut ini tulisan yang dibuat untuk mengapresiasi eksistensi beliau dan karyanya. Saya rangkum dalam 10 deretan lagu sang maestro yang memiliki tempat di hati saya.
10. Parangtritis
Bagian terbaik:
//Rasane kepengen nangis yen kelingan Parangtritis, ning ati koyo diiris//
Intro lagu ini memiliki sisi jenaka tersendiri bagi saya. Tak luput, nada dan melodi “Parangtritis” pun dibawakan dengan ceria. Terlampaui ceria untuk lagu yang bercerita tentang kehilangan dan patah hati. Namun, anehnya saya amat menyukai paradoks seperti itu.
Rima yang sangat rapi dalam lagu ini sudah sepatutnya mendapatkan standing ovation. Rima yang sangat sedap dinyanyikan. Tak sekadar penambah nilai estetika, rima dalam “Parangtritis” menjadi ‘roh’ yang membuat lagu ini hidup.
Karena dibalut dengan nuansa yang cerah, bukannya sedih yang kamu rasakan ketika menikmati lagu ini, melainkan kegembiraan dan rasa kebahagiaan yang aneh tetapi manis.
9. Ketaman Asmara
Bagian terbaik:
//Bingung rasane atiku, arep sambat nanging karo sopo//
//Wes tak lali-lali, malah sansoyo kelingan//
Diawali dengan bebunyian alat musik yang padu sekaligus sendu, “Ketaman Asmara” menceritakan perasaan gundah gulana seseorang yang tengah jatuh cinta. Alih-alih menggunakan rangkaian nada yang gembira, Didi Kempot memilih alunan nada yang pelan nan syahdu untuk menyuratkan keresahan orang yang sedang ‘ketaman asmara’. Suara vokal dan gaya pembawaan Didi Kempot di sini memiliki nuansa yang jauh lebih kelam bila dibandingkan dengan titel lainnya. Lagu ini terasa sangat cocok diputar untuk menghantarkanmu menuju pulau kapuk.
8. Kalung Emas
Bagian terbaik:
//Lara atiku, atiku kelara-lara. Rasane nganti tembus ning dada//
//Nangisku iki mergo kowe sing njalari, kebangeten apa salahku iki? Apa dosaku iki?//
Berbeda dengan lagu-lagu lainnya yang menggunakan nama tempat sebagai simbol peristiwa kehilangan, “Kalung Emas” menempuh jalan lain. Seperti judulnya, kalung emas pada lagu ini menjadi tanda kasih dan sayang. Sebuah benda yang biasanya diberikan oleh seseorang kepada yang terkasih. Pihak yang memberi pun secara tidak langsung meminta agar pemberian tersebut dijaga dengan baik. Namun, bagaimana jika sang kekasih tidak merawat kalung tersebut dengan baik? Bagaimana jika warna emas pada kalung itu dibiarkan luntur begitu saja? Peristiwa itulah yang sekiranya dipotret oleh lagu ini, lunturnya kalung emas perlambang lunturnya cinta itu sendiri.
7. Terminal Tirtonadi
Bagian terbaik:
//Aku kangen, kangenku mung kanggo kowe//
Dibuka dengan intro yang ringan yang menggugah, “Terminal Tirtonadi” menjadi saksi bisu lainnya Didi Kempot ditinggal sang kekasih. Mengambil latar terminal Tirtonadi, pria yang kerap menggunakan gaya rambut gondes (gondrong ndeso) ini seakan memberi tahu bahwa di setiap tempat dapat menjadi arena perpisahan. Di mana pun itu termasuk terminal.
Terdapat perubahan tempo dari cepat menjadi lambat yang cukup menarik pada larik, wis suwe wis suwe wis suwe kangen sing tak rasakke. “Terminal Tirtonadi” menjadi tembang ringan yang tentu saja makin khidmat apabila diputar ketika kamu dalam suatu perjalanan via bus. Duduk dekat jendela sembari mengamati air hujan yang menggaris. Niscaya kamu pun ikut menangis.
6. Stasiun Balapan
Bagian terbaik:
//Da… dada sayang, da… selamat jalan//
//Lali opo pancen nglali, yen eling mbok enggal bali//
Sebagai wong Solo, Didi Kempot sering menggunakan tempat-tempat ikonik di Solo sebagai latar tempat cerita dalam lagunya. Tak terkecuali Stasiun Balapan. Lagu “Solo Balapan” seakan memiliki daya magisnya sendiri, terbukti setiap kali saya hendak naik KRL dan berangkat dari Stasiun Balapan, ketika membaca tulisan Stasiun Balapan dunia seakan melambat sejenak. Di depan saya tergambar jelas seorang pemuda yang baru saja melepas kekasihnya naik kereta. Pemuda itu melambaikan tangan dengan tersenyum, tak tahu bahwasannya kekasihnya tak kan kembali lagi ke pelukannya.
5. Tanjung Mas Ninggal Janji
Bagian terbaik:
//Bebasan kaya ngenteni, udan ning mangsa ketiga. Senadyan mung sedela, ora dadi ngapa penting iso ngademke ati. Semana uga rasane atiku mung tansah nunggu tekamu//
Lagi, sang maestro melibatkan tempat pemberhentian sekaligus pemberangkatan transportasi dalam lagunya. Dan kali ini Tanjung Mas sebagai saksi seorang kekasih meninggalkan janjinya, dan seorang yang lain datang menagih janji. Dibuka dengan intro yang sedikit menipu, “Tanjung Mas Ninggal Janji” seolah akan membawa pendengar pada lirik-lirik nan bahagia. Nyatanya tidak, hanya lirik lirik patah hati yang didapat. Ada bunyi instrumen yang selalu enak didengar, terletak pada bagian setelah lirik Ning Pelabuhan Tanjung Mas kene, biyen aku ngeterke kowe dan sebelum ning Pelabuhan Semarang kene, aku tansah ngeteni kowe.
Majas simile yang digunakan dalam lagu ini pun, lancang rasanya kalau tidak dibicarakan. Terletak pada bait pertama lagu yang berbunyi, bebasan kaya ngenteni udan ning mangsa ketiga. Lirik tersebut menyimbolkan betapa sulit — bahkan mustahil — untuk bertemu orang yang sudah melupakan kita. Layaknya sulit menunggu hujan turun di tengah-tengah kemarau panjang.
4. Sewu Kutha
Bagian terbaik:
//Wes tak coba nglalekake jenengmu seka atiku, sak tenane aku ora ngapusi isih tresna sliramu//
//Yo mung siji dadi panyuwunku, aku pengen ketemu. Senadyan sak kedheping mata, tak nggo tamba kangen jroning dada//
Sebuah tembang dari Didi Kempot yang menggambarkan perjuangan mendapatkan sekaligus melepaskan kekasih dalam waktu yang sama. Lirik, yo mung siji dadi panyuwunku, aku pengen ketemu senadyan sak kedheping mata, tak nggo tamba kangen jroning dada mengandung arti kerinduan yang begitu sederhana dan kelewat tulus. Ibarat sudah lama tidak bertemu dengan kekasih, hanya melihatnya sedetik saja sudah bisa membuat senang. “Sewu Kutha” mengajarkan makna mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Legowo.
3. Cidro
Bagian terbaik:
//Gek, opo salah awakku iki? Kowe nganti tego mblenjani janji. Opo mergo kahanan uripku iki, mlarat banda seje karo uripmu//
//Aku nelangsa mergo wes kebacut tresno//
Pilu, begitulah satu kata yang rasanya dapat mewakili perasaan saya tiap kali mendengarkan “Cidro”. Jikalau lagu-lagu ambyar Didi Kempot adalah rakyat-rakyat kecil, maka “Cidro” sangat pantas menduduki tahta sebagai raja. Rajanya lagu ambyar sang maestro.
Lirik mana yang lebih jujur dari, opo mergo kahanan uripku iki, mlarat banda seje karo uripmu. Saya tidak bisa berhenti mengagumi cara Didi Kempot berterus terang di lirik lagu-lagunya, utamanya “Cidro” ini. Lirik jujur, lugas, dan apa adanya lebih mampu menyentuh ke inti hati paling dalam.
Namun, di antara kokohnya lirik yang menyuratkan patah hati, terdapat lirik yang perlu ditebalkan menggunakan stabilo, opo ora eling nalika semono, kebak kembang wangi jroning dada. Kalimat kebak kembang wangi jroning dada tentu menyiratkan perasaan senang dan jatuh cinta. Sebuah metafora yang ciamik di tengah lirik lainnya yang teramat nestapa.
2. Banyu Langit
Bagian terbaik:
//Janjine lungane ra nganti sue-sue, pamit esuk lungane ra nganti sore. Janjine lunga ra nganti semene suene, nganti kapan tak enteni sak tekane//
Sebuah ode yang akan mengantarkan air matamu brebes mili dengan sukarela. Seperti tajuknya, “Banyu Langit” akan makin terasa nyes di hati ketika didengarkan sewaktu hujan turun. Kedalaman lirik yang menggabungkan antara peristiwa turunnya hujan dengan patah hati ditinggal kekasih. Sebuah kombo maut yang memabukkan. Instrumen yang digunakan untuk mengiringi “Banyu Langit” pun hanya menambah sayatnya hati.
Unsur geografis yang rinci, seperti Gunung Merapi Purba, Nglanggeran, Wonosari Yogyakarta entah mengapa menjadi ‘nyawa’ tersendiri bagi lagu ini — dan vokal Didi Kempot tentu saja. Makin terasa nyata. Indah tak terperi.
Jikalau ada kata yang lebih indah dari kata indah itu sendiri, saya akan menggunakannya untuk terus menghaturkan puja-puji bagi lagu yang mampu ngeridu ati ini.
1. Layang Kangen
Bagian terbaik:
//Umpama tanganku dadi suwiwi, iki uga aku mesti enggal bali//
//Percaya aku kuatno atimu, cah ayu entenono tekaku//
Melankolis nan romantis, dua kata yang mampu menggambarkan “Layang Kangen” dengan sempurna. Intro yang terdengar seperti alunan seruling, membuai telinga dengan merdu. Seakan meminta pendengar untuk mendengarkan lagu sampai habis. Berbeda dengan lagu Didi Kempot lainnya yang bernuansa patah hati, lirik “Layang Kangen” menggambarkan kerinduan sepasang kekasih yang disimbolkan dengan surat. Klasik, tetapi mengandung romansa tingkat tinggi. Saya sebagai seseorang yang senang menerima surat tulisan tangan pun turut trenyuh tiap kali mendengarkan dendang ini.
Majas simile yang digunakan dalam lirik, umpama tanganku dadi suwiwi iki ugo aku mesti enggal bali terasa pas dan tiada berlebihan. Di sini kejeniusan beliau dalam berimajinasi terlihat, dengan mengandaikan diri memiliki sayap demi menemui sang kekasih.
Dari mukadimah hingga bunyi pamungkas lagu ini, sepertinya memang diciptakan untuk memanjakan indera pendengaran. Apalagi, jika didengarkan sembari menutup mata, niscaya surga kecil seakan kamu rasakan sekitar 4 menit 32 detik bersamaan dengan berakhirnya lagu ini.
메타데이터
- post_id
- c3e45cdb5d8b
- slug
- 10-tembang-kenangan-favorit-dari-didi-kempot-c3e45cdb5d8b
- url
- https://medium.com/@majassinestesia/10-tembang-kenangan-favorit-dari-didi-kempot-c3e45cdb5d8b
- canonical_url
- https://medium.com/@majassinestesia/10-tembang-kenangan-favorit-dari-didi-kempot-c3e45cdb5d8b
- author_url
- https://medium.com/@majassinestesia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-18 07:02:39