Kutukan Pria Tampan
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Kutukan Pria Tampan
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
[embed]
Akhir akhir ini, saya sedang terpikir seorang pria. Sulit rasanya untuk tidak memikirkan orang ini. Pacar saya? Alhamdulilah kalau iya sih (Gimana, apakah ada malaikat yang mau bilang : “Aamiin” untuk hal ini?), tetapi saya pasti halu. Gak apa apa lah,ya,sesekali halu, seperti para Gen Z yang berhalusinasi menjadi pacar dari bintang k-pop mereka, yang menurut saya bintang-bintang tersebut agak alay sih. Sorry to,say, anyway.
Mohon maaf jika judul ini agak sarkas. Barangkali, sempat tinggal di Jakarta selama sekian tahun membuat saya memaknai hidup dengan lebih sarkas. Lebih baik sarkas dan straight to the point, tetapi tetap sopan tanpa harus menyindir, memfitnah dan membicarakan dari belakang, bukan? Bukan, bukan. Ini juga bukan tentang seorang pria yang dikutuk. Hanya sebuah sarkasme.
Pria yang saya maksud adalah penyanyi dan atau musisi yaitu Afgan. Afgan Syahreza, seorang pria yang tak lagi berkacamata dan lahir dari keluarga intelektual karena orang tuanya bekerja di dunia kedokteran. Sempat kuliah di Malaysia dan menghasilkan beberapa album dengan berbagai lagu hits-nya.
Mesmerized
Sekitar tahun 2012/2013, saya sebenarnya pernah menonton konser pria ini. Sebenarnya, tak ada keinginan untuk menonton dan tidak mengetahui sama sekali bahwa pria ini akan menyanyi di sana. Ada beberapa musisi lain seperti Raisa dan RAN. Kedua musisi ini, yaitu Raisa dan Afgan, seingat saya, masih sedang meniti karir di awal mereka berkarya. Keduanya bahkan sealmamater, bukan? What a coincidence!
Jika tidak salah, saat itu saya duduk di barisan terdepan. Mungkin semacam VVIP. Lalu, saya berdiri dan mengulurkan tangan. No effort at all. Tidak berlari atau berebutan untuk bersalaman. Ia turun ke bawah panggung dan menyanyi dari ujung kanan ke ujung kiri saya. Lalu, kedua tangan kami bertemu. Ah elahh! Saya tidak memiliki effort sama sekali karena mendapatkan kesempatan itu secara gratis. Tidak membayar sama sekali.
Saat itu, saya belum menyadari bahwa ada penyanyi pria yang akan memiliki lagu-lagu hits di masa depan. Hanya sekedar mengetahui bahwa ada penyanyi pria berkacamata dengan lagunya berjudul “Terimakasih Cinta.” Menurut saya, dengan tren penyanyi saat itu, penyanyi pria berkacamata akan sulit diterima di tengah pasar musik Indonesia. Mengapa? Karena seingat saya, sangat sedikit penyanyi pria berkacamata dapat memiliki karir bermusik yang panjang. Barangkali karena wajahnya tampan, penonton lupa stigma itu.
Seiring sejalannya waktu, terutama di umur yang masih muda sekitar 20-an saat itu, of course, saya sering mendengarkan lagu-lagunya. Tentu saja, pada akhirnya, saya menjadi fans nya, salah satu fans cewek di antara sekian fans cewek seindonesia.
My Shifting Perspective
Sebenarnya, tahun 2017 adalah titik poin perubahan perjalanan islam dalam hidup saya. Pandangan saya mengenai hal ini, yaitu mendengarkan music, agak sedikit berubah. Ada dua kutub perbedaan antara beberapa kelompok ulama/muslim scholars mengenai musik.
1)Mereka menganggap bahwa musik itu hukumnya adalah mubah
Pandangan ini lebih kurang berlaku di Indonesia. Hal ini mengingat masyarakat juga banyak yang mendengarkan dan menonton pertunjukan musik. Sangat sedikit ulama/ustadz/ muslim scholars yang mengatakan bahwa musik itu haram di negeri ini. Bahkan, ada industri musik di Indonesia yang sudah exist sejak sekian puluh tahun lalu.
2)Mereka menganggap bahwa musik itu hukumnya adalah haram
Kaget. Sebuah reaksi wajar yang mulai saya dapatkan setelah mulai mencari kajian islam dan sumber bacaan tentang pandangan Islam untuk menyanyi dan mendengarkan musik. Tahun 2017 adalah fase dimana saya meyakini hal ini. Pendirian saya sangat keras. Bagi saya, musik adalah haram. Ada beberapa alasan yang ternyata mendasari hal ini, sesuatu yang saya ketahui belakangan. Bukan maksud saya untuk sok tau dan sok pintar, tetapi, hal ini menjadi penting untuk diketahui.
a)Melawan alur hafalan Al Quran di Otak
Ya, ada jalur di dalam otak manusia yang dapat digunakan untuk menghafal. Di dalam Islam, hal ini seharusnya diperuntukkan untuk menghafal Al Quran dan bukan lirik lagu atau musik. Kemudian, teman laki-laki saya pernah berkata di tahun 2015 bahwa seorang penghafal Al Quran tidak akan pernah bisa menghafal lagu/musik secara bersamaan. Mengapa? Karena jalur untuk menghafalnya di otak adalah sama. Hal yang akhirnya saya pahami beberapa waktu belakangan. Mengapa? Karena saya pernah menghafal hampir semua surat-surat pendek di masa lalu. Nowadays? Lupa dong.
b)Ada hidden code or subliminal message di dalam sebuah lagu
Jika sudah memahami bahwa dunia ini digerakkan oleh sekumpulan elit-elit jahat global pemuja setan dan pendorong sistem palsu New World Order, maka mudah untuk mengerti bahwa ada salah satu metode mendorong NWO melalui industri musik. Sorry to say, but, the hidden code sangat mudah ditemukan dalam lirik, suara dan penampilan video musik atau pertunjukan musik. Lirik lagu negara-negara barat khususnya hollywood sangat-sangat kental dengan pemujaan pada setan dan bukan Tuhan. Bagaimana cara mengenalinya? Ada semacam metode membalik kata-kata di dalam lagu sehingga sebenarnya pendengar musik akan mendengar sekilas tentang ucapan untuk memuja setan atau mendorong penghambaan kepada Yang Bukan Pencipta. Apakah di Indonesia ada? Oh, jelas! Siapakah saja mereka?
Bagi penganut satanisme, kode tersembunyi ini ditujukan agar tidak mengakibatkan karma buruk kepada mereka di kemudian hari. Bagaimana bisa? Pendengar tidak akan menyadari bahwa sedang ada pemujaan setan pada lagu yang ia dengar. Menurut para penganut ini, dengan adanya kamuflase tentang lirik lagu, mereka sudah mengirim sindiran bahwa lirik lagu ini adalah untuk pemujaan pada setan. Bukan salah mereka jika para pendengar terbawa dengan lagu ini.
c)Bermusik adalah cara beribadah Nasrani dan Yahudi
Sorry to say, but, the way Nasrani and Jews worship are mostly thorugh singing songs. Sebenarnya, dalam hal lagu, yang dilakukan adalah menyanyi untuk memuja kebesaran Tuhan. Mereka menyanyikan lagu-lagu rohani sebagai bentuk cara ibadah untuk memuji kebesaran, kebaikan dan cinta kepada Tuhan. Ya, cinta kepada Tuhan, sebuah konsep yang sangat alay, menurut saya, beberapa tahun lalu. Mengapa? Menurut saya, cinta hanya lah soal perasaan kepada lawan jenis.What a closed mind I had! I forget that love to parents, sibling, family members, friends, besties, plant, earth and animals do exist.
Sejak 2021/2022 hingga saat ini, baru lah saya memahami bahwa cinta kepada Tuhan itu benar-benar real. Sesuatu yang mungkin tak dapat semua orang rasakan, tetapi it does exist. Loving God is real. Para penganut nasrani dan yahudi rupanya mengingatkan saya bahwa terkadang manusia memang harus memuja dan mencintai Tuhan sedalam itu. Entah seperti apa bentuknya, saya juga tak tau. Bukankah soal kadar keimanan berisi cinta kepada-Nya tak dapat diukur oleh manusia, baik melalui timbangan, hitungan atau penggaris?
Pemusik beragama islam dianggap sejatinya sedang meniru cara ibadah penganut nasrani dan yahudi. Ya, itulah mengapa umat muslim sangat disarankan untuk tidak mendengar dan atau berprofesi sebagai musisi atau penyanyi atau semacamnya di dunia industri musik ini.
Meskipun demikian, berdasarkan ketiga poin tersebut, poin C ini lah yang membuat saya mulai melihat sisi lain musik yang sebenarnya digunakan untuk memuji Tuhan. Islam bahkan memiliki shalawat, semacam kata-kata berbahasa arab yang didendangkan. Hal ini tentu membuat saya mempertanyakan lagi apakah harus haram mutlak atau mubah? Sejauh ini, to be honest, saya masih sesekali mendengarkan lagu, tetapi dengan frekuensi yang tak sesering dahulu.
Apakah saya masih mendengarkan lagu milik pria ini? Oh jelas, masih! Akhir-akhir ini, lagu “Knock Me Out”, “Percayalah” dan “Kacamata” masih terngiang. Lagu “Kacamata” akan rilis pada 10 Oktober,ya, Kak Afgan? Good luck for that!
https://www.youtube.com/watch?v=booqXc9TWUg&list=RDbooqXc9TWUg&start_radio=1
His Talk : My Reflection
Pria ini rupanya sudah berumur 36 tahun dan sudah berangkat haji!
“Hah?” Itu saja reaksi saya saat mendengar hal ini dari podcast.
Fakta ini cukup mengagetkan. Why? He doesn’t look as old as the usual man we know. Selain itu, saya baru menyadari bahwa di dalam instagramnya ada semacam postingan tentang beasiswa Afgan untuk pendidikan mahasiswa(i). Sesuatu yang saya tidak menduganya. What an evolution he has!
Ya, evolusi usia dewasa. Sebagai pendengar lagu-lagunya, saya tidak pernah menyangka bahwa ia sudah berusia 36 tahun, akhirnya berangkat haji (tentu saja bukan haji reguler karena pasti perjalanan hajinya itu lebih mahal) dan memiliki kepedulian terhadap nasib pendidikan dari anak muda terpencil di Indonesia.
Rupanya, time goes by.
Dalam hal ini, saya tidak ingin melihatnya sebagai pria yang berprofesi sebagai musisi atau idola. Bukan. Saya ingin melihatnya sebagai manusia. Ya, MA-NU-SI-A. Just a normal human. Saya baru menyadari bahwa ternyata usianya pun bertambah. Sudah entah berapa tahun saya tidak mendengar lagunya. Seingat saya, yang terakhir kali saya dengar adalah lagu “Knock Me Out” dan “Percayalah.” Selebihnya, perspektif saya yang berubah tentang musik membuat saya jarang mengecek sejauh mana perjalanan musiknya dengan lagu-lagu barunya. Album “Sonder” yang menurutnya sangat personal pun baru saya ketahui beberapa minggu belakangan. Thanks to Youtube. You made me know it.
Selain itu, pengalamannya dalam berhaji termasuk persoalan menangis tentu sangat menggugah hati. Sangat menggugah hati bagi siapapun yang mendengar. Yes, Mecca and Madina are so wonderful. I read that there’s different energy and hidden magnet which is straight to the point above there : a heaven. So, that’s why muslims always get unexplainable feeling whenever they pray there. Jika setelah berhaji jadi mudah tersentuh dan menangis, sebenarnya, Tuhan sedang melembutkan hati anda, Kak Afgan! Jangan kaget. Semoga akan selalu begitu :)
Menjadi seorang muslim, menurut saya, adalah sebuah perjalanan personal. Saya sering menanyakan hal ini kepada seorang teman perempuan saya yang ada di kota lain. “Bagaimana perkembangan keagamaanmu?”, tanya saya. Mengapa saya tanyakan demikian? It’s simple. It’s a long journey. And I wanna share knowledge or Islamic journey to those who seek for it. Lagipula, saya terbiasa deep talk dengan beberapa sahabat dan teman akrab dalam circle saya. Tidak semua orang saya anggap bagian dari circle saya, sih. Hal yang paling penting sekarang adalah memiliki kualitas interaksi sosial dalam dunia persahabatan, pikir saya.
Ketika melihat percakapan di podcast tersebut, saya seperti melihat sisi awal diri saya di tahun 2017 lalu. Hanya saja, pandangan saya lumayan strict saat itu karena barangkali yang saya dengarkan adalah ustadz/ulama yang condong ke salafi, sesuatu yang sebenarnya masih sesekali saya dengarkan juga sampai sekarang. Pria ini merasakan amazed saat di Mekah dan Madinah, terutama saat beribadah. Ia juga mengatakan dengan humbly to say that he’s still learning islam. Good try, Kak Afgan. Silahkan dicoba mendengarkan kajian islam dari ustadz/ustadzah manapun di Youtube, mencari kajian islam dari teman-temannya, membeli dan membaca buku-buku terkait Islam atau mendengarkan ayat-ayat Al Quran dari Youtube. It’s easy, nowadays! It’s not too late to learn :)
Percakapan itu seperti sedang memutar kembali segala hal yang ada dalam perjalanan religius saya di awal tahun 2017. Apakah perjalanan yang saya maksud adalah haji? Oh, bukan! Saya tidak sengaja menemukan berbagai hal tentang kajian islam dan kaitannya dengan flat earth dan NWO. Ada sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saat menyadari banyak hal tentang Tuhan dan Islam.
Bahkan, ia mengatakan dalam perjalanan hajinya di Saudi bahwa ada seperti suara yang mengatakan agar tak terlalu banyak berharap pada manusia. Apakah itu? Oh, jelas, itu adalah suara dari malaikat/higher self/higher being/ruh nya sendiri. Di antara keempat pihak ini, siapa yang sedang bicara ke Afgan? Saya juga tidak tau! Kalimat itu seingat saya adalah ucapan dari Ali bin Abu Thalib, menantu Rasulullah yang memiliki kisah cinta loveable dengan putri Rasulullah, Fatimah Az Zahra. Uhuuui~
“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”, ucap Ali bin Abu Thalib. Sebuah kalimat yang sangat sangat jleb apalagi terkait relationship, bukan?
Barangkali, Afgan juga sedang diingatkan untuk membuka ayat Al Quran yaitu Surat Al Insyirah ayat ke-8.

Saya meyakini bahwa suara itu sebenarnya sedang berupaya menuntun manusia agar tidak keluar dari kompas-nya. Sebenarnya, hal semacam ini nanti akan datang kepada pencari Tuhan segera setelah melalui perjalanan religius. Ya, ini sudah masuk dalam perjalanan spiritual, menurut saya. Karena ini sudah berkaitan dengan spirit atau ruh. Barangkali, dalam hal ini, perjalanan religius dan spiritualnya sedang berjalan berbarengan. Itu artinya pria ini perlu belajar lebih jauh tentang syariat Islam. Mulai saja dulu dari hal kecil seperti shalat dan puasa. Lagipula, dengan beasiswa nya, itu sudah termasuk sedekah. Ia sedang menjalankan ibadah juga dengan berdonasi. Karena pria ini sangat berkecukupan, maka, sedekahnya tentu akan sangat bermanfaat bagi anak muda lain. Demi tunas-tunas bangsa, eaaaaa~
He has such good heart. No matter how rich he is, he gives his money to others. What a lovely human! Panjang umur kebaikan manusia.
Evolusi yang ia miliki sebagai manusia seperti menjadi jendela refleksi bagi saya. Bukan refleksi yaitu pijat, ya, tetapi ini mengenai melihat kembali ke dalam batin, ruh dan perjalanan hidup manusia. Barangkali, Afgan harus segera melakukan shalat taubat.
Mengapa harus mencari Tuhan dan bertaubat saat usia pensiun atau tua?, pikir saya dahulu. Bagaimana jika dimulai dari sekarang di usia muda?
[embed]
His Love Stories
Anyway, I have just realized this. Saya juga melewati masa muda hingga usia saya sekarang ini dengan lagu-lagunya. Time flies so fast! I still remember that Terimakasih Cinta was his hit song. Then, Pesan Cinta and Panah Asmara are the another falling in love songs. Bawalah Pergi Cintaku reminds me with certain man who finally engaged with foreign woman last June 2024 (idk whether they finally got married or not). It seems that his love songs remind me with my past love stories also.
“Aku tuh pengen punya life partner gitu”
Kalimat yang ia ucapkan ini benar-benar mengandung arti yang sangat dalam. Hatinya terdengar sangat hampa. Tentu saja, hal ini berkorelasi dengan doa nya soal jodoh selama berhaji. Sepertinya, semua orang yang sedang single dan belum menikah ini juga akan bertanya hal yang sama mengenai their last love.
Who will be my last love?
Di dunia online, sebenarnya akan sangat mudah menemukan siapa saja mantan kekasihnya. Believe it or not, saya agak kaget karena salah satu mantannya memiliki nama belakang dimana ada empat huruf seperti nama depan saya. Perempuan yang membuatnya menangis tersedu-sedu saat sedang kuliah di Malaysia. Sudah menjadi Ibu dua anak pula, ya, sekarang?
Lalu, ada juga mantan kekasihnya yang memiliki inisial huruf yang sama dengan inisial nama depan saya. Yang hampir jadi menikah, sepertinya. Konon, mantan yang terakhir ini tidak tega apabila nanti Afgan memiliki penurunan karir akibat menikah dengannya. Is this true? Sayangnya, fakta di dunia industri musik lebih kurang demikian. Penyanyi pria akan meurun karirnya setelah menikah. Tentu, bukan berarti tak ada job off air,ya, hanya saja tidak sebintang dahulu. Terlebih, ia memiliki wajah good looking. Bisa dipastikan bahwa fans-fans ceweknya akan berkurang. Mengapa judul postingan ini adalah kutukan pria tampan? Bukan maksudnya adalah benar-benar dikutuk oleh Ibu peri, tentu saja. Ini adalah sarkasme bahwa ketampanannya memberikan blessing in disguise dimana ia mudah mendapatkan fans lawan jenis dan menghasilkan uang, memancing “keributan” apabila pria tampan memiliki kekasih atau menikah dan mengakibatkan penurunan karir apabila ia menikah/ketauan berpacaran.
Sebuah pola yang sebenarnya juga mirip dengan industri musik, drama dan film Korea Selatan. Pertanyaannya saya balik. “Bukankah mereka ini juga berhak mencintai dan menyayangi seseorang dalam hidupnya?”, pikir saya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Why should this profession as an actor, actress or musician should be dependent on single status? Akan tetapi, bukankah dunia ini memang penuh dengan injustice? Itulah mengapa saya ingin melihat Afgan sebagai manusia dan membahasnya di laman medium saya. Just the way he is.
All I can say to Afgan is : Yang sabar,ya, Kak. Begitulah kisah cinta.
Apa kita mau sedih bareng tentang kisah cinta masing-masing yang gagal ini, Kak Afgan? Unfortunately, this musician is not yet my male friend or part of my circle. If he was, I would definitely contact him.
Menurut saya, perempuan yang akan menjadi kisah cinta terakhirnya ini harus memiliki mental baja+besi+titanium+logam logam lainnya terlepas dari keinginannya bahwa perempuan ini harus baik dan konyol. Maksudnya adalah bahwa harus bisa memahami dinamika dan konsekuensi menjadi musisi pria tampan. Akan ada banyak fans perempuan, mungkin, yang bersikap antipati atau nge-hate wanita ini sehingga ia harus bermental baja. Entah seperti apa pria ini saat berpacaran,ya, yang jelas, seperti kata orang, dua insan lawan jenis harus saling memahami. Uhuuui~
Jika ingin membuat check list, tentu pria ini terlihat “tidak ada kurangnya.“
- Berasal dari keluarga intelektual
- Berpendidikan tinggi S1
- Wajah tampan
- Sangat berkecukupan
- Sayang anak kecil
Entahlah. Saya tidak mengetahui juga dengan algoritma Tuhan tentang rumus memiliki cinta terakhir a.k.a jodoh ini. Dengan kelima poin check list tersebut, apakah terlihat kurang? Pria yang terlihat “tidak ada kurangnya” saja masih mempertanyakan soal jodoh, lha apalagi kita, orang biasa non-artis.
Sependekpengetahuan saya, jika orang dewasa sangat mudah mingle dengan anak-anak kecil, ia adalah cerminan family man/woman. Mudah dicintai anak-anak dan memang suka anak-anak. I don’t know that sometimes he plays with his nephews and nieces in Timezone, anyway. If this person was part of my circle in Jakarta, I’d ask him to hang out with my other female friend since I went out with my female friend on last day in Jakarta last March 2025.
What He Has To Stop
1)Stop merokok dan nge-vape. Jangan lupa, Kak Afgan, Ingat umur. Badan berhak memiliki pernafasan yang sehat. Anda terlihat terlalu kurus juga. Coba dicek nilai BMI-nya. Jangan terlalu kurus. Proporsional saja.
2)Jika benar adanya isu gay, segera lah bertaubat. Mumpung belum kiamat besar. Walaupun sebenarnya ada yang bilang bahwa ia tidak lah gay, tetapi dengan sengaja tidak mempedulikan alias membiarkan gosip ini. Jangan ngondek,ya. Maaf kalau sarkas, Kak Afgan. Lebih baik bicara di depan, daripada di belakang, tho?
3)Jangan sering bergaul pulang malam. Ingat bahaya angin malam. Jangan sampai encok! You should be morning person.
The last but not least, tulisan atau online post ini akan saya tutup dengan hal ini. Seperti kata Pak Ustadz beberapa tahun lalu yang saya dengar di Jekardah di Jaksel, “Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya.”
Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=VUIVfgr-JCE
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
메타데이터
- post_id
- c3f270ffb6ec
- slug
- kutukan-pria-tampan-c3f270ffb6ec
- url
- https://medium.com/@ssukkimarch/kutukan-pria-tampan-c3f270ffb6ec
- canonical_url
- https://medium.com/@ssukkimarch/kutukan-pria-tampan-c3f270ffb6ec
- author_url
- https://medium.com/@ssukkimarch
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49