Membedah rasa penasaran lama: seperti apa rasanya menonton film bertema perang dunia ke 2?
Membedah rasa penasaran lama: seperti apa rasanya menonton film bertema perang dunia ke 2?

Ketika Covid melanda sekitar Akhir 2020, teman saya membagikan film yang baru di tontonnya, Jojo rabit. Memang tidak masif perangnya tetapi latar belakang film tersebut pada era perang dunia ke 2. Dengan film yang saya adopsi, saya hanya mendengarkan ketika ia membagikan perasaannya selepas menonton film itu. Pertama kali yang muncul di kepala saya adalah pertanyaan, seperti apa rasanya menonton film perang? Apakah ada esensinya? Apa keji dan kengerian yang lain adalah kesukaannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya bentuk menjadi peluru dan tergilir bersama waktu hingga mendapati mangsanya di awal tahun 2025. Tahun ini tembakan dengan peluru yang saya rakit tembus pada ingatan perihal Oppenheimer dan akhirnya saya tonton kembali untuk menggali titik buta ketika terpicu. Jika di runut, pemicu terhadap saya menonton ulang karena melihat dokumenter Osaman bin laden di youtube Nikipedia dengan alur yang terstruktur dan detail. Selain itu ada sebuah video berdurasi pendek yang menampilkan acting Cicilian Murphy sebagai J.Oppenheimer dengan sangat apik di liputi cinemathography wide shoot ala bapak Nolan. Hingga pada akhirnya keterkaitan film tersebut Dibaca menjatuhkan bom Atom pada sekutu Nazi yaitu Jepang membuat saya penasaran. Mengapa jepang yang di jatuhkan Bom pada saat itu? Mengapa tidak Nazi? Dari pertanyaan ini saya bergulir di laman-laman visual sejarah dan hinggap pada era perang dunia ke 2. Menyimak beberapa hal akhirnya banyak yang saya ketahui, ya tidak sebanyak itu, mungkin yang tertampil di umum saja. Pasokan informasi yang saya pegang tersebut berbuah menjadi rudal yang siap terbang tuk membuat perubahan besar, seperti saya yang pada akhirnya menonton film perang tuk pertama kalinya.

1.Pemicu
Seperti yang saya sampaikan sebelumya, bahwa hal ini memang ketidaksengajaan, karena di satu malam yang panjang insomnia kerap memanggil, tepatnya suara mereka ada di bawah bantal tidur, handphone, atau memang di pikiran saya saja. Satu hal yang paling menyebalkan, karena di saat seperti itu pilihannya hanya ada 2, memaksakan tidur atau memaksakan tidak tidur seharian. Tidak usah di tebak, karena kalian benar. Saya memilih pilihan ke 2. pada akhirnya. karena brengseknya mereka berhasil menguasai tubuh saya dengan licik. Melihat Jarum jam terus berjalan layaknya Infateri, pada jam-jam kritis biasanya perut menginginkan sumber daya lebih yang tidak perlu-perlu amat juga, karena memang kebutuhannya sebagai pembelaan untuk menonton “makan dulu kali ye sambil nonton, abis kenyang tidur deh” semua sandiwara tersebut terjadi karena adanya rasa penasaran yang terpenjara lumayan lama, lalu diam-diam naik ke permukaan dengan persejataan lengkap dan berhasil menaklukan saya dan menghasilkan ouput wawasan sejarah.
Sebagai awal, saya menonton dokumenter berbau teror yang berada di kanal youtube Nikipedia. Gerbang pembuka ini mengisyaratkan saya untuk terus melaju, dan sampai-lah pada rasa naluriah keseruan ketika ada kejadian “tegang” yang membalut.
Layaknya inventori, di Nikipedia saya menjamah beberapa tragedi tentang pengeboman. Seperti teror di WTC yang paling fenomenal, teror bom pada orang yang menyongsong kemajuan teknologi, teror bom Bali, dan teror-teror yang lain. Yang akhirnya algoritma mendatangi saya dan menyajikan terjadinya bom Hiroshima dan Nagasaki.
2.Membidik dan belajar
Layaknya prajurit, membidik laman-laman sejarah membuat saya belajar mengerti akan sejarah itu sendiri. Terlebih ada teman saya juga yang mengikuti hal repertoar seperti ini, jadi punya teman untuk ngobrolin hal yang pada akhirnya saya kulik juga. Tidak cukup membabat habis video visual yang menjelaskan perang dunia ke 2, akhirnya saya membaca tentang Nazi dan menonton biographi Adolf Hitler.
2.1. Membidik jiwa Hitler
Pertama kali yang saya tahu tentang Hitler adalah ia di tolak sekolah seni. Hal tersebut sepertinya akan terus membayangi Hitler sekaligus menjadi lelucon internasional yang entah sampai kapan. Karena memang hal tersebut sudah menjadi rahasia umum dan berseliweran di linimasa internet. Tapi akhirnya muncul pertanyaan retoris “Jika hitler menjadi seniman apakah tidak ada perang dunia ke 2?
Terus terang, melihat dan membaca tentang bapak berkumis belah tengah membuat saya sulit bernafas. Iya bernafas, karena saya turut membayangkan apa yang telah ia perbuat di eranya. Kekejian yang melampaui batas norma manusia, karena merasa ras Jerman yang paling unggul. Jika melihat pada ideologi yang di adopsi Hitler, Ketertarikan Hitler terhadap sosialisme tidak didasarkan pada pemahaman tentang sosialisme seperti yang kita miliki saat ini, sebuah gerakan yang akan menggantikan kapitalisme di mana kelas pekerja akan merebut kekuasaan atas negara dan alat-alat produksi.
Karena dia berulang kali menolak upaya elemen partai yang berhaluan kiri secara ekonomi untuk memberlakukan reformasi sosialis, dengan mengatakan dalam konferensi tahun 1926 di Bamberg (yang diselenggarakan oleh para pemimpin Partai Nazi mengenai pertanyaan tentang dasar ideologi partai) bahwa segala upaya untuk merampas rumah dan tanah milik para pangeran Jerman akan menggerakkan partai tersebut menuju komunisme dan ia tidak akan pernah melakukan apa pun untuk membantu “gerakan yang diilhami komunis.” Sebaliknya, Hitler memandang sosialisme sebagai mekanisme pengorganisasian politik bagi rakyat Jerman secara lebih luas: sebuah cara untuk menciptakan “komunitas rakyat” — volksgemeinschaft — yang akan menyatukan masyarakat Jerman (dan pebisnis) sehari-hari bukan berdasarkan kelas mereka tetapi berdasarkan ras dan etnis mereka. Oleh karena itu, ia akan menggunakan aspek pemersatu dari “Sosialisme Nasional” untuk mengajak masyarakat Jerman ikut serta dalam program Nazi sekaligus bernegosiasi dengan para pebisnis kuat dan para Junker, industrialis dan bangsawan, yang pada akhirnya akan membantu Hitler mendapatkan kekuasaan penuh atas negara Jerman. Mengacu pada ideologi yang di anut Hitler, Konsep “komunitas rakyat” mendasari sebagian besar proyek Sosialis Nasional. Sama seperti ide dasar fasisme, sebuah kata yang berasal dari kata Italia yang berarti seikat batang yang diikat erat, Sosialisme Nasional dimaksudkan untuk mengikat Jerman di bawah satu pemimpin — Hitler, sang fuhrer — dengan “elemen subversif” seperti Yahudi, Kaum LGBT, Roma, dan, kaum sosialis dan Komunis, disingkirkan dengan paksa.
Nazisme bukanlah proyek sosialis. Nazisme adalah penolakan terhadap prinsip dasar sosialisme sepenuhnya, dan mendukung negara yang dibangun berdasarkan ras dan klasifikasi ras. Menjadikan rakyatnya nasionalis yang mentok, membuat hitler menginvasi Polandia pada tahun 1 September 1939 lalu di respon oleh negara Inggris dan Perancis yang menyatakan perang terhadap Jerman.
2.2 Mempertanyakan Eksistensi Jepang, sekaligus menjawab pertanyaan di atas
Tepatnya 7 Desember 1941, Terjadi serangan militer mendadak yang menggemparkan seluruh dunia, terutama publik Amerika Serikat. Rasanya sureal, karena Jepang mengirim serangan ke pangkalan militer AS di Pearl Harbor (Kepulauan Hawaii) oleh 400+ pesawat tempur imperialis Jepang. Apa yang melatarbelakangi Jepang sehingga membuat keputusan bernyali besar? Menoleh kebelakang pada zaman Kaisar Jepang saat itu adalah “Negara pertapa” yang menutup diri secara total selama ribuan tahun terhadap dunia luar. Tidak ada orang asing yang boleh menginjakkan kakinya di Jepang.
Sama seperti orang Jepang juga tidak boleh pergi meninggalkan kepulauan Jepang. Secara praktis, orang Jepang ga pernah punya kontak sama sekali dengan orang asing. Politik isolasi Jepang akhirnya menerima tantangan dari pihak luar pada 31 Maret 1854, Komodor Matthew Perry dari AL Amerika Serikat dengan 10 kapal perangnya memborbardir pantai timur Jepang serta MEMAKSA Jepang untuk mengakhiri pertapaannya. Kedatangan Perry dan tentaranya begitu menggemparkan masyarakat Jepang. Membuat para bangsawan takut, dan berakhir pada kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan Jepang pada saat itu, Shogun Tokugawa. Tokugawa berhasil digulingkan dari kekuasaannya dan pada saat itu mulailah berdiri negara Jepang yang modern.
3. Dari Jepang ke Dunia: Inferno yang Terjadi
Seketika Pearl Harbor dihantam, sebuah babak baru perang dibuka. Dunia berguncang, dan Amerika yang tadinya hanya pengamat dalam bayang-bayang turun sebagai sosok berkepala dua: penegak keadilan dan pencipta kehancuran. Di balik layar, para ilmuwan bekerja dalam senyap, menciptakan senjata yang kelak akan mengubah wajah perang dan kemanusiaan. Proyek Manhattan, dengan Oppenheimer sebagai ujung tombaknya, merupakan simfoni sunyi dari ledakan-ledakan masa depan.
“Sekarang aku menjadi Maut, penghancur dunia,” kutipan dari Bhagavad Gita yang terucap oleh Oppenheimer pasca ledakan uji coba Trinity, terasa seperti mantra yang terus bergema dalam setiap rekaman sejarah. Dan pada Agustus 1945, mantra itu menjadi nyata di langit Hiroshima dan Nagasaki. Jepang, yang dulu tertutup rapat dari dunia luar, kini terbuka paksa oleh kobaran api dan dentuman nuklir. Ironis, bangsa yang menutup diri dari dunia akhirnya dikenang dunia karena kehancurannya.
Ledakan itu bukan hanya memusnahkan kota, tetapi juga mengguncang fondasi moral umat manusia. Dunia melihat bagaimana teknologi dan kekuasaan berpadu menjadi dewa baru, yang bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang menjadi abu. Film-film yang saya tonton baik Oppenheimer maupun The Pianist, Dunkirk, hingga 1917 adalah fragmen dari liturgi panjang tentang kehilangan, trauma, dan absurditas perang.
4. Belajar dari Layar: Refleksi Personal
Di titik ini, saya sadar: menonton film perang bukan sekadar memahami sejarah. Ia adalah ritual kontemplatif. Setiap peluru yang meluncur, setiap bom yang meledak, adalah metafora dari luka kolektif yang belum sembuh. Film-film itu mengajarkan saya bahwa perang tak pernah hitam putih. Ia abu-abu, berlumpur, penuh tangis di antara tembakan.
Dalam The Pianist, saya tidak sempat mempunyai ruang untuk mengagumi teknis sinematik. Film ini seperti buku harian yang diseret di sepanjang reruntuhan Warsawa, sunyi, lambat, dan penuh penderitaan yang dingin. Adrien Brody yang memerankan Wladyslaw Szpilman bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai manusia biasa yang mencoba bertahan diam-diam, dengan piano yang tak lagi bisa dimainkan. Film ini memaksa saya melihat bahwa perang bukan hanya soal tentara dan strategi, tapi juga tentang siapa yang hidup, siapa yang mati, dan siapa yang terpaksa melanjutkan hidup dengan segala luka yang ditinggalkan.
Dalam Dunkirk, suara pesawat musuh menjadi denting lonceng kematian yang datang bertubi-tubi, sementara manusia hanyalah titik kecil dalam peta kehancuran. Tanpa banyak dialog, tanpa penjelasan sejarah yang rumit, hanya visual, suara, dan waktu. Nolan seolah sengaja merampas kenyamanan narasi, membuat saya menyelam langsung ke dalam ruang sempit pesawat tempur, ke pasir pantai yang tak pernah benar-benar aman. Rasa panik, frustrasi, dan absurditas perang yang tak perlu dijelaskan. Ia ditampilkan begitu telanjang.
Dari situ, saya mulai menapaki rasa-rasa lain. Oppenheimer membuka sisi kelam yang jauh lebih filosofis: bahwa perang tak melulu soal medan tempur, tapi juga tentang meja-meja pertemuan yang menentukan hidup jutaan orang. Cillian Murphy membawa saya pada tubuh kurus dan mata hampa seorang jenius yang dihantui ciptaannya sendiri. Ironisnya, meskipun ia dijuluki “bapak bom atom”, ia juga manusia pertama yang benar-benar melihat kehancuran dari balik kacamata ilmiah dan etika.
Puncaknya ketika film 1917, film yang secara teknis nyaris seperti satu napas panjang tanpa henti. Saya menontonnya bukan untuk mencari tahu siapa menang atau kalah, tapi untuk ikut berlari. Dalam satu perjalanan menyampaikan pesan, film ini menelanjangi betapa absurdnya harapan di tengah kematian yang begitu sistematis. Dan di akhir film, saya tak bisa berkata-kata. Hanya duduk diam, merasa lelah seolah saya sendiri yang berlari bersama tokohnya.
5. Penutup: Menonton Sebagai Tindakan Memahami
Dari keempat film tersebut, saya belajar bahwa film perang bukan hanya soal perang. Tapi tentang manusia, tentang kehilangan, ketakutan, penyesalan, harapan, dan absurditas. Dan rasa penasaran saya di akhir 2020 itu, perlahan mendapati jawabannya. Mungkin bukan dalam bentuk kepuasan, tapi justru dalam bentuk luka kecil yang terus mengingatkan: perang adalah kegagalan terbesar manusia, dan film adalah salah satu cara kita agar tak melupakannya.
Karena nyatanya, kita semua sedang berjalan di ladang ranjau sejarah, tempat di mana satu langkah salah bisa meledakkan segalanya. Kita berpijak di atas abu generasi yang runtuh, mencoba mengerti makna keberanian sambil menahan napas dalam gelapnya parit-parit tak terlihat. Setiap film adalah peluru yang ditembakkan ke arah memori, mengoyak zona nyaman, dan membisikkan satu hal: bahwa manusia, seberani apapun, tetap bisa gentar ketika berhadapan dengan bayang-bayangnya sendiri.
Dan saya, hanya seorang penonton yang menyalakan layar seperti menyalakan suar di tengah kabut. Bukan untuk membenarkan perang, bukan pula untuk memuja darah dan kemenangan. Film-film itu bukan ajakan bertempur, tapi ajakan bertanya: apa yang tersisa setelah segalanya hancur? Apa yang tetap bertahan di reruntuhan ketika suara granat dan meriam telah lama berhenti?
Mungkin yang tertinggal hanyalah sehelai foto yang tak sempat diselamatkan, sepotong lagu piano yang mengendap dalam kepala, atau ingatan tentang igin berlibur kemana. Kita jarang melihat itu dalam narasi besar sejarah. Tapi film, dengan segala fiksinya, justru bisa memperlihatkan fragmen-fragmen itu secara personal, rapuh, dan menyakitkan.
Seperti prajurit yang menulis surat di tengah malam sebelum pertempuran, saya duduk di depan layar, meresapi setiap adegan bukan sebagai hiburan, tapi sebagai elegi. Elegi untuk mereka yang hidupnya dilumat sejarah, dan bagi kita yang hanya bisa mengingat, merefleksikan, lalu menuliskannya agar tak lupa.
Karena dalam perang, yang paling abadi bukanlah ledakan, tapi suara manusia yang masih mencoba menyusun kalimat dari puing-puing yang tersisa.
Menonton menjadi doa yang terucap pelan, bukan dalam bahasa langit, tapi dalam bahasa luka dan harapan. Sebab meski sejarah mencatat kehancuran, manusia tetap mencari makna dalam reruntuhannya. Kita menonton bukan hanya untuk tahu, tapi untuk merasakan, memeluk getirnya, dan menyimpan bara kecil agar dunia tak lagi menyala karena dendam, melainkan karena pengertian.
Dan ketika layar menjadi gelap, saya tahu: bukan akhir, melainkan jeda. Karena yang sejati tetap hidup dalam gema dan gema tetap hidup dalam ingatan.
메타데이터
- post_id
- c3f929ea3e45
- slug
- membedah-rasa-penasaran-lama-seperti-apa-rasanya-menonton-film-bertema-perang-dunia-ke-2-c3f929ea3e45
- url
- https://medium.com/@nandaiqbl/membedah-rasa-penasaran-lama-seperti-apa-rasanya-menonton-film-bertema-perang-dunia-ke-2-c3f929ea3e45
- canonical_url
- https://medium.com/@nandaiqbl/membedah-rasa-penasaran-lama-seperti-apa-rasanya-menonton-film-bertema-perang-dunia-ke-2-c3f929ea3e45
- author_url
- https://medium.com/@nandaiqbl
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49