← Back to list

Catatan Pengamatan Bincang Seni #20: Teater Palu di Persimpangan — Dari Percakapan Menuju Kerja…

Pengantar diskusi yang disampaikan Ipin Cevin pada Bincang Seni #20 yang diselenggarakan di Rumah Seni Sjahrir Lawide, 4 Juli 2026…

Iin Ainar Lawide · 2026-07-07 08:40 · 26 claps · 6.8 min read
#teater #ekosistem-teater #ekosistem-kesenian #teater-palu #kota-palu
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Catatan Pengamatan Bincang Seni #20: Teater Palu di Persimpangan — Dari Percakapan Menuju Kerja Ekosistem (Bagian 1)

Pengantar diskusi yang disampaikan Ipin Cevin pada Bincang Seni #20 yang diselenggarakan di Rumah Seni Sjahrir Lawide, 4 Juli 2026 menegaskan bahwa forum ini tidak dimaksudkan sebagai ruang untuk menghasilkan kesimpulan yang serba cepat, melainkan sebagai percakapan yang terus bergerak dan memantik intensitas diskusi mengenai kondisi teater di Palu. Pilihan untuk memulai dari teater bukan berarti menempatkannya lebih penting dibanding disiplin seni lainnya, tetapi sebagai titik masuk untuk membaca persoalan ekosistem kesenian yang lebih luas.

Kekhawatiran terhadap meredupnya aktivitas teater pascabencana 2018 menjadi penanda bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pertunjukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah melemahnya struktur komunitas yang selama ini menjadi ruang regenerasi, pembelajaran, dan produksi pengetahuan. Kelompok-kelompok teater semakin sulit dipetakan; sebagian masih bertahan secara individual, tetapi kehilangan wadah kolektif yang memungkinkan praktik teater berkembang secara berkelanjutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan pelaku seni saja tidak cukup apabila tidak ditopang oleh organisasi, ruang, jaringan, dan dukungan ekosistem yang hidup.

Fakta bahwa aktivitas yang masih tampak hanya berasal dari segelintir kelompok memperlihatkan adanya ketimpangan dalam keberlangsungan praktik teater. Situasi ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kemunduran teater semata-mata disebabkan oleh bencana, atau justru memperlihatkan lemahnya sistem pendukung kebudayaan yang belum mampu pulih hingga hari ini? Pascabencana tampaknya menjadi momentum yang memperjelas persoalan lama — minimnya regenerasi, terbatasnya ruang ekspresi, lemahnya dokumentasi, serta belum adanya kebijakan yang secara konsisten menguatkan komunitas teater.

Diskusi ini tidak berhenti sebagai ruang berbagi keresahan. Percakapan diarahkan menjadi proses pemetaan persoalan, identifikasi aktor, serta penyusunan langkah-langkah strategis untuk menghidupkan kembali ekosistem teater di Palu. Mencoba menghindari resiko hanya mengulang diagnosis yang sama dari waktu ke waktu.

Bincang Seni pada tiga tahun sebelumnya, seluruh peserta diposisikan sebagai narasumber. Pendekatan ini menegaskan bahwa pengetahuan mengenai kondisi teater tidak dimonopoli oleh segelintir orang, melainkan lahir dari pengalaman kolektif para pelaku. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan kolektif tersebut tidak berhenti sebagai arsip percakapan, tetapi diterjemahkan menjadi agenda kerja bersama yang mampu memperkuat komunitas, mendorong regenerasi, memperluas ruang pertunjukan, serta membangun kembali kepercayaan bahwa teater masih memiliki masa depan di Palu.

Lentera Silolangi dan Dilema Bertahan di Tengah Rapuhnya Ekosistem Teater

Paparan Nissa dan Adi menghadirkan gambaran yang jujur mengenai kondisi Lentera Silolangi hari ini: sebuah kelompok yang masih terlihat hidup dari luar, tetapi terus berhadapan dengan keterbatasan sumber daya, regenerasi yang tersendat, serta beban pengelolaan organisasi yang semakin kompleks. Di satu sisi, Lentera menjadi salah satu sedikit kelompok teater yang masih konsisten beraktivitas di Palu. Namun di sisi lain, pengalaman mereka memperlihatkan bahwa keberlangsungan sebuah komunitas seni tidak dapat hanya bertumpu pada semangat dan militansi individu.

Apa yang dialami Lentera menunjukkan bahwa persoalan utama teater di Palu bukan lagi sekadar kurangnya kegiatan pertunjukan, melainkan krisis kapasitas organisasi. Sejak 2021, Lentera telah mencoba berbagai strategi: mengembangkan sub unit di empat sekolah, merancang program jangka panjang, membangun jejaring, hingga mencari peluang pentas dan distribusi karya. Akan tetapi, sebagian besar upaya tersebut berjalan tidak maksimal karena terbentur persoalan yang berulang, yaitu keterbatasan SDM, lemahnya dukungan kelembagaan, dan tidak adanya sistem kerja yang mampu menopang program secara berkelanjutan.

Menariknya, pengalaman Lentera juga memperlihatkan paradoks yang sering terjadi dalam organisasi seni. Semakin besar tanggung jawab yang diambil, semakin besar pula risiko organisasi kehilangan fokus pada penguatan dirinya sendiri. Ketika Lentera mengembangkan empat sub unit sekolah, energi organisasi terserap untuk menjaga keberlangsungan unit-unit tersebut. Namun ketika fokus dikembalikan untuk membenahi organisasi induk, sub unit justru mengalami kevakuman. Situasi ini menunjukkan bahwa model pengelolaan yang selama ini digunakan masih sangat bergantung pada relasi personal dan kerja sukarela, belum bertumpu pada sistem kemitraan yang kuat dengan institusi sekolah.

Ketiadaan komunikasi dan kesepakatan yang jelas dengan pihak sekolah menjadi salah satu akar persoalan yang penting dicatat. Sub unit yang dibangun selama ini tampak lebih diposisikan sebagai perpanjangan tangan Lentera daripada menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang memiliki dukungan struktural dari sekolah. Akibatnya, ketika kapasitas Lentera melemah, sub unit pun ikut kehilangan daya hidup. Hal ini mengindikasikan bahwa keberlanjutan program tidak cukup dibangun melalui pembinaan artistik semata, tetapi juga membutuhkan strategi kelembagaan yang mampu membagi tanggung jawab secara lebih luas.

Pernyataan Adi mengenai sekretariat juga mengungkap persoalan mendasar yang sering dianggap sepele dalam kerja kesenian. Sekretariat bukan hanya soal bangunan fisik, melainkan pusat koordinasi, arsip, pertemuan, dan identitas organisasi. Ketika sebuah kelompok tidak memiliki ruang yang stabil, maka proses pengorganisasian menjadi rentan terputus. Kondisi Lentera yang masih bergantung pada ruang milik lembaga lain menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur kesenian di Palu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Di sisi lain, isu regenerasi yang disampaikan menjadi alarm yang lebih besar. Selama ini kelompok teater pelajar sering dipandang sebagai sumber regenerasi alami bagi komunitas teater. Namun pengalaman Lentera menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu berlaku. Banyak pelajar aktif berteater selama berada di sekolah, tetapi tidak melanjutkan prosesnya setelah lulus. Situasi ini mengindikasikan adanya mata rantai yang putus antara teater pelajar dan teater komunitas. Tanpa strategi transisi yang jelas, proses pembinaan di sekolah hanya akan menghasilkan siklus partisipasi jangka pendek yang terus berulang.

Nisa dan Adi pada kahirnya mengurai hal yang memantik, bahwa persoalan Lentera sesungguhnya mencerminkan persoalan teater Palu secara lebih luas. Tantangan terbesar bukan terletak pada kemampuan menciptakan program, melainkan pada kemampuan membangun sistem pendukung yang membuat program dapat berjalan secara konsisten. Karena itu, kebutuhan mendesak ke depan bukan hanya menyusun agenda pertunjukan baru, tetapi memperkuat fondasi organisasi melalui kemitraan dengan sekolah, penguatan sekretariat, kaderisasi kepengurusan, serta pembagian peran yang lebih realistis sesuai kapasitas SDM yang tersedia.

Metafora yang digunakan Nissa bahwa Lentera sedang “memulai anak tangga baru” menjadi refleksi yang penting. Namun anak tangga tersebut tidak cukup dimaknai sebagai upaya memulai kembali dari nol. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pengalaman, kegagalan, dan pembelajaran selama beberapa tahun terakhir tidak hilang begitu saja, melainkan menjadi pijakan untuk membangun model organisasi yang lebih tahan terhadap krisis dan lebih mampu menjawab kebutuhan ekosistem teater Palu di masa mendatang.

Teater Kampus yang Kehilangan Ekosistem: Dari Ruang Belajar Menjadi Aktivitas Seremonial

Diskusi bersama para pelaku teater kampus memperlihatkan bahwa kemunduran teater di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar persoalan berkurangnya jumlah pertunjukan, tetapi merupakan gejala melemahnya ekosistem intelektual yang selama ini menjadi fondasi lahirnya kelompok-kelompok teater di Palu. Kampus yang dahulu menjadi ruang tumbuhnya sastra, teater, dan berbagai praktik kesenian kini justru mengalami penyusutan fungsi sebagai ruang eksperimen, diskusi, dan pembentukan gagasan.

Mubaraq dari Bahana menyoroti menurunnya minat mahasiswa terhadap teater, sastra, dan seni secara umum. Namun, penurunan tersebut tidak dapat dibaca hanya sebagai persoalan perubahan minat generasi. Ada faktor struktural yang turut membentuk kondisi tersebut. Kebijakan kampus yang membatasi aktivitas mahasiswa pada sore dan malam hari serta mendorong percepatan masa studi secara tidak langsung mempersempit ruang-ruang kreatif yang selama ini menjadi tempat lahirnya proses berkesenian. Kebijakan akademik yang berorientasi pada efisiensi akhirnya berbenturan dengan karakter kerja seni yang membutuhkan waktu, ruang, dan proses yang panjang. Pertanyaannya kemudian, masihkah kampus memandang kesenian sebagai bagian dari pendidikan, atau justru sebagai aktivitas yang mengganggu target administratif institusi?

Kesaksian Syafaat yang pada bulan lalu menjuarai Festival Monolog di Bali, memperlihatkan gejala lain yang tidak kalah penting, yaitu hilangnya budaya diskusi. Dahulu, pertunjukan teater selalu diikuti dengan perbincangan mengenai proses kreatif, pilihan artistik, hingga kritik terhadap karya. Kini, ruang refleksi tersebut nyaris tidak lagi ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa yang hilang bukan hanya pertunjukan, tetapi juga tradisi berpikir yang selama ini menjadi ciri utama teater kampus. Ketika diskusi menghilang, proses belajar ikut berhenti, dan teater perlahan bergeser menjadi aktivitas produksi semata.

Ingatan Ahmad dari Ikamabastra tentang geliat teater Palu pada dekade 2010-an memperlihatkan bahwa kota ini sesungguhnya pernah memiliki ekosistem teater yang hidup. Kompetisi, festival, pertunjukan, dan aktivitas komunitas tumbuh di berbagai wilayah, bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, kemunduran yang terjadi hari ini tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang alamiah, melainkan sebagai tanda bahwa ada mata rantai ekosistem yang terputus dan belum berhasil dipulihkan.

Pandangan Faisal dan Wahyu (Bahana) semakin menegaskan perubahan orientasi tersebut. Proses teater di kampus kini lebih bersifat event-oriented, hanya bergerak ketika ada festival, lomba, atau agenda tertentu. Latihan, diskusi, riset, dan pembinaan yang seharusnya menjadi inti dari proses teater justru terpinggirkan. Akibatnya, karya lahir sebagai respons terhadap momentum, bukan sebagai hasil dari proses artistik yang berkesinambungan. Teater kehilangan fungsinya sebagai ruang pembelajaran jangka panjang dan berubah menjadi aktivitas seremonial.

Pernyataan Doni (Bahana) bahwa dalam satu tahun terakhir aktivitas teater nyaris tidak terlihat di Universitas Tadulako menjadi indikator bahwa persoalan ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Ketidakhadiran aktivitas teater di kampus bukan hanya berarti hilangnya satu bentuk kesenian, tetapi juga hilangnya ruang dialog lintas disiplin yang selama ini membentuk daya kritis mahasiswa.

Kawan dari Trisda mengingatkan bahwa persoalan tersebut juga diperparah oleh minimnya ruang latihan. Kampus yang semestinya menyediakan fasilitas bagi pengembangan kreativitas mahasiswa justru belum mampu menjamin tersedianya ruang dasar untuk berproses. Hal ini memperlihatkan bahwa infrastruktur kebudayaan di lingkungan pendidikan masih diposisikan sebagai kebutuhan sekunder.

Catatan Reza (Guru Bahasa dan Sastra SMP 19 Palu) membuka dimensi yang lebih struktural lagi. Menurutnya, regenerasi tidak hanya terhambat oleh minimnya minat mahasiswa, tetapi juga oleh absennya figur penggerak di dalam kampus. Peran dosen menjadi sangat strategis karena mereka memiliki posisi untuk membangun tradisi diskusi, menghubungkan mahasiswa dengan komunitas seni, dan mendorong aktivitas kesenian sebagai bagian dari proses akademik. Namun ketika orientasi kelembagaan lebih banyak diarahkan pada pencapaian indikator administratif seperti akreditasi, ruang kebudayaan perlahan tersingkir dari prioritas institusi. Kritik ini menunjukkan bahwa kemunduran teater kampus bukan semata tanggung jawab mahasiswa, melainkan juga mencerminkan pilihan kebijakan perguruan tinggi.

Di sisi lain, refleksi Rifki membawa forum kembali pada pertanyaan yang paling mendasar: untuk apa mahasiswa berkesenian? Pertanyaan ini penting karena menyentuh persoalan orientasi. Jika kesenian hanya dipandang sebagai hobi atau aktivitas tambahan, maka keberadaannya akan selalu bergantung pada waktu luang dan momentum. Namun apabila kesenian dipahami sebagai bagian dari pembentukan cara berpikir, kepekaan sosial, dan pengembangan karakter intelektual, maka keberadaannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kampus itu sendiri.

Pembacaan ini memperlihatkan bahwa krisis teater kampus sesungguhnya merupakan krisis ekosistem akademik. Yang sedang melemah bukan hanya komunitas teater, tetapi juga budaya membaca, berdiskusi, bereksperimen, dan membangun pengetahuan secara kolektif. Karena itu, upaya menghidupkan kembali teater kampus tidak cukup dilakukan melalui penyelenggaraan festival atau lomba. Yang lebih mendasar adalah mengembalikan kampus sebagai ruang kebudayaan: menyediakan ruang latihan, menghidupkan forum diskusi, memperkuat peran dosen sebagai penggerak, serta menempatkan kesenian sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler. Tanpa perubahan cara pandang tersebut, teater kampus akan terus hadir hanya sebagai peristiwa sesaat, bukan sebagai tradisi intelektual yang hidup dan berkelanjutan.

(bersambung….)


메타데이터
post_id
c40f2628f2d4
slug
catatan-pengamatan-bincang-seni-20-teater-palu-di-persimpangan-dari-percakapan-menuju-kerja-c40f2628f2d4
url
https://medium.com/@ainarlawide/catatan-pengamatan-bincang-seni-20-teater-palu-di-persimpangan-dari-percakapan-menuju-kerja-c40f2628f2d4
canonical_url
https://medium.com/@ainarlawide/catatan-pengamatan-bincang-seni-20-teater-palu-di-persimpangan-dari-percakapan-menuju-kerja-c40f2628f2d4
author_url
https://medium.com/@ainarlawide
status
ok
fetched_at
2026-07-14 18:48:27