Bandar Danantara vs Retail Unyu
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #60
Bandar Danantara vs Retail Unyu
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #60

sumber: https://asset.kompas.com/
Dua minggu terakhir ini menjadi momentum yang paling tidak menyenangkan selama saya masuk ke bursa saham. Saya terpaksa melakukan cutloss dalam jumlah yang cukup signifikan terhadap sebagian besar emiten yang saya pegang dan beberapa yang bertahan kini dalam kondisi merah merona seperti gadis yang tersipu malu saat diapeli oleh pacarnya. Kredibilitas dan integritas pasar modal Indonesia memang sedang dipertanyakan. Keributan yang muncul baru-baru ini dipicu oleh keluarnya arus modal investor asing dari pasar saham dalam negeri hingga mencapai Rp10,61 triliun hanya dalam dua hari yakni 28–29 Januari 2026. Aksi jual masif ini membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) harus memberlakukan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan karena IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) terus merosot hingga 16,7% dalam kurun waktu tersebut.
Situasi ini dipicu oleh penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 27 Januari mengenai transparansi pasar saham domestik Indonesia. Masalah mendasar yang selama ini menjadi catatan rupanya tidak kunjung diperbaiki oleh BEI, yaitu mengenai tidak transparannya struktur kepemilikan saham. Seperti yang telah diketahui bahwa MSCI adalah perusahaan riset dengan jumlah aset global mencapai $139 triliun yang menyediakan indeks dan data analisis pasar saham global, di mana penilaian mereka kerap menjadi pedoman investor, manajer investasi, dana pensiun, dan pengelola dana indeks (exchange traded fund/ETF) sebagai acuan dalam mengalokasikan dananya. Keputusan MSCI menjadi penting sebab portofolio dan aliran modal bisa otomatis menyesuaikan pada negara atau perusahaan mana yang masuk dalam klasifikasi MSCI. Dan tentu saja komentar MSCI terkait transparansi dari saham-saham di Indonesia adalah faktor yang menyebabkan IHSG anjlok.
Saya agak senang ketika IHSG sempat menghijau dan naik 1,18% pada penutupan pasar Jumat, 30 Januari 2026. Namun, rupanya kewaspadaan masih membayangi banyak investor. Hal ini terbukti dengan adanya PHP atau Pemberi Harapan Palsu lagi, sebab IHSG masih saja tertekan pada perdagangan hari Senin, 2 Februari 2026. Per pukul 16:00 WIB, IHSG berada di posisi 7.922,73 alias terpangkas 4,88%. Belum lagi sentimen negatif yang muncul setelah adanya aksi pengunduran diri dari beberapa pejabat seperti Direktur Utama BEI — Iman Rachman, Ketua Dewan Komisioner OJK — Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK — Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) — Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon — I. B. Aditya Jayaantara.
Saat ini pasar sedang menantikan aksi nyata dari hasil pertemuan pihak pejabat Bursa (BEI) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dengan pihak MSCI terkait transparansi data struktur pemegang saham dan aturan free float (saham yang beredar dan bisa diperdagangkan secara aktif oleh publik). Namun, usulan langkah yang dilakukan sementara konon meliputi demutualisasi bursa, peningkatan likuiditas dengan kenaikan free float 15%, peningkatan transparansi, pengetatan aturan beneficial ownership, dan kejelasan terkait dengan afiliasi pemegang saham.
Pemerintah juga seolah mencoba menenangkan para pelaku pasar dengan memberi kesempatan kepada Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir untuk menyampaikan bahwa Danantara akan menjadi partisipan aktif di pasar modal Indonesia baik di bond market maupun public equity market. Bahkan katanya, sejak akhir Desember 2025 lalu Danantara sudah mulai berinvestasi melalui manajer investasi yang telah ditunjuk untuk membeli saham yang memiliki pertumbuhan, fundamental, likuiditas, dam arus kas yang baik.
Saya menyimak di banyak grup saham dan komentar warganet di berbagai platform daring bahwa justru muncul kekhawatiran dari masyarakat umum alias retail unyu bahwa partisipasi Danantara kelak justru akan berakibat pada ikutnya mereka dalam aksi goreng-menggoreng saham. Apalagi seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya dalam Danantara Gimana Kontrolnya? bahwa Danantara belum membuktikan track record positifnya, dikhawatirkan apabila mereka masuk ke dalam market pada kondisi yang tidak menentu ini justru akan berakibat pada munculnya potensi kerugian. Padahal dana yang dikelola oleh Danantara juga bersumber dari APBN yang mana berasal dari rakyat.
Sepertinya sudah menjadi lagu lama ketika para pemangku kepentingan baru menelurkan kebijakan saat kondisi sudah terlanjur dar der dor seperti ini. Saya yakin ada banyak hal yang sebenarnya harus dirombak ulang dalam bursa saham Indonesia untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari para penanam modal asing. Namun, karena sepertinya bertabrakan dengan banyak kepentingan, roman-romannya mereka sedang mencari jalan tengah alias win win solution. Ironis memang bahwa seolah seluruh aspek di negara ini masing-masing sudah ada pemain-nya termasuk dunia pasar saham. Sehingga tidak hanya retail unyu seperti saya, namun dampak negatif kebijakan moneter dan fiskal juga kemungkinan bisa terjadi pada sektor riil alias masyarakat biasa.
메타데이터
- post_id
- c41f70eb8a72
- slug
- bandar-danantara-vs-retail-unyu-c41f70eb8a72
- url
- https://medium.com/@artefactbydiy/bandar-danantara-vs-retail-unyu-c41f70eb8a72
- canonical_url
- https://medium.com/@artefactbydiy/bandar-danantara-vs-retail-unyu-c41f70eb8a72
- author_url
- https://medium.com/@artefactbydiy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12