← Back to list

Menjadi Penjahat yang Paling Bahagia

Be who you are because people will villainize you anyway.

Erin · 2026-02-21 02:01 · 38 claps · 2.0 min read
#bahasa-indonesia #renungan #self-awareness #ruang-kontemplasi
Open on Medium ↗

Menjadi Penjahat yang Paling Bahagia

Be who you are because people will villainize you anyway.

Gambar dokumentasi pribadi penulis.

Gambar dokumentasi pribadi penulis.

Semalam, rutinitas scrolling di X (yang selamanya akan kuingat sebagai Twitter) membawaku pada sebuah pencerahan yang tidak terduga. Di tengah tumpukan timeline, aku menemukan sebuah meme headline satir yang disandingkan dengan caption dari salah satu idol K-Pop favoritku, Yoon Keeho: “Be who you are because people will villainize you anyway.”

Tangkapan layar yang dimaksud.

Tangkapan layar yang dimaksud.

Di bawahnya, terpampang headline palsu yang berbunyi: “Be Hot, Have Fun and Stay True to Yourself Because People Will Villainize You Regardless.” Aku berhenti scrolling. Membaca kalimat itu berulang kali, dan akhirnya merenung: Benar juga, ya.

Entah sejak kapan, kita seolah diprogram untuk selalu menjadi “orang baik” di setiap situasi. Kita ingin terlihat keren, bisa diandalkan, dan yang paling parah: kita ingin diterima oleh semua orang. Kita menyensor ucapan kita, menahan batasan kita, dan mengorbankan kenyamanan pribadi hanya agar tidak ada yang merasa tersinggung.

Tapi untuk apa?

Kenapa kita mati-matian ingin terlihat baik, kalau pada kenyataannya, kita akan tetap terlihat jelek di mata orang-orang yang tidak tepat?

Realita yang sering kali enggan kita terima adalah ini: persepsi orang lain tentang kita berada di luar kendali kita.

Sebaik apapun niatmu, ketika kamu menolak sebuah permintaan karena kelelahan, kamu akan menjadi “si egois” di cerita orang tersebut.

Ketika kamu memilih jalan hidup yang tidak sesuai dengan standar masyarakat, kamu adalah “si pemberontak.”

Ketika kamu menyuarakan pendapat yang kebetulan berseberangan dengan mayoritas, kamu adalah “si paling tahu segalanya.”

Orang-orang akan selalu memproyeksikan rasa tidak aman (insecurity) dan ekspektasi mereka ke atas namamu. Dan jika kamu tidak memenuhi ekspektasi itu, selamat: kamu resmi menjadi villain di narasi mereka.

Memaksakan diri untuk menjadi tokoh utama protagonis yang suci hama di cerita semua orang itu melelahkan. Apalagi kalau arenanya sendiri sudah dipenuhi oleh orang-orang yang memang sudah berniat salah paham dengan kita sejak awal.

Tidak ada kewajiban sakral yang mengharuskan kita menyenangkan semua orang. Kita tidak harus menjadi pahlawan yang menyelamatkan perasaan orang lain dengan mengorbankan kewarasan kita sendiri.

Kalau pada akhirnya kita tetap akan dihakimi, diviralkan di grup obrolan mereka, atau dilabeli sebagai pihak yang salah… bukankah lebih baik kita dihakimi karena menjadi diri kita yang sebenarnya?

Mungkin sudah saatnya kita merangkul peran antagonis ini. Bukan berarti kita tiba-tiba menjadi manusia jahat yang merugikan orang lain secara sengaja. Menjadi villain di sini sekadar berarti kita memeluk otonomi diri kita sepenuhnya.

Ini tentang berani berkata “tidak.” Berani menetapkan batasan. Berani terlihat tidak sempurna, tidak asik, atau tidak peduli pada ekspektasi yang tidak masuk akal.

Seperti apa yang tertulis di meme itu: Be hot, have fun, and stay true to yourself.


메타데이터
post_id
c42c2edc8ccb
slug
menjadi-penjahat-yang-paling-bahagia-c42c2edc8ccb
url
https://medium.com/@ewrinaa/menjadi-penjahat-yang-paling-bahagia-c42c2edc8ccb
canonical_url
https://medium.com/@ewrinaa/menjadi-penjahat-yang-paling-bahagia-c42c2edc8ccb
author_url
https://medium.com/@ewrinaa
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31