← Back to list

Sebuah Cara untuk Tidak Terurai (Cerita Pendek)

Dunia ini tidak disatukan oleh gravitasi, apalagi cinta. Itu omong kosong yang dijual di kartu ucapan ulang tahun. Dunia ini, sejatinya…

Parnassuxx · 2026-02-04 14:01 · 0 claps · 4.7 min read
#cerita #cerita-pendek #cerpen #cerpen-indonesia #utuh
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎵 · Music & Audio

Sebuah Cara untuk Tidak Terurai (Cerita Pendek)

Dunia ini tidak disatukan oleh gravitasi, apalagi cinta. Itu omong kosong yang dijual di kartu ucapan ulang tahun. Dunia ini, sejatinya, direkatkan oleh plastik atau logam kecil sepanjang lima milimeter di ujung tali sepatu. Namanya: Aglet. Tanpa aglet, serat benang akan mekar, terurai, menjadi semrawut, dan dalam skala mikro, itu adalah definisi kiamat. Entropy. Kekacauan yang tak termaafkan.

Namaku — atau setidaknya begitulah orang-orang HRD memanggilku — adalah Kafka. Bukan karena aku menulis soal kecoa, tapi karena orang tuaku penggemar bubuk kopi sachet. Pekerjaanku sederhana namun vital: Quality Control di pabrik tali sepatu terbesar di Tangerang. Setiap hari, selama delapan jam, aku duduk di bawah lampu neon yang berdengung seperti lalat sekarat, memastikan setiap aglet terpasang sempurna. Tidak boleh retak. Tidak boleh miring. Aglet adalah segel realitas. Jika aglet lepas, tali sepatu akan kehilangan arah, lubang sepatu tak bisa ditembus, langkah kaki goyah, bus terlewat, wawancara kerja gagal, dan seseorang akan berakhir menjadi gelandangan hanya karena plastik lima milimeter itu pecah. Aku adalah penjaga peradaban.

Tapi Narasati tidak berpikir demikian.

Aku bertemu dengannya di sebuah binatu koin pukul dua pagi. Binatu itu berbau sabun lavender murahan dan keputusasaan yang lembap. Narasati duduk di atas mesin cuci nomor empat yang sedang bergetar hebat, memegang gunting kuku. Di pangkuannya ada sepasang sneakers mahal yang baru dibeli — masih bau toko. Dengan wajah datar, tanpa ekspresi dosa, dia melakukan hal yang membuat ulu hatiku nyeri: dia menggunting aglet dari tali sepatu barunya.

Kres. Plastik bening itu jatuh ke lantai ubin yang dingin.

“Itu ilegal,” kataku. Suaraku terdengar parau, efek terlalu lama diam mengamati putaran mesin cuci.

Dia menoleh. Matanya seperti dua lubang kancing yang dijahit terburu-buru. Kosong, tapi menarik. “Apa?”

“Merusak aglet. Itu melanggar hukum termodinamika. Kau membiarkan kekacauan masuk.”

Narasati tertawa, tapi bunyinya seperti kelereng yang jatuh di atas kaca. “Kau tahu kenapa bebek di danau tidak pernah sedih?” tanyanya, melompat dari topik seolah percakapan kami adalah batu loncatan di sungai deras.

“Karena mereka tidak bayar pajak?”

“Bukan. Karena mereka tidak diikat. Aglet itu penjara, Tuan Kopi. Dia memaksa ribuan benang kapas yang ingin bebas menari menjadi satu tujuan yang kaku: masuk lubang. Aku sedang membebaskan mereka.” Dia mengangkat ujung tali sepatu yang kini terurai, serat-serat benangnya mekar seperti bunga dandelion yang siap ditiup angin. “Lihat? Cantik, kan? Ini namanya merdeka.”

Malam itu kami makan nasi goreng gila di pinggir jalan. Pedasnya menampar lidah, membuatku berkeringat di tempat-tempat yang tidak sopan. Kami bicara tentang hal-hal yang tidak penting — apakah hantu percaya pada manusia, kenapa awan bentuknya tidak pernah kotak, dan obsesinya pada “keteruraian”. Narasati percaya bahwa menjadi utuh itu melelahkan.

“Kita semua berusaha keras untuk tetap berbentuk,” katanya sambil mengunyah kerupuk yang lempem. “Padahal, takdir segala sesuatu adalah menjadi debu. Menjadi benang kusut. Kenapa harus dilawan dengan plastik?”

Aku diam. Di kepalaku, aku membayangkan aglet. Rapi. Silindris. Aman. Aku ingin memasang aglet di bibirnya agar dia berhenti bicara omong kosong yang membuat dadaku sesak, tapi aku juga ingin mendengarnya selamanya.

Pertemuan kami menjadi ritual. Setiap Selasa dan Jumat dini hari. Aku membawa cerita tentang tali sepatu yang cacat produksi, dia membawa cerita tentang benda-benda yang berhasil dia rusak. Hubungan ini aneh. Seperti menyatukan air dan minyak dalam satu botol, lalu mengocoknya sekuat tenaga. Tampak menyatu sebentar, padahal kami hanya butiran-butiran yang saling menabrak.

Puncaknya terjadi seminggu kemudian. Aku mencuri sesuatu dari pabrik. Sebuah aglet prototipe. Bukan plastik, bukan besi kaleng. Ini emas murni. Kecil, berkilau, dingin. Bosku bilang ini pesanan khusus untuk sepatu seorang sultan, tapi aku menyelundupkannya di dalam saku celana jeansku. Aku ingin memberikan ini pada Narasati. Aku ingin membuktikan bahwa keteraturan juga bisa indah. Bahwa terikat bukan berarti terpenjara, melainkan terlindungi.

Malam itu hujan turun seperti jarum-jarum halus. Binatu sepi. Hanya ada kami dan dengung neon yang setia. Narasati sedang melamun menatap putaran baju warna-warni di dalam mesin. Ujung tali sepatunya sudah sangat parah — terurai panjang, kusut, menyedihkan. Seperti rambut nenek sihir yang tak pernah disisir.

“Aku punya sesuatu,” kataku. Jantungku berdetak seperti mesin jahit yang pedalnya diinjak penuh.

Aku berlutut di hadapannya. Bukan untuk melamar, tapi untuk meraih kakinya. Dia tidak menolak, hanya menatapku dengan alis terangkat, seolah aku adalah kucing yang tiba-tiba bisa bicara bahasa Mandarin.

Aku mengeluarkan aglet emas itu. Dengan hati-hati, aku kumpulkan benang-benang tali sepatunya yang liar dan mekar. Susah payah aku memilinnya, memaksanya kembali menjadi satu kesatuan yang runcing. Jemariku gemetar.

“Jangan,” bisiknya pelan. “Nanti sakit.”

“Sebentar saja. Ini akan membuatnya awet selamanya,” jawabku keras kepala.

Aku memasukkan ujung benang yang sudah kupilin ke dalam aglet emas itu. Lalu, dengan tang jepit kecil yang selalu kubawa (kebiasaan profesional), aku menjepit aglet itu.

Klik.

Sempurna. Emas itu membalut ujung tali dengan presisi yang mematikan. Tali itu tidak akan pernah terurai lagi. Aku mendongak, tersenyum bangga, menunggu pujian atau setidaknya makian jenaka darinya.

Tapi Narasati tidak tersenyum. Wajahnya pucat. Dia menatap kakinya dengan horor.

“Kau menguncinya…” suaranya bergetar. “Kau… menyelesaikan ceritanya.”

Tiba-tiba, dari bagian aglet emas itu, muncul retakan cahaya. Bukan pada logamnya, tapi pada Narasati. Tubuhnya mulai bergetar, sama seperti mesin cuci di belakangnya. Kulitnya mulai terurai menjadi serat-serat benang cahaya.

“Tunggu, apa yang terjadi?” Aku panik, mencoba memegang tangannya.

Tapi tanganku menembus lengannya yang kini hanya kumpulan debu cahaya yang berputar.

“Aku adalah Keteruraian, Kafka,” bisiknya, suaranya kini menggema dari segala penjuru ruangan, lirih dan menyayat. “Aku ada karena ada hal-hal yang belum selesai. Kau baru saja memberiku titik akhir.”

Dan fwoosh.

Dia meledak. Bukan ledakan api, tapi ledakan benang. Ribuan, jutaan helai benang cahaya memenuhi binatu, berputar-putar seperti badai salju, lalu tersedot masuk ke dalam lubang-lubang kecil aglet emas yang baru saja kupasang.

Hening.

Binatu itu kosong. Tidak ada Narasati. Tidak ada nasi goreng gila. Tidak ada bau lavender.

Yang tersisa hanya sepasang sepatu kets di lantai. Dan aku.

Tapi tunggu. Kenapa pandanganku gelap? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku? Kenapa tubuhku terasa panjang, lentur, dan… terikat?

Kesadaran itu datang terlambat, menghantamku seperti palu godam.

Aku melihat ke bawah — bukan dengan mata, tapi dengan rasa. Aku tidak punya tangan. Aku tidak punya kaki. Tubuhku terbuat dari jalinan benang poliester hitam. Aku melilit melewati lubang-lubang eyelet berbahan nikel. Aku menyilang di atas lidah sepatu yang empuk.

Dan di ujung kepalaku — di tempat di mana seharusnya otakku berada — terpasang sebuah benda logam emas yang berat, dingin, dan mencekik.

Aglet itu.

Itu bukan Narasati yang menghilang. Itu aku yang akhirnya terpakai.

Narasati hanyalah personifikasi dari keinginanku untuk tetap bebas, tetap menjadi bahan baku yang belum jadi. Dan dengan memasang aglet itu, dengan memaksakan “keteraturan” dan “fungsi”, aku telah membunuh kemanusiaanku sendiri. Aku telah menyelesaikan tugasku.

Sekarang, aku hanyalah seutas tali sepatu yang sempurna. Terikat kuat. Tak bisa terurai.

Kemudian, dari kejauhan, aku mendengar suara raksasa. Langit-langit terbuka. Bukan langit, tapi tutup kardus. Cahaya matahari menyeruak masuk, menyilaukan. Sebuah wajah raksasa — seorang anak remaja — mengintip ke dalam.

“Wah, keren,” kata suara yang menggelegar itu. “Tali sepatunya ada emasnya.”

Dunia menjadi gelap kembali saat tutup kardus dipasang. Bau karet baru menyeruak. Aku diam. Rapi. Tercekik selamanya dalam kegelapan yang utuh, merindukan saat-saat aku bisa rusak, terurai, dan makan nasi goreng gila.


메타데이터
post_id
c441c88cb41f
slug
sebuah-cara-untuk-tidak-terurai-cerita-pendek-c441c88cb41f
url
https://medium.com/@Parnassuxx/sebuah-cara-untuk-tidak-terurai-cerita-pendek-c441c88cb41f
canonical_url
https://medium.com/@Parnassuxx/sebuah-cara-untuk-tidak-terurai-cerita-pendek-c441c88cb41f
author_url
https://medium.com/@Parnassuxx
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08