← Back to list

Menelusuri Jejak Rasisme terhadap Jepang Pasca Perang Dunia II

Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 sering kali dikenang sebagai kemenangan kebebasan atas fasisme dan imperialisme. Namun, bagi…

Jendra Suastika · 2026-06-05 17:46 · 0 claps · 3.7 min read
#history #world-war-ii #japan #anti-racism
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History ✊ · Equality & Identity

Menelusuri Jejak Rasisme terhadap Jepang Pasca Perang Dunia II

Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 sering kali dikenang sebagai kemenangan kebebasan atas fasisme dan imperialisme. Namun, bagi orang-orang keturunan Jepang, terutama yang tinggal di negara-negara Sekutu seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, berakhirnya perang tidak serta-merta mengakhiri penderitaan mereka.

Kekalahan Kekaisaran Jepang menyisakan warisan psikologis yang gelap di dunia Barat, rasisme dan xenofobia yang mengakar sangat kuat. Kebencian yang dipupuk selama bertahun-tahun lewat mesin propaganda selama terjadinya perang tidak bisa langsung dihapus hanya dengan penandatanganan perjanjian damai di atas kertas.

Residu Propaganda Perang yang Mengakar

Sumber: https://study.com/academy/lesson/world-war-ii-propaganda-posters-cartoons.html

Sumber: https://study.com/academy/lesson/world-war-ii-propaganda-posters-cartoons.html

Selama Perang Dunia II, pemerintah Amerika Serikat dan Sekutu secara aktif menggunakan media untuk menumbuhkan sentimen anti-Jepang (sering disebut Yellow Peril atau Bahaya Kuning). Berbeda dengan orang Jerman atau Italia yang lebih sering digambarkan sebagai orang-orang yang “disesatkan” oleh pemimpin fasis mereka, orang Jepang sering kali mengalami dehumanisasi ekstrem. Mereka digambarkan dalam poster, komik, dan film sebagai hewan, serangga, atau monster yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Ketika perang berakhir, persepsi ini sudah terlanjur tertanam di benak publik. Akibatnya, sentimen rasisme pasca perang bukan hanya menyasar militer Jepang, tetapi menyapu rata semua orang berwajah Asia Timur di negara-negara Barat.

Kembali dari Kamp Interniran: Pulang ke Tempat yang Bermusuhan

Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:GI%27s_at_the_Rainbow_Corner_Red_Cross_Club_in_Paris,_France,_whoop_it_up_after_buying_the_special_edition_of_the_Paris_Post,_which_carried_the_banner_headline,_%27JAPS_QUIT%27._August_10,_1945.jpg

Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:GI%27s_at_the_Rainbow_Corner_Red_Cross_Club_in_Paris,_France,_whoop_it_up_after_buying_the_special_edition_of_the_Paris_Post,_which_carried_the_banner_headline,_%27JAPS_QUIT%27._August_10,_1945.jpg

Salah satu noda hitam terbesar dalam sejarah hak asasi manusia di Amerika Serikat dan Kanada adalah kebijakan Kamp Interniran. Selama perang, lebih dari 120.000 orang keturunan Jepang (sebagian besar adalah warga negara resmi Amerika Serikat) dipaksa meninggalkan rumah tangga dan bisnis mereka untuk dikurung di kamp-kamp terpencil karena dicurigai sebagai mata-mata.

Sumber: https://janm.emuseum.com/objects/33202/negative

Sumber: https://janm.emuseum.com/objects/33202/negative

Pasca perang (1945–1946), kamp-kamp ini ditutup dan mereka diizinkan kembali ke masyarakat. Namun, realitas yang mereka hadapi sangat brutal:

  • Kehilangan Harta Benda: Banyak rumah, ladang, dan bisnis mereka telah dicuri, dirusak, atau dijual paksa dengan harga sangat murah.
  • Diskriminasi Publik: Spanduk bertuliskan “No Japs Allowed” (Orang Jepang Dilarang Masuk) banyak dipasang di restoran, toko, dan salon.
  • Kekerasan Fisik: Banyak veteran perang Jepang-Amerika yang kembali dari medan laga (seperti Resimen 442 yang sangat berjasa) justru mengalami penolakan, penyerangan, hingga tembakan saat mencoba kembali ke kampung halaman mereka.

Transformasi Kebencian: Dari Perang Militer ke Perang Ekonomi

Sumber: https://x.com/originalspin/status/811947575351930880

Sumber: https://x.com/originalspin/status/811947575351930880

Rasisme terhadap Jepang tidak berhenti di era 40-an. Memasuki dekade 1970-an dan 1980-an, Jepang bangkit dari keterpurukan dan berubah menjadi raksasa ekonomi global. Produk otomotif dan elektronik Jepang mulai membanjiri pasar Amerika dan Eropa, mengancam industri lokal.

Hal ini memicu fenomena yang disebut “**Japan-Bashing”** (Menghujat Jepang). Para politisi dan pekerja pabrik di Barat secara terbuka menyalahkan Jepang atas krisis ekonomi dan hilangnya lapangan pekerjaan, memicu gelombang rasisme babak kedua.

Kemudian pemerintah Amerika Serikat baru secara resmi meminta maaf atas kamp interniran Jepang-Amerika pada tahun 1988 melalui Civil Liberties Act. Presiden Ronald Reagan menandatangani undang-undang yang memberikan kompensasi sebesar $20.000 kepada setiap penyintas yang masih hidup — sebuah proses “penyembuhan” yang memakan waktu lebih dari 40 tahun.

Sumber: https://encyclopedia.densho.org/front/media/cache/3a/8f/3a8f64d9f55556b9c1609153e58f112d.jpg

Sumber: https://encyclopedia.densho.org/front/media/cache/3a/8f/3a8f64d9f55556b9c1609153e58f112d.jpg

Rasisme yang terjadi bukan hanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam bentuk poster ujaran kebencian, tapi sikap rasis ini juga masuk kedalam produk seni hiburan. Studio animasi besar seperti Disney dan Warner Bros (Looney Tunes) pernah memproduksi kartun anti-Jepang yang sangat rasis selama perang (misalnya kartun Tokio Jokio atau Bugs Bunny Nips the Nips). Setelah perang berakhir, butuh waktu puluhan tahun bagi jaringan televisi untuk menarik kartun-kartun ini dari peredaran karena dianggap melanggengkan stereotip rasial di kalangan generasi muda.

Sumber: https://www.cinema-crazed.com/blog/2023/07/18/every-bugs-bunny-ever-bugs-bunny-nips-the-nips-1944/

Sumber: https://www.cinema-crazed.com/blog/2023/07/18/every-bugs-bunny-ever-bugs-bunny-nips-the-nips-1944/

Untuk memperbaiki citra mereka yang rusak pasca-perang, pemerintah dan korporasi Jepang menginvestasikan miliaran dolar dalam “Soft Power”. Mulai dari menyebarkan budaya pop (Anime, Manga), kuliner (Sushi), hingga inovasi teknologi (Walkman, Nintendo). Strategi ini sangat berhasil secara perlahan mengubah persepsi Barat terhadap Jepang dari musuh yang ditakuti menjadi sekutu budaya yang dikagumi.

Sumber:https://www.cbr.com/gyaru-girls-anime-japanese-culture-komi-cant-communicate-my-dress-up-darling/

Sumber:https://www.cbr.com/gyaru-girls-anime-japanese-culture-komi-cant-communicate-my-dress-up-darling/

Sejarah rasisme terhadap Jepang pasca Perang Dunia II adalah pengingat yang kelam tentang seberapa cepat propaganda dapat merusak rasa kemanusiaan suatu masyarakat, dan betapa lambatnya proses untuk memulihkannya. Meskipun hari ini Jepang merupakan salah satu negara paling dihormati di dunia, luka sejarah yang dialami oleh diaspora Jepang di masa lalu membuktikan bahwa dampak dari sebuah perang jauh lebih panjang daripada bunyi tembakan terakhir di medan laga.


메타데이터
post_id
c45ca4a5c8a5
slug
menelusuri-jejak-rasisme-terhadap-jepang-pasca-perang-dunia-ii-c45ca4a5c8a5
url
https://medium.com/@kusumagede39/menelusuri-jejak-rasisme-terhadap-jepang-pasca-perang-dunia-ii-c45ca4a5c8a5
canonical_url
https://medium.com/@kusumagede39/menelusuri-jejak-rasisme-terhadap-jepang-pasca-perang-dunia-ii-c45ca4a5c8a5
author_url
https://medium.com/@kusumagede39
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30