Untuk Bintang, Adik Kecilku yang Tak Lagi Gemar Menangis
Waktu pertama kali menemani bunda cek kandungan, aku hanya berdiri di pojok ruangan dekat pintu ruang periksa. Mengamati orang-orang di…
Untuk Bintang, Adik Kecilku yang Tak Lagi Gemar Menangis


ini Adek Bii waktu kecil, tahunya hanya menangis minta es krim dan jajan.
Waktu pertama kali menemani bunda cek kandungan, aku hanya berdiri di pojok ruangan dekat pintu ruang periksa. Mengamati orang-orang di sekitarku yang begitu antusias akan kehadiranmu. Lahirmu juga dinantikan semua orang di keluarga kita. Kecuali aku, saat itu.
Aku hanya takut kamu mengambil semua cinta yang semula hanya tercurah padaku. Aku takut tangismu menarik perhatian Bunda. Aku takut kehilangan cinta dan kasih sayang Ayah dan Bunda. Apalagi, Bunda adalah wanita karir sejak dulu, yang waktunya untuk menemaniku bermain memang terbatas. Aku takut ditinggalkan, takut tak terlihat. Itu sebabnya aku selalu membencimu ketika kita masih kecil.
Maaf ya, seumur hidupku, aku tidak pernah mengalah padamu tentang apapun itu. Aku terbiasa dinomor-satukan, diutamakan. Aku terbiasa menjadi yang pertama. Aku tidak pernah kalah dan mengalah. Dari dulu, bagiku hanya pecundang yang boleh kalah. Itu sebabnya aku terlalu keras pada diriku sendiri, begitu juga padamu.
Tapi pertama kali rasa cinta itu benar-benar tumbuh adalah ketika Ayah pergi meninggalkan kita dengan kubangan luka yang bahkan masih menganga hingga kini. Saat itu, di pikiranku hanya ada kamu. “Bagaimana caranya agar anak ini tidak terluka? Bagaimana caranya melindungi anak ini agar ia tidak tahu betapa pahitnya hidup ini? Bagaimana caranya agar anak ini punya pegangan dan tidak rapuh sepertiku?”
Sejak kecil, aku berusaha melindungimu agar tidak terluka dari tatapan menghunus dan lidah tajam manusia bangsat yang katanya keluarga itu. Itu sebabnya aku berusaha kuat, berusaha cerdas, bisa diandalkan, dan sempurna, agar tidak ada yang bisa merendahkan kita. Tapi aku lupa, yang kupunya itu justru melukaimu di sisi lain.
“Lihat, Kakak! Dia rajin dan pintar, tidak sepertimu yang malas belajar!”
Hingga di suatu hari, kamu menangis dan tergugu. “Aku juga mau pintar kayak kakak. Tapi aku gak bisa, karena aku bukan kau, kak! Aku gak sepintar kakak, gak sehebat kakak. Aku capek dibandingin sama kakak terus!”
Ingat itu, kan? Kamu menangis di ruang klinik di belakang rumah. Ternyata, aku juga menimbulkan luka di hatimu. Sejak saat itu, aku berjanji untuk membantumu menjadi juara 1. Aku berjanji untuk membuatmu menjadi orang yang hebat. Aku berjanji untuk menjadi kakak yang baik dan mendukung semua upayamu.
Bintang, aku tahu kalau aku sering kali terlalu keras ketka mendidikmu. Satu kesalahan akan diupahi satu sentilan di telinga. Desain poster atau power point yang kaubuat sering kali mendapat kritik pedas yang menusuk. Hitunganmu yang ceroboh sering kali diupahi amarah. Aku juga sering memaksamu menjadi ini, menjadi itu. Mengikuti ini, mengikuti itu. Jangan begini, jangan begitu. Tapi aku hanya ingin kamu banyak belajar agar tak terkalahkan. Aku tahu rasanya dicurangi. Ketika kamu sebenarnya mampu dan mumpuni namun harus diabaikan hanya karena bukan orang kaya, bukan anak pejabat. Oleh karena itu aku memaksamu serba bisa, agar kau tak terkalahkan.
Mungkin aku adalah kakak paling menyebalkan di dunia, bukan kakak yang baik. Tapi aku juga yakin kalau aku adalah kakak yang paling bisa diandalkan. Aku jamin itu.
Bii, kita sudah hidup bersama selama enam belas tahun lamanya. Bagiku, kamu adalah teman yang paling setia. Aku tumbuh bersamamu. Apapun yang kulakukan hanya untukmu, karena aku tidak ingin menjadi kakak yang gagal dan tidak bisa diandalkan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu menjadi rumah yang menerimamu pulang bagaimanapun keadaanmu. Kamu adalah manusia paling sempurna untukku.
Bii, aku hanya ingin segala yang datang padamu adalah yang terbaik. Aku tahu betapa hebatnya badai yang menerjangku. Kadang kala badai itu terlalu hebat hingga membuatku sesak napas. Itu sebabnya aku tidak ingin kamu tahu rasanya diterjang badai. Tapi aku lupa bahwa kamu pun manusia yang suatu hari akan diterjang badai yang mungkin sama hebatnya. Kuharap kamu memiliki tempat berlindung bila badai itu terlalu kencang untuk kauhadapi seorang diri. Kuharap aku ada disana untuk membantumu melewati badai.
Bii, terima kasih karena tumbuh dengan sangat baik. Terima kasih karena sangat setia mendengar kesahku yang membosankan dan memuakkan itu. Terima kasih karena menjagaku dengan sangat baik, menggantikan tugas ayah yang seharusnya melindungiku disaat ayah kita benar-benar tidak bisa diharapkan. Terima kasih karena selalu mengerti perasaanku dan isi pikiranku yang terkadang tidak masuk akal itu. Terima kasih telah menjadi teman untuk berdiskusi. Kamu dan isi pikiranmu yang luas, dewasa, dan hebat itu benar-benar luar biasa. Aku senang menjadi kakakmu.
Untuk lelaki penuh kasih yang tumbuh bersamaku …
Hiduplah dengan baik, tumbuhlah dengan hebat, berdirilah dengan kokoh. Aku sayang padamu, selalu. Kalau ada kehidupan lain setelah ini, aku tetap ingin terlahir menjadi kakakmu.
Selamat ulang tahun, Bii! Selamat berbahagia di dunia! Selamat mengarungi dunia yang luas. Semoga akan selalu ada tempat untuk pulang dan rebah menghapus lelah. Semoga kamu akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik dan hal-hal yang menakjubkan. Semoga kamu bisa menghasilkan hal yang lebih hebat daripada yang pernah kakak berikan. Aku akan selalu menunggu pencapaian luar biasamu. Hal hebat dimulai dari tekad yang kuat.
메타데이터
- post_id
- c486dfc333eb
- slug
- untuk-bintang-adik-kecilku-yang-tak-lagi-gemar-menangis-c486dfc333eb
- url
- https://medium.com/@deesappear/untuk-bintang-adik-kecilku-yang-tak-lagi-gemar-menangis-c486dfc333eb
- canonical_url
- https://medium.com/@deesappear/untuk-bintang-adik-kecilku-yang-tak-lagi-gemar-menangis-c486dfc333eb
- author_url
- https://medium.com/@deesappear
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01