← Back to list

bagaimana denganku? yang terus menantimu datang padaku

Butuh waktu tiga kali dua puluh empat jam bagi March untuk berdamai dengan dirinya, berdamai dengan arti tak lagi menangis hebat saat…

theegreatpanda · 2026-06-20 13:32 · 0 claps · 11.5 min read
#hsr #danmarch #regret
Open on Medium ↗

bagaimana denganku? yang terus menantimu datang padaku

Butuh waktu tiga kali dua puluh empat jam bagi March untuk berdamai dengan dirinya, berdamai dengan arti tak lagi menangis hebat saat terlintas wajah Dan Heng dalam pikiran.

Kalap hampir menyingkirkan puluhan foto juga album yang merekam keseharian mereka selama ini, hendak mencabiknya saat dirasa dengan melenyapkan bukti maka perasaan itu akan menghilang.

Lantas meratapi keinginan sesaat yang membuatnya menyesal teramat sangat, bagaimanalah March bisa membunuh bukti kenangan Dan Heng bersama dirinya.

Hanya itulah yang tersisa dari dirinya, bukti bahwa Dan Heng pernah dan selalu baik padanya.

Ia menghela nafas saat menatap diri di depan cermin, mengingat tampilan terakhirnya di depan sang tuan. Penampilan kusut masai ini tentunya tak akan menarik perhatian siapapun, terlebih dia yang selalu tampil rupawan.

March menggeleng pelan, mengusir jauh jauh bayangan yang terlintas. Memegangi kelopak mata yang sedikit bengkak juga kemerahan, sisa menangis tak berkesudahan.

Ia tarik kaki dengan harapan tak berjumpa dengan siapa saja, berusaha tampil senormal mungkin, menyamarkan kesedihan yang tertinggal di permukaan wajah dengan puluhan polesan.

Bersedih memang menjadikan siapa saja lupa akan segalanya, lupa makan, lupa membersihkan badan, bahkan lupa apapun yang harus dikerjakan.

March pun sama, dia keluar setelah merasakan lapar teramat sangat, dengan suara dalam kepala membujuknya untuk menggigit minimal potongan roti di dapur sana.

Tak butuh waktu lama bagi March menemukan tujuannya, tak melirik makanan berat yang terletak begitu menggoda di salah satu sudut dapur, jemari dengan cepat menarik sepotong roti gandum dalam lemari dan sebotol jus di lemari pendingin.

Menyobek roti dan mengunyah dalam rasa menyesakkan yang tak kunjung hilang.

“March” Gadis itu terperanjat, merutuki diri dan panggilan yang mengagetkan. Menoleh dengan kunyahan kasar yang menyelesak masuk begitu saja dalan kerongkongan.

Itu Caelus, dengan segala keanehan yang dianggap wajar, tengah memegang bungkusan sampah hitam di masing masing tangan.

Perwujudan rakun dengan wajah polos itu menatap March dengan penuh keterkejutan. Seakan menemukan harta paling berharga setelah puluhan tong sampah yang ia jejalkan tangan.

“Caelus” March menjawab tak selera, tangan menggenggam botol jus hampir saja kehilangan rasa. Tatap matanya diantarkan pada sudut lemari di ujung satunya ruangan, menggurat pola yang ditampilkan.

“Sudah makan?” March mengerjap, tak menyangka atas pertanyaan. Rasanya seutuhnya takut akan berbagai pertanyaan yang menyusul, tak akan butuh puluhan jam bagi orang orang untuk mengetahui kejadian yang melibatkan Dan Heng juga dirinya.

Apalagi seorang Caelus yang selalu bersama mereka sedari awal perjalanan.

Awalnya gelengan March berikan, dan akhirnya teringat akan kunyahan yang tak sudah dengan benar. Buru buru mengganti gerak kepala dengan anggukan.

“Sudah” ujarnya pelan, ternyata tak mudah untuk melalukan percakapan diantara rasa asing yang menyesakkan.

“Hmm, sepertinya belum bukan?” Caelus mulai mendekat, dan March hanya bisa mematung membiarkan. Menatapnya nanar mulai mengaduk isi lemari makanan, menarik bungkusan yang March tau selalu ia gemari jika ingin makan camilan.

Tak butuh lama ia kembali berhadapan dengan March, bersikap seolah tak ada yang terjadi antara mereka. Dan diantara itu semua, piring makanan yang March lihat tadinya ikut terseret bersamanya.

“Kamu lapar banget kah?” Tanyanya keluar, meringis melihat jumlah bungkusan jika dibandingkan dengan roti hambar di genggaman tangan.

Caelus menjawab dengan tawa singkat, melambaikan tangan seraya membuka beberapa bungkusan secara simultan, melahap apapun yang ada di pandangan.

March hanya bisa menghela nafas, bagaimanapun cara Caelus menyantap makanan seolah penuh nikmat dihadapannya. Rasa dalam lidah March seakan enggan untuk memproses lebih lanjut, dengan otak yang menolak untuk membayangkan rasa kenyang yang akan tubuhnya terima.

Hanya butuh tiga kunyahan yang March berikan untuk waktu makan bersama mereka. Ia mengucapkan pamit dengan tergesa, hampir melupakan botol jus yang belum terbuka sebelum di ingatkan oleh mulut penuh Caelus yang bergumam tak jelas.

“Caelus, Himeko bilang-” Jantung March melompat seketika, suara yang tak ingin didengar disaat bersamaan amat dirindukan muncul begitu saja.

Tubuhnya membeku, bersitatap dengan orang yang baru saja tiba di pintu ruang makan. Ekspresinya sama terkejutnya dengan milik March.

“March..” panggilan yang masih sama itu membasuh segala marah di dalam relung dada, membuat March mengutuk perasaan yang masih ada di dalam dadanya.

Ia menyelinap di ruang pintu yang masih tersisa, berusaha sebaik mungkin tak bersentuhan dengan sang pemuda yang hanya bisa menatap nanar punggung yang menghilang di balik lorong.

Sekali lagi kehilangan kesempatan, entah untuk keberapa kalinya untuk bersitatap dengannya yang tak ingin kembali.

Saat dirasa tak ada yang mengikuti barulah March membiarkan dirinya rubuh begitu saja, tersungkur dengan dada sesak di antara lorong penumpang. Menggigit bibir demi menahan isak yang menyesak keluar.

Tidak, Ia tidak boleh menangis lagi.

Tidak, dengan segala kesedihan yang masih membayangi langkahnya ini.

Tak mungkin keseluran perjalanan March habiskan dengan menghindari Dan Heng, menganggapnya tak ada selama rapat, makan bersama ataupun misi berbahaya.

Tapi March pun lebih sadar akan kondisi hatinya, sekadar bersitatap menjadikan rasa yang dia anggap damai kembali muncul mencabik diri, hingga tersungkur dan berguling rasanya mungkin akan jauh lebih baik daripada ini.

Dan saat itulah March memutuskan, dengan sisa tenaga ia membujuk kaki melangkah menuju Parlor Car, mengeluarkan surat permintaan tolong dari berbagai semesta yang pernah disinggahi kepada Astral Express.

Membaca keseluruhan misi yang ditunda penyelesaiannya, menyimak permintaan, lantas menyambar segala yang dirasa akan menyita waktu paling lama. Bergegas mengemas barang yang dibutuhkan, berpamitan dengan cepat kepada Pom Pom yang hanya bisa mengucap selamat jalan dengan penuh tertahan.

March hari itu pergi selama hatinya membutuhkan. Ia tau benar bahwa hatinya tak akan senyap selama ia masih berdiam menyesali segala kesempatan yang tak akan sampai kepadanya, jadi dia memilih jalan keluar kedua.

Lagi lagi ia ketahui dari buku, Dan Heng menyukai buku dengan sampul kebiruan itu teramat sangat. Buku itu bercerita akan seorang raksasa yang bersedih hingga membuat air lautan disekitarnya naik ke daratan.

Raksasa itu tak kuasa menahan duka akibat ditinggalkan yang tersayang, memilih mengasingkan diri dengan kesedihan yang mengukung sampai habis usia. Bagaimana akhirnya? Bisa dibilang begitu sedih hingga March tak bisa menahan isak saat Dan Heng menceritakan, dan itulah makna kisah yang March dapatkan.

Membuat fisik lelah hingga tak dirasa lagi ada kesempatan untuk berkompromi dengan rasa. Menghabiskan hari dengan pekerjaan yang menyiksa pikiran juga tubuh secara bersamaan. Sama seperti sang raksasa yang akhirnya bisa memaksakan damai bersama perasaannya setelah mengeras dan berubah menjadi pulau di tengah lautan luas.

“Selamat tidur, March” March balas mengangguk singkat pada rekan kerja yang memakai seragam putih sama sepertinya. Semilir angin kering menimpa anak rambut, refleks memejamkan mata demi menghalangi debu yang masuk.

Sudah terhitung 20 hari lamanya March habiskan dengan berpindah tempat, meraba segala bantuan yang dibutuhkan, menyelesaikan masalah yang tempat tersebut ajukan. Mulai dari pertolongan medis akan sisa Yaoshi layaknya Mara yang menyerang penduduk hingga evakuasi besar besaran akibat bencana gunung purba meletus yang beruntungnya bisa dideteksi terlebih dahulu.

10 hari pertama menyesuaikan diri adalah yang paling berat bagi March, ia harus menyesuaikan diri dengan cepat dengan segala hal yang ada di hadapan matanya. Memutuskan segala hal dengan segala resikonya, menjahit luka orang yang masih meraung akan sakitnya pendarahan bahkan menyaksikan sendiri tubuhnya berubah menjadi biru akibat dingin yang tak tertahankan.

Namun semua itu ia anggap sepadan, pilihan yang diambilnya teramat benar, dalam artian, segala hal yang memaksanya untuk menghilangkan kesedihan itu sembuh dengan begitu cepat. March seumur hidupnya hanya mengenal 24 jam dalam satu hari, dan kini 20 jam ia habiskan demi mengerjakan apapun yang harus dikerjakan, dengan sisa jam harus ia paksakan diri memejamkan mata. Tak menyisakan sedikit pun ruang untuk berpikir tentangnya.

March merapatkan seragam putih yang dilapisi jaket tebal, menyaksikan bagaimana nafasnya berubah menjadi kabut tebal dan titik kuning di sekitar yang berkedip layaknya kunang kunang.

Senyum tipisnya timbul di sisi wajah, pekerjannya 5 hari terakhir bisa dibilang lebih ringan daripada 15 hari pertamanya. Asta yang menyeretnya ketempat ini setelah menemukannya masih berkutat dengan tanaman merambat di sebuah planet yang telah kehilangan penduduk.

March masih ingat betul, cecar oleh gadis kaya itu saat membawanya menuju sebuah bangunan dengan 3 lantai yang tampak sederhana.

“Bantulah disini sebisamu, jangan berpikir untuk pergi ketempat berbahaya lagi!”

“Nona March” March lantas menoleh, mendapati kalau seseorang dengan wajah rupawan dengan pakaian putih khas seorang dokter tengah berdiri terpisah sepuluh langkah darinya.

“Dokter Aya” March membalas dengan melangkah kecil padanya, dokter itu adalah orang yang menyenangkan, sekaligus pemilik tempat bangunan 3 lantai sederhana itu. Sebetulnya saat pertama melihat March tak yakin benar akan fungsi tempatnya, bahkan butuh beberapa kernyitan penjelasaan saat Asta bercakap dengan 3 orang petugas baru March menyadari makna tempat itu sebenarnya.

Sebuah shelter, tempat rehabilitasi mental bagi orang orang yang membutuhkan bantuan dalam artian terbaiknya, yang terletak di pinggiran sebuah kota wisata, dengan sungai yang tampak elok menyisir di sekitarnya. Siapa yang akan menyangka kalau tempat rehabilitasi, identik dengan orang yang pernah dicelakai oleh kehidupan dikelola oleh seorang dokter muda yang bahkan wajahnya tak menunjukkan lebih dari empat puluh tahun.

Tapi tetap saja, tampilan luar tak berarti sama dengan usia seseorang di semesta ini.

“Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini” Dokter Aya mengular senyum yang lantas tertular pada March begitu saja, “Aku tau ini jam istirahatmu sebelum Daisy juga Jasmine bangun untuk senam paginya” ia tertawa kecil, menyinggung anak perempuan kecil yang akrab begitu cepat dengan March sesaat dia menjejakkan kaki disana.

“Tapi seseorang mengajukan pertemuan denganmu besok pagi” Ekspresinya tak berubah sedikitpun, masih tetap terjaga sambil meneliti mimik wajah yang March berikan sebagai respon.

March sebenarnya punya banyak tebakan di dalam kepalanya, tak putus tanya dalam hati selalu berkumandang akan nama yang telah ditorehkan, hanya untuk dicabut dengan begitu kejam sebelum kembali bertunas seenaknya. Ekspresinya gagal March jaga, ia bisa merasakan hatinya seolah tercelup dalam kolam dingin begitu saja, harapan kembali muncul tanpa bisa dia cegah.

“Siapa?” March bertanya pelan, bersiap dengan segala konsekuensinya, tapi Dokter Aya hanya menggeleng pelan “Asta yang memberitahu barusan lewat pesan, dia bilang untuk mengosongkan jadwal mu atas permintaan teman lama…” Ia berhenti kembali dan menghela nafas pelan.

Dokter Aya tau perihal perasaan March juga sakit hatinya, ialah yang memberikan izin bagi seseorang tak punya lisensi seperti March untuk ikut membantu mengurus penghuni di shelter itu. Berbagi kisah yang tak pernah March bayangkan sebelumnya, bersimpati akan hal yang membuatnya terkagum akan pengalaman hidup yang telah masing masing mereka lalui.

March pun sungguh berterima kasih pada Dokter Aya layaknya seorang pasien, seakan takdir kehidupan berbaik hati untuk mengenalkannya pada dokter hebat itu. Karna sungguh, entah bagaimana caranya, Dokter Aya akan selalu punya cara untuk membuat perasaan menjadi lebih baik saat berbicara dengannya.

“Tidak apa-apa..” March menjawab dengan patah patah, memaksakan senyum di ujung pipi. “Bolehkan anda menemani saya sebentar saat berbicara Dokter Aya? Saya sebetulnya bisa menebak orangnya, tapi saya lebih takut jika tebakan saya salah dan saya akan kembali kecewa” Ia menggaruk pipi yang tak gatal, merasakan hembusan angin kuat yang kembali menerbangkan rambut.

Dokter Aya tak memberikan anggukan ataupun gelengan, hanya sentuhan lembut ia berikan pada telapak tangan March seraya tersenyum. “Kamu akan baik-baik saja March, percayalah itu”

— o0o —

March sungguh tak bisa memejamkan mata sesudahnya, ia memang sempat mengunjungi dipan tempat rekan kerjanya terlelap separuh mendengkur, mencoba untuk berbaring dan membujuk diri terlelap. Mencoba berpindah posisi sebanyak mungkin, dari kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala, telentang, telungkup, bahkan sampai melemparkan bantal ke lantai tak bisa membuatnya terlelap.

Shelter sudah memulai kesehariannya sejak setengah jam yang lalu, dengan petugas yang sibuk membangunkan seluruh penghuni dan mempersiapkan sarapan. Sup Jagung adalah menu hari ini, harusnya yang bertugas membagikannya di ruang makan pagi itu adalah March, dan dia sudah harus berkutat dengan pantat panci sejak beberapa menit yang lalu.

Helaan nafas keluar tanpa ia sadari, sebuah kebiasaan buruk yang dilarang oleh Dokter Aya, kapanpun ia mendapati March menghela nafas. March melirik jendela dengan gorden tipis di ujung satunya, mematut cahaya matahari yang mulai menyelesak menimpa perabot dari kayu yang masih gagah berdiri.

Sepatutnya tamu itu akan tiba dalam hitungan menit lagi, dengan Dokter Aya yang membawanya kemari, March tentunya punya tebakannya sendiri, puluhan gambar dan juga kenangan ia gulir di layar kamera untuk mengingatkannya akan rupa seseorang yang berusaha ia lupakan.

March masih bisa merincikan malam penantiannya diantara letih tubuh yang tak kunjung hilang, menimpal tanya pada hati dan juga pikiran yang tak pernah selaras jikalau perihal ini dikatakan. Berkali kali dalam malam panjangnya March mencari nomor kontak yang paling atas, bersiap untuk menekan lantas menyesal akan perjuangannya untuk melupakan yang terasa sia sia begitu saja.

“Halo, March” Suara sapaan itu terdengar bersama dengan pintu ruangan yang didorong pelan, March terperanjat saat menolehkan badan, mendapati seseorang yang dibawa Dokter Aya kini telah berdiri dihadapannya.

“Tuan Yang” Seakan suatu tali yang melingkari erat lehernya semenjak tadi malam perlahan melonggar, March melempar senyum riang memegangi tangan sang Nameless senior. Anehnya rasa nyeri di dada itu tak kunjung hilang, padahal harusnya yang dia rasakan adalah kelegaan, karna yang datang bukanlah orang itu.

Bukankah hal itu menjelaskan semuanya?

March meringis tanpa ia sadar, meski begitu Tuan Yang tak menyinggung perihal tersebut. Memilih untuk duduk di kursi yang telah disediakan, berhadapan dengan posisi March semenjak awal.

“Kuharap kabarmu baik baik saja March” Tuan Yang pertama memulai penjelasn, tak membiarkan ekpresi muram berlama menggantung di wajah March. Pria tua dengan wajah menyenangkan itu memulai rentetan pertanayan juga penuntutan penjelasn yang tak tertahankan.

“Maukah kamu menceritakan perjalanan Trailblaze mu selama 20 hari ini? Siapa tau bisa jadi bahan referensi animasi selanutnya bukan?” gurauan Tuan Yang berhasil menerbitkan senyum di wajah gadis itu dan March akhirnya membalas dengan anggukan.

March tertawa dengan getir, meski tangan gemetar tampak sekali di ujung mata dengan peluh yang menemani tengkuk sesaat iaa tersadar kalau keputusan itu mengantarkannya pada dua hari yang lampau. Tak ada yang patutnya ia sembunyikan, March tak berhak untuk merahasiakan segala sesuatu hal dalam hatinya.

Terlebih March tentu telah tau jawabannya, ia tahu benar kalau pemuda itu tak pernah menginginkannya — lebih dari apapun juga.

Meski awal ceritanya patah-patah, meski lebih banyak terpotong akibat celetukan Tuan Yang yang bertanya keheranan, kisah itu tersampaikan sepenuhnya. “Astaga, gunung purba? Bukankah deteksi bencana alam mematikan itu sudah dipasarkan oleh IPC sepenuhnya?” Tragedi yang merenggut nyawa hampir sepertiga penduduk planet, “Nona Asta tentunya amat sangat terkejut melihatmu seorang diri disana” Tuan Yang mengusap rambut, menggelengkan kepala akan kecerobohan atau malah sekadar iri karena March berhasil menyelesaikan petualangan epik dalam 20 harinya.

Dan diantara itu semua, yang paling sulit adalah menjelaskan alasannya.

Perasaannya pada pemuda itu, caranya untuk menuntaskan rasa yang harus dienyahkan kapanpun terlintas. Hingga selintas percakapan mereka pada malam sebelum March memutuskan pergi sepenuhnya. Juga malam malam yang mengiringi kesedihannya, March masih bisa menjelaskan dengan baik detail menyakitkan yang merenggut seluruh nafasnya kala itu, berjuang mengusir perasaan yang membuatnya tak bisa berdamai sepenuhnya.

“Aku tau dengan benar apapun yang aku lakukan aku tak akan bisa berdamai sepenuhnya Tuan Yang. Aku tau, perasaaan ini terlalu besar untuk dienyahkan pun terlalu jelas untuk tak diakui bentuknya. Bahkan jika aku menggunakan kekuatan Oblivion untuk melupakan, aku tau hati ini tak akan pernah tenang kapanpun aku melihat dirinya lagi” March tertunduk dalam, menahan aliran air mata yang menyesak.

Bayangan akan wajahnya membuat March kemebali merasa sesak, seakan dirinya tengah berdiri disana, berada dalam jangkauan, hanya untuk menghilang bersamaan di hela nafas selanjutnya.

“March, aku tak tau apakah aku pantas mengucapkan ini padamu atau tidak. Tapi pernahkah kamu ingin tau tentang perasaan Dan Heng yang sesungguhnya padamu?”

March menggeleng, tak memiliki keberanian meski harus mencungkil sedikitpun dalam relung hatinya. Buat apa? Mendengar kalimat penolakan yang selalu ia bayangkan muncul dalam mimpi buruknya menjadi nyata? Membuat keteguhannya yang susah payah ia bangun selama menjauh darinya runtuh begitu saja bak pecahan kaca?

Percakapan mereka terhenti saat petugas mengetuk pintu ruangan, membawakan sup jagung yang masih mengeluarkan uap hangat dari dalam mangkuk. Dan dengan sedikit kesepakatan antara Tuan Yang dan petugas yang tentunya bisa membaca situasi dengan baik, kalau March setidaknya akan menyentuh sup itu meski dengan paksaan.

“Bukankah itu tambah menyakitimu March? Membuatmu bersedih?” Tuan Yang menatapnya prihatin, bagaimanapun juga gadis berambut merah muda itu layaknya seorang anak yang telah ia jaga dengan kedua tangannya sendiri. Melihatnya tersiksa, terlebih akan rasa yang tak sanggup dikatakan, tentunya akan membuat hati siapapun teriris.

“Apakah menurut Tuan Yang, Dan Heng memiliki jawaban atas perasaanku?” Dan pria tua itu hanya bisa mematung di tempat, menggenggam sendok dalam genggaman tangan. Tak punya jawaban atas pertanyaan, pun terkejut akan nama yang terlempar dalam percakapan.

“Aku tak pantas mewakilkan dirinya atas pertanyaanmu March, tapi ketahuilah Dan Heng selalu menyayangimu”

“Lalu kenapa dia tak mencariku? Menghubungiku? Apakah dia sungguhan tidak tau, alasan aku pergi hanya demi menjauhinya? Untuk mengenyahkan perasaanku padanya?” March menelan makanan dengan susah payah, sup jagung yang harusnya terasa manis dilidah sudah bercampur dengan pahitnya rasa yang kembali menyesak di tenggorongkan.

Membuatnya tersengal sambil menyeka air mata yang turun tak tertahankan. Habislah sudah, March sungguh bodoh menyangka kalau ia telah berdamai sepenuhnya, ia keliru mengira kalau hatinya tak lagi teriris memikirkan kesempatan yang tak akan pernah digapai sepenuhnya.

“Maafkan aku Tuan Yang, aku pikir aku sudah rela, aku pikir aku akan baik baik saja saat menceritakan ini padamu.. tapi ternyata aku masih tak sanggup”

Tuan Yang hanya bisa menatap kasihan gadis muda itu, tangan bergerak pelan mengurai rambutnya yang terlihat lebih pucat dan mata sembabnya yang telah berubah menjadi merah sepenuhnya. Sungguh, tangisan tak pernah cocok dengan wajah riangnya.

“Aku sungguh ingin melupakannya Tuan Yang, melupakan perasaan ini, melupakan segala prasangka buruk yang membuatku membencinya. Apakah menggunakan Oblivion akan membuatkanku melupakannya? Jika bisa, kumohon izinkan aku melakukannya, aku sungguh tak sanggup lagi menyimpannya” March menangis pada pagi hari itu.

Tuan Yang hanya bisa memeluk bahunya dengan teramat erat, menyeka sudut mata agar tak ikut menangis bersamanya. Ingin rasanya ia menarik mereka berdua untuk duduk di tempat yang sama, berbicara akan hal yang seharusnya begitu jelas bagai bintang di langit sana.

Namun pria itu pun tak mengetahui kemana Dan Heng pergi, pemuda itu sempurna menghilang setelah akhirnya mengancam Pom Pom untuk memberitahu kemana March menghilang malam itu dan bahkan tak meninggalkan jejak sama sekali. Bahkan untuk menemukan March pagi ini bisa dibilang keberuntungan, dikarenakan bantuan Asta yang menggunakan seluruh koneksi yang ia punya, tapi dengan Dan Heng? Tak ada yang menemukan jejaknya.

Meski begitu, ia tau dengan benar, urusan perasaan hanya bisa diselesaikan dengan kedua orang yang terlibat dan yang bisa dia lakukan hanyalah menemani hingga semuanya berakhir sepenuhnya

Entah itu akhirnya bahagia ataupun menderita.


메타데이터
post_id
c4a4442b079d
slug
bagaimana-denganku-yang-terus-menantimu-datang-padaku-c4a4442b079d
url
https://medium.com/@kayaauliarv/bagaimana-denganku-yang-terus-menantimu-datang-padaku-c4a4442b079d
canonical_url
https://medium.com/@kayaauliarv/bagaimana-denganku-yang-terus-menantimu-datang-padaku-c4a4442b079d
author_url
https://medium.com/@kayaauliarv
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31