← Back to list

Sorai

Orang bilang mereka saling menyakiti. Seberapa besar yang diberikan Seraga pada Sina, orang-orang hanya akan mengatakan bahwa lelaki itu…

CeuNaya · 2024-12-17 23:10 · 0 claps · 4.2 min read
#farewell #aromantic #sorai
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval MM · Multimodal & Generative Media

Sorai

Cr. Pinterest

Cr. Pinterest

Orang bilang mereka saling menyakiti. Seberapa besar yang diberikan Seraga pada Sina, orang-orang hanya akan mengatakan bahwa lelaki itu lagi-lagi hanya jatuh sendiri. Me-label-i Sina sebagai gadis kejam yang tak pernah menggubris sebesar apa rasa yang diberikan oleh Seraga, tanpa mempertimbangkan bagaimana tatapan mata gadis itu ketika menatap Seraga. Mereka tahu mereka saling memiliki hati masing-masing. Semuanya terlalu buta untuk membaca bahasa kasih mereka. Orang-orang terlalu tuli untuk mendengar seberapa sering Seraga membisikkan kasih pada Sina. Orang-orang juga tak pernah mengetahui Sina yang mengecap kasih itu dengan sepenuh hati.

Seraga tak pernah merasa sejatuh ini. Bagaimana sepasang matanya hanya tertuju pada Sina di antara puluhan orang di sekitarnya. Segara tahu seperti apa gadis itu bersikap. Sina tak bicara banyak pada orang lain, kecuali satu temannya yang bernama Sakilah. Pada Seraga pun begitu. Hanya berbicara seperlunya. Sina juga memiliki perasaan yang tak terlalu sensitif, sampai terkadang Seraga harus menjelaskan dengan rinci perkara apa dan atas alasan apa Seraga berlaku terhadapnya.

Andaikan saja semuanya berada di tempat yang benar, mungkin saja mereka berdua tidak akan menghadapi kebuntuan seperti ini. Mungkin saja jika seluruh bumi dan isinya mendukung, Seraga bisa saja memiliki Sina dalam dekapannya. Mungkin saja jika semua alam semesta bergandeng tangan saling membantu, Sina bisa menerima uluran tangan Seraga.

Namun tak ada yang berjalan semudah itu.

Seraga memang datang pada Sina dengan cara yang baik, lelaki itu memiliki banyak hal untuk ditawarkan padanya. Namun tidak dengan Sina. Setelah mengecap kasih dari Seraga, pikirannya kalut. Takut ini terlalu menyesatkan untuknya. Karena pada dasarnya dia tak pernah siap berada dalam ikatan, apapun itu bentuknya.

Semua orang mengetahui betapa lurus jalan hidupnya. Salah satu bentuk kenistaan yang dia miliki hanyalah dirinya yang memandang kebanyakan lelaki dengan cukup rendah. Memukul semua laki-laki sama rata dengan pemikirannya yang dominan. Begitu bertemu dengan Seraga, dia mematahkan pemikiran itu. Karena Seraga berbeda dan Sina mengagumi segala hal yang dimiliki Seraga dengan alaminya.

Namun kembali pada permasalahan awal, dunia memang tengah tak berpihak pada mereka. Seraga siap menanggung segala hal yang dibebankan padanya oleh Sina. Namun gadis itu tak pernah siap menyerahkan dirinya pada orang lain. Semuanya terlalu asing untuk Sina yang terbiasa berdiri sendiri di atas kakinya. Tak mudah untuk menyerahkan segalanya pada Seraga. Tak mudah baginya untuk menikmati kasih tanpa khawatir akan hari esok.

“Aku gak pernah siap untuk memulai hubungan.”

Seraga seharusnya sudah paham sejak awal bahwa dia tak boleh memiliki harapan lebih pada Sina. Namun apalah daya manusia yang penuh dengan kekurangan. Tak pernah sekalipun dia mengira pendidikan puluhan tahunnya menguap sia-sia di hadapan harum dan pendar mata itu. Dia bertaruh dapat memahami segala yang diberikan oleh Sina, namun hatinya menolak dan terus mendorongnya, meyakinkan bahwa masih ada harapan.

Seraga seharusnya paham sejak hari dimana Sina datang sebagai seorang pasien di hadapannya, dia seharusnya menghentikan segalanya. Seraga seharusnya paham ketika gadis itu pertama kali akhirnya mau membuka diri padanya setelah dua tahun mereka saling mengenal. Itu berarti saatnya Seraga menjauh dan membiarkan gadis itu memilih jalannya untuk terlepas. Karena sesungguhnya gadis itu hanya membuka semua hal buruk yang dia miliki. Seberapa kelam hidupnya, pemikiran dangkalnya, dan juga isi kepalanya yang berisik.

“Aku jatuh cinta, Sina.”

Itu bagaikan dosa baginya. Seraga tahu Sina tak pernah siap mendengar itu. Tak seharusnya Seraga begini. Seraga harus berhenti. Dia terlalu egois.

“Maaf, gak seharusnya begini kan?”

Ah, tentu saja Seraga paham. Hari dimana dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya secara gamblang, dia juga memutuskan siap pergi dari kehidupan gadis terkasihnya. Seraga akan menerima apapun jawabannya. Seraga menghargai segala keputusan Sina.

“You should take some more time on this.”

Sina total terdiam. Meskipun begitu, Seraga tahu gadis itu mencintainya sama besarnya. Sina juga menginginkannya sebesar Seraga menginginkan Sina. Seraga berduka, dia tahu ini tidak akan pernah berhasil.

“Masih ada banyak hal yang harus aku perbaiki lagi Mas Raga. Bukan masalah kamu atau mungkin perasaanku. Tapi waktu. Aku belum siap untuk memulai hubungan. Aku belum tahu itu sampai kapan. Tapi aku tahu, itu yang aku rasakan pada saat ini.”

Seraga jelas paham. Tak mungkin dia tidak memahaminya, disaat Sina sendiri pernah mengantakan padanya bahwa Seraga adalah orang yang paling cepat memahaminya.

Seraga mengulas senyumnya. Senyum termanis yang pernah ada. Mungkin benar kata orang, mereka memang saling menyakiti. Kenapa Seraga memaksa untuk berikan seluruh kasih disaat Sina sendiri ternyata masih gamang untuk menerima seluruh kasihnya. Kenapa juga Sina masih terus menerima kasihnya jika ujungnya tak dapat menerima seluruh kasih dan hati yang diberikan oleh Seraga. Ternyata mereka memang saling menyakiti.

“It’s okay, lets be best friend then.”

Bodoh

Jelas saja Sina akan menolaknya. Menjadi teman baik dengan keadaan seperti ini akan semakin menyakitkan untuk keduanya. “I can’t, kita sudahi disini aja ya mas?”

Seraga masih mempertahankan senyumnya, sampai ketika kedua lengan itu terulur pada. Gapai pipinya dengan sentuhan paling lembut. Usapan ibu jari Sina di pipinya terasa sangat hangat. Ini kejam, Sina cukup kejam. Jemari yang menari dengan hangat di kulit pipinya terasa membakar hati. Ini bukan akhir yang diinginkan oleh Seraga. Namun jujur saja, hal ini yang sudah dia duga sedari awal.

“Terima kasih.”

Dekapan yang hangat mampir kembali di tubuhnya yang total lemas. Kepala yang bersandar di dadanya mengusak pelan, menghirup lamat-lamat kehangatan yang akan segera dia tinggalkan. Seraga memejamkan mata, aroma dari helaian rambut Sina tak akan dia temukan lagi. Tubuh kecil itu mengisyaratkan ini adalah kali terakhir Seraga boleh mendekapnya seerat mungkin.

“I love you.”

Sina tak menjawabnya, namun dekapannya bertahan semakin erat. “Hidup baik-baik ya Mas Raga. Jangan lupa makan siang walaupun lagi banyak pasien. Suatu saat mungkin kita bertemu kembali. Tapi aku harap aku bukan lagi bagian dari pemilik hatinya Mas Raga.”

Ini menyakitkan untuk keduanya. Namun lebih baik begini daripada tak henti-hentinya untuk saling menyakiti. Lebih baik begini daripada mereka bersorai tawa dengan hati yang pedih sepanjang hari. Lebih baik begini daripada terlambat dan tak bisa diobati lagi.

“Kamu juga.”

Mungkin ini menyakitkan.

Mungkin ini menyebalkan.

Tapi setidaknya ada titik bahagia ketika Sina menatap mata Seraga yang teduh. Meskipun disakiti dan berakhir seperti ini. Walaupun ujungnya Sina tak pernah dapat menerima hati Seraga, Seraga bahagia. Bagian bahagia dalam hidupnya salah satunya adalah Sina. Mungkin dalam puluhan bab kehidupannya, Sina akan muncul terakhir kalinya disini. Tidak apa apa, karena kenyataannya tuhan memang membawa Sina padanya dalam waktu yang singkat. Menjadi pemeran selewat yang sangat berkesan. Meskipun akhirnya mereka tidak pernah menjadi satu, setidak dia bersorai sudah pernah dipertemukan dengan Sina.

-Ceunaya


메타데이터
post_id
c4ac2aabaedc
slug
sorai-c4ac2aabaedc
url
https://medium.com/@nanayah/sorai-c4ac2aabaedc
canonical_url
https://medium.com/@nanayah/sorai-c4ac2aabaedc
author_url
https://medium.com/@nanayah
status
ok
fetched_at
2026-07-21 15:07:53