| Di balik Jendela
Sore itu. Hujan mengguyur tanah yang kering. Bau khas hujan yang semerbak di hidung insan yang menghirupnya. Bunyi rintikan air di atas…

🍀
| Di balik Jendela
Sore itu. Hujan mengguyur tanah yang kering. Bau khas hujan yang semerbak di hidung insan yang menghirupnya. Bunyi rintikan air di atas genting rumah itu menciptakan irama yang indah. Nisha—anak yang berada di balik jendela kaca rumahnya—melihat air yang tiba-tiba saja turun dari langit. Kedua mata nya berbinar. Ia lama sekali memandang hujan itu. Pikirannya penuh oleh kalimat tanya, apa itu?
Beberapa menit. Lenggang. Ia masih nyaman di sana. Hingga telapak tangan perempuan—penuh kehangatan itu, menyentuh ubun-ubun kepala Nisha–nama anak itu. Nisha menoleh. Lantas spontan, dengan senyum yang lebar ia melontarkan pertanyaan. “Bunda, itu air apa?” tanyanya, sembari menunjuk di balik jendela. Perempuan itu tersenyum, sembari mengusap ubun-ubun putri nya. “Air itu, namanya hujan sayang.” Dengan menatap rintikan air hujan, perempuan itu kembali mengingat masa-masa kecilnya—yang suka sekali bermain hujan.
Ia kembali menatap putrinya. “Nisha mau main hujan, nak?” belum sempat menjawab, Nisha bergegas berlari ke pintu— untuk keluar rumah. Perempuan itu lagi dan lagi tersenyum—teduh sekali. Kali ini ia melihat putri kecilnya yang berlarian di halaman rumah dengan tawa yang amat girang. Di balik jendela itu— Ia melihatnya.
ist | 19 November 2024
메타데이터
- post_id
- c4acd236295c
- slug
- di-balik-jendela-c4acd236295c
- url
- https://medium.com/@eraista/di-balik-jendela-c4acd236295c
- canonical_url
- https://medium.com/@eraista/di-balik-jendela-c4acd236295c
- author_url
- https://medium.com/@eraista
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 03:40:04