← Back to list

Berkonfrontasi dengan Musik Tanpa Nama di Lantai 7

kekasih kotta · 2026-03-17 16:27 · 0 claps · 3.6 min read
#musik #ambon
Open on Medium ↗

Berkonfrontasi dengan Musik Tanpa Nama di Lantai 7

Pertemuan yang dimotori oleh Belang Musika Maluku beberapa waktu lalu mempertemukan pelaku seni dengan Ketua DPRD dan Sekretaris Kota Ambon, bersama kawan-kawan dari berbagai latar praktik. Sejak awal, ruang itu terasa berbeda. Ia tidak dibangun sebagai seremoni, tetapi sebagai ruang dengar. Sebuah ruang yang memberi kemungkinan bagi para pelaku untuk berbicara langsung, tanpa perantara, tentang apa yang selama ini mereka alami.

Diskusi dibuka dengan cerita-cerita yang sederhana, tetapi justru paling menentukan. Tentang tanda tangan yang sulit didapat, proses administrasi yang berbelit, akses yang tidak merata, hingga bagaimana kerja kreatif sering kali terhambat oleh hal-hal yang seharusnya bisa dipermudah. Hal-hal ini mungkin terlihat kecil dari luar, tetapi di tingkat praktik, di situlah musik benar-benar diuji apakah ia bisa hidup atau tidak.

Saya menyadari betul bahwa persoalan-persoalan di akar rumput seperti ini sangat mungkin luput dari pandangan para pengambil kebijakan. Bukan semata karena tidak peduli, tetapi karena memang tidak pernah benar-benar sampai ke ruang pengambilan keputusan. Karena itu, apa yang dilakukan oleh Belang Musika Maluku bersama para seniman yang hadir hari itu menjadi penting. Ia bukan sekadar forum berbagi keluh kesah, tetapi sebuah urgensi. Sebuah upaya untuk mempertemukan pengalaman langsung dengan struktur kebijakan yang selama ini terasa jauh.

Tulisan ini juga saya letakkan sebagai penjelasan posisi, agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang kehadiran saya dalam pertemuan tersebut. Saya tidak hadir sekadar sebagai undangan, tetapi membawa kegelisahan yang selama ini saya bangun dalam berbagai percakapan dan refleksi tentang bagaimana musik bekerja di kota ini. Ada hal yang ingin saya sampaikan, bukan sebagai kepentingan praktis, tetapi sebagai usaha untuk membuka cara pandang yang lebih jujur terhadap kondisi yang kita hadapi.

Saya hadir sebagai bagian dari Terakota, sekaligus sebagai pelaku seni. Namun saya juga perlu menegaskan bahwa apa yang saya sampaikan tidak dimaksudkan untuk mewakili semua pihak.

Saya tidak membawa suara komunal. Saya berbicara sebagai diri saya sendiri, sebagai seseorang yang hidup dan bekerja dalam kondisi ini.

Keterlibatan saya dalam Terakota adalah konteks, tetapi posisi saya saat berbicara adalah pilihan yang saya sadari. Dari posisi itu, saya melihat bahwa ada jarak yang cukup lebar antara narasi besar tentang kota musik dan kenyataan yang dihadapi para pelaku. Di satu sisi, kota ini dirayakan sebagai kota musik melalui berbagai pengakuan dan program. Di sisi lain, praktik musik sehari-hari justru berhadapan dengan keterbatasan yang mendasar.

Musik, bagi saya, tidak bisa dipahami hanya sebagai panggung atau acara. Ia adalah praktik hidup. Ia tumbuh dalam latihan yang panjang, dalam pertemuan antar musisi, dalam ruang-ruang kecil yang sering kali tidak terlihat. Namun justru ruang-ruang inilah yang jarang masuk dalam perhitungan ketika musik dikelola sebagai bagian dari agenda.

Masalahnya bukan pada ketiadaan kegiatan. Kegiatan justru ada. Festival berlangsung, panggung disiapkan, agenda berjalan. Tetapi di balik itu, ada sesuatu yang perlahan bergeser. Musik mulai diperlakukan sebagai bagian dari program, bukan sebagai praktik yang hidup. Ketika itu terjadi, karya tidak lagi berdiri sebagai ekspresi, tetapi menjadi pelengkap dari kebutuhan administratif.

Dalam kondisi seperti ini, seni tidak lagi hadir sebagai ruang pengalaman (sepertinya saya sering mengulangi pernyataan ini), tetapi sebagai bukti bahwa sesuatu telah dilakukan. Ia menjadi tanda administratif. Sesuatu yang dapat dilaporkan, tetapi belum tentu dirasakan. Di titik ini, pelaku seni perlahan kehilangan posisi tawarnya. Mereka tidak lagi menentukan arah, tetapi menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang sudah ditentukan sebelumnya. Situasi ini tidak berdiri sendiri. Ia juga terjadi di banyak kota kecil lainnya, di mana kegiatan seni lebih sering digerakkan oleh program pemerintah, festival resmi, atau seremoni kota. Seni menjadi bagian dari tata kelola, bukan lagi bagian dari kehidupan. Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya kebebasan berkarya, tetapi juga makna dari praktik itu sendiri.

Di sinilah kita perlu bertanya ulang tentang apa yang dimaksud dengan kota musik.

Selama ini, kota musik lebih sering dipahami sebagai identitas yang dirayakan. Tetapi identitas selalu melibatkan pilihan. Tidak semua praktik musik mendapatkan ruang yang sama. Ada yang diangkat, ada yang tidak terlihat. Maka kota musik bukan hanya soal keberadaan musik, tetapi juga tentang siapa yang diberi ruang untuk muncul dan siapa yang dibiarkan tetap di pinggiran.

Karena itu, persoalan yang kita hadapi bukan sekadar kurangnya kegiatan, tetapi cara kita mengatur dan memahami musik itu sendiri. Ini bukan soal membagi proyek kepada seniman. Ini soal bagaimana pemerintah mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan musik tumbuh secara wajar. Membuka akses, menyediakan ruang, dan membangun infrastruktur yang benar-benar dibutuhkan oleh para pelaku. Dalam pertemuan itu, saya juga menyampaikan bahwa ruang kerja bersama tetap terbuka. Bukan kerja yang berbasis proyek sesaat, tetapi kerja yang berangkat dari kebutuhan komunitas. Sebuah kerja yang menempatkan seni sebagai proses jangka panjang, bukan sekadar output kegiatan.

Dari situ, beberapa langkah menjadi penting untuk dipikirkan bersama. Menghadirkan ruang bersama seperti Konferensi Musik Ambon sebagai tempat untuk benar-benar mendengar dan menyusun arah kolektif. Membangun institusi pendidikan seni yang berkelanjutan agar praktik musik memiliki fondasi yang kuat. Serta melakukan evaluasi terhadap Ambon Music Office agar dapat berfungsi sebagai fasilitator ekosistem, bukan sekadar pengelola agenda.

Semua ini bukan penolakan terhadap gagasan kota musik. Justru sebaliknya. Ini adalah usaha untuk mengembalikan maknanya ke tempat yang lebih jujur. Kota musik seharusnya tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir sebagai ruang hidup. Ruang di mana musik tidak hanya dipentaskan, tetapi dijalani. Pada akhirnya, sebuah kota tidak menjadi kota musik karena sering merayakan musik, tetapi karena memberi ruang bagi musik untuk tumbuh dengan jujur. Dan mungkin, dari situlah kita bisa mulai benar-benar mendengarkan.


메타데이터
post_id
c4d55d28e3f2
slug
berkonfrontasi-dengan-musik-tanpa-nama-di-lantai-7-c4d55d28e3f2
url
https://medium.com/@kekasihkotta/berkonfrontasi-dengan-musik-tanpa-nama-di-lantai-7-c4d55d28e3f2
canonical_url
https://medium.com/@kekasihkotta/berkonfrontasi-dengan-musik-tanpa-nama-di-lantai-7-c4d55d28e3f2
author_url
https://medium.com/@kekasihkotta
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45