Nira
Pada malam ketika seorang anggota dewan kembali meminta rakyat bersabar, kau muntah di pot bunga milik ibu kontrakan. Aku menganggapnya…
Nira
Pada malam ketika seorang anggota dewan kembali meminta rakyat bersabar, kau muntah di pot bunga milik ibu kontrakan. Aku menganggapnya simbol yang cukup tepat. "Aku benci militer." Muntah. "Aku benci pemerintah." Muntah lagi. "Aku benci—" "Kau benci air putih juga?" tanyaku. Kau mengangkat kepala. Wajahmu pucat. Aku menyodorkan botol air mineral. Kau menerimanya dengan ekspresi seseorang yang seakan sedang menerima vonis. Hujan baru turun. Air mengalir di sela paving yang pecah. Dari musala ujung gang terdengar pengeras suara yang putus-putus tertelan angin. Kau duduk kembali. Wajahmu pucat. "Mungkin aku memang tak cocok hidup di sini." "Di kontrakan ini?" Kau tersenyum tipis. "Di negara ini." Aku mengambil gelas dari tanganmu sebelum kau menumpahkannya. "Kalau begitu pindah." "Ke mana?," "Kamar sebelah." Kau tertawa. Kali ini sungguhan. Pendek. Lelah. Lalu kembali diam. Kesunyian setelah tawa itu terasa lebih berat ketimbang bunyi hujan yang menghantam seng. Bau asam dari pot tanah liat di sudut teras mengapung, berkelindan dengan aroma aspal basah yang dipanggang sisa gerah siang hari. Di ujung gang, lampu jalan yang berkedip-kedip memberi warna kuning yang sakit pada separuh wajahmu. Aku merogoh saku jaket, mengeluarkan sebotol kaca pipih tanpa label—bekas botol obat batuk yang kini berisi cairan berwarna cokelat keruh. Itu intisari dari kesabaran yang membusuk; tebu dan nira yang dipaksa menyerah pada ragi di dalam gentong gelap selama berbulan-bulan. Kaum oportunis menyebutnya maksiat, tetapi bagi dua orang mahasiswa yang isi kepalanya habis dikunyah selebaran gelap, cairan ini adalah satu-satunya bentuk keadilan yang bisa dibeli dengan selembar uang sepuluh ribuan sisa ongkos demonstrasi minggu lalu. "Minum," kataku, menyodorkan botol itu langsung ke depan dadamu. "Ini zat pembebasan yang paling jujur. Ia tidak menjanjikan swasembada atau keadilan sosial, hanya hangat yang lekas di lambung." Kau menatap cairan itu, lalu beralih ke mataku. Ada keletihan yang purba di sana, sejenis keletihan yang biasanya hanya dimiliki oleh buruh pelabuhan menjelang subuh, atau para martir yang tahu mereka akan kalah sebelum peluru pertama ditembakkan. Kau menerima botol itu. Kulit jemarimu bersentuhan dengan kulitku; dingin, tipis, dan sedikit bergetar. "Kau selalu punya cara untuk merayakan kekalahan," bisikmu. Suaramu tenggelam di antara bunyi kecoak yang merayap di bawah rak sepatu. Kau menempelkan mulut botol pada bibirmu yang pecah-pecah. Napasmu tertahan sejenak saat cairan pekat itu memotong kerongkonganmu. Setetes kecil lolos, berkilau di dagumu sebelum jatuh tepat di atas lipatan kemeja flanelmu yang pudar. Aku memperhatikan bagaimana jakunmu bergerak turun naik—sebuah ritme yang lambat dan ritmis, seolah kau sedang menelan seluruh kekecewaan generasi kita sekaligus. "Ini bukan perayaan kekalahan," sahutku sambil mengambil kembali botol itu, lalu meneguknya dalam-dalam hingga dadaku terasa seperti dihantam martil panas. "Ini penundaan. Aku hanya lelah melihat kawan-kawan kita sibuk merapikan barisan, sementara musuh kita sedang menghitung laba di atas meja marmer. Negara ini sudah selesai sejak dalam pikiran. Kita hanya sisa-sisa dari sebuah proyek gagal yang lupa dibubarkan." Kau menggeser dudukmu, membiarkan punggungmu bersandar pada dinding batako yang belum diplester. Bahu kita bertemu, mengunci satu sama lain. Melalui lapisan kain yang tipis, aku bisa merasakan detak jantungmu—terlalu cepat untuk seseorang yang mengaku sudah tidak peduli. Keintiman di antara kita malam ini terasa pekat bukan karena ketertarikan jasmani yang murahan, melainkan karena kita sama-sama tahu, di luar pagar kontrakan ini, tidak ada satu pun tempat yang aman bagi kepala yang menolak patuh. Tanganmu yang kosong merayap di atas semen, mencari tanganku. Jemarimu menyusup di antara sela-sela jariku, pelan namun mencengkeram dengan keputusasaan yang dingin. Sisa aroma fermentasi nira dari napasmu terasa hangat di pipiku saat kau menoleh. "Jika besok pagi mereka datang lagi membawa panser dan surat penangkapan," katamu, matamu terpaku pada paving yang retak di depan kita, "aku tidak akan lari ke lapangan. Aku akan mengunci pintu dari dalam." Aku mempererat genggaman tangan kita hingga buku-buku jariku memutih, meredam gigil yang mulai menjalar dari lenganmu. "Pintu kamar kontrakan ini tidak punya selot yang bagus," bisikku dekat dengan pelipismu yang basah oleh sisa keringat dingin. Kau menarik napas panjang, tajam, seolah udara di sekitar kita mendadak menipis. Jemarimu yang semula mencengkeram jemariku kini berpindah ke pundak kemejaku, meremas kainnya dengan keputusasaan yang tidak lagi politis. Ada kemarahan yang tertahan di sana, sejenis energi purba yang selama ini kau habiskan untuk meneriakkan yel-yel di depan barikade tentara. "Lalu kau mau apa?," suaramu bergetar. "Menonton negara ini membusuk sambil membiarkan kita ikut membusuk di sini?" "Aku mau kita berhenti berpura-pura menjadi pahlawan," kataku tepat di depan bibirmu yang pecah-pecah. Aku merapatkan tubuhku, mendesakmu hingga punggungmu membentur dinding batako yang dingin dan kasar. Kontras antara semen yang beku dan kehangatan tubuhmu yang dipicu alkohol murahan itu terasa begitu menggigit. Sesaat, ada hening yang sarat ketegangan, jenis hening sebelum sebuah pabrik besar terbakar habis. Lalu, tanpa ada tanda-apa pun lagi, kau menarik leher bajuku. Ciuman itu datang seperti hantaman martil; kasar, tergesa-gesa, dan penuh rasa lapar yang lahir dari keputusasaan. Tidak ada kelembutan borjuis di sana. Gigi kita sempat berbenturan, menyisakan rasa anyir darah yang samar di antara cecapan rasa asam fermentasi tebu. Kita saling melumat seolah-olah besok pagi seluruh hak bicara kita akan dicabut oleh undang-undang subversif, seolah-olah ini adalah satu-satunya cara mencaci maki keadaan tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun. Tanganmu merayap turun, mencengkeram pinggangku, sementara jemariku menarik rambut di belakang kepalamu, memaksa wajahmu menengadah lebih dalam. Di bawah temaram lampu jalan yang ringkih, keringat dingin di pelipismu menyatu dengan sisa gerimis yang belum mengering di pipiku. Kita adalah dua mesin yang gagal diproduksi oleh zaman, yang malam ini memilih untuk saling menghancurkan diri dengan cara yang paling intim. Napasmu memburu, terputus-putus di sela pagutan yang kian menuntut. Ketika aku menarik diri sejarak beberapa sentimeter untuk memberi ruang bagi paru-parumu, matamu yang sayu menatapku dengan tatapan paling telanjang yang pernah kulihat. "Kamar," bisikmu, suaramu rendah, hampir seperti perintah yang parau. "Sekarang, sebelum aku ingat lagi berapa harga sewa kontrakan ini."
메타데이터
- post_id
- c4e22f7211cb
- slug
- nira-c4e22f7211cb
- url
- https://medium.com/@aesyah974/nira-c4e22f7211cb
- canonical_url
- https://medium.com/@aesyah974/nira-c4e22f7211cb
- author_url
- https://medium.com/@aesyah974
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 16:11:24