← Back to list

Kau di Liang yang Satu, Ku di Sebelahmu

Lagu yang menjelma belai tangan Ibunda dan pembawa kenangan yang meluas

Arunika Bestari · 2026-04-19 12:30 · 0 claps · 2.0 min read
#memoar #gunung #travel
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

Kau di Liang yang Satu, Ku di Sebelahmu

Lagu yang menjelma belai tangan Ibunda dan pembawa kenangan yang meluas

Senja sehabis hujan di bukit paling berkesan

Senja sehabis hujan di bukit paling berkesan

Tiap-tiap insan yang diberi anugerah dua pasang kuping kurasa mustahil tidak menyukai musik. Dan tentunya masing-masing orang pun punya lagu kesukaannya sendiri. Tidak terkecuali aku yang hobinya menaruh seseorang di antara bait-bait lirik.

Dulu di masa yang pernah, aku menulis lima lagu paling top markotop menurutku, ada Semua Tentang Kita, Pilihan Hatiku, Karena Kamu, Tak Ingin Sendiri, dan satu lagi yang aku rada lupa, mungkin Kangen, Sempurna, atau bisa jadi Separuh Aku. Saat itu aku belum berteman Sheila on 7.

Dua tahun berselang sejak kutinggalkan masa penuh senang anak SMA. Aku berkenalan dengan banyak lagu yang baru keluar dari rahim penggubahnya, atau musik-musik lawas sepantarannya Nike Ardilla. Namun, ada satu yang terus melekat hebat mau sebanyak apa pun macam musik yang kudengarkan. Sampai Jadi Debu, namanya. Alunan indah melankolis itu tercipta dari grup musik bernama Banda Neira.

Dulu lagu itu tidak pernah bertengger di jajaran musik favoritku. Aku tak mengakuinya sebagai kawan akrab layaknya lagu-lagunya Sheila on 7. Namun, belakangan ini, ia seolah merangkak-menanjak menggapai pucuk anak tangga agar dilihat dan diingat mata juga telingaku.

Mungkin semenjak Februari pergi ke Maret, lalu melompat lagi ke April, aku punya kebiasaan atau lebih tepatnya ritual. Saat hendak tidur aku selalu menyetel Sampai Jadi Debu — kadang instrumennya saja — sebagai peninabobo yang mengalunkan nyanyian lembut. Pikiranku yang penuh sesak dipaksa mengosongkan segala yang tidak pasti dan bersegera untuk menyambut dan menghirup madu mimpi. Kurasa kebiasaan itu akan bertahan lama; seperti penghuni ruang tamu masa lalu yang juga terus menetap lama. Raganya sudah berkelana ke ujung kuala, tapi wanginya masih menguar di antara debu sofa dan gandang lawa

Barangkali aku terikat secara emosional dengan lagu ini. Saban kudengar alunan dawai piano pembuka yang lama nian itu, serasa aku sedang berjalan di pinggir pantai yang biru temaram. Sesekali kilat yang senyap menyambar dari gemawan hitam dari arah cakrawala sana. Dan tidak ada bising sedikit pun. Hanya ada kebisuan dan buaian nada melankoli yang menjadi pengganti debur ombak dan gemuruh petir.

“Badai pasti berlalu, maka kau harus lewati taufan itu. Pagi pasti menjelang, maka harus kau lalui malam yang panjang.”

Ketimbang ungkapan badai telah berlalu atau frasa sampai jadi debu yang dijadikan tajuk lagu ini, aku lebih suka bagian puitis yang jadi penghujung bait: kau (ku) di liang yang satu, ku di sebelahmu.

Juga lagu ini selalu menempel pada gugusan kepulauan cantik di Maluku sana, yang turut menginspirasi nama grup musik penciptanya, Banda Neira. Jangan mati sebelum ke Banda Neira, katanya, sudah beratus kali kudengar anjuran itu. Aku bersumpah akan mengundang diriku sendiri ke sana untuk berbulan madu selama tiga purnama! Dan kini dengan penuh kesadaran, setelah melalui banyak janji dan kenangan, kuyakini itu sebagai kewajiban yang benar-benar harus kutuntaskan sebelum tiba tenggat nafas atau bumi ini sendiri yang meniada ke ujung watas.


메타데이터
post_id
c4f5ee6c4e54
slug
kau-di-liang-yang-satu-ku-di-sebelahmu-c4f5ee6c4e54
url
https://medium.com/@arunibestari/kau-di-liang-yang-satu-ku-di-sebelahmu-c4f5ee6c4e54
canonical_url
https://medium.com/@arunibestari/kau-di-liang-yang-satu-ku-di-sebelahmu-c4f5ee6c4e54
author_url
https://medium.com/@arunibestari
status
ok
fetched_at
2026-07-11 03:47:11