π (phi) - Cerita pendek
Tentang manusia dalam absurditas kehidupannya.
π (phi) — Cerita pendek

*Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang*
- Penggalan puisi berjudul ”Aku” karya Chairil Anwar
Aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak merasa lebih unggul dari orang lain, tak merasa lebih rendah pula dari orang lain, aku hanya merasa lebih tahu dan lebih sadar dari orang lain. Dan itu merupakan sebuah penyakit. Orang-orang yang lebih tahu dan lebih sadar pastilah merasakan itu.
Pada dasarnya, aku adalah orang SAKIT.
Lalu cerita seperti apa yang menarik untuk diceritakan dari orang sakit seperti diriku? Tak lain tentang diriku sendiri. Itu pasti. Usiaku sudah lebih dari empat puluh tahun, mungkin empat puluh dua atau tiga, aku tak tahu pasti tepatnya berapa, aku tidak pernah lagi memikirkannya. Yang masih kuingat adalah; bahwa sejak berusia dua puluh dua tahun, aku sudah tidak lagi menjalani kehidupanku sebagaimana orang-orang lain di dunia ini. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja, berhenti mencari uang, aku sudah menjauhkan segala keinginan-keinginanku untuk membeli ini dan itu, yang sebenarnya tak kubutuhkan.
Begitulah diriku, bukan, bukan hanya diriku, tapi begitulah manusia yang terlalu sadar — aku tekankan sekali lagi; itu adalah penyakit — akhirnya hanya punya dua pilihan: menjadi boneka yang tak lagi layak diajak bermain, lalu membusuk di sudut sendirian, atau menjadi hantu yang bergentayangan tanpa tujuan, tanpa aturan di manapun dan kapanpun. Aku memilih yang kedua, aku memutuskan bergentayangan ke manapun kaki-kakiku membawaku tanpa tujuan yang jelas. Dengan mengenakan baju yang itu-itu saja, yang semakin compang-camping setiap harinya, aku menyusuri jalanan, sudut-sudut kota yang kumuh, kadang mendekam di pinggir trotoar jalan. Dengan kata lain, aku menjadi gelandangan untuk menarik diri dari kehidupan “normal” masyarakat pada umumnya. Dalam beberapa hari saja, setelah memutuskan untuk menggelandang, orang-orang telah menganggapku sebagai orang yang berpenyakit jiwa, orang gila(itu kuketahui ketika aku berjalan melewati orang-orang, dan mereka setengah berbisik-bisik menyebutku orang gila).
Itu sama sekali tidak membuatku marah atau jengkel kepada mereka, itu malah memberiku ide yang lebih masuk akal dari apapun; kenapa aku tidak sekalian menjadi orang gila saja? Semua orang bodoh itu, mungkin tidak semua, tapi kebanyakan, yang hanya berani hidup dalam kawanan, memuja keteraturan, hanya mengejar validasi, dan menyembahnya sebagai suatu “kenormalan”, lalu membuat aturan bahwa manusia yang tidak hidup seperti itu pastilah orang berpenyakit, tapi tak satu pun dari mereka tahu apa-apa soal berpikir sendiri, karena mereka takut akan menjadi terasing, karena bagi mereka; kebodohan yang disetujui bersama adalah sebuah kebenaran, hidupnya telah dibentuk oleh masyarakat dengan sedemikian rupa, kemudian menjadi budak masyarakat sepanjang usiannya. Ehm, tapi aku tidak akan membahas bahasan yang menurutmu nyeleneh dan menarik ini, karena aku mau meneruskan kisah tentang diriku terlebih dahulu.
Dengan ide yang sangat masuk akal itu, aku membentuk diriku menjadi “orang gila”, menjadi orang yang berpenyakit jiwa, atau bahasa sekarangnya “membangun personal-branding” sebagai orang gila. Dengan begitu, orang-orang tak akan lagi memperhatikanku, dan jika pun memperhatikan, pastilah berpikir bahwa aku ini sudah tidak waras. Dan itu berhasil, sebuah kesuksesan besar. Aku telah banyak mendengar orang-orang yang tidak sengaja memperhatikanku bilang bahwa aku ini adalah orang gila dengan lantang, maksudku tanpa perlu lagi setengah berbisik-bisik agar aku tidak tersinggung. Aku begitu senang dengan keberhasilanku ini, begitu mudahnya mengelabuhi orang-orang bodoh itu dengan baju yang semakin busuk ini(aku sengaja menambah sobekan-sobekannya di beberapa bagian), dan dengan tingkahku yang tidak jelas seperti tiba-tiba menyanyi dengan lantang, tiba-tiba menertawakan sesuatu yang bahkan tidak lucu.
Itu semua memang sungguh menyenangkan, bahkan setiap ejekan, setiap candaan menyedihkan yang mereka lemparkan, apalagi pandangan iba yang orang-orang tunjukkan terhadap diriku, menjadi semacam batu bata yang kujadikan tembok pembatas antara diriku dengan semua orang. Ya, aku telah membuat tembok, sebuah tembok yang terbuat dari batu-bata ketidakwarasan. Dan tidak ada yang lagi bisa memasuki bagian terdalam diriku, ataupun hanya sekadar mengintipnya, meskipun aku masih bisa diajak berbicara, berbicara seperlunya tentunya, seperti berterimakasih ketika diberi sesuatu oleh orang, meminjam korek, atau menjawan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang orang lain berikan. Jadi aku masih belum membuat diriku seratus persen sempurna gila, karena aku masih bisa nyambung ketika ditamya, meskipun kadang aku jawabnya ngawur dan muter-muter dengan sengaja. Tapi, tanpa kusadari, ternyata itulah celah dari tembokku yang kemudian nanti terlihat oleh sesorang, yang mengacam keutuhan tembokku. Yang sebelumnya tidak ada orang lain yang bisa menyentuhnya.
Meskipun aku bisa bergentayangan kapanpun aku mau, aku selalu memilih malam hari untuk keluyuran, entah mengapa, aku lebih suka bulan dan bintang-bintang daripada matahari, meski kadang tertutup mendung, hawa dinginnya masih membuatku nyaman. Malam-malam adalah tanah jajahanku.
Sudah beberapa kali aku selalu mendekam di depan warung kopi yang buka setiap malam ketika aku sudah merasa bosan dengan tempat-tempat yang lain. Di depan warung kopi itu, aku selalu mendapatkan segelas kopi gratis — kadang dengan rokok — yang dibelikan salah satu pelanggannya yang mungkin merasa iba melihatku seperti seperti seonggok pupuk kandang yang diberi nyawa, tentu saja aku pasti mengucap terimakasih kepada mereka yang berbaik hati(jika memang mereka begitu) telah mengasihiku. Dan ketika tak seorang pelanggan pun memberi atau mentraktirku, si penjualnya pasti akan membuatkan segelas kopi untukku.
Yang jelas, aku pasti mendapatkan kopi ketika datang ke sana, tanpa aku meminta ke para pelanggan maupun si penjualnya, aku hanya perlu berdiam diri di depan. meski begitu aku merasa lebih terhormat daripada pejabat-pejabat yang merampok uang rakyat tanpa pernah bertemu dengan rakyatnya secara langsung, tapi rakus menghabiskan apa yang dimiliki rakyat hanya untuk membuncitkan perutnya sendiri. Astaga! Tentu saja aku lebih terhormat daripada mereka. Meskipun, ya ada semacam cap majenun yang ada di jidatku, tapi itu masih bisa disebut manusia. Sedangkan mereka, maksudku para koruptor, keparat itu, mereka lebih menjijikan dari sampah, lebih hina dari tikus-tikus got… Maaf-maaf, aku di sini bukan mau mengoceh tentang kebobrokan pemerintah(yang sebenarnya juga menarik, tapi itu akan membuat tulisan ini melenceng ke mana-mana) dan bukan mau menyumpah-nyumpah para cecunguk brengsek itu, aku mau melanjutkan kisahku yang tentunya lebih penting dulu.
Begini; sudah kukatakan bahwa aku sering datang ke warung kopi itu setiap malam, tapi sudah tiga malam aku mendapati bahwa penjual kopi itu berbeda dari yang sebelumnya, penjualnya kali ini lebih muda, mungkin adik dari penjual sebelumnya atau mungkin sepupunya. Yang jelas, penjual kali ini masih muda, tampan(ya aku akui itu, karena jadi semakin banyak pelanggan wanita-wanita yang datang ke warung itu), ketampanan yang menyedihkan, kemudaan yang agak tolol, sehingga tak membuatku harus waspada terhadapnya saat pertama kali melihatnya.
Malam itu, seusai hujan, jalanan kota semakin terasa dingin bagi tubuhku yang lemah ini, hampir dini hari baru aku bisa keluyuran, dan seperti biasanya, aku datang ke warung kopi itu. Karena sudah sangat larut, hanya ada sedikit pelanggan di sana. Alunan musik terdengar dari dalam(itu yang membedakan antara penjual muda ini dengan yang sebelumnya, penjual sebelumnya tidak pernah memutar musilk sama sekali).
Setelah para pelanggan warung kopi itu sudah pergi, dan tak ada satu pun yang mentraktirku, si penjual menghampiriku dengan membawakanku segelas kopi hangat dan sebatang rokok kretek. Salahku, aku pikir dia hanya sekadar merasa iba karena tidak ada yang peduli denganku.
Setelah memberiku kopi dan rokok itu, dia segera kembali ke dalam menambah volume musiknya agar terdengar jelas dari luar. Dia kembali menghampiriku dengan membawa segelas kopi lagi untuknya, lalu duduk di dekatku sambil ikut menyanyikan lagu yang sedang di putar dengan nada dan suara yang lebih seperti suara kambing kelaparan.
Lagu Wind of Change mengalun dari dalam.
Tiba-tiiba dia bertanya “Suka musik juga?”, setelah memperhatikanku mengetuk-ngetuk lutut dengan tangan mengikuti alunan musik.
“Dulu” jawabku, “Itu yang juga nyanyi Still loving you”
“Ya, itu “Scorpions”. Bisa main musik juga? tanyanya
“Gitar dulu bisa, tapi tidak tahu cara nyetemnya” jawabku ngaco
“Wihh, keren ya. tapi tidak apa-apa yang penting bisa main, aku sudah lama ingin bisa memainkan gitar, tapi sering malas berlatih.”
Keheningan datang, karena aku tidak mau bertanya apapun padanya, itu salah satu lapisan topeng ketidakwarasanku, sudah sejak pertama aku memutuskan untuk tidak menanyakan apapun kepada orang lain, itu akan menguatkan tembokku. Meskipun seperti yang aku katakan di awal, aku masih bisa nyambung saat ditanyai orang, asalkan itu pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti meminta nomor togel atau pertanyaan-pertanyaan tak bermutu lainnya, aku tetap tidak akan mencoba bertanya, dan merasa tidak perlu untuk bertanya.
Tiba-tiba dia menyalakan rokok lalu agak mendekatiku, “Aku mau tanya-tanya sesuatu padamu, boleh tidak? Mungkin ini seperti pertanyaan pribadi atau individual, boleh?”
Aku pikir dia paling mau tanya soal alamatku di mana, tinggal di mana, jadi aku jawab “Silakan”
“Aku hanya mau tahu, kenapa kamu memilih atau menjalani cara hidup seperti ini? Kenapa kamu, maaf ya, nyeleneh dari kebanyakan orang? Berbeda dari kebanyakan orang?”
Aku terdiam merasakan anak panah tajam yang ia lesatkan kepadaku itu, pikiranku seakan membeku secara tiba-tiba, aku hanya tertunduk mengamati kopi yang tinggal setengah, aku menjadi tak selera lagi meminumnya. Setelah terdiam beberapa saat, aku mengangkat wajahku perlahan, “Semua manusia itu sama, tidak ada yang berbeda”
“Tidak, maksudku cara kamu menjalani hidup dengan mereka itu berbeda, mereka bekerja, cari uang, lalu pulang menghabiskan waktu dengan keluarga, sedangkan kamu menghabiskan sepanjang waktu seperti ini. Ya, pada dasarnya memang sama; kamu makan, minum, mungkin tidur, bicara juga nyambung, tapi selain itu kenapa berbeda?”
Itulah anak panah kedua yang dia lesatkan tanpa jeda setelah mendengar jawabanku tadi, anak panah yang mengacaukan kembali pikiran dan jiwaku, membuatku merasa menggigil dan kembali tertunduk. Aku terdiam lagi dalam beberapa saat.
“Jadi gimana?” tanyanya setelah melihatku hanya terdiam.
“Semua cita-cita semua manusia itu sama, hanya keyakinannya yang berbeda” jawabku secara tiba-tiba, aku tak tahu, itu meluncur begitu saja.
“Nah, kalau cita-cita semua manusia itu sama, terus apa itu?” dia tampak penasaran
“Cita-cita semua manusia itu hanya ingin bahagia, meskipun keyakinan dan caranya berbeda-beda.”
Dia terlihat sedikit kaget dengan jawabanku itu, sepertinya dia tidak berekspetasi aku akan menjawab seperti itu. Meskipun pikiranku kacau, aku merasa lebih lega melihatnya agak puas dengan jawabanku.
Dia meminum kopinya dengan santai, lalu memberiku sebatang rokok lagi untukku. Dia kembali melesatkan anak panah lainnya secara membabi-buta.
“Kamu sejak kapan menjalani kehidupan seperti ini?” tanyanya
“Semenjak reformasi, 96,97,98, keadaannya mengerikan,” aku jawab dengan cepat “usiamu berapa waktu reformasi itu?” Bodoh, bodohnya diriku, kenapa bisa-bisanya keceplosan bertanya padanya, buat apa juga. Aku melirik kearahnya, dia menyengir kearahku seperti menyadari sesuatu.
“Aku belum lahir waktu itu, aku baru lahir tahun 2000, tapi itu tidak penting. Yang penting; apa hubungannya reformasi itu dengan hidupmu ini?”
Aku tidak menjabawnya, aku kebingungan, pikiranku masih kacau.
“Apakah kamu bahagia menjalani kehidupan seperti ini?” tanyanya dengan pelan.
Untuk pertanyaan ini — meskipun pikiranku masih kacau — aku mencoba menjawabnya dengan nada setengah yakin “Ya, 40% senang, 60%sedih.”
Sepertinya dia puas dengan jawaban itu, lalu melesatkan lagi anak panah yang lebih tajam
“Kenapa kamu menjalani cara hidup seperti ini? Apa kamu merasa muak atau benci terhadap kehidupan normal kebanyakan orang?”
Saat mendengar pertanyaan itu, jiwaku seperti dihantam oleh sesuatu yang sangat keras dan tajam, ketenangan jiwaku — dengan cahaya remang-remang dari sebuah lilin tanpa sedikitpun celah untuk cahaya matahari bisa masuk selama ini — begitu mudahnya dia lobangi, lalu dia beri penerangan obor api yang berkobar menyilaukan, merusak kedamaian jiwaku.
Perlahan aku menatap matanya, “Ini bukan soal benci ataupun muak, ini lebih dari itu.”
“Lalu apa?”
Dengan yakin aku menjawab dengan sebuah analogi sederhana, “Kenapa kendaraan-kendaraan besar seperti truk atau tronton tidak bisa melewati jalanan umum atau jalanan yang biasa dilewati kendaraan seperti mobil-mobil kecil atau sepeda motor? Aku tidak mau menejelaskannya, tapi itu jawabannya.”
Dia hanya mengangguk mendengar jawabanku.
Setelah keheningan beberapa saat, dan aku merasa lebih baik, meski juga masih agak kacau, karena tembokkku baru saja dicabik-cabik oleh penjual kopi menyedihkan ini. Aku melirik sedikit kearahnya, semakin menjengkelkan saja roman wajahnya. Aku sudah tidak bisa menebak-nebak lagi apa yang akan dia tanyakan, dan aku semakin merasa terancam ketika melihatnya berpikir menyiapkan anak panahnya. Udara yang semakin dinginpun tak lagi mampu menerobos ke dalam jiwa dan pikiranku yang sedang porak-poranda. Terbesit dalam pikiran, untuk segera pergi meninggalkan warung kopi sialan itu, tanpa pamit, tanpa bilang apa-apa, intinya pergi.
Dan ya, tidak seperti dugaanmu, aku masih mendekam di depan warung kopi itu, biarlah kegelisahan ini menyiksaku, aku tak peduli.
“Jika keyakinan setiap orang itu berbeda, lalu keyakinan jenis apa yang kamu yakini?” Melesat lagi anak panah itu.
Aku semakin merasa jengkel dan hanya kujawab “Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata, bahkan logika pun juga terkadang bisa mati karena tak sanggup menjelaskannya.”
“Oke, baiklah.” Jawabnya singkat,
Sambil memetulkan posisi duduknya, dia kembali melesatkan anak panah yang tak kalah tajam dari sebelumnya “Nah, katamu tadi; cita-cita semua orang itu sama, yaitu ingin bahagia. Tapikan definisi bahagia itu sendiri berbeda-beda, beragam jenisnya, terus bahagia menurutmu itu apa?”
Di situ aku sudah tak kuasa lagi untuk tetap bertahan di dekatnya lagi, aku beranjak dan membisikkan “”π = 3,14… π = 22/7” padanya, lalu pergi meninggalkan tempat terkutuk itu.
Brengsek, bodoh, tolol!! Apa yang telah terjadi padaku? Tembok yang selama ini aku bangun bertahun-tahun, hancur luluh-lantah begitu saja di hadapan penjual kopi yang tampangnya tampan menyedihkan itu? Dia bilang dia baru lahir tahun 2000? Bocah sialan, apa yang sebenarnya ada dalam kepala bocah itu? Mustahil aku bisa melupakan malam yang memalukan itu.
Tiga malam berikutnya aku masih keluyuran dengan jubah ketidakwarasan dan topeng majnunku, tentu saja aku tidak lagi mendatangi warung kopi itu, aku masih merasa takut dengan si penjualnya itu, membayangkan wajahnya saja sudah membuatku merasa gelisah. Aku hanya menghabiskan malam-malamku ke jalanan pinggiran kota dan ke sudut-sudut gelap di mana aku bisa mendapatkan sisa-sisa minuman alkohol murahan, dan juga putung-putung rokok yang masih panjang.
Malam ke lima, dengan pikiran yang sudah terasa lebih mendingan, tiba-tiba aku ingin sekali minum kopi panas, kebetulan hujan baru saja reda, aku memantapkan langkahku untuk mendatangi warung kopi itu, karena hanya warung itu masih selalu buka sampai dini hari. Aku juga meyakinkan diriku bahwa; si penjual itu pastilah sudah lupa dengan percakapan di malam memalukanku itu, dan jika aku datang, pastilah hanya akan memberikuy segelas kopi lalu kembali masuk tanpa menghiraukanku.
Kesejukan malam setelah hujan reda memang selalu menarik minatku untuk memperhatikan sekitar, udaranya pas, pantulan cahaya lampu di atas aspal basah, daun-daun segar, tak lupa bintang-bintang gemerlapan, sungguh memanjakan mataku malam itu. Aku berjalan pelan menuju Warung kopi itu.
Seperti biasanya, sesampainya aku di sana, aku langsung mendekam di depan warung seperti rongsokan sambil mendengarkan alunan musik dari dalam. Si penjual menghampiriku dengan membawakanku kopi dan sepotong roti, “Dari mana saja, tidak kelihatan kemarin?”
Aku menerima kopi dan rotinya dengan seulas senyum yang kupaksakan “Yaa, biasa, dari situ-situ aja.”
Tanpa adanya basa-basi bodoh lagi, Si penjual itu kembali menerkamku dengan pertanyaan yang begitu keji “Gimana soal kemarin? belum selesai ngobrolnya sudah kabur aja kamu.”
Aku menjawab seolah-olah tidak ingat apa-apa “Hah? Soal apa?” sambil mengunyah sepotong roti.
“Itu soal caramu menjalani kehidupanmu, itu memang pilihanmu untuk memutuskan hubunganmu dengan kenoramalan dunia atau itu hanya kedok untuk menutupi siapa dirimu sesungguhnya? Maksudku; seperti pakaianmu yang compang-camping ini(jika masih bisa disebut pakaian), perilakumu yang mencermikan orang — maaf — berpenyakit jiwa atau gila. Itu buat apa? Kenapa?
Sudah jelas sudah, anak panah itu telah menusuk tepat pada jantungku, dengan beringas memorak-porandakan tembok ketidakwarasanku. Aku tiba-tiba menggigil, gelisah, aku ingin membuang sisa sepotong roti dan kopinya, lalu segera pergi tanpa menjawabnya. Aku benar-benar sudah kacau, kepalaku terasa berputar-putar.
Tanpa basa-basi lagi, aku pergi meninggalkan warung kopi mencekam dan penjualnya yang menakutkan itu, dengan membawa sisa roti dan kopi panasnya. Tentu saja aku tidak jadi membuangnya, itu tindakan yang sangat bodoh. Aku kembali ke salah satu sudut gelap kota yang paling sepi yang hanya dihuni oleh tikus-tikus got, dan hanya mendekam menghabiskan roti dan kopi sendirian tanpa seorangpun yang memperhatikan. Aku tidak tahu harus melakukan apa, ini merupakan untuk pertama kalinya ketenangan jiwa terusik oleh seseorang, dan yang lebih memalukan lagi, itu seorang bocah.
Apakah aku akan melepas topeng serta jubah ketidakwarasan ini, lalu kembali hidup seperti kebanyakan orang seperti sebelumnya? Atau aku harus kembali membangun tembokku dengan lebih kokoh lagi? Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak mau mati terlebih dahulu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku masih ingin tetap menjalani kehidupan yang absurd dan kompleks ini, kehidupan bumi manusia yang sama sekali tidak mudah dipahami hanya dengan teori-teori kekanakan…
Yaa, aku masih belum ingin mati, aku masih ingin hidup seribu tahun lagi.
메타데이터
- post_id
- c4fa9adf64cd
- slug
- π-c4fa9adf64cd
- url
- https://medium.com/@voolvox/%CF%80-c4fa9adf64cd
- canonical_url
- https://medium.com/@voolvox/%CF%80-c4fa9adf64cd
- author_url
- https://medium.com/@voolvox
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16