Hilang
Jikyu

Hilang
Cw/kiss fluffy.
— flashback.
Jihoon pernah hampir kehilangan junkyu.
Saat itu, mereka baru duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dengan masih mengenakan seragam SMP mereka, melangkah riang di jalanan kota dengan bertelanjang kaki. Sepatunya tenteng di tangan. Sedang ransel masih bertengger di bahu.
Hari itu senja.
Mereka tertawa cekikikan di bawah bayangan cakrawala.
Kadang-kadang berlari saling mengejar satu sama lain. Merasa bangga lantaran diberi izin untuk pulang sekolah dengan berjalan kaki tanpa jemputan orang tua.
Jihoon yang mengajak junkyu hari itu. Di buatnya junkyu merengek minta izin kepada sang ayah untuk pulang jalan kaki atau naik angkutan umum saja. Ingin lebih berpengalaman, Dan mengaku sudah besar katanya.
Sesekali mereka berhenti ketika bertemu dengan taman bunga. Jihoon memetik satu bunga, lalu menyelipkannya di telinga junkyu.
Namun perbuatannya malah di hadiahi pukulan di bahu sebab junkyu tak suka. Mereka berlarian saling kejar. Junkyu tak puas kalau belum sepenuhnya memukul jihoon.
Sampai akhirnya mereka begitu kelelahan. Keduanya duduk di bangku taman dekat komplek tempat tinggal mereka.
Rumah keduanya hanya berjarak sepuluh menit lagi dari taman. Hanya berbeda gang satu sama lain.
"Nonton dulu bentar, pulangnya nanti ya?" Pinta junkyu penuh permohonan, ada sebersit cahaya binar yang tertoreh disana.
"nanti papah nyari gimana? Ini tuh udah sore~"
"humm, plis~ gue jarang-jarang main sampe sini~ mainnya di deket rumah Mulu!"
"yaudah iya.”
"itu loh ji, gue suka banget liat abang- abang itu tanding bola. Rasanya pengen ikutan. " Junkyu menunjuk sebuah lapangan bola komplek. Di sana ramai para remaja bahkan ada bapak-bapak yang ikut berpartisipasi.
"yaudah kita nonton aja dari sini.” Junkyu mengangguk sumringah. Sampai akhirnya keduanya asyik menonton permainan bola ala anak lokal. Mereka ikut terbawa suasana.
"Kyu, Lo haus gak?"
"Baru aja mau ngomong! Iya! Banget malah!"
"yaudah gue mau ke swalayan situ ya.. Lo disini aja tunggu bentar!"
"oke jangan lama!"
Jihoon, lelaki itu kini merasa menyesal karena sempat menolong anak kucing di parit depan swalayan tadi, Kalau ia harus kehilangan junkyunya.
Ia tidak mengerti junkyu hilang atau bagaimana. Yang jelas dirinya begitu panik kala sampai di dekat bangku taman namun sosok sahabatnya itu tidak ada.
Bahkan permainan bola di lapangan sudah berakhir. Hanya bersisa orang- orang yang bubar menuju rumah atau tongkrongan masing-masing.
Kepalanya celingak-celinguk mencari sosok pria manis berseragam sama dengannya namun nihil. Tangannya membawa dua botol air minum dingin yang ingin ia berikan ke Junkyu.
"apa udah pulang yah?". Gumamnya, namun tak lepas dari rasa panik yang begitu mencekam.
Ia berusaha memindai seluruh taman dan lapangan sekitar, bahkan menanyakannya pada abang- abang di sana namun hasilnya tetap nihil.
Akhirnya ia memilih untuk berlari cepat menuju rumah junkyu. Dadanya berdegup tak karuan saking ketakutannya.
Dan kini, rasa takut atas kesalahannya malah makin bertambah besar di kala mamah jisoo bilang junkyunya belum pulang!.
Kedatangan jihoon dengan mengabarkan kalau junkyu tidak ada, tentu membuat ayah dan ibu junkyu panik setengah mati.
Jihoon memohon maaf sampai berlutut di hadapan ayah junkyu. Ia juga menceritakan dengan runtut seluruh kejadiannya saat di taman tadi.
"Nggak, nggak papa, ngga usah panik. Junkyu nya pasti nggak jauh-jauh kok... kamu yang tenang ya jihoon?." begitu ujar ayah junkyu, padahal jihoon mengerti betul kalau semuanya sedang panik.
Hari sudah hampir gelap. Dan mereka memutuskan untuk mencari junkyunya ke lokasi taman tadi menggunakan mobil.
Saat itu jihoon merasakan takut yang teramat sampai nafas dan dadanya tercekik.
Tapi dia juga marah pada dirinya sendiri karena merasa gagal menjaga junkyu.
Ia takut sekali kalau ayah dan ibu junkyu benar-benar marah besar padanya.
Dirinya sudah berusaha menangis sekuat tenaga namun tetap tak bisa — aneh!.
Otaknya seakan mengebul di penuhi rasa cemas kemana junkyunya menghilang. Yang ia bisa hanya diam melamun di dalam mobil. Tangannya mengepal erat saking merasa bersalah. Telinganya bahkan tak mendengar saat ibu dan ayah junkyu berdiskusi untuk mencari lokasi lain dimana junkyu berada.
Dan semuanya berakhir lega, saat ayah junkyu tiba-tiba mendapat telpon dari Junkyu sendiri, yang malah berteriak merengek minta di jemput di rumah jihoon sekarang juga.
Junkyu bertelpon menggunakan nomor rumah jihoon ternyata. Sontak tawa kedua orang tua junkyu begitu terdengar renyah di dalam mobil.
Setelah mendengar kalau junkyu di ajak pulang oleh bapak jihoon yang baru kembali dari kerja tadi, dan junkyu langsung nurut karena di tawari ayam asam manis kesukaannya dengan syarat berjanji untuk ikut pulang saat itu juga.
— Keduanya berakhir lega.
Namun berbeda dengan jihoon. Rasa bersalahnya masih merelungi hati hingga ia terus saja meminta maat pada kedua orang tua junkyu. Ia seolah ter-trigger oleh suasana. Bahkan perasaan bersalah dan takutnya masih tersimpan seiring berjalannya waktu.
— flashback off
cw/kiss fluffy.
Bahkan hingga kini. Perasaan itu kembali datang saat jihoon sudah kembali ke tempat semula perjanjian kegiatan jogging mereka. Dimana Junkyu belum sama sekali muncul sejak lima menit lalu.
"Junkyu kok nggak muncul-muncul?" Monolognya terheran, bercampur dengan rasa khawatir yang seharusnya tidak muncul, karena walaupun junkyu tidak ada di tempat itu, yang pasti dia tidak hilang karena sekarang bukan anak kecil lagi seperti dulu.
Tapi tetap saja ia tidak bisa menahan dan menyembunyikan rasa khawatirnya.
Jihoon memilih untuk terus berlari kecil mengelilingi komplek, berpikir bahwa mereka pasti akan bertemu di jalan.
Dirinya biasa menyelesaikan olahraga pagi sekitar satu jam. Namun akan menjadi satu setengah jam lebih kalau akhir pekan begini.
Namun kini, sudah lewat beberapa menit dari waktu biasanya atau hampir dua jam berlalu. Sedangkan junkyu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Jantung jihoon bekerja cepat dari ukuran wajar. Harusnya ia tidak berlebihan seperti ini. Hanya saja peristiwa dulu selalu terbayang di otak.
"Junkyu Lo kemana sih anjing!" Monolognya dengan nada penuh penekanan.
Area komplek sudah mulai ramai orang berolah raga pula. Ia berlari sambil sesekali menyapa orang yang lewat.
Jihoon akhirnya mengambil langkah seribu untuk kembali ke apartemen, berpikir mungkin saja junkyu usil untuk pulang lebih dulu.
Dengan kasar ia membuka seluruh pintu ruang apartemen saat sampai sana. namun junkyu tetap tak ada eksistensinya.
Berkali-kali ia mendecak sebal akan situasi yang mulai menakutkan baginya. Ia kesal pada dirinya sendiri karena terlalu berlebihan.
"Brengsek! Junkyu nggak lucu ya!? Lo jangan mempermainkan suasana begini bego! Ah anjing!"
Tangannya segera menggapai ponsel di nakas, juga menghubungi nomor kontak atas nama 'kyukyu' di benda itu.
Opsinya berdering, namun tidak terangkat. Hingga dia teringat kalau mereka sama-sama tak membawa ponsel saat keluar tadi.
Dengan tergesa-gesa lagi, tubuhnya ia bawa lari menuju pintu keluar. Ia berlari hingga sampai di depan lift. Lalu menunggu pintu lift terbuka dengan perasaan cemas.
Dirinya bahkan sampai hati menyalahkan siapakah orang yang ada di dalam lift ini?. Kenapa pagi-pagi sekali lift nya sudah ada yang memakai hingga niatnya mencari junkyu jadi tertunda!?.
"cepet kebuka dong liftnya taik! Aaaargh!" Kesalnya, setelah itu tendangan pintu lift lumayan kuat. Bahkan tanpa sadar matanya memerah karena panas akan air mata yang hendak keluar.
Dan sepersekian detik setelahnya, pintu lift terbuka penuh drama menurut jihoon. Begitu lambat dan membuat hatinya sesak tak sabaran.
Tampaklah sosok junkyu yang tengah bersandar di dinding lift sembari memegangi dua corndog pada tangan kanan dan kiri. Kemudian tersenyum manis kala mendapati jihoon yang berdiri di hadapannya. Ia berjalan antusias keluar dari pintu lift.
" Ji, gue beli — "
"Lo dari mana! Hah!? Lo kemana aja!?! Gue cari Lo kemana-mana ya anjing!!! Lo tahu gak gue panik banget dari tadi Kyu! — hh! Gue pikir Lo hilang tadi! , kalo gue bilang kita ketemuan di tempat tadi harusnya Lo ada di sana!!!?. · Kenapa Lo malah gak ada! Gue sampe kesana kemari keliling komplek Lo nggak ada!!! — hh!! Lo TAHU GAK GUE KHAWATIR!!!?”.
junkyu sampai berjengit kala merasakan cengkraman kuat dari jihoon di kedua bahu luasnya. Dirinya ikut menegang saat jihoon marah dan berteriak ke arahnya. Bahkan ia bisa melihat mata jihoon yang merah dan mengeluarkan cairan dari jarak dekat seperti ini. Dapat dirasakannya juga nafas jihoon yang amat memburu membuat dadanya naik turun.
Jihoon menangis, setelah melampiaskan amarah dan ke khawatiran padanya.
Namun bentakan Jihoon barusan malah membuat ia merasa takut dan terkejut. Ia juga bergetar menerima efek bentakan dari jihoon.
"Jangan bentak gue!!!" junkyu balas berteriak. Setelah itu kepalanya merunduk takut tanpa mau menatap jihoon.
Sedangkan tangannya tambah mengeratkan pegangan pada corndog yang ia beli.
"Lo kemana tadi hah-!?"
“— ya maaf Lo jangan marah-marah gini kenapa sih!!?"
Kalau orang lain yang mendengar, mungkin akan mengira terjadi pertengkaran hebat antara keduanya sebab saling berteriak.
Jihoon tiba-tiba memindahkan tangannya menuju satu lengan junkyu. Ia genggam lumayan erat lalu diajak berjalan cepat untuk pulang menuju apartemen. Gigi jihoon menggertak kuat, dan tanpa sadar pula ia menambah tempo kekuatannya pada genggaman di lengan junkyu sekuat giginya mengerat.
"sakit bego!!" Kesal junkyu kala mereka sudah berada di ruang tengah apartemen.
Jihoon yang sadar akan perlakuannya segera saja melepas genggaman tadi. Ia beralih menghapus sisa airmata akibat emosi yang meluap.
Dilihatnya junkyu yang hanya menunduk menatap lantai sambil memainkan kaki.
Terjadi keheningan mencekam di antara mereka sekarang.
Jihoon sedang berusaha menguasai diri. Menetralkan pernafasannya.
"maafin gue~ " gumam junkyu pelan. Ia sendiri merasa tak suka akan situasi jelek ini. Apalagi dirinya jadi kikuk dengan dua corndog di tangan.
Mendengar itu, jihoon segera menghambur memeluk erat tubuh junkyu yang terasa kaku.
"maaf, maafin gue udah marah,,, gue panik banget tadi. Udah hampir dua jam Lo ngilang Kyu,,, hiks! Gue takut kehilangan lo~. Gue takut kejadian dulu keulang lagi gue takut — hh!" Jihoon malah kembali menangis di bahu junkyu.
“....gue cuma khawatir sama lo~" lanjutnya lagi. Setelah itu hanya terdengar sesenggukan. Entah mengapa ia terus saja menangis seakan melampiaskan perasaannya dulu yang tak bisa menangis itu.
Junkyu jadi ikut menyebikkan bibir. Ia merasa terharu akan pernyataan jihoon yang sedang menangis ini. Menunjukkan bahwa jihoon benar-benar sayang padanya.
Hingga akhirnya air matanya ikut jatuh.
"hiks, i-iya maafin gue... hh! Tadi tuh gue udah mau balik, c-cuman di ajak ngobrol sama nenek-nenek komplek. Neneknya lagi olah raga juga. J-jadi gue temenin ngobrol. Habis itu — hh pas balik ke tempat awal Lo nya gaada, yaudah gu-gue mampir ke tempat corndog buat jajan hiks! Maaf~"
Jihoon dibuat tertawa sambil menangis setelahnya, begitupun junkyu. Mereka sama-sama menertawai hal konyol pagi ini.
"gue harus balik lagi ke tempat corndog soalnya ngutang~" lanjut junkyu lirih.
"k-kok?"
"ya Lo pikir lah! Gue kan keluar gak bawa apa-apa gara-gara Lo gondol! Tapi gue pengen jajan jadi ngutang. Gue berani gara-gara masih sepi tadi tuh, jadi gak malu~"
Jihoon kembali tertawa lebar di buat Junkyu. Membuat sisa tangisnya mereda.
Sedangkan junkyu memanyunkan bibirnya jengah.
Jihoon peluk junkyu sekali lagi. Begitu erat sampai junkyu merintih. Keduanya sama-sama saling menenangkan diri lewat pelukan hangat pagi ini.
Setelah itu, jihoon melepaskan pelukannya, namun tangannya malah berpindah menangkup pipi tembam junkyu yang tampak menggemaskan. Mereka saling menatap dengan manik yang masih sembab lalu tertawa.
"chup~!?"
Junkyu tak sempat mengelak atau bereaksi apapun di kala tiba-tiba ranum jihoon menempel di ranumnya pula. Yang ia bisa hanya mendelik, merasakan detik- detik bibir jihoon menempel dengan efek kehangatan. Mungkin terhitung sekitar lima detik, baru setelah itu jihoon menjauhkan wajahnya.
Di tatapnya junkyu yang tengah mendelikkan mata dengan bibir sedikit terbuka. Lantas ia pun tiba-tiba berubah jadi gugup padahal tadi nya sangat lancang. Entah pergerakan bodoh apa yang ia lakukan sehingga membuat adegan ciuman antara keduanya.
"a-anu, emm... i-ini satunya buat gue kan?. O-oh i iya, b-biar gue aja yang balik ke sana, gue yang bayar pake duit gue... e- emm.. · bye! Makasih corndognya!"
setelah rentetan kalimat gugup itu, jihoon berlari gesit keluar apartemen. Lantas Menutup kasar pintunya.
Sedangkan junkyu jatuh lemas kelantai. Kakinya bak jelly yang baru jadi. Lemas, dan jantungnya begitu ribut.
"hah!? I-itu t-tadi. Junkyu memegangi bibirnya. Lalu beralih meremat dadanya.
Ia Menatap lantai dengan bayang -bayang ciuman lima detik barusan.
— HANA
메타데이터
- post_id
- c5e5e1d257fd
- slug
- hilang-c5e5e1d257fd
- url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/hilang-c5e5e1d257fd
- canonical_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02/hilang-c5e5e1d257fd
- author_url
- https://medium.com/@danhanaminayuki02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 04:08:47