Sebentar saja, Aku Ingin Rehat
Hari itu diberitakan di televisi bahwa akan hujan namun, sampai siang inipun tidak terjadi. Ah, salah prediksi membuat segala rencana yang…

Sebentar saja, Aku Ingin Rehat
Hari itu diberitakan di televisi bahwa akan hujan namun, sampai siang inipun tidak terjadi. Ah, salah prediksi membuat segala rencana yang telah disusun berakhir naas dan harus ditunda. Namun, tidak dengan Arjuna yang saat ini sedang duduk bersama keempat temannya yang kebetulan satu kelompok bimbingan skripsi di bawah bimbingan Bu Irene.
“Arjuna,” panggil bu dosen cantik itu dan yang namanya disebut Bu Irene mengangkat kepalanya.
“Saya, Bu.”
Bu Irene tampak cemas dengan hasil yang diperjuangkan oleh anak bimbingannya satu ini, “Sudah dua perusahaan yang menolak pengajuan magangmu dan sekarang belum ada kepastian untuk perusahaan pilihan terakhir kamu. Apa kamu sudah mencoba memfollow up kembali?” tanya Bu Irene.
“Sudah, Bu, tetapi belum ada tanggapan. Apa saya boleh mencari perusahaan lain, Bu? Ya… sebagai cadangan.”
“Saya, sih, memperbolehkan saja tapi Juna, ini sudah hampir memasuki jadwal magang loh. Saya khawatir apalagi ke kamu.”
Keempat teman Arjuna memandang Arjuna dengan tatapan mereka yang turut cemas dan khawatir. Pasalnya, hanya Arjuna yang belum mendapatkan perusahaan untuk magang di semester ini sedangkan keempatnya sudah bahkan Abin sudah diterima dua hari yang lalu. Jujur, Arjuna juga khawatir bahkan sangat khawatir ia butuh penguatnya namun, penguatnya sedang tidak ada di dekatnya.
Arjuna tampak diam tidak bergeming mendengar ucapan Bu Irene, pemuda itu menatap Bu Irene dengan pikiran kosongnya.
“Baiklah, gak perlu kamu ajukan atau cari perusahaan lain. Saya yakin dalam waktu dekat kamu akan mendapatkan kabar baik, Arjuna.”
Seyakin itukah anda kepada saya, Bu? Batin Arjuna yang sudah tidak tahu bagaimana isi hati maupun pikirannya sekarang.
“Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing ya sudah saya terima semua berkasnya terutama Arjuna...you did well. Saya akan bantu kamu semampu saya kalau mau ada yang dikonsultasikan datang saja, oke?”
“Terima kasih, Bu Irene,” sahut Arjuna sopan lalu ia bersama keempat kawannya pamit dan bergegas keluar dari ruang dosen.
Ketiga pemuda dan kedua pemudi itu sedang duduk di salah satu bangku kantin fakultas pertanian, memang enak suasananya di sini selain karena banyak pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang masih rimbun lokasinya juga agak jauh jalan utama depan kampus. Yemimma selaku salah satu teman Arjuna menepuk-nepuk pundak Arjuna beberapa kali. Arjuna berhenti mengaduk asal jus alpukatnya dan menatap Yemimma.
“Mau santai bentar nggak, Jun?” tanya Yemimma.
Kepala Arjuna menggeleng. “Gak dulu gue mau gini aja. Capek banget rasanya.”
“Everyone have tired too, Juna, don’t worry. Kita di sini sama lo,” sahut Shannon.
“Thanks,” hanya itu jawaban yang bisa dilontarkan Arjuna.
“Gue sedih, men, kalo lo begini koyo macan luwe (seperti macan kelaparan). Lemes abis!” canda Widar yang berusaha mencairkan suasana.
“Selemah itukah gue?”
Kepala teman-teman Arjuna itu menggeleng kompak.
“Justru itu lo harus tegap katanya lo kaya batu karang mau dihempas ombak atau angin kencengpun masih kokoh berdiri, kan?” ini Shannon yang berujar.
“Tapi kali ini enggak, I’m just tired at all. I wanna get rest but I must don’t do that. Gue gak seberuntung kalian. I’m a loser,” Arjuna benar-benar sudah di titik rendahnya dan tentunya keempat kawannya tidak mau itu terjadi kepada Arjuna, Arjuna harus dipapah bersama karena moto mereka berteman yaitu: we just have each other whenever we lost everything.
“Lo ngomong gitu gue sembur yak!” kali ini Abin yang menaikkan suaranya. Dia benci jika Arjuna begini. “Nanti malem lo free, kan? Ayolah, gue temenin,” hiburnya.
“No, thanks, Bin. Gue mau tidur aja,” tolak Arjuna.
“Can we hug you, Jun?” tanya Yemimma lembut.
“Anjir! Janganlah, malu woy di kampus,” sekarang Arjuna yang salting apalagi jika mereka berlima berpelukan layaknya Teletubbies.
Yemimma, Widar, Abin, dan Shannon tertawa terbahak karena ekspresi Arjuna yang panik. Berpelukan mereka tidak boleh ditunjukan di depan umum, memalukan. Ketika keempat teman-temannya tertawa Arjuna hanya tersenyum―miris, ingin ikut tertawa tapi rasanya berat.
“Santuy ih, kita gak akan lakuin itu,” kata Shannon. “By the way, lo udah gak ada jam kuliah lagi, kan? Pulang yuk, gue juga udah beres.”
“Jiakhhh, mentang-mentang jadwalnya samaan,” sewot Widar. “Curang lo, Non.”
“Biarin dong.”
“Ayolah, gue mau istirahat.”
“Non, jagain kesayangan gue. Awas lu kalo lecet dikit kesayangan gue,” ujar Abin dengan nada bicaranya yang mengancam tapi bercanda kok.
“Ngomong nih sama tangan gue,” balas Shannon yang menghadapkan telapak tangan kirinya ke muka Abin.
“Non, lo belom cebok? Najis cantik-cantik jorok lu,” celetuk Abin sembari menjepit hidungnya dengan jarinya lalu seolah-olah mencium aroma busuk di depannya.
“Sialan, mulut lo perlu gue gilas, Bin.”
Ya begitulah pertemanan mereka hingga akhirnya Shannon dan Arjuna berpamitan untuk pulang lebih dulu. Sesampainya di depan kos-kosannya Shannon, Shannon masih melepaskan pengait helm yang dipakainya saat berboncengan dengan Arjuna. Ya, Arjuna selalu membawa motor scoopy nya karena menggunakan motor lebih nyaman mudah nyalib jalanan gitu apalagi kalau sedang macet.
“Lo beneran mau pulang, Jun? Gak mau mampir? Gue khawatir njir lo di jalan kalo kaya gini,” kata Shannon.
Arjuna tersenyum kecut, “Gak apa-apalah meskipun gue begini. It’s okay, I can control myself.”
“Bener ya?” ujar Shannon yang tidak yakin dengan jawaban Arjuna. “Janji ya kalo lo udah di rumah kabarin gue,” tegasnya sembari mengangkat kelingking kanannya di depan Arjuna.
Sebuah senyuman dengan raut pasi yang bisa ditunjukannya kepada Shannon tetapi jari kelingkingnya turut mengait, membalas Shannon. “Iya, janji. Udah sana masuk, keburu sore gak enak udaranya ntar kalo di luar.”
“Dih, sok perhatian banget. Diri lo sendiri aja gak diperhatiin.” Arjuna terkekeh dengan terpaksa. “Gue masuk ya, lo harus bener-bener harus utuh sampe di rumah. Pap ke gue pokoknya kalo lo udah di rumah!” lanjut Shannon.
“Astaga, iya. Bawel amat dah, Non.”
“Salahin lo sendiri kenapa lo begini siapa yang gak bakal bawel coba.”
Kedua bola mata Arjuna berotasi jengah tapi ya gimana ia senang saja karena masih ada yang peduli dengannya. “Nyenye bawel dah sana masuk,” titah Arjuna yang dituruti oleh Shannon.
“Beneran harus pap gue loh ya!” seru Shannon yang sudah di balik pagar kos-kosannya sedangkan Arjuna menstarter motornya kemudian berlalu tak lupa lambaian yang ia lakukan ketika motornya sudah berjalan menjauhi kos-kosannya Shannon dan Arjuna melirik di spion kirinya kalau Shannon membalas lambaian tangannya.
makasih sudah membaca! kritik dan saran bisa disampaikan melalui cc di bawah ini ya😁
🐦 twittter @.eyespirin
📙 wattpad : appetitae
메타데이터
- post_id
- c65d6f3be2a5
- slug
- sebentar-saja-aku-ingin-rehat-c65d6f3be2a5
- url
- https://medium.com/@eyespirin/sebentar-saja-aku-ingin-rehat-c65d6f3be2a5
- canonical_url
- https://medium.com/@eyespirin/sebentar-saja-aku-ingin-rehat-c65d6f3be2a5
- author_url
- https://medium.com/@eyespirin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 12:13:18