← Back to list

Selesai Bersama “ENTROK”

Entrok mengisahkan kehidupan Marni dan Rahayu, sepasang ibu dan anak dari dua generasi berbeda yang memiliki keyakinan yang saling…

fria sherly s in Booknotations · 2026-03-24 10:39 · 56 claps · 7.9 min read
#novel #entrok #okky-madasari #booknotations #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Sumber: Perpustakaan Riset BPK RI

Sumber: Perpustakaan Riset BPK RI

Selesai Bersama “ENTROK”

Aku telah selesai membaca Entrok karya Okky Madasari melalui iPusnas. Ini merupakan buku kedua karya Okky Madasari yang aku baca.

Ada satu hal yang tidak aku duga setelah menutup halaman terakhir novel ini, yaitu perasaan menggantung yang cukup menyayat hati. Ending ceritanya di luar ekspetasiku. Rasanya seperti enggan mengakhiri bacaan, tetapi ceritanya sudah selesai di halaman akhir.

Entrok mengisahkan kehidupan Marni dan Rahayu, sepasang ibu dan anak dari dua generasi berbeda yang memiliki keyakinan yang saling berseberangan, serta berbagai gejolak hidup yang mengiringnya. Perbedaan keyakinan di antara mereka membuat setiap alur terasa menegangkan, sekaligus memperlihatkan bagaimana keluarga bisa menjadi tempat yang melahirkan jarak antara ibu dan anak.

Marni adalah pemuja leluhur yang ia sebut sebagai Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa. Ia merupakan penganut yang taat, rutin melakukan selamatan dalam bentuk sajen di hari ulang tahunnya maupun saat ia merasa mendapatkan keberkahan dari rezeki yang ia terima. Itu ia lakukan sebagai bentuk rasa syukurnya dan bentuk percayanya bahwa segala keberkahan hidup yang diterima berasal dari Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa.

“Aku buang. Itu sirik, dosa. Ibu tidak beragama,” kataku sambil menangis.

“Kata siapa aku dosa?”

“Kata Pak Waji,” jawabku sambil terus menangis.

Ibu makin marah. “Nduk, Rahayu! Ibumu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak menipu orang. Aku memanggang ayamku sendiri. Membuat tumpeng dari berasku sendiri. Apa dosaku?”

(Madasari, 2010:57)

Sementara bagi Rahayu, apa yang dilakukan ibunya adalah sesuatu yang sesat. Bahkan Marni sering menjadi cibiran tetangga. Ia dituduh memelihara tuyul dan sajen yang ia siapkan dianggap sebagai makanan bagi makhluk tersebut. Cara pandang ini telah tertanam dalam diri Rahayu sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Di sisi ini, Rahayu hadir sebagai representasi generasi yang tumbuh dengan pemahaman keagamaan yang lebih formal, sesuai dengan apa yang ia dapati di sekolah sehingga cara pandangnya terhadap praktik ibunya tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial yang membentuknya sejak kecil.

Cerita dalam novel ini berlatar pada rentang tahun 1972–1994, dengan kehidupan masyarakat desa yang masih kental dengan kepercayaan lokal. Di ruang masyarakat tersebut, Marni tetap mempertahankan praktik-praktik yang ia yakini, termasuk menyediakan sajen sebagai bagian dari ritual yang telah ia pelajari secara turun-temurun. Namun dalam masyarakat, terdapat cara pandang negatif terhadap praktik tersebut pada waktu itu. Sekitar 1970-an hingga 1980-an, pasca Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI), masyarakat berada dalam tekanan untuk menunjukkan identitas keagamaan yang resmi. Praktik-praktik kepercayaan seperti penyediaan sajen dianggap menyimpang, bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan norma negara. Dalam situasi inilah, stigma terhadap Marni tumbuh dan secara tidak langsung membentuk cara berpikir Rahayu kepada ibunya.

Sementara itu, Rahayu tumbuh sebagai sosok yang berusaha menjalankan ajaran agama dengan taat. Ia memandang praktik ibunya sebagai bentuk penyimpangan. Dalam kesehariannya, Marni memang melakukan berbagai ritual seperti selamatan dengan tumpeng untuk leluhur, bertapa di makam, hingga berdoa di depan pohon pada tengah malam. Di titik ini, perbedaan keduanya terasa bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan tentang bagaimana masing-masing dibentuk oleh lingkungan dan zamannya.

Marni juga merupakan seorang yang buta huruf, karena tidak pernah mengeyam pendidikan di bangku sekolah. Meski begitu, ia adalah sosok pekerja keras. Kerja kerasnya dimulai sejak usia muda, ketika ia menjadi kuli pengupas singkong bersama Mboknya yang diupah dengan singkong. Ia kemudian berani mengambil pekerjaan sebagai kuli panggul, yang mana pekerjaan tersebut umumnya dilakukan laki-laki demi mendapatkan upah uang. Baginya, uang adalah jalan untuk keluar dari keterbatasan hidup. Setelah memiliki cukup modal, ia mulai bakulan sayur keliling bersama suaminya. Ia dan suami pertama kali bertemu saat keduanya sama-sama menjadi kuli panggul. Usahanya berkembang, dari menjual kebutuhan rumah tangga hingga menerapkan sistem cicilan. Dan dari situlah perlahan usahanya berubah menjadi bakulan uang. Awalnya karena desakan seorang tetangga yang ingin meminjam, hingga akhirnya praktik itu terus berjalan dan membuatnya mendapat label sebagai lintah darat.

Di balik seluruh kerja keras itu, Marni tidak pernah benar-benar memiliki kendali penuh atas hidupnya. Di luar konflik keluarga antara Marni dan Rahayu, ada hal lain yang justru terasa jauh lebih menekan sepanjang cerita, yaitu kehadiran orang-orang negara yang di antaranya tentara, aparat desa, dan pihak berkuasa lainnya. Mereka digambarkan begitu represif kepada orang yang memiliki usaha, seperti Marni ini.

“Mbakyu, sampeyan sudah berjualan di sini. Kata komandan saya, sampeyan harus bayar uang keamanan,” kata laki-laki berseragam loreng itu.

“Uang keamanan buat apa, Pak?’’ tanya Ibu tidak lagi dengan suara lantang kemenyek khas pedagang, tapi suara pasrah ketakutan.

“Ya buat keamanan di sini. Kowe bisa enak dagang di sini karena kami semua yang mengatur. Kami semua yang mengamankan. Kowe bisa dapat untung, kami dapat apa?’’ Tentara yang baru datang ikut-ikutan berbicara (Madasari, 2010: 64–65).

Usaha yang ia bangun dengan susah payah tetap berada dalam bayang-bayang kekuasaan. Ada pihak-pihak yang datang, meminta bagian, mengatasnamakan keamanan. Frasa “demi keamanan” dalam cerita ini terasa seperti ironi. Ia bukan tentang perlindungan, tetapi tentang kontrol. Masyarakat kecil seperti Marni dipaksa tunduk, bukan karena salah, tetapi karena tidak memiliki kuasa. Setiap kali bagian ini muncul, rasanya sulit untuk tidak merasa marah. Ada ironi yang kuat antara citra mereka sebagai pelindung yang ditampilkan dalam narasi resmi dengan kenyataan pahit yang ditampilkan dalam cerita.

Tentara-tentara itu masih datang setiap dua minggu. Mengambil jatah. Sejak tabrakan waktu itu, polisi juga sering datang ke rumah. Katanya memeriksa roda empatku. Kendaraan yang disewakan harus bagus kondisinya, jadi tidak membahayakan orang yang menyewa. Ya namanya petugas datang, selalu aku yang dibuat kerepotan (Madasari, 2010:127).

Kehadiran aparat yang berulang ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak datang sekali, melainkan terus-menerus hingga rasanya mampu mencekik leher. Dalih pemeriksaan dan keamanan terasa lumrah didengar, tetapi pada praktiknya justru menjadi cara untuk mengontrol dan mengambil keuntungan. Dalam situasi ini, rasa aman bukan lagi sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang harus dibayar dengan ketidakberdayaan.

Pada akhirnya, konflik antara Marni dan Rahayu terasa seperti bagian kecil dari persoalan yang jauh lebih besar. Karena yang benar-benar menjadi akar persoalan ini adalah sistem yang busuk, struktur kekuasaan yang menekan sekaligus memecah. Sistem tersebut tidak hanya mengatur kehidupan sosial, tetapi juga secara perlahan membentuk cara berpikir, pilihan hidup, bahkan masa depan seseorang.

Biar kami sama-sama bahagia dengan tidak saling melihat. Biarlah kami menjauh demi kebahagiaan kami sendiri. Di sini, di kota ini, aku menemukan yang kucari. Semuanya yang serbabenar dan masuk akal. Modern, tidak bodoh. Ber-Tuhan, bukan pemuja setan (Madasari, 2010:135).

Kemudian seiring berjalannya waktu, Rahayu tumbuh dewasa dan mulai menjalani hidup di luar bayang-bayang ibunya. Ia berusaha membangun kehidupannya sendiri dengan berpegang pada keyakinan yang ia anggap benar. Tetapi dalam proses itu, pada kenyatanya, kelak Rahayu tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pandangan terhadap ibunya sendiri, tetapi pada realitas sosial yang jauh lebih busuk dari yang sekadar ia ketahui. Pilihan-pilihan yang ia ambil perlahan membawanya pada lingkungan dan situasi yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.

Surat pemecatan dari rekrotat. Amri dipecat sebagai dosen. Aku, Iman, dan Arini dikeluarkan sebagai mahasiswa. Kami dianggap telah menyebabkan terjadinya kerusuhan. Tak ada sedikit pun menyinggung tentang peristiwa di Kali Manggis atau kematian Mehong. … Kami orang-orang kalah (Madasari, 2010: 161).

Di titik inilah, kehidupan Rahayu mulai bersinggungan dengan kekuasaan yang jauh lebih besar yaitu kekuasaan yang tidak hanya mengatur, tetapi juga memberi label, mengawasi, dan pada akhirnya mengancam hidupnya. Setelah dikeluarkan sebagai mahasiswa, Rahayu memulai kembali hidupnya menjadi guru agama di sebuah pesantren. Kehidupannya semula berlangsung normal dan tenteram. Ia juga telah menikah dengan seorang pria agamis, yang tidak lain adalah dosennya sendiri, meskipun hanya menjadi istri simpanan. Mereka hidup dalam ketaatan dalam menjalani kehidupan, sebagai bekal untuk menuju rumah-Nya tanpa mengurusi urusan negara.

Hingga sebuah momentum, membordir kehidupan mereka sampai ke titik terendah. Apa yang awalnya hanya kepedulian terhadap sesama, justru menjadi awal dari kehancuran berikutnya.

“Ada musibah di wetan gunung sana,” kata Pak Kyai.

“Orang-orang kehilangan tanah, kehilangan rumah. Anak-anak tak lagi bisa sekolah.” Pak Kyai bercerita tentang satu desa di sebelah timur Merapi sana. Orang-orang disuruh meninggalkan tempat yang telah didiaminya turun-temurun (Madasari, 2010: 214).

Mereka ingin membantu orang-orang yang kehilangan tanah, kehilangan tempat tinggal, dan orang-orang yang terusir dari ruang hidupnya sendiri. Niat itu lahir dari rasa kemanusiaan yang sederhana. Awalnya semangat untuk memperjuangan ruang ini sangat menggebu-gebu, semuanya terasa bisa dimenangkan. Tetapi kenyataan lebih pahit, sekeras apa pun usaha dan bentuk negosisasi yang mereka lakukan kepada orang-orang negara yang menginginkan tanah tersebut, pada akhirnya yang mereka terima hanyalah intimidasi tidak berujung dan kekalahan.

Tentara-tentara itu datang. Salah seorang dari mereka berteriak di corong pengeras suara. Masih ada waktu sepuluh menit untuk segera meninggalkan desa ini. Tak ada yang beranjak. Semua orang berdiri mematung dan mengacungkan tulisan “Jangan Ambil Tanah Kami” (Madasari, 2010:253–254).

Singkat cerita, Rahayu kehilangan suaminya karena tertembak oleh tentara dalam peristiwa tersebut. Ia melanjutkan perjuangannya hingga akhirnya kekalahan membawanya pada jeruji besi, selama bertahun-tahun lamanya. Marni, yang teramat ingin anaknya memiliki nasib baik sangat terhentak mendapati hidup Rahayu yang berakhir seperti ini. Marni ingin Rahayu menjadi orang pintar terpelajar, hidup enak, dan memiliki pekerjaan yang terpandang. Nasib buruk yang menimpa anaknya benar-benar tidak pernah terpikirkan olehnya.

Setelah keluar dari penjara, Rahayu kehilangan kesempatan untuk hidup secara normal. Label yang melekat padanya membuatnya kesulitan, bahkan untuk mendapatkan pekerjaan sekali pun. KTP-nya yang telah berlabel ET membawanya pada kehidupan yang serba terbatas. Ia tidak hanya kehilangan kebebasan secara fisik, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk memulai kembali hidupnya seperti orang pada umumnya.

Kisah ini diakhiri dengan Marni yang kehilangan kewarasan. Puncaknya terjadi ketika pernikahan yang telah ia siapkan untuk anaknya dengan susah payah tiba-tiba dibatalkan. Ia ingin Rahayu memiliki hidupnya kembali dengan cara menikah, karena baginya itu merupakan satu-satunya cara untuk kebahagiaan hidup Rahayu. Calon suami dan keluarganya mundur setelah mengetahui bahwa Rahayu memiliki cap seperti PKI di KTP-nya. Label itu menjadi sesuatu yang menakutkan, dianggap membawa sial dan membuat masa depan suram, meskipun Marni telah menjanjikan harta dan kehidupan yang layak bagi mereka.

Kenyataan itu menghancurkan Marni. Selama ini, ia hidup dan bekerja keras hanya untuk satu tujuan, yaitu agar anaknya tidak merasakan hidup susah seperti dirinya. Ia ingin Rahayu hidup layak, bahagia, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Namun pada akhirnya, ia harus menerima bahwa seluruh usahanya tidak mampu melindungi anaknya dari nasib yang telah ditentukan oleh label dan sistem yang lebih besar dari dirinya.

Duka ini begitu mendalam. Jauh lebih dalam dibandingkan kematian Teja. Duka atas kematian Teja adalah duka atas hilangnya kebersamaan di hari-hari yang telah lalu. Duka untuk Rahayu saat ini adalah duka atas hari-hari panjang di masa yang akan datang. Kesedihanku kehilangan Teja adalah kesedihan perempuan yang ditinggal mati suaminya. Dan kesedihanku kali ini adalah kepedihan hati ibu yang akan melihat anak kandungnya sengsara sampai di akhir hidupnya. Bukan hanya Rahayu yang telah mati sebelum kematian itu datang. Aku pun demikian (Madasari, 2010:276).

Ngomong-ngomong judul, Entrok itu dalam bahasa Jawa artinya penyangga payudara atau bra. Dalam novel ini, entrok menjadi simbol yang kuat dan sarat makna. Bagi Marni, entrok bukan sekadar pakaian dalam melainkan penanda perubahan hidup. Keinginannya untuk memiliki entrok menjadi titik awal kesadarannya sebagai perempuan, tentang cita-citanya, dan juga tentang keinginannya untuk memiliki hidup yang layak serta tidak bergantung kepada orang lain. Keinginan awal untuk mempunyai entrok inilah yang mendorong Marni untuk mengubah nasibnya.

Tahu istilah tentang “bukan aku yang menyelesaikan buku, tetapi buku yang menyelesaikanku”? Sepertinya itu telah aku alami sekarang. Mungkin ini agak sedikit berlebihan, tetapi rasanya buku ini bukan cuma selesai dibaca. Ini meninggalkan sesuatu ke dalam diriku, yaitu emosi yang masih terasa nyangkut dan gantung di halaman terakhir. Sampai aku masih membuka dan membaca ulang bab terakhirnya, hanya untuk memastikan bahwa penulis sudah benar-benar selesai menutup ceritanya dengan akhir tersebut.

Oleh karena itu, tentang penilaian aku memberi novel ini 4 dari 5 bintang. Alasannya sangat subjektif, yaitu aku belum merasa benar-benar puas dengan ending ceritanya yang terasa terlalu cepat hingga menyisakan banyak pertanyaan dibenakku. Aku ingin tahu lebih jauh tentang Rahayu, terutama saat ia berada di penjara. Apa yang sebenarnya terjadi hingga ia bisa sampai di titik itu? Bagaimana hidupnya di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini terus tertinggal, bahkan setelah buku ini selesai kubaca.

Namun, mungkin justru di situlah letak kekuatan cerita ini bahwa yang terasa tidak selesai itu bukan hanya ceritanya, tetapi juga kenyataan yang sedang tercermin pada Marni dan Rahayu, sebagai tokoh dalam cerita.


메타데이터
post_id
c6607cc5f35a
slug
selesai-bersama-entrok-c6607cc5f35a
url
https://medium.com/booknotations/selesai-bersama-entrok-c6607cc5f35a
canonical_url
https://medium.com/booknotations/selesai-bersama-entrok-c6607cc5f35a
author_url
https://medium.com/@friasherly
status
ok
fetched_at
2026-07-11 19:00:18