Batas, Bahasa, dan Laku: Negosiasi Feminisme dalam Relasi yang Tidak Seimbang
Dalam dinamika sosial sehari-hari, relasi antara laki-laki dan perempuan sering kali tampak ringan dan bersahabat di permukaan. Namun, di…

Batas, Bahasa, dan Laku: Negosiasi Feminisme dalam Relasi yang Tidak Seimbang
Dalam dinamika sosial sehari-hari, relasi antara laki-laki dan perempuan sering kali tampak ringan dan bersahabat di permukaan. Namun, di bawah percakapan yang terlihat remeh itu, sesungguhnya bekerja struktur kuasa yang lebih dalam: bagaimana bahasa, perhatian, dan keakraban dipakai untuk menegosiasikan posisi dominan dan submisif di antara dua individu. Melalui kacamata feminisme eksistensialis, kita bisa membaca relasi semacam ini bukan semata persoalan personal, melainkan refleksi dari bagaimana perempuan terus berjuang menjadi subjek atas dirinya sendiri di tengah kebiasaan sosial yang kerap menempatkannya sebagai “yang lain”.
Dalam percakapan-percakapan ringan — seperti obrolan bercanda, perhatian harian, atau ajakan keluar — sering kali laki-laki memulai interaksi dengan gaya manis dan lelucon yang tampak tidak berbahaya. Namun, di antara sapaan “sayang”, “manis”, atau bahkan lelucon tentang “ingin memeluk”, tersimpan kecenderungan untuk menguji batas. Gestur verbal seperti itu, meski sering disamarkan sebagai “bercanda”, secara simbolik tetap menempatkan perempuan dalam posisi sebagai objek penerima hasrat. Dalam konteks ini, tubuh dan ruang personal perempuan diimajinasikan dan dijangkau tanpa persetujuan nyata — sebuah bentuk micro-patriarchy yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
Simone de Beauvoir dalam The Second Sex menyebut bahwa perempuan sering didefinisikan bukan dari dirinya sendiri, melainkan melalui pandangan laki-laki. Ia adalah “the Other” — yang eksistensinya hanya diakui sejauh ia menjadi pantulan dari laki-laki. Dalam relasi semacam ini, perempuan yang mencoba menegaskan batas atau menolak romantisasi yang berlebihan sering kali dianggap “dingin”, “sombong”, atau “tidak ramah”. Padahal, tindakan itu adalah bentuk keberdaulatan: usaha untuk menjadi subjek yang menentukan arah hubungannya sendiri.
Salah satu bentuk perlawanan yang muncul dalam situasi seperti itu adalah soft resistance — penolakan halus yang disampaikan dengan humor, bahasa ringan, atau pembatasan nada tanpa menimbulkan konflik terbuka. Misalnya, ketika seorang perempuan menolak panggilan-panggilan manis yang tidak ia kehendaki dan meminta agar komunikasi berlangsung secara wajar dan saling menghormati. Dalam tatanan sosial yang masih menuntut perempuan untuk “ramah” dan “tidak menyinggung”, bentuk perlawanan semacam ini adalah strategi bertahan yang cerdas. Ia bukan sekadar sopan santun, melainkan taktik untuk menjaga otonomi diri tanpa kehilangan ruang bicara.
Namun, respons laki-laki terhadap batas ini sering kali menunjukkan bentuk lain dari patriarki lembut: rasa “kaget”, “malu”, atau “merasa disalahpahami”, yang pada akhirnya memindahkan pusat perhatian dari batas yang disampaikan ke perasaan si laki-laki sendiri. Ia tidak lagi mempertanyakan tindakannya, melainkan memusatkan percakapan pada pembenaran diri — bahwa “semuanya hanya bercanda” atau “tidak bermaksud berlebihan”. Dalam istilah teori komunikasi feminis, ini disebut recentering: strategi emosional di mana laki-laki kembali menjadikan dirinya pusat narasi, bahkan di tengah momen refleksi yang seharusnya milik perempuan.
Yang menarik, perempuan dalam posisi ini sering kali harus melakukan dua pekerjaan sekaligus: menetapkan batas, dan pada saat yang sama, menenangkan suasana agar tidak berubah menjadi canggung. Ia harus menjelaskan batasannya dengan cara yang tetap “baik”, agar tidak kehilangan posisi sosial yang aman. Inilah bentuk nyata dari emotional labor yang jarang dibicarakan: tenaga emosional yang dikeluarkan perempuan untuk menjaga keseimbangan interaksi agar laki-laki tidak merasa diserang. Padahal, dalam hubungan yang sehat dan setara, tanggung jawab menjaga kenyamanan seharusnya dibagi dua, bukan hanya ditanggung satu pihak.
Ketika perempuan menjelaskan bahwa ia tidak nyaman dengan cara komunikasi yang terlalu flirtatious, itu bukan bentuk penolakan terhadap kehangatan, melainkan bentuk kejujuran dan penghargaan terhadap ruang personal. Feminisme eksistensialis melihat tindakan ini sebagai act of transcendence — momen di mana seseorang melampaui peran pasif yang ditempelkan padanya, dan memilih untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Ia menolak menjadi “objek” dalam narasi romantik yang tidak ia sepakati, dan mengembalikan dirinya pada posisi “subjek” yang punya hak menentukan kadar kedekatan yang ia inginkan.
Dalam situasi ini, laki-laki yang benar-benar menghargai perempuan seharusnya mampu menerima batas itu tanpa defensif. Bukan dengan meminta daftar “apa yang boleh dan tidak boleh”, seolah relasi bisa diatur dengan peraturan, melainkan dengan mengembangkan empati dan kesadaran: memahami bahwa kenyamanan adalah hal yang dinamis, dan penghormatan bukan sekadar formalitas, tapi kepekaan terhadap konteks. Sebab pada akhirnya, batas bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan struktur yang memungkinkan dua individu tetap sejajar dalam ruang yang sama.
Kita bisa melihat bahwa konflik semacam ini bukan sekadar urusan pribadi, tetapi bagian dari pola besar bagaimana perempuan terus menegosiasikan eksistensinya di dunia yang dibentuk oleh kebiasaan maskulin. Feminisme bukan melarang keakraban, tetapi menuntut keadilan dalam cara keakraban itu dibangun: bahwa relasi yang intim pun harus lahir dari kesetaraan, bukan dari permainan peran antara subjek dan objek.
Maka, ketika seorang perempuan menolak panggilan manis atau mengganti nada pembicaraan menjadi lebih rasional, itu bukan tanda dingin, melainkan tanda sadar. Ia sedang melatih kebebasannya, seperti yang disebut Sartre dan Beauvoir: kebebasan untuk memilih makna atas tindakannya sendiri. Dalam dunia yang terus menilai perempuan dari cara ia membalas pesan, tertawa, atau menolak, keberanian untuk berkata “aku tidak nyaman” adalah tindakan politik yang senyap tapi radikal.
Relasi yang sehat hanya bisa tumbuh jika kedua pihak mau belajar menghargai otonomi masing-masing. Dalam percakapan yang tampak sederhana itu — antara sapaan, candaan, dan permintaan maaf — sebenarnya sedang terjadi negosiasi besar antara tradisi dan kesadaran baru: apakah perempuan akan terus menjadi “yang lain”, atau akhirnya menjadi subjek penuh atas dirinya sendiri. Feminisme, pada akhirnya, adalah tentang keberanian untuk mengatakan “cukup” dengan nada yang tetap manusiawi.
메타데이터
- post_id
- c670e22b153d
- slug
- batas-bahasa-dan-laku-negosiasi-feminisme-dalam-relasi-yang-tidak-seimbang-c670e22b153d
- url
- https://medium.com/@arsippenata/batas-bahasa-dan-laku-negosiasi-feminisme-dalam-relasi-yang-tidak-seimbang-c670e22b153d
- canonical_url
- https://medium.com/@arsippenata/batas-bahasa-dan-laku-negosiasi-feminisme-dalam-relasi-yang-tidak-seimbang-c670e22b153d
- author_url
- https://medium.com/@arsippenata
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 19:38:28