Kalau Memang Berbeda dari Makhluk-Nya, Mengapa Allah Selalu Dibahasakan dengan Gender Laki-Laki?
Tentang nomina Allah dan pronomina yang menyertainya
FRAGMEN BAHASA
Kalau Memang Berbeda dari Makhluk-Nya, Mengapa Allah Selalu Dibahasakan dengan Gender Laki-Laki?
Tentang nomina Allah dan pronomina yang menyertainya

Foto oleh Masjid Pogung Raya di Unsplash.
Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓
Bahasa selalu saja dihadapkan dengan paradoks yang serius ketika kita berbicara tentang nomina Allah. Ini karena yang transenden harus kita jelaskan dengan perangkat linguistik yang sepenuhnya human.
Dalam banyak bahasa, paradoks ini menghasilkan fenomena di mana Allah cenderung dirujuk dengan pronomina maskulin “dia laki-laki” seperti huwa (هو) dalam bahasa Arab, he dalam bahasa Inggris, dan er dalam bahasa Jerman. Padahal, dalam teologi Islam, Allah dipahami sebagai entitas yang melampaui kategori biologis seperti laki-laki atau perempuan.
Esai ini mencoba membahas fenomena tersebut melalui sejumlah konsep linguistik, termasuk bagaimana bahasa Indonesia menghadirkan kasus istimewa yang berhasil menghindarkan diri dari debat genderisasi.
Sebagai penafian, tak ada diskusi teologi di sini. Hanya ada linguistika yang saya batasi fokusnya pada bagaimana nomina Allah diungkapkan dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Indonesia, sehingga saya berlepas diri dari bagaimana Allah diungkapkan dalam bahasa-bahasa lainnya.
Saya juga membatasi irisannya dengan bagaimana nomina Allah dipahami dalam keimanan Islam saja, sehingga saya berlepas diri dari sejauh mana Allah dipahami sebagai entitas religius yang berbeda, termasuk bagaimana trinitarianisme dalam Kekristenan mengompromikan keilahian-Nya dengan manifestasi laki-laki dalam wujud Kristus, atau bagaimana arianisme dalam Kekristenan menolak kompromi semacam itu dan mengimani bahwa Kristus adalah manusia seutuhnya.
Oh ya, dalam banyak diskusi dan pembahasan, pandangan teologis Sir Isaac Newton sering dikaitkan dengan arianisme tadi. Kamu bisa menyimak bagaimana Newton melibatkan entitas Tuhan dalam karya legendarisnya ***Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, **khususnya di bagian Scholium Generale.*
Bahasa Arab dan struktur pronominalnya
Nomina “Allah” sudah ada dalam bahasa Arab sejak sebelum ajaran Islam muncul di sana. Sejak mula-mula sampai saat ini, kata Allah dilekatkan dengan nomina maskulin, sehingga pronomina yang digunakan adalah huwa (“dia laki-laki”). Dalam teks-teks Arab klasik, termasuk Al-Qur’an, bentuk ini digunakan secara konsisten untuk merujuk Allah sebagai entitas ketuhanan. Mengapa demikian?
Ini karena bahasa Arab punya **gender gramatikal** yang terbagi menjadi maskulin dan feminin saja. Bentuk netral tak tersedia. Oleh karenanya, tiap referen harus ditempatkan dalam salah satu kategori tersebut. Kalau suatu kata tak dilekatkan dengan gender maskulin, ya pasti feminin.
Masalahnya, maskulinitas dalam nomina sering kali kita artikan sebagai “laki-laki.” Padahal dari sudut pandang **linguistika struktural, maskulinitas pronominal seperti ini sebenarnya tak selalu dan tak serta-merta begitu. Lebih lagi dalam rumpun bahasa Semitik, bentuk maskulin sering berfungsi sebagai “[bentuk dasar” atau “tak bertanda](https://en.wikipedia.org/wiki/Markedness)”* (unmarked form*). Artinya, ia digunakan ketika memang tak ada alasan khusus untuk menggunakan bentuk feminin.
Penguatan dalam personifikasi ketuhanan
**Linguistika kognitif kemudian menyediakan konsep [personifikasi](https://en.wikipedia.org/wiki/Personification)**, yang membantu menjelaskan kecenderungan kita memahami konsep-konsep abstrak melalui metafora yang berasal dari pengalaman manusiawi. Dengannya, konsep-konsep yang sukar kita pahami akhirnya sering kita petakan ke dalam domain-domain yang lebih konkret.
Nomina Allah sering dibahasakan sebagaimana **figur otoritas**, entah itu sebagai Raja, sebagai Hakim, atau sebagai Penguasa. Pembahasaan ini kemudian ikut memperkuat pilihan pronomina maskulin, karena figur otoritas dalam banyak riwayat masyarakat memang didominasi oleh laki-laki.
Dari sini kita bisa memahami bahwa selain sebagai fenomena gramatikal, penggunaan huwa (“dia laki-laki”) sebagai pronomina untuk nomina Allah dalam bahasa Arab juga merupakan hasil dari proses konseptualisasi budaya.
Bagaimana dengan bahasa Inggris dan bahasa Jerman?
Bahasa Inggris modern sebenarnya tak punya gender gramatikal pada nomina, tetapi masih mempertahankan **gender pronominal*. Kata benda memang tak terbagi ke dalam gender tertentu, tetapi pronomina pihak ketiga tunggal masih membedakan he, she, dan it. Dan Allah selalu dirujuk sebagai he*.
Sementara itu, bahasa Jerman punya sistem gender gramatikal penuh. Ada maskulin, feminin, dan netral di sana. Kata Allah terasosiasi pada kata Gott (Tuhan) yang termasuk dalam kategori maskulin, sehingga pronomina yang digunakan adalah er (“dia laki-laki”). Dalam hal ini, genderisasi maskulin muncul terutama karena mekanisme kesesuaian gramatikal (agreement).
Lalu bahasa Indonesia?
Bahasa Indonesia menawarkan situasi linguistik yang menarik. Dalam sistem pronominal bahasa Indonesia, pronomina pihak ketiga tunggal seperti dia atau ia tak menandai gender apa pun, sehingga tak perlu ada lagi perdebatan dan pertentangan mengapa Allah selalu dibahasakan dengan gender laki-laki.
Dari titik ini, kita bisa beranjak menuju fenomena berikutnya tentang mengapa Allah, meski gramatika bahasa Indonesia telah membebaskan nomina dan pronominanya dari debat gender, ternyata tetap dibahasakan dengan pronomina personal (dia, ia) yang terkait erat dengan personifikasi, alih-alih pronomina demonstratif (ini, itu) yang tentu jauh lebih netral.
Fenomena ini bisa kita amati melalui konsep **animacy**, yang menempatkan nomina Allah sebagai agen personal yang punya atribut “kehidupan”, “pengetahuan”, “kehendak”, dan “tindakan”, sehingga meski Allah bukanlah manusia dan bukan pula benda ciptaan lainnya, bahasa Indonesia tetap memersonifikasikannya. Kita bisa mengamati gejalanya dari bagaimana Allah dibahasakan dengan “Yang Maha Hidup”, “Yang Maha Mengetahui”, “Yang Maha Kuasa”, dan dengan nama-nama indah lain yang disematkan kepada-Nya.
Bahasa dan imaji ilahi yang menyertai
Dari fenomena genderisasi pada nomina Allah dan pronomina yang menyertainya, kita bisa belajar tentang bagaimana struktur bahasa bisa begitu memengaruhi cara kita mengekspresikan satu konsep teologis yang sama. Dalam hal ini, bahasa tak hanya jadi alat komunikasi, tetapi juga medium yang membentuk imaji ilahi secara kolektif.
Yang tak kalah penting untuk kita arifi, adalah bagaimana **relativitas linguistik** yang ada pada gender gramatikal bisa memengaruhi kita untuk membayangkan referen suatu kata. Dalam tata nomina dan pronomina Allah ini, misalnya, kita boleh-jadi akan mudah tergelincir dan terus melekatkan-Nya dengan “laki-laki”. Padahal, maskulinitas yang ada pada Allah hanyalah gramatikal saja. Lebih lagi sebagai entitas yang berbeda dari makhluk-Nya, Allah tentu melampaui kategorisasi gender manusia.
Dalam kondisi ini, saya perlu kembali mengamini proposisi Wittgenstein bahwa batas-batas dunia kita dibentuk oleh batas-batas bahasa kita. Yang mana di luar batas-batas ini, akan selalu ada ruang-ruang yang keutuhan realitas dan konseptualitasnya tak mampu dijangkau oleh akal budi kita. Dan pada batas-batas ini, tertambat kerendahan hati untuk selalu menyadari, bahwa ilmu kita sungguh tak ada apa-apanya di hadapan kemahabesaran-Nya.

Foto oleh Enes Doğan di Unsplash.
메타데이터
- post_id
- c6b760e5d660
- slug
- kalau-memang-berbeda-dari-makhluk-nya-mengapa-allah-selalu-dibahasakan-dengan-gender-laki-laki-c6b760e5d660
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/kalau-memang-berbeda-dari-makhluk-nya-mengapa-allah-selalu-dibahasakan-dengan-gender-laki-laki-c6b760e5d660
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/kalau-memang-berbeda-dari-makhluk-nya-mengapa-allah-selalu-dibahasakan-dengan-gender-laki-laki-c6b760e5d660
- author_url
- https://medium.com/@ringgo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 08:33:11