← Back to list

Jeda disudut Ruangan

Setelah melewati kegaduhan beberapa hari kemarin, akhirnya ada jeda untuk menarik diri dari sedikit persoalan. Sejenak mengambil jarak dan…

Adesur in Ruang Kontemplasi · 2026-07-07 08:22 · 51 claps · 1.6 min read
#jeda #refleksi-diri #mindfulness #ruang-kontemplasi
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry 🧘 · Spirituality

Jeda disudut Ruangan

Setelah melewati kegaduhan beberapa hari kemarin, akhirnya ada jeda untuk menarik diri dari sedikit persoalan. Sejenak mengambil jarak dan memberi ruang untuk kembali mendengar suara yang selama ini tenggelam. Memang tidak mudah beradaptasi dengan kebijakan baru saat ini. Dipaksa mampu untuk bisa memenuhi ekspektasi yang teramat menyulitkan. Dulu aku percaya, setiap persoalan akan menemukan jalannya lewat percakapan. Berbicara dan berdiskusi selalu menjadi jembatan menuju pemahaman. Namun difase sekarang mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ada persoalan yang tidak bisa berubah menjadi lebih ringan karena dibahas dan tidak semua kegelisahan dapat diselesaikan melalui kata-kata.

Photo by Serge Le Strat on Unsplash

Photo by Serge Le Strat on Unsplash

Mungkin, kita perlu pengingat untuk bisa mengendalikan apa yang kita rasa ketika emosi berada pada puncaknya. Kondisi ruangan dan obrolan grup yang mulai dingin karena isinya merupakan tumpukan kemarahan tiap orang. Diri ini tidak lagi mampu bertahan dari drama berkepanjangan. Rasanya gelas ini ingin sekali tumpah padahal baru tiga belas bulan belajar menampung. Aku coba bercerita pada temanku, kemudian ia menanyakan apa yang dirasakan setelah menarik diri dan memberi jeda untuk berpikir. “Amarah perlahan memudar”, jawabku. Maka hilanglah keinginan untuk mempertahankan pendapat meskipun berada di titik kebenaran menurut sebagian orang. Ia menyarankan beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika ingin menjawab pesan tanpa khawatir dengan dampak yang mungkin terjadi.

Tulislah kemarahanmu di ruang chat. Biarkan setiap kata menjadi tempat singgah bagi emosi yang selama ini tertahan. Setelah selesai, hapuslah tanpa perlu mengirimkannya. Atau tulis sebuah dialog seolah-olah kamu sedang mengatakan semua yang ingin disampaikan, karena di dalam dialog yang kita ciptakan sendiri tidak akan ada yang menyela, membantah, atau menghakimi.

Dan pelan-pelan belajar memahami,

Ada hal-hal yang hanya perlu dimaklumi. Tanpa dipaksakan untuk dibahas dengan segera, tanpa dijawab dengan argumen panjang dan tanpa dijelaskan dengan penjabaran mendalam. Karena yang demikian akan menjadikan diri lebih sehat dan tenang. Sebab ada energi yang terbuang percuma untuk penyampaian yang terlalu melibatkan perasaan.

Dan apabila sesuatu itu perlu diutarakan, mungkin dengan menulis akan menjadikannya lebih ringan. Ketika hatimu mulai terasa teduh, sampaikanlah apa pun yang menjadi keresahan pada ruang yang memang mempersilakanmu untuk bicara. Meskipun begitu, kamu tetap harus siap pada dua kemungkinan jawaban, yakni penerimaan atau penolakan.

Dan teruntuk hari-hari yang terus berjalan, semoga hati tetap tenang dan pikiran tetap jernih dalam menghadapi segala kemungkinan.


메타데이터
post_id
c6c8ecc13870
slug
jeda-disudut-ruangan-c6c8ecc13870
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jeda-disudut-ruangan-c6c8ecc13870
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jeda-disudut-ruangan-c6c8ecc13870
author_url
https://medium.com/@adesur96
status
ok
fetched_at
2026-07-08 18:29:56