Tepuk Tangan Medium
Fakta unik yang belum diketahui pengguna Medium tahap awal
Medium 101
Tepuk Tangan Medium
Fakta unik yang belum diketahui pengguna Medium tahap awal
Photo by Guillermo Latorre on Unsplash
Selama hampir dua pekan mengamati dan menghabiskan lebih banyak waktu di Medium, aku jadi menyadari budaya yang berbeda di Medium dibandingkan dengan aplikasi lainnya. Budaya itu berbentuk reaksi tepuk tangan. Sebagai perwujudan apresiasi bahwa seseorang menyukai tulisan yang dipublikasi oleh penulis.
🔓Klik *lanjutkan membaca*⬇️
Aku terbiasa dengan tombol like👍dan tombol favorite/love ❤️ yang hanya ditekan satu kali pada aplikasi media sosial lainnya. Ini adalah tanda seseorang relate dan menyukai postingan yang diunggah oleh seseorang. Aku juga tadinya menyangka bahwa tombol tepuk tangan/clap👏 yang ada di Medium ini hanya dapat ditekan satu kali, padahal kenyataannya tidak demikian.
Fakta unik ini membuatku tersadar, bahwa rasa-rasanya seseorang yang bertepuk satu kali saat memberikan apresiasi jika seseorang selesai melakukan presentasi di dunia nyata, sangat janggal sekali. Umpama reka adegannya jadi begini,
“Baik, sekian presentasi dari saya. Terima kasih.” ujar presentan prok (hanya ada satu tepuk tangan dari audiens yang mendengarkan)
Rasanya jadi begitu aneh sekali, bukan??
Saat memahami makna filosofis bahwa tepuk tangan tersebut dapat ditekan hingga berkali-kali dan maksimal 50 kali, membuatku berkata “Oohhhh…. baru tahu bisa sampai 50x tepuk tangan!!” 👏👏👏 Seperti menemukan sebuah penemuan baru yang sangat mindblowing. Ini tanda kalau aku benar-benar pengguna Medium yang baru memahami ekosistem lingkungan aplikasi ini. Sebuah fakta unik yang mengajarkanku bahwa mempelajari hal baru ternyata seru dan mengasyikkan juga saat bisa mengaitkannya dengan keadaan di dunia nyata.
Dalam proses mengamati tentang lingkungan membaca dan menulis di Medium selama dua pekan terakhir ini, aku juga menyadari ada beragam jenis tulisan yang masuk ke dalam beranda Mediumku. Aku menyesuaikan mood-ku membuka dan memilih tulisan seperti apa yang ingin kubaca. Baru menyadari juga tentang cara menulis judul, subjudul, dan kicker (penendang). Bahkan bisa membuat heading dalam teks juga yang biasanya jarang untuk kugunakan saat ini. Tapi mungkin akan kucoba di masa depan jika membuat tulisan yang mengharuskan penggunaannya dan untuk memudahkan pembaca.
Jika diibaratkan, tulisan-tulisan Medium ini semacam sarana untuk pitching materi yang disampaikan secara lisan. Bisa disebut juga bahwa setiap orang sedang membangun panggungnya masing-masing. Panggung yang mengundang berbagai audiens dengan ketertarikan dan latar belakang yang berbeda. Jelas, judul yang menarik dan menggugah bisa membuat satu langkah utama untuk menggaet mereka masuk dan membaca sebuah tulisan. Juga ditambah dengan visual yang senada dengan judul yang dibuat.
Setelah seorang audiens terjerat dalam daya tarik judul, subjudul, dan visual yang selaras tersebut, ujian berikutnya adalah mempertahankan tingkat fokus audiens untuk terus membaca selama lebih dari 30 detik. Ada seninya juga dalam menulis. Hal yang benar-benar baru kusadari dan karena Medium adalah aplikasi berbentuk blog, jadi semacam bentuk menuliskan informasi secara informal. Banyak hal-hal di luar konteks formal yang terlihat kaku menjadi lebih fleksibel dan terkesan santai. Jadi, setiap tulisan punya warnanya masing-masing.
Karena hobiku memang berkaitan dengan dunia pendidikan, kedokteran, dan isu terkait humanisme, cara pikir, dan interaksi manusia, aku rata-rata akan mencari bacaan terkait ketertarikanku itu. Hal yang membuatku bertahan untuk terus membaca adalah jika bahasa yang digunakan oleh penulisnya tidak bertele-tele dan langsung ke intinya. Bisa saja aku hanya menggulirkan jari dalam hitungan tiga detik untuk memutuskan memberikan fokus penuh dalam membaca sebuah tulisan atau tidak.
Rasanya penilaianku dalam memberikan tepuk tangan pada sebuah tulisan juga sangat subjektif. Tapi, itu biasanya tergantung dengan kosa kata yang digunakan oleh penulis dan seberapa mengenanya tulisan tersebut untukku pribadi. Jadi, jika aku memberikan beberapa highlight tentang kata-kata yang menyentuh itu, di akhir aku akan memberikan penulis tersebut apresiasi dengan tepuk tangan paling maksimal. Atau, bisa juga aku hanya bertepuk tangan untuk mengapresiasi penulis yang sudah berusaha menuliskan sebuah tulisan yang baik dan aku sudah membaca tulisannya hingga akhir. Meskipun tidak meninggalkan highlight setiap waktu, aku kerap kali memberikan tepuk tangan bagi mereka yang membutuhkan sebagai wujud dukungan.
Melihat notifikasi berwarna hijau dan tulisan yang diapresiasi itu bisa membuat seseorang jadi lebih termotivasi untuk menuliskan tulisan baru untuk waktu berikutnya.
Sekian dari saya, tidak usah repot-repot bertepuk tangan. Tapi, jika pun pada akhirnya ingin memberikan tepuk tangan yang sunyi ini, saya ucapkan terima kasih. Sangat magis ya tepuk tangan Medium di hati para pembacanya? Menjadi pendorong untuk menantikan tepuk tangan lebih dari satu kali pada tulisan-tulisan berikutnya di masa depan. 👏👏👏
PS: Oh iya, baru tahu juga fakta unik tentang tepuk pramuka yang ternyata ada 13 kali. Jadi, jika tidak ingin bertepuk tangan hingga 50 kali pada sebuah tulisan, cukup tepuk pramuka 13 kali saja ya~ 😂😂😂
메타데이터
- post_id
- c6f56d8668d4
- slug
- tepuk-tangan-medium-c6f56d8668d4
- url
- https://medium.com/@wellasavitri/tepuk-tangan-medium-c6f56d8668d4
- canonical_url
- https://medium.com/@wellasavitri/tepuk-tangan-medium-c6f56d8668d4
- author_url
- https://medium.com/@wellasavitri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08