Menyimpul Kognitif untuk Tindakan Efektif
Resensi buku “Makanya, Mikir!” karya Abigail Limuria dan Cania Citta
Menyimpul Kognitif untuk Tindakan Efektif
Resensi buku “Makanya, Mikir!” karya Abigail Limuria dan Cania Citta

Cover Buku “Makanya, Mikir!” karya Abigail Limuria dan Cania Citta
Kenapa Kita Perlu “Mikir”?
Pernah salah memilih pacar? Atau salah checkout barang di keranjang e-commerce? Sudah dipikirkan matang-matang, tapi tetap saja runyam.
Silahkan klik di sini untuk membaca melalui link pertemanan
Pada dasarnya, “berpikir” adalah tindakan mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu menggunakan akal budi. Tindakan ini menghasilkan kesimpulan atau keputusan yang dampaknya beragam, dari yang seumur jagung (memilih bawang di pedagang sayur) sampai yang jangka panjang (memilih karier). Ketika hasil dari proses berpikir kita terasa tidak efektif — entah karena keputusannya tidak tepat, memberikan dampak buruk, atau tidak maksimal — maka ada kemungkinan kerangka berpikir yang kita gunakanlah yang kurang tepat.
Abigail dan Cania melihat hal tersebut sebagai permasalahan umum yang dialami masyarakat dalam kesehariannya. Duo pegiat edukasi publik yang cukup kritis ini, menuangkan permasalahan tersebut dengan cukup gamblang, disertai alternatif-alternatif sistematika berpikir yang dikemas dengan cara yang cerdas namun mudah dipahami. Buku “Makanya, Mikir!” tidak menyajikan ceramah motivasi, melainkan panduan praktis untuk memperbaiki cara kerja koginitif kita dengan metode yang mudah dipahami. Serta bercerita bagaimana panduan berpikir praktis untuk hasil yang efektif.
Dari Mana Kita Mulai “Mikir”?
Mengawali sebuah hal yang dampaknya akan berpengaruh ke kehidupan kita, tentunya bukan sesuatu yang mudah. Berpikir memiliki proses yang sama. Lantas, dari mana kita mulai ketika ingin mengambil keputusan atau suatu tindakan? Jelas, yang perlu ditentukan sebelum mulai berpikir adalah tujuan dari keputusan atau tindakan tersebut. Ya. Tujuan menjadi salah satu kuncian penting dalam rumusan awal berpikir. Mengapa demikian? Karena efektivitas sebuah keputusan selalu diukur dari seberapa jauh keputusan itu sejalan dengan tujuan awal kita. Suatu keputusan dapat dikatakan baik jika ia memajukan tujuan hidup kita, meskipun kelihatannya merugikan orang lain. Sebaliknya, keputusan yang menyenangkan banyak orang bisa saja dikatakan tidak efektif jika ternyata menjauhkan kita dari tujuan utama. Singkatnya, tujuan kita akan menjadi acuan yang mendikte semua keputusan, dan pada akhirnya, membentuk hidup kita. Oleh karena itu, tujuan merupakan fondasi dari segalanya.
Setelah menentukan tujuan, barulah kita tentukan cara atau tools untuk mencapai tujuan tersebut. Disertai pertimbangan-pertimbangan yang hanya bisa didapat ketika kita melalui proses berpikir. Maka, di sinilah kerangka berpikir (Thinking Frameworks) berperan. Berpikir menggunakan kerangka membuat kita lebih mudah memvisualisasikan hambatan (obstacle) yang akan muncul dalam bentuk “peta”. Selain itu, kita juga lebih mudah memahami untung dan rugi dari setiap opsi yang akan diambil. Berpikir benar bukan berarti kita harus pintar dan cerdas seperti ilmuwan, tapi memiliki, tahu cara membaca, dan menggunakan “peta kehidupan” agar tidak tersesat untuk mencapai tujuan.
Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir sejenis ini dapat dianalogikan ketika kita memiliki tujuan memotong pohon untuk dijadikan kayu bakar. Apakah ketika memotong kayu kita hanya peduli pada letak pohonnya saja? Tentu tidak. Justru kita perlu melihat tool box yang dimiliki. Saat hanya ada palu di tool box, apakah kita tetap akan memaksakan memotong pohon menggunakan palu? Atau kita perlu ke kota untuk membeli peralatan memotong pohon seperti gergaji?
Buku ini mengajarkan untuk menggunakan analisis yang sistematis. Kita mungkin akan berpikir, menarik juga kalau membeli gergaji yang harganya lebih mahal dan lebih canggih, namun dapat digunakan untuk jangka panjang. Tapi, apakah kita akan memotong pohon untuk dijadikan kayu bakar seterusnya? Atau dalam beberapa waktu ke depan kita akan menemukan energi alternatif yang lebih hemat dan lebih mudah didapat dibandingkan menggunakan kayu bakar? Kalau begitu, sia-sia kah kita memutuskan membeli gergaji canggih yang mahal? Dan apakah ketika membeli gergaji yang canggih dan mahal, justru akan dipinjam oleh tetangga terus-menerus?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan salah satu kerangka yang dibahas secara mendalam, yaitu Cost Benefit Analysis (CBA). CBA tidak hanya sekadar membuat daftar Plus-Minus, melainkan mengajarkan kita untuk menetapkan nilai (baik nilai moneter maupun non-moneter) pada setiap cost (biaya / pengorbanan) dan benefit (manfaat) yang akan didapatkan. Dengan menelusur nilai dari CBA, kita bisa membandingkan secara lugas: Apakah cost membeli gergaji canggih (misalnya: harga mahal dan risiko dipinjam tetangga terus-menerus) setara dengan benefit yang didapatkan (misalnya: pekerjaan cepat selesai dan hasil potongan lebih rapi)? CBA membantu kita keluar dari kerumitan emosional dan fokus pada nilai objektif.
Selain itu dalam perumusan kerangka berpikir, ada baiknya kita menentukan ranah preferensi dan ranah realitas.
- Ranah preferensi merupakan ranah yang ditimbang dari baik buruknya, bagus jeleknya, dengan acuan penilaian berdasarkan moral, etika, dan estetika. Contohnya, ketika kita akan menebang pohon untuk jadi kayu bakar, ranah preferensinya adalah “Apakah ketika membeli gergaji yang canggih dan mahal, justru akan dipinjam oleh tetangga terus-menerus?”. Ranah ini perlu kita pertimbangkan dengan cara lain di luar ranah realitas untuk mendukung keputusan kita nantinya.
- Sedangkan ranah realitas adalah ranah yang ditimbang dari benar atau salah berdasarkan data empiris hasil pengamatan atau observasi. Contohnya saja seperti memotong pohon menggunakan palu tidaklah tepat, karena memotong pohon memerlukan benda tajam dan keras dibanding benda tumpul yang keras.
Dengan memisahkan kedua ranah ini, kita dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil didukung oleh fakta yang solid, tanpa mengesampingkan pertimbangan etis.
Musuh dalam Berpikir
Tidak hanya CBA, “Makanya, Mikir!” juga mempertajam kerangka berpikir agar kita tidak terjebak dalam sesat pikir atau logical fallacy dan bias dalam pengambilan keputusan. False dichotomy, False Comparison, dan Causation Fallacy adalah beberapa logical fallacy yang tertangkap basah oleh penulis dari banyaknya logical fallacy di buku, dan seringkali tidak kita sadari dalam kehidupan. Abigail dan Cania menarasikan semua teori berat ini dengan analogi dan kejadian yang sangat berkaitan erat dalam kehidupan kita, sehingga konsep First Principles atau False Comparison tidak lagi terasa seperti pelajaran filsafat semu, melainkan amunisi siap pakai.
Dampak dari kerangka berpikir tanpa sesat pikir adalah kecerdasan sosial dalam berhadapan dengan masyarakat sehari-hari. Kesalahan berpikir ini seringkali tidak kita sadari dan dampaknya bisa merambat ke mana-mana, dari hoax di media sosial hingga keputusan toxic dalam hubungan. Buku ini mengajarkan kita untuk memiliki kecerdasan sosial — bahwa pintar tidak harus menyebalkan. Kita diajak mencapai tujuan dengan cara yang sistematis, tetapi juga tetap mempertimbangkan dampak sosial, agar orang di sekitar kita tidak kecewa atau membenci keputusan kita.
Akhirnya, buku ini cukup cocok digunakan sebagai kitab panduan penalaran yang fun. Karena ternyata berpikir kritis dapat menjadi healing tersendiri, agar kita tetap mencapai tujuan untuk memiliki hidup yang bahagia. Menyimpul kognitif tidak akan serumit seperti yang dibayangkan, karena ternyata kognitif kita lebih mudah untuk diajak berpikir sistematis dibandingkan berpikir rumit terus menerus. Buku ini mengajak untuk menginstal ulang sistem operasi di kepala kita. Sering merasa stuck? Bingung di persimpangan jalan? Atau overthinking tanpa hasil? Buku ini adalah titik awal yang ideal.
Daripada hanya bilang “Makanya, Mikir!” ke orang lain, lebih tepat untuk menyampaikan ke diri sendiri. Seperti kata pepatah yang dikutip dalam buku ini,
“Banyak jalan menuju Roma, pilihlah yang paling tidak sengsara”
메타데이터
- post_id
- c6ffc1069571
- slug
- menyimpul-kognitif-untuk-tindakan-efektif-c6ffc1069571
- url
- https://medium.com/booknotations/menyimpul-kognitif-untuk-tindakan-efektif-c6ffc1069571
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/menyimpul-kognitif-untuk-tindakan-efektif-c6ffc1069571
- author_url
- https://medium.com/@thea24
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-12 07:40:50