Temanggung
Temanggung adalah diriku dalam sisi yang tersembunyi — sejarah panjang yang diwariskan. Ia hadir dalam kelembutan nama yang tak banyak…
Temanggung
Temanggung adalah diriku dalam sisi yang tersembunyi — sejarah panjang yang diwariskan. Ia hadir dalam kelembutan nama yang tak banyak dikenal publik, namaku yang hanya diketahui terbatas orang; dalam masa kecilku di Tulungagung dan Ngawi; dalam fragmen-fragmen ingatan tentang halaman rumah Mbah Buyut yang menyimpan lebih banyak cerita daripada yang sanggup kuingat.

Suatu hari, aku pernah merengek bertanya mengapa rumah itu tidak lagi menggunakan tungku kayu.
Pertanyaan yang sederhana. Namun jawabannya melekat dalam renungan panjangku, seolah menjadi salah satu halaman awal dari naskah kehidupan yang baru kupahami bertahun-tahun kemudian.
Mbah Buyut tidak menjawab dengan uraian panjang. Beliau menebang sebatang tebu di belakang rumah, menyerahkannya kepadaku, lalu menjelaskan bahwa tungku diganti kompor bukan karena keinginan menjadi lebih modern, melainkan karena usia yang semakin menua dan kayu bakar yang kian sulit ditemukan di sekitar rumah.
Aku menerima penjelasan itu sambil mengunyah tebu yang dingin dan sesekali membuka tapai ketan dalam balutan daun jati.
Barangkali, sejak saat itu aku mulai belajar bahwa perubahan tidak selalu lahir dari keinginan meninggalkan masa lalu. Kadang ia datang sebagai bagian dari alur kehidupan yang terus bergerak, memaksa manusia bernegosiasi dengan kenyataan tanpa harus kehilangan makna yang dijaganya.
Temanggung, karena itu, tidak pernah benar-benar hadir bagiku sebagai titik di peta. Ia lebih menyerupai lanskap batin — sebuah narasi panjang yang diwariskan lintas generasi dan hidup sebagai subteks dalam banyak pilihan hidup yang kuambil.
Dan barangkali, inilah aku pada bagian-bagian yang tidak selalu tertangkap oleh aksara. Pada lapisan-lapisan yang sering luput dibaca orang lain. Aku dan berbagai hal yang tampak acak: ketertarikan pada desa-desa kecil, kegemaran membawa pulang pangan lokal, kesabaran mendengarkan cerita yang dianggap biasa, atau kecenderungan terus kembali pada pertanyaan tentang manusia dan perubahan.
Di permukaan, semuanya mungkin terlihat sebagai fragmen yang berdiri sendiri. Namun bagiku, ia terasa seperti motif yang berulang dalam satu naskah yang sama. Hanya dapat dikenali melalui kesamaan nilai, melalui resonansi yang sulit dijelaskan dengan bahasa yang sepenuhnya logis.
Barangkali aku terus kembali pada Temanggung bukan karena Temanggung membutuhkan pembelaan dariku.
Melainkan karena sebagian dari diriku tumbuh di sana — meski tidak selalu secara geografis. Ia tumbuh melalui masa kecilku di Tulungagung dan Ngawi, melalui cerita-cerita yang diwariskan, melalui tokoh-tokoh sunyi dalam keluargaku yang mengajarkan banyak hal tanpa merasa perlu menamainya sebagai pelajaran.
Mungkin karena itu, setiap kali menulis tentang perdesaan, pembangunan, atau perubahan sosial, selalu ada bagian dari diriku yang sedang membaca kembali akar cerita yang lebih dahulu menumbuhkanku.
Sebab pada akhirnya, Temanggung bagiku bukan sekadar sebuah tempat. Ia adalah jejak cerita yang terus hidup. Sebuah nama yang diwariskan keluarga ketika memanggilku pulang. Dan seperti semua hal yang pernah menumbuhkan kita, selalu ada harapan sederhana agar ia tetap terjaga — sebagaimana selama ini, tanpa banyak kata, ia telah ikut menjaga diriku. 🌾
메타데이터
- post_id
- c70e89b95328
- slug
- temanggung-c70e89b95328
- url
- https://medium.com/@fardiah.qonita/temanggung-c70e89b95328
- canonical_url
- https://medium.com/@fardiah.qonita/temanggung-c70e89b95328
- author_url
- https://medium.com/@fardiah.qonita
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-17 20:53:45