Tabrakan Kecil, Cermin Besar
Chapter #292 — Menulis Satu Halaman, 24 Mei 2026
Tabrakan Kecil, Cermin Besar
Chapter #292 — Menulis Satu Halaman, 24 Mei 2026
Photo by Marc-Olivier Jodoin on Unsplash
Tabrakan kecil. Minima collisio.
Dalam sebuah perjalanan bertemu calon mitra baru untuk kerjasama, sebuah sepeda motor menyalip dari kiri di sudut sangat sempit dan mengenai mobil Mas R.
Sang pemotor berhenti di lampu merah, no plat terlihat jelas, baju dan helm sangat khas. Pengemudi mobil mengklakson. Tapi pemotor menengok pun tidak, apalagi memberikan gestur minta maaf. Pura-pura budeg.
“Ya sudah”, kata Mas R. “Perilaku dia mencerminkan karakternya.”
Sesampainya di kantor calon mitra, Mas R bertemu dengan direktur calon mitra. Sedikit beramah-tamah sambil berjalan menuju ruang meeting.
Pandangan mata Mas R tertuju pada sebuah motor yang diparkirkan, dengan no plat sama persis, helm dan jaket tersampir seperti yang tadi menyerempet mobil.
Mas R bertanya, “Itu motor siapa Pak Direktur?”.
“Yang mana? Oh itu? Manajer saya”, jawab beliau.
Akhirnya kami masuk ke ruang meeting.
Tak berada lama, sang manajer masuk ke ruang meeting.
“Ini manajer saya Mas R”, ujar Pak Direktur.
“Izin perkenalkan bapak, saya J, manajer Pak Direktur”, sapa dia.
Cermin besar. Magnum speculum.
“Izin ya Pak Direktur, biar tidak terlalu lama diskusinya. Dalam konteks profesional, saya suka dengan proposal bapak dan kerjasama bisa dilanjutkan dengan nilai uang seperti kesepakatan. Tapi syaratnya, saya mau manajernya bukan beliau”, ujar Mas R.
Pak Direktur dan Pak Manajer terkejut.
“Oh kenapa mas jika boleh tahu?”, ujar Pak Direktur.
“Bapak bisa tanyakan ke beliau untuk melihat ke bawah, ke mobil saya yang tadi beliau tabrak di lampu merah. Jika bertanggung jawab terhadap kesalahannya, yang “kecil” seperti menyerempet orang saja tidak mau, saya tidak mungkin memberikan kepercayaan proyek sebesar ini padanya. Tidak mungkin Pak J tidak mendengar klakson tadi. Pak J memilih untuk mengabaikan. Jadi cukup sulit rasanya menyerahkan kepercayaan besar ini padanya di proyek ini. Keputusan saya kembalikan ke Pak Direktur. Mohon maaf jika kurang berkenan”, jelas Mas R.
Pak Direktur terdiam beberapa detik. Tatapannya bergantian antara Mas R dan manajernya. Ruangan yang tadinya penuh basa-basi bisnis mendadak menjadi sunyi dan agak tidak nyaman. Sang manajer terlihat pucat. Tangannya merapikan map di meja, tapi jemarinya gemetar kecil.
“Apa benar begitu?” tanya Pak Direktur pelan kepada Pak J.
Manajer itu awalnya mencoba tersenyum tipis, mencari celah untuk membela diri. Namun tidak ada jawaban yang benar-benar bisa menyelamatkan keadaan. Masalahnya bukan lagi tentang lecet di mobil. Bukan tentang biaya ganti rugi.
Namun tentang karakter yang terbuka tanpa sengaja di jalan raya.
“Mohon maaf Pak R, tadi saya anu itu, uhm buru-buru, takut telat meeting ini jadi ya”, ujar Pak J terbata-bata.
“Kita semua bisa salah, Pak,” lanjut Mas R. “Saya juga pernah salah. Tapi saat seseorang memilih lari dari tanggung jawab kecil, saya belajar untuk berhati-hati menitipkan tanggung jawab besar. Kemudian jika Pak J berdalih karena terburu-buru, nanti ada meeting lain dengan klien lain, bapak begitu juga? Lalu nanti menyenggol orang lain juga? Jika yang bapak senggol ibu dan anak misalnya, apa seperti tadi juga?”
Pelajaran berharga itu berat. Pretiosa lectio gravis est.
Pak Direktur diam dan sorot matanya tajam ke arah manajernya.
Untuk pertama kalinya, sepertinya beliau melihat sesuatu yang mungkin selama ini luput.
Sang manajer akhirnya meminta maaf kepada Direkturnya dan Mas R.
“Maaf saya terima dan sudah saya maafkan sejak saya ada di belakang Pak J di lampu merah tadi. Namun, tawaran saya masih sama Pak Direktur. Kita lanjut berbisnis, tapi mohon berikan saya manajer lain”, jelas Mas R.
“Baik Mas R, biar kami selesaikan secara internal. Mas R saya kabari dalam 1x24 jam”, jawab Pak Direktur tegas.
Seusai meeting, Mas R berpisah dengan Pak Direktur dan Pak Manajer.
Dalam hidup, manusia sering berpikir bahwa reputasi dibangun dari pencapaian besar, jabatan tinggi, atau cara berbicara di depan banyak orang. Padahal sering kali, kehidupan justru menilai kita dari hal-hal kecil yang kita kira tidak ada yang melihat. Cara meminta maaf. Cara bertanggung jawab. Cara memperlakukan orang asing yang tidak punya kuasa apa pun atas hidup kita.
Karakter sejati muncul spontan, di lampu merah, di parkiran, di detik ketika seseorang bebas memilih antara jujur atau lari.
Mas R sendiri kemudian duduk merenung, jangan-jangan pribadi juga pernah melakukan hal itu. Sebuah refleksi.
Setiap manusia bisa saja salah namun belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri adalah pilihan berikutnya.
Dan cerita ini adalah kisah nyata.
fin.-
메타데이터
- post_id
- c7182f97e790
- slug
- tabrakan-kecil-cermin-besar-c7182f97e790
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/tabrakan-kecil-cermin-besar-c7182f97e790
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/tabrakan-kecil-cermin-besar-c7182f97e790
- author_url
- https://medium.com/@rizaputranto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30