Apa itu kejahatan sesungguhnya?
Apa itu Kejahatan? Apa artinya menjadi jahat?
Apa itu kejahatan sesungguhnya?

Apa itu Kejahatan? Apa artinya menjadi jahat?
Kita mungkin sering kali berpikir bahwa dengan menyakiti orang lain, menjadikan diri kita menjadi jahat. Tetapi apakah hal tersebut adalah kejahatan yang sesungguhnya?
Jika kita mengganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang jahat, konsep kejahatan yang kita ketahui merupakan konsep tradisional tentang kejahatan, yang berfokus pada perlakukan buruk, perasaan kagum berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap jahat serta kengerian absolut dari tindakan jahat. Membunuh, merampok, dan segala tindakan jahat lainnya yang merupakan pandangan kita yang lengkap terhadap kejahatan dan kengerian dari tindakan-tindakan yang tidak terpikirkan. Hal itu disebut sebagai kejahatan murni, atau radikal, sebuah kejahatan yang difenomenakan, direpresentasikan oleh antagonis atau penjahat-penjahat, yang merupakan suatu kebalikan dari apa yang kita kenal sebagai kebaikan.
Bagi Hannah Arendt, seorang filsuf perempuan keturunan Jerman-Yahudi, kejahatan baginya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Bahwa kejahatan bukan hanya keinginan sadar untuk tidak berbuat baik. Sebaliknya, Arendt berpikir bahwa kejahatan sepertinya bukan hal yang tradisional yang kita bayangkan seperti itu. Ia memilih untuk fokus dalam melihat tentang kejahatan dengan mengamati seorang pria, yang bernama Adolf Eichmann.

Adolf Eichmann dalam persidangan
Eichmann diadili karena kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Ia dinyatakan bersalah dan bertanggung jawab atas kejatahan terhadap manusia, terutama terhadap orang-orang Yahudi. Eichmann saat itu adalah orang yang bertanggung jawab untuk memeriksa kereta api yang mengangkut orang Yahudi ke kamp konsentrasi Nazi. Ia didakwa bersalah atas kejahatannya terhadap Humanisme, terutama terhadap orang Yahudi karena memaksa mereka masuk kedalam kereta yang akan mengantarkan mereka ke Kamp Konsentrasi Nazi.
Pada 31 mei 1962, Eichmann dihukum gantung di Yerusalem.
Arendt kemudian pergi ke Yerusalem untuk membuktikan kejahatan Eichmann, sebelum Ia menerima hukuman gantungnya. Dalam bayangan Arendt, ia berharap untuk bertemu sesosok monster berdarah dingin yang tampaknya senang dengan apa yang telah ia lakukan kepada orang-orang Yahudi. Orang yang mengerikan yang dilahirkan untuk melakukan kejahatan mengerikan.
Tetapi betapa terkejutnya Arendt saat melihat seorang Eichmann. Sebaliknya yang Arendt temukan adalah sesuatu yang lebih mengejutkan dari bayangannya tentang monster berdarah dingin. Dalam pandangannya, Eichmann tidak seperti yang ia bayangkan. Eichman sama sekali tidak berbahaya, dan ia seperti seorang pria kecil. Tetapi hal yang mengejutkan adalah Eichmann terlihat sangat biasa, tidak berbahaya, dan tidak menakutkan secara empirik. laganya seperti birokat kebanyakan. Ia terlihat seperti seorang yang berjalan menutup mata, tidak peduli dengan kehidupannya, seseorang yang menolak untuk memahami beratnya kejahatan yang telah ia perbuat. Tidak merasakan perasaan sebagai tokoh utama yang melakukan kejahatan tersebut.
“The trouble with Eichmann was precisely that so many were like him. They were neither overly perverted nor sadistic. They were, and still are, terribly and terrifyingly normal… this normality was much more terrifying than all the atrocities put together…” (Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, hal 278)
Hannah Arendt menemukan bawah Eichmann adalah seseorang yang tidak memiliki pikiran secara mandiri, tidak pernah berhenti menempatkan dirinya. Menjadi alas kaki bagi atasan-atasannya, yang menolak untuk berpikir menggunakan prespektif orang lain. Seseorang yang mempunyai kewajiban tanpa perlu menanyakan kewajiban atau tugas yang diberikan. Yang seumur hidupnya selalu menjadi pengikut, menyesuaikan dirinya dan senang dipimpin. Menderita pada kesetiaan buta dan menipu diri sendiri sepenuhnya atas moralitas dari tindakannya. Eichman bukanlah seperti sesosok iblis, yang memiliki taring dan tanduk yang panjang. Eichmann seperti kita, seperti manusia pada umumnya. Eichmaan tidak dikerubungi oleh rasa dengki yang berlebihan.
Arendt melihat, Eichmann adalah seseorang pria yang tidak berpikir, tentang apa yang ia lakukan, tidak pernah berhenti untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain, dan menolak untuk berpikir dari sudut pandang orang lain. Seseorang yang dengan rasa kewajiban yang tidak perlu dipertanyakan lagi terhadap otoritas pemerintah Nazi pada saat itu. Eichmann yang sepanjang hidupnya hanya menjadi pengikut atas dirinya sendiri, seseorang yang hanya ingin dipimpin oleh kehendak orang lain. Menderita kesetiaan secara buta dan menipu dirinya sendiri dalam moralitas tindakannya yang tampak seperti dibentengi oleh dirinya sendiri.
Dalam kebingungan tersebut, Arendt kemudian kembali mengkonstruksi pemikirannya tentang konsep kejahatan. Baginya Eichmaan bukanlah Iblis. Arendt menemukan apa yang disebut sebagai “Banalitas kejahatan”, sebuah jenis kejahatan yang menjadi dasar dan kejahatan yang sesungguhnya.
“When I speak about the banality of evil, I do so only on the strictly factual level… …he was not stupid. It was thoughtlessness. Something by no means identical to stupidity … such remoteness from reality can wreak more havoc than all the evil instincts taken together…” (Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil, hal 287–288)
Eichmann merupakan seorang politikus, birokat yang selalu ingin mendapatkan nama baik dalam pekerjaannya, tetapi Eichmann tidak memiliki apa yang menjadi dasar substansial manusia dalam hidup dan bermoral. Eichman adalah orang yang tidak memiliki empati maupun prespektif tentang apa yang telah ia lakukan.
Dalam hal ini, kita tidak perlu menjadi kejam, sadis, berbuat sesuatu yang menyakiti orang lain untuk dapat dikatakan jahat. Bahwa kejahatan sesungguhnya adalah, seseorang yang secara membabi buta mengikuti perintah orang lain, tanpa memikirkan empati, dan moralitas atas dasar tindakan tersebut. Bagi Arendt, itu adalah suatu banalitas kejahatan.
Adapun Banalitas kejahatan terjadi karena dangkalnya refleksi manusia terhadap situasi kejahatan yang terjadi. Pemikiran kritis menjadi lenyap. Subyek pelaku kejahatan tidak bisa mengimajinasikan jika berada dalam posisi korban.
Artikel ini ditulis tahun 2018/2019*
Arendt, H. (1994). Eichmann in Jerusalem: A report on the banality of evil.
메타데이터
- post_id
- c7b23ef4ef2f
- slug
- apa-itu-kejahatan-sesungguhnya-c7b23ef4ef2f
- url
- https://medium.com/@oktaprima/apa-itu-kejahatan-sesungguhnya-c7b23ef4ef2f
- canonical_url
- https://medium.com/@oktaprima/apa-itu-kejahatan-sesungguhnya-c7b23ef4ef2f
- author_url
- https://medium.com/@oktaprima
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 06:50:25