← Back to list

Temu Kangen, Latsar, dan Hampir Dicegat Begal di Perjalanan Pulang

#112: Beberapa hal yang baru bisa diceritakan sekarang

Hera 🕊 · 2025-10-16 02:10 · 10 claps · 4.1 min read
#bahasa-indonesia #medium #cerita #rekap
Open on Medium ↗

Temu Kangen, Latsar, dan Hampir Dicegat Begal di Perjalanan Pulang

112: Beberapa hal yang baru bisa diceritakan sekarang

Photo by Obana Natsuki on Unsplash

Photo by Obana Natsuki on Unsplash

Beberapa minggu yang lalu, saya berkunjung kembali ke kota tempat saya berkuliah dulu. Kunjungan kali ini tujuannya untuk mengikuti rangkaian pelatihan dasar. Pelatihan dasar ini berlangsung selama tiga hari, agar punya waktu lebih saya curi start duluan dengan memanfaatkan dua hari di akhir pekan sebelum pelatihan dimulai untuk berkumpul dengan teman-teman.

Ada perasaan aneh saat datang ke kota itu lagi, mungkin karena banyak hal yang memang sudah berubah. Saya menginap di kos teman, kos yang sama saat saya masih berkuliah dulu, pastilah masih banyak kepingan kenangan yang muncul saat masuk ke kost itu lagi. Lingkungannya juga sudah banyak berubah, banyak toko-toko baru, warung baru, cafe baru, dan mungkin beberapa hal lain yang tidak tertangkap mata.

Anak pengusaha laundry di bawah kos yang dulu masih dalam kandungan saat saya lulus kuliah kini sudah bisa berjalan, ibu-ibu penjual kue depan kos tampilannya sedikit berubah, saya sempat kaget ketika dia menanyakan kabar, saya heran sebab saya sendiri tidak tahu dia siapa, tebakan saya mungkin karena ibu penjual kue itu memakai gigi palsu. Lucu juga betapa banyak sekali hal yang bisa berubah dalam kurung waktu yang terasa sangat singkat.

Hari pertama di kota itu saya awali dengan membeli nasi kuning langganan saya waktu kuliah dulu, saya bersyukur sebab di antara banyak hal yang berubah rasa nasi kuning ini masih sama. Malamnya, saya bertemu dengan sahabat saya setelah dua tahun lamanya tidak bersua. Kami menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan, kami berkeliling ke beberapa tempat, mengambil beberapa foto, membeli bag charm yang lucu, makan malam sambil mengobrol tentang banyak hal, kalau kata orang-orang namanya life update.

Hari-hari selanjutnya saya sibuk mengurus laporan aktualisasi untuk dibawa ke balai diklat, setelah rampung saya pun menuju ke balai diklat untuk mengikuti pelatihan dasar. Cukup menyenangkan berada di sana walaupun sebagai seorang introvert bertemu orang baru berarti harus menguras banyak sekali energi. Kegiatan di sana cukup beragam, hari pertama diisi dengan kegiatan latihan baris-berbaris bersama bapak-bapak tentara, mereka cukup sangar tapi mereka baik dan sangat bersemangat. Hari kedua diisi dengan ujian aktualisasi, saya cukup khawatir waktu itu. Saya takut jika saya diserang banyak sekali pertanyaan, tapi syukurnya ujian berjalan lancar, bahkan sangat lancar sampai saya bisa tidur siang dengan nyenyak padahal teman-teman yang lain bahkan masih ujian sampai sore hari. Hari ketiga diisi dengan penutupan, rasanya haru bercampur lega. Saya sempat meneteskan air mata, mengingat kembali perjuangan tahun lalu, saya ingat sekali di bulan yang sama di tahun sebelumnya saya masih sibuk belajar dan latihan soal. Syukurlah karena rasanya perjuangan waktu itu tidak terasa sia-sia. Sepulang dari latsar saya akhirnya tumbang, saya malah kena demam, saya mulai berpikir sepertinya saya sudah di tahap introvert akut, energi saya setelah bertemu orang-orang di sana benar-benar terkuras habis sampai tidak bersisa.

Sebelum kembali ke kampung, saya menyempatkan jalan-jalan lagi bersama teman-teman kantor dan juga teman-teman semasa SMP di hari yang berbeda. Rasanya menyenangkan dan hangat sekali, obrolan-obrolan kantor yang sedikit dibumbui gosip-gosip kecil terdengar sangat menarik waktu itu. Waktu-waktu yang saya habiskan bersama teman-teman juga sangat menyenangkan, kami menghabiskan waktu dengan bermain sepuasnya. Kami kembali menjadi kami semasa masih memakai seragam putih biru dulu, penuh tawa dan canda. Hati saya penuh sekali, rasanya sudah lama tidak tertawa selepas itu.

Sabelum benar-benar kembali ke kampung, saya masih menyempatkan waktu bersama teman kampus untuk ikut car free day yang tujuannya tentu saja jajan. Kami menyusuri setiap jajanan, melihat mana yang enak, dan pilihan kami jatuh pada jajanan yang berbeda-beda. Kami melipir sebentar lalu menikmati jajanan kami, obrolan demi obrolan terus berlanjut sampai waktunya pun tiba, saya harus kembali ke kampung. Waktu itu saya cukup terburu-buru, bahkan beberapa barang ketinggalan di kos teman.

Di perjalanan pulang, terjadi insiden yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan akan menimpa saya. Awalnya semua baik-baik saja, perjalanan pulang kampung berjalan lancar, tinggal satu kota lagi lalu kami pun sampai ke tujuan. Tiba-tiba saat pak sopi ingin menyalip mobil yang ada di depan kami, mobil itu malah menghalangi jalan kami sehingga mobil dari arah berlawanan hampir saja menabrak. Awalnya kami berpikir bahwa mobil itu sedang tidak fokus, barangkali bermain ponsel atau entahlah. Percobaan kedua ternyata tingkahnya masih sama, mobil tersebut masih menghalangi jalan kami. Kejadian itu cukup mengerikan, rasanya seperti di sebuah adegan film. Mobil kami nyaris menabrak pun ditabrak. Waktu itu penumpangnya memang perempuan semua, wajar jika waktu itu teriakan panik terdengar dari dalam mobil, kecepatan mobil yang kami naiki waktu itu bahkan menyentuh 120 km/jam, mobil kami memang sempat melaju cepat saat hendak menyalip mobil di depan kami ini, lalu digagalkan kembali karena mobil tersebut juga menyalip kembali. Kami pun ketakutan, kami menyarankan agar pak sopir singgah sebentar ke tempat yang ramai penduduk agar kami dapat meminta tolong, setelah melihat beberapa kerumunan kami pun meminta tolong kepada warga.

Saya yang sudah panik mengeluarkan badan saya dari jendela mobil dan berteriak minta tolong ke mobil di belakang kami. Syukurnya, warga di sana sigap mendatangi kami dan menanyakan keadaan kami. Warga pun berkumpul, polisi mendatangi kami dan menanyakan kronologi, ternyata sebelumnya ada mobil lain yang sudah jadi target, mobil tersebut mirip dengan mobil yang kami tumpangi. Asumsi saya, pelaku ini salah sasaran, entahlah karena katanya pelaku sedang mabuk dan membawa parang panjang. Mendengar hal tersebut saya semakin takut dan memilih untuk menelpon abang saya untuk minta dijemput. Saya menangis waktu itu sambil menelpon, abang saya pun menenangkan saya dan segera menjemput saya. Kami menunggu lama sekali di tempat kami singgah meminta tolong. Beberapa warga masih setia menunggu kami, pak polisi juga inisiatif untuk mengawal mobil kami sampai perbatasan kota. Kami pun memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan sampai ke polsek terdekat di kota kami. Saya juga menghubungi abang saya agar dijemput di tempat itu saja. Setelah melihat abang saya datang, barulah saya lega.

Bahkan keesokan harinya, saya masih memproses kejadian itu baik-baik, saya terus-terusan bertanya ke diri sendiri, “yang kemarin itu apa yah?” karena rasanya terlalu mengerikan. Sayang sekali karena kebahagiaan-kebahagiaan di minggu itu harus ditutup dengan kejadian yang cukup mengerikan.


메타데이터
post_id
c7d36657ac8d
slug
temu-kangen-latsar-dan-hampir-dicegat-begal-di-perjalanan-pulang-c7d36657ac8d
url
https://medium.com/@suhaera_rais/temu-kangen-latsar-dan-hampir-dicegat-begal-di-perjalanan-pulang-c7d36657ac8d
canonical_url
https://medium.com/@suhaera_rais/temu-kangen-latsar-dan-hampir-dicegat-begal-di-perjalanan-pulang-c7d36657ac8d
author_url
https://medium.com/@suhaera_rais
status
ok
fetched_at
2026-07-16 18:55:29