← Back to list

Menyintas Trauma dengan Dusta

Apakah Etsuko benar-benar menuturkan kenyataan, atau dia sedang merajut ulang ingatan demi kenyamanan batinnya sendiri?

eskapisme · 2026-02-24 19:44 · 1 claps · 2.9 min read
#film-reviews #historical-fiction #psychological-drama #kei-ishikawa #kazuo-ishiguro
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History PSY · Psychology 🧠 · Mental Wellness ✍️ · Writing & Creative 🎬 · Film & Television

Menyintas Trauma dengan Dusta

Etsuko bukan sekadar janda tua yang kesepian di Inggris era 80-an. Di rumah yang sebentar lagi dijual, dia menyambut kunjungan Niki dalam suasana yang ganjil. Bayang-bayang Keiko, kakak Niki yang memilih bunuh diri, seolah memenuhi tiap sudut ruangan. Niki datang membawa ambisi menulis artikel, memacu ibunya untuk mengorek kembali sisa-sisa memori di Nagasaki pascaperang sebagai bahan tulisan. Dari sini, segalanya mulai terasa kabur bagi saya.

Nagasaki, 1952. Etsuko muda adalah tipikal istri Jepang yang sedang menanti kelahiran anak pertama. Di sela rutinitas domestik, dia terpikat pada sosok Sachiko, perempuan modis penghuni gubuk kumuh yang hidup sebagai paria; dikucilkan warga karena membesarkan anak sendirian sembari memacari tentara Amerika. Namun, pelan-pelan kecurigaan dalam benak saya, apakah Etsuko benar-benar menuturkan kenyataan, atau dia sedang merajut ulang ingatan demi kenyamanan batinnya sendiri?

A Pale View of Hills mengadaptasi novel debut Kazuo Ishiguro. Sebagai pria kelahiran Nagasaki yang tumbuh besar di Inggris, Ishiguro sepertinya menumpahkan kegelisahan personal soal identitas ke dalam naskah ini.

Magnet utama film ini bagi saya terletak pada narasinya yang manipulatif. Jagat maya sibuk membedah teka-teki ending-nya, dan saya pun terjebak dalam pusaran yang sama. Kemiripan nasib Etsuko dan Sachiko terasa terlalu presisi untuk disebut kebetulan belaka. Di tahun 50-an, Sachiko terobsesi pindah ke Amerika; sementara di masa depan, Etsuko nyatanya menetap di Inggris. Bahkan nama putri mereka, Mariko dan Keiko, terdengar seperti gema yang saling bersahutan.

Menjelang akhir film, saya menangkap isyarat kuat, Sachiko mungkin tidak pernah eksis. Etsuko seolah menceritakan trauma pribadinya lewat figur orang lain. Ada satu adegan yang bikin bergidik, saat Sachiko tega menenggelamkan anak-anak kucing karena tak bisa dibawa migrasi. Dulu Etsuko menganggap tindakan itu keji, namun akhirnya saya sadar dia melakukan hal serupa, menyeret anaknya pindah ke Inggris demi ego pribadi, sebuah keputusan yang merampas kebahagiaan Keiko hingga memicu maut.

Teknik narasi “manipulatif” ini biasanya lebih sakti dalam medium buku karena penulis bisa dengan mudah mengaburkan detail di balik kata-kata. Di film, mata saya secara insting memercayai visual yang tersaji. Jika ada informasi kontradiktif, penonton cenderung menganggap poin terbaru sebagai kebenaran mutlak yang menghapus informasi lama. Padahal, film ini tidak beroperasi dengan logika sesepele itu.

Sang sutradara, Kei Ishikawa, sebenarnya menabur banyak petunjuk samar. Misalnya fakta, Sachiko-lah yang mahir berbahasa Inggris, bukan Etsuko. Saya harus benar-benar jeli menemukannya agar tidak terjebak dalam lubang kebingungan. Menonton film ini tanpa ekspektasi yang tepat mungkin akan menyisakan rasa hambar, karena plotnya jauh lebih berlapis dibanding drama sejarah konvensional. Kendati demikian, isu sosialnya tetap terasa tebal; mulai dari mimpi bermusik Etsuko yang kandas di dapur, hingga sosok mertua yang berang saat nilai nasionalis lampau mulai digugat zaman.

Jujur, saya belum membaca novel aslinya. Namun, riset saya dari beberapa tulisan pembaca menunjukkan, versi film ini memangkas banyak elemen krusial. Di buku, paraleliasme antara Etsuko dan Sachiko jauh lebih kuat karena keduanya punya figur pria tua sebagai cermin — ayah mertua bagi Etsuko dan seorang paman bagi Sachiko — yang di film justru ditiadakan. Versi aslinya juga menceritakan, Keiko sempat menjadi hikikomori selama bertahun-tahun sebelum wafat, sebuah detail yang sayangnya absen di film.

Terlepas dari itu, saya tetap menganggap karya ini sebagai adaptasi yang puitis. Ada kecanggungan yang menetap dalam diri Etsuko, seperti seseorang yang selamanya terjebak dalam fase transisi, tidak lagi di Jepang tapi juga tak pernah merasa sepenuhnya berakar di Inggris. Barangkali, bagi Etsuko, berbohong pada diri sendiri adalah satu-satunya cara yang dia punya agar tidak ikut mati bersama masa lalunya.


메타데이터
post_id
c7e27eda092c
slug
menyintas-trauma-dengan-dusta-c7e27eda092c
url
https://medium.com/@eskapism/menyintas-trauma-dengan-dusta-c7e27eda092c
canonical_url
https://medium.com/@eskapism/menyintas-trauma-dengan-dusta-c7e27eda092c
author_url
https://medium.com/@eskapism
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01