Catatan dari Kereta Ekonomi dan Pelajaran tentang Privilege
Ada kalanya seseorang tidak sedang mencari destinasi baru ketika melakukan perjalanan. Ia hanya ingin pulang. Bukan karena libur panjang…

Koleksi Pribadi Penulis
Catatan dari Kereta Ekonomi dan Pelajaran tentang Privilege
Ada kalanya seseorang tidak sedang mencari destinasi baru ketika melakukan perjalanan. Ia hanya ingin pulang. Bukan karena libur panjang, bukan pula karena agenda yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Terkadang, pulang adalah kebutuhan yang muncul begitu saja di tengah rutinitas yang terasa semakin sesak. Begitulah perjalanan ini bermula.
Di tengah masa perkuliahan yang sedang berjalan, muncul keinginan untuk kembali ke rumah. Saya tidak akan membahas alasan mengapa saya memutuskan pulang saat itu. Namun yang jelas, keputusan tersebut lahir secara mendadak dan menuntut berbagai konsekuensi, terutama dari sisi finansial. Sebagai mahasiswa dengan kondisi keuangan yang terbatas, pilihan transportasi menjadi pertimbangan utama.
Malam itu saya ikut serta dalam apa yang sering disebut sebagai “war tiket” kereta ekonomi bersubsidi. Tiket dengan tarif sekitar Rp74.000 tersebut memang menjadi incaran banyak orang. Dengan dana yang mepet, saya memberanikan diri menunggu tiket go-show, yakni tiket yang baru dibuka beberapa jam sebelum keberangkatan. Strategi ini tentu tidak tanpa risiko. Tidak ada jaminan tiket akan tersedia. Jika gagal, saya harus mencari alternatif lain yang biayanya jauh lebih mahal.
Puji Tuhan, keberuntungan berpihak malam itu. Tiket berhasil saya dapatkan. Tanpa menunggu lama, saya langsung memesan ojek daring, mengemas barang yang sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu mengabari orang tua bahwa saya sedang menuju Jakarta. Saat itu jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, saya mendapati suasana yang masih ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan tas dan koper masing-masing. Sebagian tampak lelah, sebagian lagi terlihat bersemangat. Meski kondisi tersebut tidak terlalu mengejutkan, saya tetap menyadari betapa besar peran stasiun ini sebagai simpul mobilitas masyarakat.
Kereta ekonomi yang saya tumpangi memang dirancang untuk mengangkut lebih banyak penumpang. Susunan kursinya berhadapan, dengan konfigurasi dua dan tiga kursi dalam satu baris. Dari awal saya sudah memahami bahwa kenyamanan bukanlah keunggulan utama moda transportasi ini. Namun sebagai manusia, saya tetap berharap mendapatkan perjalanan yang cukup nyaman untuk beristirahat.
Harapan itu rupanya terlalu optimistis. Bahkan pada satu jam pertama perjalanan, tubuh saya mulai terasa tidak nyaman. Posisi duduk yang tegak dan ruang gerak yang terbatas membuat saya sulit menemukan posisi yang pas. Anehnya, meskipun waktu sudah menunjukkan jam-jam ketika biasanya saya mudah mengantuk, saya sama sekali tidak bisa tidur. Sementara itu, bapak dan ibu yang duduk di samping saya tampak tertidur dengan tenang.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mereka bisa tidur dalam kondisi seperti ini? Apakah mereka memang terbiasa? Ataukah rasa lelah telah mengalahkan segala bentuk ketidaknyamanan? Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal dari refleksi yang lebih panjang.
Selama ini, saya sering mengeluhkan fasilitas transportasi yang kurang nyaman. Namun malam itu saya menyadari bahwa posisi saya sesungguhnya cukup beruntung. Saya memiliki pilihan. Ketika kondisi keuangan memungkinkan, saya bisa membeli tiket dengan kelas yang lebih nyaman atau bahkan memilih moda transportasi lain. Sementara bagi banyak orang, kereta ekonomi bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya opsi yang realistis.
Kesadaran tersebut semakin kuat ketika saya mulai berbincang dengan ibu yang duduk di sebelah saya. Ia bercerita bahwa dirinya berangkat dari Kebumen menuju Jakarta untuk mengunjungi anaknya yang sedang sakit dan bekerja di ibu kota. Di usianya yang tidak lagi muda, ia harus menempuh perjalanan panjang dengan duduk tegak selama berjam-jam.
Membayangkan perjalanan yang harus ia lalui membuat saya merasa keluhan-keluhan saya sebelumnya terdengar begitu kecil. Ketidaknyamanan yang saya rasakan hanyalah pengalaman sementara, sedangkan bagi sebagian orang perjalanan seperti itu merupakan bagian dari realitas yang harus mereka jalani berulang kali.
Percakapan lain datang dari bapak yang duduk di sisi saya. Ia mengatakan bahwa tujuan akhirnya bukan Jakarta, melainkan Banten. Setelah tiba di Pasar Senen, ia masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan KRL menuju Rangkasbitung. Ketika saya bertanya mengapa tidak memilih alternatif lain, ia menjawab dengan sederhana: karena uang yang dibawanya pas-pasan.
Jawaban tersebut terdengar biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar. Mobilitas masyarakat di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi. Bagi kelompok berpenghasilan rendah, setiap keputusan perjalanan harus dihitung dengan cermat. Selisih puluhan ribu rupiah saja dapat menentukan apakah seseorang bisa bepergian atau tidak.
Di sisi lain, pengalaman ini juga memperlihatkan pentingnya kehadiran negara melalui layanan transportasi publik yang terjangkau. Tiket kereta ekonomi bersubsidi dengan tarif Rp74.000 memungkinkan berbagai kelompok masyarakat tetap memiliki akses untuk bepergian. Mereka yang ingin mencari pekerjaan di kota besar, mengunjungi anggota keluarga, pulang kampung, atau sekadar berlibur bersama keluarga tetap memiliki kesempatan untuk bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dalam perspektif yang lebih luas, transportasi bukan sekadar sarana perpindahan fisik. Transportasi adalah instrumen yang memungkinkan mobilitas sosial. Ketika akses transportasi menjadi mahal, kesempatan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, maupun layanan kesehatan juga ikut terhambat. Oleh karena itu, keberadaan layanan transportasi yang terjangkau sesungguhnya memiliki nilai sosial yang jauh melampaui fungsi ekonominya.
Namun demikian, perjalanan malam itu juga memperlihatkan sisi lain dari realitas tersebut. Tarif murah sering kali dibayar dengan berkurangnya kenyamanan. Kepadatan penumpang, ruang gerak yang terbatas, dan durasi perjalanan yang panjang menjadi konsekuensi yang harus diterima. Bagi sebagian orang, pilihan tersebut mungkin terasa berat. Tetapi bagi banyak penumpang yang saya temui malam itu, ketidaknyamanan tersebut tampaknya telah menjadi harga yang wajar untuk dibayar demi mencapai tujuan mereka.
Menjelang pagi, ketika tubuh saya mulai terasa pegal akibat tidak bisa tidur semalaman, saya menyadari bahwa perjalanan ini memberikan sesuatu yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Saya memang berangkat dengan tujuan pulang, tetapi yang saya dapatkan bukan hanya perpindahan dari Yogyakarta ke Jakarta. Saya juga memperoleh kesempatan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Di dalam gerbong ekonomi itu, saya bertemu dengan orang-orang yang sedang memperjuangkan versinya masing-masing tentang kehidupan. Ada seorang ibu yang ingin menemui anaknya yang sakit. Ada seorang bapak yang berusaha pulang dengan uang yang pas-pasan. Dan mungkin ada banyak kisah lain yang tidak sempat saya dengarkan. Mereka mengajarkan satu hal sederhana: apa yang sering kita anggap sebagai ketidaknyamanan, bagi orang lain bisa jadi merupakan kemewahan yang bahkan sulit dijangkau.
Maka perjalanan mendadak ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan pulang. Ia menjadi pengingat tentang rasa syukur, tentang privilege yang sering kali tidak disadari, dan tentang bagaimana sebuah gerbong kereta ekonomi dapat menjadi ruang belajar yang tidak pernah saya temukan di dalam ruang kuliah.
메타데이터
- post_id
- c809f6bbf3a8
- slug
- catatan-dari-kereta-ekonomi-dan-pelajaran-tentang-privilege-c809f6bbf3a8
- url
- https://medium.com/@giselaradithiad/catatan-dari-kereta-ekonomi-dan-pelajaran-tentang-privilege-c809f6bbf3a8
- canonical_url
- https://medium.com/@giselaradithiad/catatan-dari-kereta-ekonomi-dan-pelajaran-tentang-privilege-c809f6bbf3a8
- author_url
- https://medium.com/@giselaradithiad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 13:16:18