← Back to list

MESIU

Setiap pagi. Kita lebih suka sarapan komedi gelap untuk di tertawakan. Atau menutupi hal paling traumatik, dengan tawa dan senyummu yang…

Mochlatiff · 2024-06-07 21:54 · 4 claps · 1.2 min read
#prosa #fiksi-mini #jurnal #jeruk
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

MESIU

Setiap pagi. Kita lebih suka sarapan komedi gelap untuk di tertawakan. Atau menutupi hal paling traumatik, dengan tawa dan senyummu yang begitu sporadis?

Nyatanya kamu lebih suka melamun. Juga Aku.

Tidak ada yang lebih suka dari permukaan air yang tenang. Untuk aku yang lebih mudah mengingat dan memelihara memori-memori. Tentang kebahagiaan, kesedihan, harapan, dan mimpi-mimpi yang terucap oleh lidah-lidah yang tak terhitung jumlahnya.

Bukan lagi dua, melainkan satu. Tentang kepala liarmu. Yang menjadi bagianku. Disisinya tergantunglah aku yang menjadi daun telingamu yang cantik. Tempat setiap bisikan rahasia berlabuh. Lalu menggontai, menjatuhkan buah kesukaan dan wangi tubuhmu yang tak pernah mau kau jawab.

Tentang ketakutan. Bisikan yang acap kali muncul menjalar diantara koleksi bingkai tua di kamarmu. Juga asbak rokokmu yang lusuh. Menghisap harapan lalu hangus perlahan.

“Sudah pagi,” bisikku pelan. Kelopak matamu bergetar. Perlahan mengembang. Sisanya menghela nafas yang panjang. Setiap sinar menembus kaca jendela, meluruh, menyentuh luka lama. Bersembunyi dibalik bilikmu yang redup, bukankah tetap menjadi sia-sia? Lagipula cahaya akan selalu menemukan celah untuk masuk.

Selebihnya kamu berikan kesempatan kepada doa untuk bekerja. Namun memerasnya dengan ekpektasimu.

Jujur saja, aku kalah dengan ilmu sihirmu. Mencintaimu, jauh lebih tak masuk akal sekarang.

Aku lebih memilih meneguk racun dari sari jerukmu dengan membabi buta. Sebab aku ingin melihatmu buta. Meraba dunia yang tak telihat. Yang tak banyak kamu tahu. Sebab banyak tanya di kepala. Kepalamu dan kepalaku.

Dan sekarang muncul kepala lainnya. Apakah hasil dari isi kepalamu yang begitu liar? Hingga ia berkeliaran, pontang-panting mencari jawaban.

Apakah kamu tak begitu kasihan dengannya? Berjalan dan berdiri melindungimu dengan duri di sekujur tubuhnya.

Dan sekarang kamu siapkan sepasang pengantin. Setiap serpihan adalah saksi. Dari keputusan yang menyesatkan. Dari janji yang diselewengkan. Dalam nama yang tak lagi suci.

Lalu di ledakan di hadapanmu.

Urusanku adalah menuntaskan cerita. Sebab aku sudah kadung dilarung. Setidaknya kamu sudah melengkapi lebih dari jejak hayat yang dipinjamkan. Dari belukar rasa yang tak terpijak. Kembali. Berlarian.

— Selatan. Juni 08, 2024 —


메타데이터
post_id
c83037dbdeac
slug
mesiu-c83037dbdeac
url
https://medium.com/@latifprabowo/mesiu-c83037dbdeac
canonical_url
https://medium.com/@latifprabowo/mesiu-c83037dbdeac
author_url
https://medium.com/@latifprabowo
status
ok
fetched_at
2026-06-27 23:56:40