← Back to list

I try to move on, but the past won’t leave my bed.

binar · 2025-11-27 16:10 · 53 claps · 4.0 min read
#fiction #lee-sangwon #lee-leo
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Past Won’t Leave My Bed.

Leo selalu merasa ada seseorang menunggu di pojok paling sunyi kamarnya. Tempat itu menjadi tempat favorit Sangwon ketika mereka masih tinggal bersama. Sudut itu tidak pernah dibiarkan tersentuh oleh cahaya. Sangwon suka duduk bersila di sana, punggungnya bersandar ke dinding bercat putih gading, wajahnya tenggelam separuh dalam bayangan. Kini, setiap kali Leo pulang, ia merasakan hawa dingin yang menggantung di sudut itu, seperti seseorang baru saja bangkit dari sana beberapa detik sebelum pintu terbuka. Bayangan Sangwon masih tetap tinggal, menatapnya tanpa benar-benar ada.

Suatu malam, ketika Leo terbangun karena mimpi buruk, ketika napas belum bisa dikontrol dengan baik, ia melihat sesuatu yang hampir membuat seluruh tubuh membeku. Di kaca jendela, samar dan rapuh seperti kabut, terlihat siluet Sangwon dengan rambut jatuh menutupi sebagian wajah, bahu sempitnya menunduk seperti sedang berpikir, dan kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Itu adalah pose yang sama persis seperti malam terakhir mereka bersama. Leo tahu itu hanya permainan cahaya sisa lampu yang masih dinyalakan atau imajinasinya sendiri yang lelah, tapi rasanya terlalu nyata. Terlalu Sangwon.

Hari-hari yang seharusnya berjalan seperti biasa, tetapi kenangan Sangwon selalu menyelip di antara hal-hal kecil yang seharusnya tidak berarti. Saat Leo berbaring di kasur, layar ponsel menyala tepat di depan wajah, ia sering merasa seperti ada seseorang berbaring di sebelah. Tatapan Sangwon yang dulu membuatnya merasa tenang, kini terasa sesak, seolah kenangan itu menempel pada kulitnya. Sangwon tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk menjadi bayangan yang mengikuti setiap langkah kaki Leo di rumah dari pagi hingga pagi lagi.

Leo masih menyimpan foto-foto mantan kekasihnya itu. Dan diantara banyaknya foto-foto yang memenuhi galeri, ada satu yang paling sulit ia hapus — foto Sangwon ketika berbaring di kasur mereka, memegang ponsel dengan ekspresi acuh yang khas, rambutnya setengah berantakan, matanya setengah tertutup, dan baju abu-abu favorit tersingkap sedikit. Foto itu dulu terasa hangat. Kini malah menjadi pisau kecil yang selalu menekan hati Leo setiap malam. Leo tidak sanggup menghapusnya. Menghapus foto itu terasa seperti membunuh Sangwon untuk kedua kalinya, dan Leo tidak yakin akan sanggup menanggung rasa bersalah itu.

Di hari lelahnya bekerja, ketika tidak sengaja melewati ruang tamu yang di dinding terpasang foto Sangwon yang masih tersenyum di sana. Senyum lembut yang pernah menyelamatkan banyak hari gelap Leo. Senyum indah yang pernah menjadi hal favorit dari Sangwon. Leo menatap lama, lalu berjalan seolah tidak mempedulikannya. Namun Leo tidak pernah sanggup melepas itu semua. Foto itu kini seperti kuburan kecil yang Leo rawat seorang diri.

Kadang, Leo sengaja mematikan semua lampu di ruang tamu hanya untuk merasakan suasana yang dulu disukai Sangwon — remang-remang nyaris gelap. Sangwon sering memotret dirinya sendiri dalam kegelapan dengan hanya cahaya kecil dari luar jendela. Leo tidak pernah tahu kenapa Sangwon suka ruangan yang hampir sepenuhnya gelap — mungkin karena itu membuatnya merasa lebih nyaman. Dan kini, ruangan gelap itu justru membuat Leo merasa lebih dekat dengannya. Seolah Sangwon masih duduk di sana, diam, dan tiap helaan panjangnya masih kerap Leo dengar.

Ada kalanya kehadiran Sangwon terasa lebih dari sekadar memori. Ketika malam hujan, Leo menutup mata dan ia merasakan sesuatu menyentuh rambut belakang kepalanya. Lembut. Seperti kebiasaan Sangwon yang sering memainkan rambut Leo saat Leo sedang gelisah. Leo langsung membuka mata, napasnya tersengal, tapi ruangan itu kosong. Hening. Yang tersisa hanya aroma samar parfum Sangwon, aroma yang dulu selalu menempel di bantal mereka. Dan parfum itu kini menjadi wewangian favorit yang sering Leo pakai.

Leo knew it was impossible.

But some loves just don’t die that easily.

Sekeras apa pun iaLeo menahan, ia sadar ini semua tidak sehat. Sangwon, dalam bentuk apa pun — sudah tidak lagi hidup bersamanya. Hubungan mereka memudar perlahan, seolah telah kehilangan gairahnya. Tapi kenangan Sangwon terlalu dalam. Terlalu nyata. Mereka telah menetap di rumah ini seperti penghuni lama yang tidak pernah benar-benar diusir. Kadang Leo berpikir mungkin ini hukuman baginya karena ia tidak bisa mencintai Sangwon dengan cara yang benar. Sempat terlintas ini adalah hukuman yang diberikan atas segala hal salah yang ia lakukan.

Malam-malam Leo menjadi semakin panjang. Setiap hari terasa seperti perulangan dari kehilangan yang sama. Bayangan Sangwon datang dan pergi, muncul di ujung ranjang, di pintu kamar, di bagian gelap ruangan yang tidak dijangkau cahaya, di mana pun. Leo sering bertanya-tanya apakah ini hanya halusinasi, atau tubuhnya yang menolak melupakan. Rasa kehilangan dan rasa bersalah tetap jelas ada padanya. Tidak pernah melemah. Hanya berubah bentuk menjadi hantu yang menetap.

Dan pada akhirnya, Leo hanya bisa meringkuk di kasur lebarn dan berbisik pada dirinya sendiri. Setiap kali malam terlalu sunyi dan Leo tak tahu harus berbuat apa dengan segala hal yang terjadi padanya, ketika ia merasa Sangwon tetap tinggal di dinding, di kaca jendela, di sudut-sudut kamar, dan yang paling menyakitkan… di tempat terdalam pada diri Leo.

I try to move on, but the past won’t leave my bed.” .

Some of Sangwon’s photos that fill Leo’s phone gallery.


메타데이터
post_id
c85d560207c8
slug
i-try-to-move-on-but-the-past-wont-leave-my-bed-c85d560207c8
url
https://medium.com/@sunblumi/i-try-to-move-on-but-the-past-wont-leave-my-bed-c85d560207c8
canonical_url
https://medium.com/@sunblumi/i-try-to-move-on-but-the-past-wont-leave-my-bed-c85d560207c8
author_url
https://medium.com/@sunblumi
status
ok
fetched_at
2026-07-14 18:32:57