Menggambar Diri dengan Tulisan
Menulislah yang benar-benar ingin ko cerita ke orang lain, bukan sekadar apa yang ko mo kas tunjuk ke dong.
Menggambar Diri dengan Tulisan
Menulislah yang benar-benar ingin ko cerita ke orang lain, bukan sekadar apa yang ko mo kas tunjuk ke dong.

Gambar: Kristen Taylor (lihat di Pinterest)
Misalnya seorang seniman, de hanya perlu duduk sejenak di hadapan sebuah kanvas untuk melahirkan lukisan yang bukan hanya estetis secara visual, tetapi sekaligus mampu menggerakkan orang lain untuk berpikir melampaui de pu diri sendiri.
Menulis — setidaknya menurut sa — juga demikian. Ko cukup amati segala yang ada di sekitar ko pu diri, lalu ko coba jadikan de teman diskusi atau kawan berpikir. Bisa saja itu tumbuhan, ko pu taman bunga, ko pu peliharaan kesayangan, atau kemacetan lalu lintas saat pagi dan sore hari. Bahkan, kursi tua yang kusam di pojok kelas pun bisa jadi ko pu titik awal dalam menulis. Sesederhana itu.
Tulisan Seperti Apa?
Menulis itu seperti ko lagi menggambar saja. Duduk sebentar, lalu ko mulai coret satu-satu — ko pu kisah, ko pu rasa, ko pu tempat, semua keluar pelan-pelan di atas kertas.
Sudah terlalu banyak orang di dunia yang menulis dengan bagus — baik secara akademis, puitis, naratif, prosais, dan segala macam embel-embel tersebut yang kini menjadi ‘kredensial’ tertentu dalam dunia kepenulisan, terutama di Indonesia kiwari. Karena itu, ini sudah bukan rahasia lagi.
Jadi, menulis seperti apa? Menulislah yang benar-benar ingin ko cerita ke orang lain, bukan sekadar apa yang ko mo kas tunjuk ke dong. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa dibaca dan dipahami oleh orang lain. Soal layak dan tidak, itu perkara nanti. Yang penting sekarang: ko pu niat untuk belajar bercerita tra boleh padam hanya karena soal style.
Tulisan ini tra bermaksud menggurui — apalagi untuk kam yang su terbiasa menulis. Sa sendiri juga masih belajar. Bagi kam-kam yang su mahir dan terbiasa menulis, silakan lewati saja dan gunakan kam pu waktu untuk hal yang lebih berarti.
Sebuah Terapi
Biasanya orang memilih metode terapeutik karena beragam alasan. Entah karena sakit punggung, masuk angin, patah tulang, dan lain-lain. Tetapi, terapi semacam apa yang tong butuhkan? Apa saja yang tong perlu siapkan sebelum menjalani terapi itu? Dan pertanyaan serupa yang sering muncul dalam obrolan sehari-hari.
Pertanyaan begitu biasanya menjadi bagian dari kitong pu rutinitas percakapan sehari-hari kalau tong sedang hadapi atau alami satu persoalan medis. Dan barangkali de pu jawaban juga bisa meluber ke mana-mana, to?
Kam tra perlu terkecoh deng ilustrasi kecil yang sa su kasih di atas, e. Jadi, yang sa maksud deng “terapi” itu hanya sebagai metafora hiperbola — yang sa gunakan untuk menjelaskan bagaimana kalau belajar menulis juga bagian dari proses terapi itu sendiri.
Artinya, menulis setidaknya bisa membantu tong meluapkan kejumudan rutinitas yang membosankan: keributan dunia maya, pata hati sebab ditinggal pergi sang pacar, first impression dengan orang baru, pengalaman wisata kuliner atau, masakan mama yang tak ada duanya — sehingga membuatmu sukar membunuh rindu di perantauan, dan seterusnya.
Sayangnya, sering kali semua pengalaman penting ini seolah mengalir deras begitu saja dalam tong pu hidup ini. Padahal, mungkin saja ko pu pengalaman-pengalaman kecil itu de bisa jadi satu cerita menarik dan inspiratif kalau ko kelola de dengan baik. Kadang, ko cuma perlu duduk sebentar, buka buku catatan, lalu biarkan ko pu hidup sendiri yang bicara.
Menulis itu kebiasaan, bukan hafalan
Menulis mestinya dianggap sebagai sesatu yang normal dalam tong pu hidup sehari-hari. Kira-kira seperti makan-minum, dan itu biasa saja. Misal, ko bisa saja tulis ko pu harapan atau rencana yang akan ko kerjakan pada keesokan hari, menulis saat sebelum atau setelah bangun tidur, menulis mimpi, menulis sambil memancing di bantaran sungai atau menulis pengalaman mendaki gunung, dan seterusnya dan seterusnya.
Prinsipnya, ketika tong su mulai menulis, tong sebetulnya tra perlu membayangkan seberapa pantas tong pu tulisan akan dibaca orang — sejauh itu bagian dari ko pu proses belajar sekaligus terapi.
Sa jadi ingat sebuah perbincangan menarik di antara beberapa sahabat komunitas Radio Buku (RB) di Yogyakarta, tempat yang sa sendiri berhutang banyak perkara kepenulisan dan pengarsipan — meski terbilang masih “angin-angin”.
Saat itu, sa sedang asyik bermain Game Undercover bersama sahabat seangkatan Volunteer 8 RB. Kebetulan, di saat tong sedang asyik bermain, sa bisa menguping dong pu obrolan singkat tentang rencana pembuatan materi kepenulisan untuk Volunteer RB Angkatan 9 pada besok hari.
Perbincangan ini berlangsung setelah pertemuan perdana antara Volunteer Angkatan 9 dan pengurus RB. Tiba-tiba, seorang sahabat di RB yang juga penulis “Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun?” itu spontan menimpali pembicaraan kawan yang lain. De bilang begini:
Coba menulis sebuah topik yang kamu sukai hingga kamu sendiri kehilangan semangat dan seolah tak tahu ingin menulis apa lagi di sana. Namun, alih-alih menyerah, kamu terus melantur kesana-kemari. Jarimu bahkan tak berhenti mengetik dan kamu masih tetap saja menulis. Tiba-tiba saja, sepertiga dari halaman kertas nampak penuh dengan tulisan-tulisan itu. Mari tong perjelas kawan ini de pu maksud. Belajar menulis kurang lebih demikian. Pertama-tama, menulis itu mesti dibiasakan. Sebab menulis itu tidak terberi dan karena itu tak seorang pun di dunia ini yang terlahir sebagai penulis. Tentu arti “dibiasakan” harus dimaknai sebagai tong pu upaya pengkondisian atas tong pu diri sendiri baik melalui praksis membaca, menulis, dan berdiskusi secara rutin.
Singkatnya, karena menulis itu bagian dari “kerja-kerja kebudayaan”, maka ia mesti menubuh — menjadi sepaket — dengan hidup kita. Tanpa itu, mustahil tong bisa belajar untuk bercerita dengan baik dan efektif.
KTP dan cerita yang belum ditulis
Mulailah menulis sesatu yang dekat dengan tong sendiri. Seperti pengalaman-pengalaman kecil yang sudah dijelaskan sebelumnya. Menulis itu bukan hanya perkara mengelola pikiran, tetapi juga olah rasa, yang direkam melalui pengalaman hidup (live experience). Maka, pengalaman intuitif kemudian bekerja untuk menghidupkan sebuah karya tulis itu.
Menulis tanpa pengalaman tak ada bedanya dengan “padang gurun yang kering”. Karena itu, ia perlu disiram dengan pengalaman yang basah. Dengan begitu, tong juga belajar untuk mengenal diri sendiri melalui pengalaman personal.
Cobalah menulis dengan metode “menggambar diri” — self-portrait drawing method. Hal pertama yang terbesit ketika ko dengar kata “menggambar” barangkali adalah sebuah potret atau gambar dengan corak lukisan tertentu, to? Seperti bentuk, warna, ukuran dan detail-detailnya. Persis, logika kerja dari metode menggambar diri ini pun demikian.
Ko hanya perlu letakkan Kartu Tanda Penduduk di hadapan ko pu layar laptop atau handphone-mu, lalu, coba ko perhatikan de pu isi dari KTP itu. Di sana keterangan seperti: asal provinsi, kabupaten, NIK, ko pu nama dan tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, RT & RW, Kel/Desa dan seterusnya.
Pertanyaannya, bagaimana dari semula yang adalah sebuah kartu berukuran 8,56 cm x 5,398 cm dengan format singkat yang hanya berisi baris-baris kolom itu, tong ubah de jadi sebuah narasi? Tentu sangat mungkin. Rumus sederhananya — dan yang paling mungkin — untuk ko bisa mulai menulis itu minimal ko sudah bisa pastikan kalau ko pu tulisan itu menggunakan unsur 5W+1H: Who (siapa), What (apa), Where (di mana), When (kapan), Why (mengapa), dan satu H yaitu How (bagaimana).
Setelah itu, coba ko perhatikan ko pu KTP sendiri dengan tenang, lalu mulailah untuk membangun sebuah cerita menarik sebisa mungkin tentang asal-usul penamaan provinsi dan kabupaten beserta detail informasi lainnya yang tertera pada ko pu KTP.
Menghidupkan Data Diri: Latihan Menulis dari KTP
Nama Provinsi dan Kabupaten. Ko bisa mulai dengan membangun cerita yang menarik tentang pemberian nama atau latar belakang lahirnya nama asal kabupaten dan provinsi. Misal, bagaimana proses pemberian nama itu berlangsung saat awal pemekaran daerah di Papua? Di mana dan bagaimana kondisi geografisnya? Ada berapa jumlah suku di sana, sebutkan? Apa keunikan dan tradisi yang khas dari ko pu daerah? Apa nama makanan dan tari tradisional di ko pu daerah? Bagaimana karakter dan budaya masyarakat di sana? dan seterusnya.
Ini justru menjadi perbincangan yang semula hanya nama dua wilayah administratif yang singkat dan kaku, lantas menjadi menarik dan penting untuk diketahui pembaca. Secara tidak langsung, ko sedang menunjukan kepada orang di luar sana tentang bagaimana “Papua” yang tidak tunggal dan beragam. Ini sekaligus menepis pen-generalisasi-an tentang Papua yang selama ini terjadi.
Ko atau ko pu teman pu nama. Begitu pula dengan ko pu nama. Sebagai contoh, izinkan sa gunakan nama “Yakobus Mahuze” — semata sebagai ilustrasi. Cobalah untuk membangun sebuah cerita yang melatar-belakangi bagaimana ko pu Bapa dan Mama dong kasih ko pu nama dengan sebutan “Yakobus” dan “Mahuze” — setahu sa dalam konteks Papua, dua penamaan ini mesti dipisahkan.
Ko cukup gerakan jari pada papan keyboard laptop atau handphone dan biarkan ko pu kisah de mengalir saja. Misalnya, cerita apa arti atau makna dari nama Yakobus dan Mahuze bagi ko? Siapa itu Mahuze? Kenapa orang tua dong kasih ko marga Mahuze? Bagaimana hubungan antara Mahuze dengan totem atau klaim-klaim adat yang berlaku di ko pu kampung? Ini selain jauh lebih menarik, setidaknya ko berhasil membangun sebuah narasi tentang siapa ko, to?
Ko pu tanggal dan tahun lahir. Cobalah untuk membangun cerita dengan mengingat peristiwa-peristiwa unik apa saja yang terjadi ketika ko lahir di kampung — pada tanggal, bulan, dan tahun itu ada peristiwa besar apa saja. Coba ingat dan ceritakan saja.
Tentu ko bisa saja menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai satu cerita utuh yang melatari peristiwa hari kelahiran sehingga ko pu kisah nanti nampak hidup dan jauh menjadi lebih berkesan.
Ko pu tempat lahir. Coba untuk bercerita seperti apa kondisi lingkungan kampung yang jadi ko pu tempat lahir? Baik kondisi geografis, mata pencaharian masyarakat, atau ko bisa juga menghubungkannya dengan ko pu pengalaman masa kecil sendiri di sana. Ceritakan saja.
Ini penting. Melalui ko pu cerita, pembaca bisa melihat dan belajar tentang perubahan-perubahan yang berlangsung di ko pu tempat kelahiran dari waktu ke waktu melalui narasi yang ko sedang bangun. Sebab seiring ko bertumbuh, ko pu kampung juga de ikut berubah. Ini terjadi seiring perkembangan zaman.
Kolom kepercayaan/Agama. Ko tra perlu merasa berdosa perkara ini. Ko pu tugas adalah bercerita. Menulislah dengan gembira saja. Bagian ini, ko bisa saja merangkai lebih banyak pengalaman — tergantung kemampuan — untuk bagaimana menghubungkannya dengan ko pu pemaknaan saat ini tentang agama yang ko yakini.
Misalnya, kenapa ko beragama Katolik? Apa itu Katolik? Sejak kapan agama Katolik masuk ke Papua atau ko pu Kampung? Bagaimana ko pu Bapa dan Mama menjadi Katolik? Kenapa harus Katolik? Mengapa negara hanya mengakui enam agama di Indonesia? Apakah di luar sana tidak ada kepercayaan lain selain keenam itu? dan seterusnya. Lagi-lagi, ko pu tugas hanya bercerita selepas mungkin.
Nah, kira-kira itulah gambaran singkat bagaimana tong memanfaatkan metode menggambar diri dengan hanya bermodalkan sebuah KTP. Tentu kamu juga dapat melakukannya dengan menggunakan metode yang sama dan medium yang berbeda — selain KTP. Metode ini sa dapat sewaktu jadi volunteer komunitas RB yang diselenggarakan selama tiga bulan di Yogya.
Ketika ko menulis — terlepas dari pantas tak pantas atau bagus tidaknya ko pu tulisan — coba untuk bayangkan saja kalau ko pu tulisan tidak hanya untuk dibaca sendiri, tetapi juga akan dibaca oleh ko pu kawan di kamar atau kampung sebelah. Ko pu tugas adalah bercerita, dan cerita itu adalah upaya ko berdialog dengan orang lain melalui tulisan.
Selamat mencoba.
메타데이터
- post_id
- c87c543b2a27
- slug
- menggambar-diri-dengan-tulisan-c87c543b2a27
- url
- https://medium.com/@fsyokit/menggambar-diri-dengan-tulisan-c87c543b2a27
- canonical_url
- https://medium.com/@fsyokit/menggambar-diri-dengan-tulisan-c87c543b2a27
- author_url
- https://medium.com/@fsyokit
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 16:00:06