← Back to list

Dari Sahulau Menjadi La Ode Wuna (La Ode Wuna dalam Disertasi Geger Riyanto-Bagian 3)

Pada tahun 1974–1975, Bartels (2017a) melakukan penelitian lapangan untuk gelar doktoralnya di Maluku dan mengumpulkan beragam jenis mitos…

Fair Naza · 2025-08-17 07:39 · 0 claps · 9.6 min read
#la-ode-wuna #buton #muna #geger-riyanto #seram
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval

Dari Sahulau Menjadi La Ode Wuna (La Ode Wuna dalam Disertasi Geger Riyanto-Bagian 3)

Geger Riyanto

Pada tahun 1974–1975, Bartels (2017a) melakukan penelitian lapangan untuk gelar doktoralnya di Maluku dan mengumpulkan beragam jenis mitos di sana. Satu mitos yang dikumpulkannya dari Waraka, “negeri adat” di Seram Barat yang berdekatan dengan Sahulau menunjukkan bahwa sampai dengan periode itu Sahulau diketahui belum bertautan dengan La Ode Wuna maupun orang Buton. Mitos dari Waraka hanya berkutat pada keruntuhan Sahulau sebagai kerajaan besar di dalam sejarah Seram. Hal ini disebabkan karena sang putra mahkota, Hasanilalo, menghamili putri dari raja di kerajaan lain dan harus menyerahkan kekuasaannya. Memang ada penggambaran tentang orang Buton yang dimasukkan di dalam mitos ini, namun alih-alih sebagai seorang raja yang sakti dari kerajaan luar, orang Buton hanya tergambar sebagai utusan dari kerajaan sekutu yang datang saat pengangkatan raja Hasanilalo. Pemisahan antara Sahulau dan La Ode Wuna atau orang Buton ini kemudian dikonfirmasi lebih jauh oleh pendapat-pendapat yang dikumpulkan oleh Tichelman (1921 via Bartels 2017 a, 104) dari kampung Sahulau pada tahun 1929-an dan oleh Valeri (Valeri 2000,2001) di Huaulu, sekitar akhir 1970-an. Tichelman mencatat bagaimana penduduk Sahulau menggambarkan Sahulau sebagai kerajaan paling berpengaruh di Seram. Pengaruhnya kemudian runtuh setelah ditaklukan oleh kesultanan Ternate dari Maluku Utara. Kedua cerita Sahulau yang dicatat oleh Tichelman dan Bartels berkutat pada tema keruntuhan satu kerajaan besar, tema yang juga banyak diabadikan di dalam cerita-cerita lokal di Indonesia (McVey 1995, 13). Pertautan tema semacam ini dengan Sahulau cukup beralasan berhubung Sahulau sendiri merupakan kerajaan yang tersohor secara historis namun kini telah tereduksi hanya sebagai sebuah kampung. Sementara itu, di kalangan orang Huaulu puluhan tahun lalu, Sahulau merupakan sosok raja di Seram Barat dan berkerabat dengan Ternate (Valeri 2001,109–110). Sahulau adalah penguasa berdarah asing yang berbaur dengan orang Seram di Gunung Nunusaku (Valeri 2000, 22). Tichelman dan Valeri sama sekali tidak menyinggung hal-hal yang menerangkan pertautan antara Sahulau dengan orang Buton di dalam mitos-mitos penduduk tersebut.

Dalam fakta sejarahnya, Sahulau memang merujuk pada kerajaan di Seram yang kekuasaan dan pengaruhnya diakui oleh orang Belanda dan juga Maluku. Georg Eberhad Rumphius (1910, 90), seorang botanis berdarah Jerman yang ditugaskan VOC di pertengahan abad ke-17, menjabarkan bagaimana Sahulau terkadang dikerahkan oleh VOC untuk melawan musuh-musuhnya di Maluku. Sahulau juga dikatakan sebagai salah satu tempat di mana orang Alifuru berasal. Selama masa peperangan, Sahulau menggunakan pasukan Alifurunya yang terkenal sangat berpengaruh bahkan melebihi kekuatan tantara Belanda. Pasukan Alifuru terkenal ganas dan ditakuti oleh kalangan muslim di Maluku lebih dari musuh-musuh Belanda atau Kristen mereka. Sejarawan lain mengungkapkan Sahulau sebagai suku Wemale dari Seram Barat yang tinggal di pegunungan namun turun ke pesisir setelah ditaklukan oleh Belanda (Leirissa 1983, 1–10). Sampai di sini, baik di dalam bentuk sejarah maupun bentuk mitos di Seram, Sahulau sama sekali tidak tertaut dengan Buton.

Keterhubungan antara La Ode Wuna dengan Sahulau kemungkinan besar baru muncul di antara tahun-tahun 1970-an hingga tahun 2000-an. Peneliti dari Badan Arkeologi Ambon mencatat bahwa pada tahun 2000-an banyak orang menganggap Sahulau sebagai kearajaan yang didirikan oleh La Ode Wuna dan dikatakan bahwa Sahulau berasal dari Buton yang mana bentuk tubuh bagian bawahnya berwujud ular (Sudarmika dan Handoko 2007, 52). Sampai pada titik ini Sahulau mulai bertaut dengan La Ode Wuna dan semakin dikuatkan dengan cerita-cerita yang dikisahkan oleh orang-orang Seram. Karenanya, cerita-cerita tentang kerajaan Sahulau yang telah disebutkan sebelumnya pada dasarnya merupakan versi yang telah dimodifikasi yang menggambarkan kisah kedatangan La Ode Wuna di Seram. Kita juga perlu mempertimbangkan bahwa beberapa cerita, misalnya satu cerita yang dituturkan orang Tumalehu, yakni sosok Sahulau yang memindahkan kerajaannya dari pegunungan ke pesisir, yang selaras dengan sejarah riil Sahulau pasca penaklukan mereka oleh Belanda, juga memuat kisah La Ode Wuna sebagai latar belakangnya. Terlebih lagi, pada beberapa tempat, Sahulau juga digunakan sebagai istilah untuk orang Buton. Di Sawai misalnya, Sahulau merupakan gelar marga untuk para perantau Buton yang telah menetap di sana[1]. Agaknya, yang terjadi dalam masa-masa antara tahun 1970-an hingga 2000-an, adalah bahwa keberadaan orang Buton mulai dirasakan semakin pesat jumlahnya di Seram dan di Maluku Tengah secara umum. Di saat yang sama, ketika Sahulau mulai ditautkan dengan Buton di kalangan Huaulu, hubungan antara orang Huaulu dengan orang Buton di Parigi semakin intens, karena kedua kelompok ini semakin sering berbaur satu sama lain dan Parigi sendiri mulai tumbuh menjadi pemukiman yang baik. Para perantau Buton yang berpindah ke Seram nampak sangat bergairah mengutip cerita La Ode Wuna, dikarenakan perjalanan sosok ini memiliki kemiripan dengan perjalanan mereka sendiri. Orang Buton juga seringkali membawa gambar sosok La Ode Wuna. Gambar itu diyakini mampu menolak bala.[2]

Terlepas dari semakin banyaknya orang Buton dan penyebaran cerita La Ode Wuna dalam masa-masa ini, Sahulau sendiri pada dasarnya juga dapat dihubungkan dengan mudah ke orang-orang Buton ataupun La Ode Wuna. Sahulau terdiri atas kata “sahu” dan “lau” yang umumnya diterjemahkan sebagai “orang yang menyeberangi” dan “lautan”. Dengan demikian Sahulau bermakna orang yang menyeberangi lautan. Sebagai satu simbol, Sahulau tergambar sebagai hal yang berhubungan dengan elemen-elemen dari luar Seram seperti La Ode Wuna ataupun orang Buton. Seperti telah disebutkan, orang Huaulu awalnya membayangkan Sahulau sebagai sosok raja dan tertaut dengan Ternate. Secara historis, Ternate, sama seperti Buton, pada awalnya juga tidak berhubungan dengan Sahulau. Ternate merujuk pada kerajaan yang telah ada selama ratusan tahun di daerah Maluku Utara dan pengaruhnya di Seram sangatlah terasa (Amal 2007), berhubung ia mengacu pada identitas kesukuan dari penduduk Maluku di wilayah itu. Pertautannya dengan Sahulau kemungkinan terjadi karena identitasnya sebagai sesuatu yang (dan masih) asing bagi penduduk Seram. Terdapat pula hal yang berkaitan dengan reputasi Buton sebagai kerajaan yang telah berdiri sejak berabad-abad yang lalu, yang nampak berkontribusi pada pertautan simbol kebudayaan utama dengan orang Buton. Sekali lagi, pentingnya sejarah orang Buton di Maluku telah ditekankan di atas. Namun, untuk menunjukkan bagaimana mereka hadir di dalam kesadaran mitologis-historis orang Maluku, kita dapat melihat mitos yang ada di Bikusagara. Mitos yang dicatat oleh Antonio Galvao antara tahun 1536 hingga 1539 saat ia menjabat sebagai gubernur di Benteng Pertahanan Ternate, menjelaskan bagaimana raja Buton bersama dengan raja Bacan, raja Papua dan permaisuri raja Loloda lahir dari telur naga yang ditemukan oleh sosok leluhur bernama Bikusagara (Andaya 1993, 53).

Gagasan tentang la Ode Wuna juga mendapat ruang di sini karena ceritanya menggambarkan tentang sosok ular sebagai makhluk sakti di Seram. Di Nusantara, makhluk berbentuk setengah ular, setengah manusia lain yang juga populer adalah Nyi Blorong dan Nagagini. Nagagini merupakan tokoh di dalam cerita wayang, seorang gadis cantik yang mampu menjelma menjadi ular berkat kesaktian yang diwariskan ayahnya, dewa ular yang bernama Hyang Antaboga.[3] Sementara itu, Nyi Blorong juga digambarkan sebagai gadis magis yang tinggal di istana bawah laut (Jordaan 1984, 108).[4] Keduanya merupakan bagian dari jalinan rumit di dalam kosmologi Jawa, dan saya tak pernah mendengar cerita tentang mereka ini disebutkan di dalam penelitian lapangan saya. Saya tidak menemukan cerita lain tentang makhluk setengah ular setangah manusia selain dari La Ode Wuna di Maluku Tengah. Di luar dari itu, di samping banyaknya spesies ular raksasa di Seram dan penduduk di pegunungan sudah terbiasa dengannya (Sachse 1907, 58), ada pula sebuah mitos penting yang memuat sosok ular di Seram. Mitos ini berkisah tentang bagaimana kampung Iha, “negeri adat” yang berlokasi di Seram Barat, memperoleh pemimpinnya. Mitos semacam ini beredar di Lisibata, Seram Barat, yang bersamaan dengan ekspedisi Tauern pada tahun 1910 (Tauern 1918,90–91) dan masih beredar hingga tahun 2000-an di Lumoli dan Morokeau (Sahusilawane 2005, 52–54).

Dalam kedua cerita tersebut, kisahnya bermula saat seorang lelaki dari Iha pergi ke hutan untuk berburu. Setelah berjalan beberapa lama, dia beristirahat dan duduk pada batang kayu. Batang kayu pun sontak bergerak dan terungkaplah bahwa ia ternyata adalah seekor ular raksasa. Saat sang lelaki mencoba membunuh ular tersebut dengan parangnya, ular itu lalu meminta agar tidak dibunuh dan berkata bahwa jika dia tetap melakukannya maka Iha tidak akan menemukan pemimpinnya. Sang lelaki kemudian pulang ke Iha dan memberi tahu pada para tetua tentang apa yang baru ia temukan. Keesokan harinya, sang lelaki membawa para tetua ke tempat yang sama namun tidak menemukan ular tersebut. Sebaliknya, mereka malah mendapatkan pohon kelapa yang tinggi dan besar. Di antara daun kelapa itu duduklah seorang lelaki telanjang yang diminta untuk turun oleh mereka. Ia lalu turun dan tubuhnya dibungkus dengan sarung. Mereka akhirnya kembali ke kampung dan lelaki itu segera diangkat sebagai pemimpin Iha yang baru. Cerita ini tetap menggambarkan ular sebagai makhluk dengan kekuatan magis yang membuat sebuah “negeri” memperoleh pemimpin yang layak. Dalam banyak pengulangan ceritanya di masa sekarang ini, bahkan diakui bahwa para tetua Iha mengalami kesulitan untuk menentukan pemimpinnya. Mereka membutuhkan seorang bijak yang benar-benar peduli pada “negeri”nya dan tak kunjung mendapatkan satu orang pun meskipun telah menggunakan kemampuan ramalannya.[5] Betapapun juga, cerita semacam ini tetap memiliki hubungan yang mencolok dengan cerita La Ode Wuna, khususya satu cerita yang diungkapkan di tahun 1970-an oleh seorang narasumber di Manusela. Sebagaimana telah disebutkan, La Ode Wuna konon menjadi orang yang memperdaya pengembara dari Buton yang tersesat untuk menikah dengan putrinya dan mengangkatnya menjadi pemimpin yang baru di Manusela. La Ode Wuna kemudian pergi dan keberadaannya tak diketahui setelah itu. Persis seperti cerita tentang pemimpin Iha, La Ode Wuna merupakan orang dengan kesaktian yang memasukkan pemimpin lokal dari luar. Pun pada akhir cerita ia juga menghilang.

Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa gagasan tentang kekerabatan leluhur orang Buton-Seram muncul karena semakin banyaknya orang Buton di Seram. Kita memang tidak memiliki catatan sejarah apapun yang memuat gagasan samacam ini, yang memungkinkan kita untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya ia berkembang dari waktu ke waktu. Sekalipun begitu, kita tetap bisa memandang bahwa gagasan kekerabatan merupakan kunci di dalam kehidupan sosial Maluku Tengah bahkan sebelum masuknya Portugis dan Belanda di sana. Pentingnya gagasan ini berhubungan dengan bagaimana ia memungkinkan penyatuan antara kampung dan penduduknya (Bartles 1977). Perseketuan dalam bentuk “pela” seringkali dibuat untuk melawan musuh bersama, seperti Belanda ataupun tetangga kampung yang lain. Anggota kelompok yang ambil bagian di dalam sebuah “pela” disatukan oleh ikatan darah. Mereka diwajibkan untuk saling membantu dan seperti layaknya saudara, mereka tidak bisa menikahi sesamanya karena itu dianggap sebagai hubungan inces. Di samping bahwa mereka yang terikat dalam “pela” menyapa rekan mereka dengan sebutan yang menunjukkan persaudaraan seperti “bongso”[6] (Huwae 1995, 4), penduduk di Maluku Tengah juga biasa menggunakan istilah “basudara” untuk menyapa rekan mereka dengan ramah. Istilah ini sering dipakai dari sudut pandang orang ketiga untuk menunjukkan tata krama dalam kehidupan bersama, walupun ia juga dapat digunakan dalam percakapan langsung antar kelompok. Dalam Kamus Melayu Ambon-Indonesia (Takaria dan Pieter 1998), contoh susunan kalimat yang menggunakan istilah “basudara” adalah: “hidup torang basudara harus damai,”kitorang basudara, sagu torang makan sama-sama” dan “kalau kitorang basudara bakalai, akhirnya harus damai,” Istilah ini kemudian diangkat oleh gerakan perdamaian pasca konflik sektarian di Maluku, yang berkembang menjadi “katong samua basudara” dan saat ini telah digunakan oleh pemerintah di sana untuk menekankan bahwa setiap orang harus menjaga kerukunan bersama. Satu contoh interaksi antar kelompok yang memasukkan istilah “basudara” adalah saat sekelompok penduduk pada satu kampung pergi ke kampung lain untuk menghadiri acara pernikahan. Tuan rumah akan menyapa mereka sebagai “basudara dari (nama kampung mereka masing-masing).”

Perlu dicatat bahwa, baik penetapan “pela” ataupun sapaan sebagai “basudara”, keduanya terkait dengan pembangunan hubungan terhadap orang lain yang berpotensi mengancam. Dengan adanya kecenderungan akan keberadaan orang lain sebagai ancaman yang dibarengi dengan semakin banyaknya orang Buton di Seram, menjadi wajar jika istilah tentang hubungan persaudaraan digunakan untuk orang Buton, meski pada kenyataannya orang Buton dan para perantau lain tidak dapat ikut dalam sebuah “pela”. Orang Seram sudah terbiasa membingkai hubungan dengan menggunakan istilah kekerabatan. Sapaan terhadap orang Buton sebagai adik perempuan juga mengacu pada sapaan rekan “pela” seperti “bongso”. Menyapa orang sebagai “bongso” juga dapat bermakna sebagai adik, dan beberapa orang mengungkapkan bahwa alasan mereka melakukan ini karena mereka menganggap rekan “pela”nya sama seperti adik mereka sendiri (Huwae 1995, 4). Mereka yang acap kali menyapa orang Buton sebagai adik perempuan adalah orang-orang di pegunungan yang tinggal di dekat pemukiman orang Buton. Ini bukan saja kasus yang terjadi di Seram Utara tetapi juga di Seram Barat, di mana orang-orang Buton juga disapa sebagai adik perempuan, misalnya ketika mereka hendak pergi mengambil getah pohon di hutan (Renyaan 2016, 224). Beberapa bentuk “pela” secara khusus memang mendorong kelompok di dalamnya untuk saling berbagi sumber daya, dan di saat yang sama, kontak di mana orang Buton biasa disapa sebagai adik perempuan adalah saat mereka mencari hasil hutan di wilayah penduduk pegunungan. Ketika orang Buton dari Parigi meminta izin kepada orang Huaulu untuk mengambil durian di tempatnya, maka orang Huaulu akan menjawab, “kakak memang harus membantu adiknya”.

Penjelasan lain atas gagasan kekerabatan leluhur ini adalah bahwa ia berakar dari mitos penduduk Seram di pegunungan. Kemungkinan besar, hal ini telah ada sejak ratusan lalu, karena mereka memang cenderung mengakui kekuatan sakti dari luar pada masa lampau. Dan meskipun dengan banyak ragamnya, mitos-mitos ini rata-rata menempatkan mereka yang berasal dari gunung sebagai asal mula dari segala yang ada di dunia. Kekuasaan-kekuasaan asing di masa lalu yang pengaruhnya dirasakan di Seram, termasuk Buton, Ternate dan Jawa disebutkan berasal dari rumpun dan kelompok yang sama. Seiring dengan perkembangannya, setiap orang harus turun gunung, menyebar dan menemukan tempat baru yang layak ditinggali.[7] Karena itu, orang-orang luar Seram ini juga dianggap sebagia saudara mereka. Di saat yang sama, seiring dengan semakin banyaknya orang Buton, gagasan bahwa orang Buton merupakan saudara dari orang Seram sejak dahulu kala, menjadi lebih sering diuatarakan.

Bersambung ke bagian akhir

Diterjemahkan dari disertasi Geger Riyanto berjudul “Being Strangers in Eastern Indonesia: Misunderstanding and Suspicion of Mythical Incorporation of North Seram”.

Penerjemah: Fair Naza

[1] Awalnya, orang Buton di Sawai secara umum tidak memiliki marga

[2] Komunikasi pribadi dengan La Niampe pada tanggal 12 Oktober 2021. Pendapat yang beredar juga mengatakan bahwa saat gempa di Ambon 2019, rumah pada wilayah paling terdampak yang memajang foto La Ode Wuna masih tetap menggantung di saat yang lain berjatuhan.

[3]Nagini Benar-benar Ular Setengah Manusia dari Indonesia, Isi Sosoknya,” Kompas, 20 Sepetember 2019, https://sains.kompas.com/read/2018/09/28/204702323/nagini-benar-benar-ular-setengah-manusia dari-indonesia-ini-sosoknya?page=all.

[4] Kita juga perlu memperhitungkan sosok mitologis bernama Badarawuhi. Alasan saya menyebutkannya pada catatan kaki adalah karena ia berasal dari cerita yang sangat horor. Cerita ini diklaim berasal dari kisah nyata yang dibagikan di Twitter dan segera viral. Film yang mengangkat kisah ini menjadi film yang paling banyak ditonton dalam sejarah Indonesia. Badarawuhi adalah dewi ular yang memimpin sebuah desa bernama Desa Penari di Jawa Timur. Dia mengambil jiwa-jiwa orang yang membuat perjanjian dengannya.

[5] Kemampuan ini sering disebut sebagai mawe di Maluku tengah. Mawe digunakan di Parigi untuk meramal keberuntungan atau musibah yang menimpa orang-orang di tempat yang belum diketahui, seperti nelayan yang terlambat pulang dan keberadaannya tak diketahui oleh keluargnya.

[6] “Bongso” bermakna adik paling bungsu.

[7] Saya memperoleh mitos ini dari orang Maraina, Kanike dan Maneo dan juga penduduk yang mengaku berasal dari kampung Maraina seperti Pasahari, Laha, Hatumete dan Piliana.


메타데이터
post_id
c87d2debbfe9
slug
dari-sahulau-menjadi-la-ode-wuna-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-3-c87d2debbfe9
url
https://medium.com/@fairnaza/dari-sahulau-menjadi-la-ode-wuna-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-3-c87d2debbfe9
canonical_url
https://medium.com/@fairnaza/dari-sahulau-menjadi-la-ode-wuna-la-ode-wuna-dalam-disertasi-geger-riyanto-bagian-3-c87d2debbfe9
author_url
https://medium.com/@fairnaza
status
ok
fetched_at
2026-07-18 04:24:10