← Back to list

Biar Doaku Menjadi Hantu Pada Pundak Hari Dalam Seminggu-Mu

Aku ingin menjadi penjahat, ujarku...

amaramerah · 2026-04-26 15:04 · 0 claps · 1.8 min read
#letting-go #dendam
Open on Medium ↗

Biar Doaku Menjadi Hantu Pada Pundak Hari Dalam Seminggu-Mu

[embed]

Aku ingin menjadi penjahat, ujarku ditengah tegakan dirty latte terakhir ketika pahit dan manisnya sudah tercampur sempurna sejak aku pesan hampir seratus dua puluh menit lebih lalu. Kedua temanku menukar pandang satu sama lain, kening berkerut, kemudian bahak keluar dengan leganya. Mereka menganggap aku membual ditengah hening karena telah habis topik pembicaraan pukul sebelas lewat malam ini, namun jika dibuat sumpah yakin besar sekali akan aku sanggupi berkata aku akan menjadi penjahat.

Mau jadi apa? Maling? Atau Loki? Canda salah satu dari mereka masih belum beralih dari layar, ia memutar gelas berisi matcha yang sudah rusak rasanya karena batu dingin yang mencair sempurna di dalam gelas.

Aku ingin menjadi penjahat bukan dalam arti literal yang ada yakini dalam kepala mereka saat itu. Aku ingin menjadi seorang penjahat kelas kakap, penjahat yang membuat kedua malaikat mengerutkan kening mereka di atas kedua pundak kiri dan kananku, penjahat yang membuat kedua temanku mengatupkan kedua bibir mereka dan diam bertukar pandang tidak suka.

Aku ingin menjadi penjahat yang ingin menginjak satu pasang sepatu docmartnya pada hari jumat, aku ingin menjadi penjahat yang menarik paksa kabel headset kabel miliknya sebelum ia berkendara hingga Kaliurang bawah, aku ingin menjadi penjahat yang meminta kepada barista di toko kopi pagi hari yang ia datangi bahwa kopi susunya belum bisa less sugar, dan aku ingin menjadi penjahat yang memotong jalannya ketika ingin menyalip di lampu merah membuatnya terkejut dan tak sempat jempolnya menyentuh tombol klakson.

Namanya lantas aku sebut untuk seabad kalinya, tentu kawanku tak senang, dendam kesumat. Namun dendamku lebih besar, jika ingin berlomba. Dendamku sebesar maaf dan ikhlas yang aku ucapkan hari selasa kemarin, ketika melihat dirinya bisa tersenyum di depan kamera dengan kawan-kawannya sembari memegang bunga selamat. Dendamku sebesar banyaknya bensin yang aku habiskan dalam seminggu, berusaha mencari janji yang ia tanggalkan sepanjang jalan Slamet Riyadi hingga Solo Balapan. Dendamku sebesar tawa yang aku lepaskan ketika semburat merah meruap di wajahku, terjadi tiap mengingat malunya aku pernah teguh tegap kaki meski disikapi seperti tahi olehnya.

Akan aku terus sebut namanya, bukan karena rindu, bukan karena masih cinta — tapi karena aku dendam sekali. Namanya aku akan sebut dalam harap-harapku, izin kepada kedua malaikat di atas pundakku karena aku akan menjadi penjahat. Aku akan panjatkan doa jahat agar ia tidak menemukan posisi baik untuk terlelap sampai pukul satu dini hari, agar ketika ia telah memakai mantel dan hujan berhenti secara tiba-tiba di tengah jalan jauh, agar saat lapar dan pening berhembus cangkang telur terakhir yang ia buka berisi bau dan busuk, agar ketika ia melangkah di kerumunan tak sengaja menginjak punggung sepatu orang asing, dan agar rupaku ketika pernah bahagia dengannya satu dan dua kali muncul menjadi pengingat dalam bayang tak terduga bahwa ada hutang maaf yang harus ia ucap seribu kali banyaknya.

Aku ingin menjadi seorang penjahat.

Hati-hati di jalan,

tertanda bersinarona.


메타데이터
post_id
c87f94fac431
slug
biar-doaku-menjadi-hantu-pada-pundak-hari-dalam-seminggu-mu-c87f94fac431
url
https://medium.com/@kasihdanmerah/biar-doaku-menjadi-hantu-pada-pundak-hari-dalam-seminggu-mu-c87f94fac431
canonical_url
https://medium.com/@kasihdanmerah/biar-doaku-menjadi-hantu-pada-pundak-hari-dalam-seminggu-mu-c87f94fac431
author_url
https://medium.com/@kasihdanmerah
status
ok
fetched_at
2026-07-11 00:19:17