← Back to list

SALAH KAPRAH PENGGUNAAN KATA “ANARKIS”

Dalam beberapa hari terakhir terjadi sejumlah Aksi Massa sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap Pemerintahan dan perilaku…

Arifan Sudaryanto · 2025-08-31 08:12 · 5 claps · 4.7 min read
#anarkisme #anarki #filsafat-anarkisme #anarchism
Open on Medium ↗

SALAH KAPRAH PENGGUNAAN KATA “ANARKIS”

Mayday 2018. foto oleh Arifan Sudaryanto

Mayday 2018. foto oleh Arifan Sudaryanto

Dalam beberapa hari terakhir terjadi sejumlah Aksi Massa sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap Pemerintahan dan perilaku sebagian Anggota DPR. Puncak peristiwa terjadi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, ketika Seorang Driver Ojek Online bernama Affandi Kurniawa meninggal dunia setelah ditabrak kendaraan taktis (rantis) Brimob Polda Metro Jaya. Tragedi tersebut memicu gelombang kemarahan masyarakat yang berlanjut dengan Aksi Massa yang meluas di berbagai kota. Menyikapi situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo untuk mengambil tindakan tegas terhadap aksi yang dinilai bersifat anarkis. Namun, penggunaan istilah “anarkis” oleh Pemerintah dan Media Nasional dalam merespons kericuhan akhir-akhir ini menunjukkan adanya kesalahan mendasar dalam memahami makna sebenarnya dari kata tersebut.

APA ITU ANARKI — ANARKIS — ANARKISME?

Menurut KBBI, anarki merujuk pada hal tidak adanya Pemerintahan, Undang-undang, peraturan, atau ketertiban dan kekacauan (dalam suatu Negara), sedangkan Anarkis adalah penganut Anarkisme / Orang yang melakukan Tindakan anarki dan Anarkisme adalah suatu ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Definisi tersebut cenderung menyederhanakan makna fundamental dari Anarki — Anarkis — Anarkisme. Penyederhanaan semacam ini berpotensi menimbulkan pemahaman yang keliru di masyarakat serta mengaburkan substansi filosofis maupun historis dari istilah-istilah tersebut.

Alexander Berkman dalam bukunya yang berjudul ABC Anarchism (1929), mendefinisikan anarki sebagai kondisi dimana tidak ada pemerintah, dan yang ada hanyalah kebebasan dan kemerdekaan. Alexander Berkman berkata bahwa “anarki, dengan demikian, tidak berarti ketidakteraturan dan kekacauan. Sebaliknya, ia merupakan kebalikan dari hal itu — ia berarti tidak ada pemerintah, yang mana adalah kebebasan dan kemerdekaan, ketidakteraturan adalah anak dari otoritas dan pemaksaan, kemerdekaan adalah ibu dari keteraturan.” Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa “ketika pemerintahan dihapuskan, maka harus diikuti oleh hilangnya kapitalisme dan perbudakan upah, karena mereka tidak dapat hidup tanpa dukungan dan perlindungan pemerintah”. Anarkis sendiri, menurut ia adalah mereka yang lebih sensitif akan ketidakadilan dan penindasan, dia menyatakan bahwa “tetapi para anarkis adalah manusia, seperti manusia yang lainnya, dan mungkin lebih. Mereka lebih sensitif terhadap kemungkaran dan ketidakadilan, lebih cepat marah terhadap penindasan”. Sedangkan anarkisme, menurutnya adalah keteraturan tanpa pemerintah dan keadilan tanpa kekerasan. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa “anarkisme mengajarkan bahwa kita dapat hidup di dalam sebuah masyarakat di mana tidak ada pemaksaan macam apapun juga. Sebuah kehidupan tanpa pemaksaan sudah tentu berarti kebebasan; ia memiliki arti kebebasan dari paksaan dengan kekuatan atau kekerasan, sebuah kesempatan untuk memilih hidup yang anda anggap paling baik”.

Seorang Anarkis terkemuka Bernama Mikhail Bakunin dalam bukunya yang paling popular yakni God & The State (1882), mengartikan anarki bukan berarti kekacauan, tetapi keadaan tanpa otoritas eksternal yang menindas. Anarki adalah penolakan terhadap negara, agama, maupun institusi yang mengklaim otoritas absolut atas manusia. Bagi Bakunin, kebebasan sejati hanya ada ketika manusia membebaskan diri dari kekuasaan yang memaksa, baik itu Tuhan maupun Negara. Dengan kata lain, anarki = kebebasan kolektif dan individual dari segala bentuk dominasi. Ia menulis “Kebebasan sejati hanya ada ketika tidak ada satu pun otoritas eksternal yang berdaulat atas manusia; ketika tidak ada Tuhan di atas langit dan tidak ada negara di atas bumi”. Seorang Anarkis, bagi Bakunin, adalah individu yang menolak segala bentuk otoritas eksternal. Anarkis bukanlah sosok yang mencintai kekacauan, melainkan mereka yang mencintai kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas. Ia menulis “Seorang anarkis adalah ia yang menolak menjadi budak, baik dari Tuhan, negara, maupun manusia lain”. Namun, Bakunin dalam buku God & The State tidak menguraikan secara spesifik mengenai definisi anarkisme. Ia bukan seorang penulis akademis yang sangat ilmiah, melainkan penulis pamflet revolusioner. Namun dalam buku lainnya seperti dalam bukut berjudul Statism and Anarchy (1873), dengan gayanya khas agresif dan konfrontatif, ia menyebut bahwa anarkisme sebagai kebebasan. Kebebasan semua orang terletak pada hal ini: bahwa setiap orang melakukan apa yang ia kehendaki hanya karena ia menghendakinya, dan hanya sejauh kehendaknya itu tidak menghalangi kebebasan orang lain”. Dalam buku lainnya yang berjudul Revolutionary Catechism (1866) ia menulis semacam manifesto moral-politik tatanan tanpa negara sebagai bentuk tertinggi kebebasan. Ia menulis “Organisasi sosial di masa depan harus dibangun sepenuhnya dari bawah ke atas, melalui asosiasi atau federasi bebas para pekerja, dimulai dari asosiasi, lalu komune, wilayah, bangsa, dan akhirnya menjadi federasi internasional dan universal. Anarkisme adalah keteraturan tanpa kekuasaan”.

Pada abad ini muncul seseorang Bernama Noam Chomsky, seorang ahli linguistik yang juga merupakan seorang filsuf, kritikus sosial, dan aktivis politik yang dikenal karena kontribusinya dalam berbagai bidang salahsatunya adalah sumbangsihnya terhadap pemikiran anarkisme. Dalam bukunya yang berjudul On Anarchism (2005), Ia menguraikan bahwa Anarki merupakan tatanan sosial tanpa paksaan dan berbasis asosiasi sukarela. Ia menulis “Anarki tidak berarti kekacauan. Sebaliknya, ia merujuk pada sebuah bentuk organisasi sosial di mana orang-orang secara bebas dan kooperatif mengatur urusan mereka tanpa institusi yang memaksa”. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa “Seorang anarkis hanyalah seseorang yang memandang otoritas dengan kecurigaan dan menuntut pembenaran atasnya. Jika pembenaran itu tidak muncul, maka otoritas tersebut harus dibongkar”. Dengan pernyataan tersebut, Chomsky seakan memberikan suatu relativisme pada Anarkisme bahwa; menjadi seorang Anarkis berarti adalah orang yang harus memandang skeptis terhadap semua bentuk otoritas, dan hanya menerima otoritas jika bisa dibuktikan sahih dan rasional. Kecenderungan relativisme pemikirannya tentang Anarkisme pun terdapat beberapa bagian bukunya pun, Ia dengan lugas menyebut bahwa Anarkisme memiliki punggung yang lebar, seperti kertas yang mampu menanggung apa saja”. Dia mencerabut prinsip dasar Anarkisme abad 19 tentang ‘penolakan atas segala bentuk kekuasaan’ menjadi sekedar kecurigaan dan skeptisme terhadap dominasi, otoritas, dan hierarki, baik dalam institusi politik, pengaturan ekonomi, maupun relasi sosial. Hal ini ditekankan kembali ketika Ia berkata Anarkisme bukanlah sebuah doktrin yang tetap, melainkan sebuah cara penyelidikan. Ia mempertanyakan struktur otoritas dan dominasi, dengan tujuan menggantinya dengan relasi yang berbasis kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas.”

ANARKIS ≠ PENGACAU

Mayday 2018, foto oleh Arifan Sudaryanto

Mayday 2018, foto oleh Arifan Sudaryanto

Jika ditarik garis lurus dari pemikiran Alexander Berkman, Mikhail Bakunin, dan Noam Chomsky, tampak jelas bahwa ketiganya memiliki spirit yang serupa mengenai definisi anarki — anarkis — anarkisme. Bagi mereka, anarki bukanlah kekacauan, melainkan bentuk keteraturan sosial yang justru lebih murni karena bebas dari paksaan otoritas eksternal; suatu organisasi masyarakat yang lahir dari kerjasama sukarela dan kesadaran bersama. Seorang anarkis, dalam pandangan ketiganya, bukanlah pengacau, melainkan individu yang kritis terhadap dominasi, yang selalu menuntut legitimasi atas setiap bentuk kekuasaan, dan menolak otoritas yang tidak sah. Sementara itu, anarkisme dipahami sebagai filsafat politik yang berakar pada kebebasan, kesetaraan, solidaritas, serta usaha untuk menyingkirkan struktur dominasi demi menghadirkan tatanan sosial yang lebih berkeadilan

Penggunaan istilah “anarkis” oleh pemerintah Indonesia selama ini merupakan bentuk penyalahgunaan bahasa yang mendistorsikan makna filosofisnya. Dengan mereduksi istilah tersebut hanya menjadi sinonim dari kekacauan, kerusuhan dan kekerasan, pemerintah tidak hanya mengabaikan tradisi intelektual panjang dari Berkman, Bakunin, dan Chomsky, tetapi juga memanipulasi bahasa demi kepentingan politik. Pada hakikatnya, anarkisme bukanlah doktrin destruktif, melainkan gagasan tentang kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas yang menolak dominasi otoritas eksternal. Oleh karena itu, pelabelan anarkis terhadap kelompok kritis hanyalah upaya untuk menciptakan kambing hitam, sekaligus melegitimasi tindakan represif negara terhadap warganya.


메타데이터
post_id
c8b80ab6e75f
slug
salah-kaprah-penggunaan-kata-anarkis-c8b80ab6e75f
url
https://medium.com/@arifansdr/salah-kaprah-penggunaan-kata-anarkis-c8b80ab6e75f
canonical_url
https://medium.com/@arifansdr/salah-kaprah-penggunaan-kata-anarkis-c8b80ab6e75f
author_url
https://medium.com/@arifansdr
status
ok
fetched_at
2026-07-17 20:53:52