← Back to list

Dari Kesadaran Sunyi, Menuju Kesadaran Praksis Pembebasan

Dari Kesadaran Sunyi Menuju Praksis Pembebasan

ZFth · 2026-06-08 14:25 · 0 claps · 2.0 min read
#hassan-hanafi #hermeneutics #alfred-adler #kesadaran-kolektif
Open on Medium ↗

Dari Kesadaran Sunyi, Menuju Kesadaran Praksis Pembebasan

Dari Kesadaran Sunyi Menuju Praksis Pembebasan

Melanjutkan pertanyaan yang tertinggal di udara dari tulisan sebelumnya. ”Sampai kapan kita bisa menjadi biasa? Dan bisakah kita hidup sepenuhnya tanpa sedikit pun pengakuan?”

Jika kita berhenti pada jawaban Adler, kita mungkin akan menemukan kedamaian dalam kesunyian. Kita memungut sampah, menyimpannya di saku, dan merasa cukup dengan keberanian untuk tidak terlihat. Namun, bagaimana dengan orang lain? Bagaimana jika yang membuang sampah adalah orang lain? Apa yang kita seharusnya perbuat? dan apakah dunia ini benar-benar bisa berubah ke arah baik jika hanya dengan kesadaran individual kita saja? Apalagi kesadaran yang sunyi?

Di sinilah kita perlu meminjam kacamata yang lebih melebar, sebuah cara pandang yang tidak membiarkan “ilmu” hanya duduk diam menjadi renungan. Dalam tradisi Hermeneutika Pembebasan Hassan Hanafi, ilmu dan pemahaman tidak boleh berhenti di kepala. Hermeneutika, menurut Hanafi, bukanlah sekadar metode pemahaman teks. Lebih jauh dari itu, ia adalah ilmu tentang transformasi pembebasan dari logos (pengetahuan/teori) menuju praksis (tindakan nyata) di dunia.

Ketika kita tahu membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi tangan kita tetap mengayun ringan menjatuhkan satu sampah, kita sebenarnya sedang mengalami kegagalan hermeneutis (pemahaman). Pemahaman kita mandek. Ia tidak bertransformasi menjadi aksi yang membebaskan realitas.

Membaca Kata Al-Ardh (Bumi)

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi saat sampah itu menyentuh bumi. Orang yang tangannya mengayun ringan itu tidak sekadar sedang meringankan beban egonya. Secara fundamental, ia sedang menunjukkan keterasingannya dari al-ardh (bumi).

Bagi Hanafi, kata bumi (al-ardh) memiliki orientasi makna yang sangat kuat. Bumi bukanlah sekadar tanah kosong tak bertuan. Bumi ini ditundukkan kepada manusia (manusia adalah Khalifatul Ardl), namun ditundukkanya bumi ini untuk dilindungi, bukan untuk kotori apalagi dirusak.

Tindakan membuang satu sampah sembarangan adalah wujud dari pemutusan sepihak atas sebuah perjanjian moral universal antara manusia dan alam. Dengan merusak ruang publik, manusia sesungguhnya sedang menindas realitasnya sendiri. Ia gagal menjadi khalifah yang merawat, dan sebaliknya ia malah bertindak sebagai penguasa arogan yang menundukkan lingkungan demi kenyamanan instannya.

Dari Alibi Rasa Bersalah Menuju Model Aksi

Adler menyebut rasa bersalah saat membuang sampah adalah sebagai “alibi murah” agar kita tetap merasa menjadi orang baik. Dan Hanafi melangkah lebih jauh, yaitu bahwa rasa bersalah yang tidak melahirkan perubahan sosial itu adalah bentuk yanga tidak menyentuh akar permasalahan masyarakat. Maka dari itu menurut Hanafi harus muncul transformasi yang bisa menjadi agen perubahan.

Menurut paradigma pembebasan, menjadi “biasa” tidaklah cukup jika itu berarti kita hanya memelihara kesadaran dalam diam. Keberanian sejati bukanlah sekadar kita memungut sampah kita sendiri tanpa dilihat orang. Keberanian sejati adalah bertransformasi menjadi agen perubahan. Kita tidak lagi memungut sampah demi mencari pengakuan, tetapi kita menjadi sang penggerak karena sebuah panggilan praksis yang revolusioner. Kita menolak diam ketika meligat realitas al-ardh yang dikotori, dan kita mulai melawan penindasan itu, bukan di alam ide, melainkan di atas bumi yang nyata.


메타데이터
post_id
c8cb481e2b86
slug
dari-kesadaran-sunyi-menuju-kesadaran-praksis-pembebasan-c8cb481e2b86
url
https://medium.com/@zainifatchurrohim/dari-kesadaran-sunyi-menuju-kesadaran-praksis-pembebasan-c8cb481e2b86
canonical_url
https://medium.com/@zainifatchurrohim/dari-kesadaran-sunyi-menuju-kesadaran-praksis-pembebasan-c8cb481e2b86
author_url
https://medium.com/@zainifatchurrohim
status
ok
fetched_at
2026-09-06 01:56:28