← Back to list

Bayang-Bayang Ambigu

Setiap hari, aku menjalani hidupku seperti seorang putri dalam dongeng pribadiku. Aku merawat diri dengan lembut: mandi air hangat yang…

Aisha's note · 2025-08-11 19:12 · 0 claps · 1.8 min read
#princess #cerpen #cerita-pendek #cerita #cerpen-indonesia
Open on Medium ↗

Bayang-Bayang Ambigu

Setiap hari, aku menjalani hidupku seperti seorang putri dalam dongeng pribadiku. Aku merawat diri dengan lembut: mandi air hangat yang harum, makan makanan bergizi yang aku masak sendiri, menulis jurnal di bawah sinar matahari pagi, membeli barang-barang kecil yang membuat hatiku berbunga — seperti buku atau secangkir kopi spesial. Aku melakukan apa yang aku mau, mengunjungi taman-taman hijau atau kafe tersembunyi di sudut kota, menikmati setiap rutinitas seolah itu pesta kerajaan. Aku tahu nilai diriku, dan itu cukup untuk membuatku bahagia.

Hingga suatu hari, seorang pria muncul secara tak terduga. Kami bertemu di sebuah acara seni, di mana minat kami pada lukisan abstrak menyatukan kami dalam percakapan yang mengalir. Entah bagaimana, hatiku mulai condong padanya. Awalnya, aku menyangkalnya — mengatakan pada diri sendiri bahwa itu hanya rasa penasaran sementara. Tapi lama-kelamaan, aku menerimanya, membiarkan perasaan itu tumbuh seperti bunga liar.

Namun, dia tidak pernah benar-benar hadir. Dia pernah berjanji akan menemaniku ke galeri seni favoritku, bahkan mengajakku ke sebuah pantai tersembunyi yang membuatku penasaran. “Kita harus pergi kesana,” katanya dengan senyum yang membuat jantungku berdegup. Tapi janji itu menguap seperti kabut pagi. Dia menghilang selama berminggu-minggu, lalu muncul kembali, menciptakan momen yang tak terlupakan — seperti malam di mana kami berjalan di bawah lampu kota, berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kami. Itu indah, tapi setelahnya, dia lenyap lagi, meninggalkanku dengan pertanyaan yang menggantung.

Apakah dia rekan diskusi? Tidak, karena momen kami terlalu intim untuk itu. Teman? Bukan, dia selalu menerapkan batasan tak terlihat. Pendekatan? Mustahil, karena ketidakkonsistenannya seperti angin yang berubah arah. Hubungan kami begitu ambigu, seperti kabut yang tak bisa digenggam. Aku tak peduli dengan label-label itu, tapi ambiguitasnya mulai menggerogoti ketenanganku.

Akhirnya, dia datang kembali. Kali ini, dia tertarik pada barang yang aku jual secara online — sebuah lukisan kecil yang aku buat sendiri. Kami menyepakati hari transaksi, dan aku membayangkan pertemuan itu akan membawa kejelasan. Tapi tiba-tiba, dia membatalkannya. “Masih mau beli, tapi nanti ya,” katanya singkat melalui pesan. Hingga kini, dia menghilang lagi. Kupikir, transaksi itu hanyalah umpan emosional, cara dia menarik-ulurku seperti benang layang-layang. Dia tidak pernah benar-benar menginginkan lukisan itu, atau mungkin aku.

Aku bisa menerima cinta yang bertepuk sebelah tangan — itu bagian dari hidup. Tapi ambiguitas? Itu seperti racun yang perlahan merusak. Aku memutuskan untuk diam, membiarkan keheningan menjadi perisai. Aku kembali ke rutinitasku: merawat diri seperti putri, menikmati dunia yang aku ciptakan sendiri.

Dia pikir aku akan menerima usahanya yang sangat minimal? Tidak, aku adalah putri kerajaanku sendiri, dan bayang-bayang ambigu seperti dia tak layak berada di dalamnya.


메타데이터
post_id
c8f4aeb331ba
slug
bayang-bayang-ambigu-c8f4aeb331ba
url
https://medium.com/@Aishnote/bayang-bayang-ambigu-c8f4aeb331ba
canonical_url
https://medium.com/@Aishnote/bayang-bayang-ambigu-c8f4aeb331ba
author_url
https://medium.com/@Aishnote
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56