Riwayat Rindu dalam Sejarah yang Berkepanjangan
Riwayat Rindu dalam Sejarah yang Berkepanjangan

Aku bertanya-tanya, bagaimana seseorang bisa begitu pandai tinggal di kepala orang lain tanpa pernah benar-benar menetap dalam hidupnya. Mungkin seperti kau. yang hadir secukupnya, tetapi menetap begitu lekatnya pada lagu-lagu rindu, pada sela-sela suara hujan, pada ujung paragraf, dan pada malam-malam yang terlalu panjang.
“Apa yang sebenarnya kau tunggu?”
Tenang saja, aku tak sedang menunggu apapun. Aku hanya menyukai caramu menjadi alasan dari banyaknya tulisan yang tak pernah kau baca.
Tenang saja, aku tak sedang menunggu akhir yang bahagia. Aku hanya ingin suatu hari nanti, tulisan ini menjadi pengingat bahwa aku menulis riwayat rindu…
…tentangmu.
Tentangmu yang tak pernah ku kejar dengan langkah, tetapi selalu ku temui dalam kalimat.
Di pertengahan bulan Juni ini, rinduku masih bekerja seperti biasanya, senyap, tanpa upah, tanpa jaminan bahwa ia akan sampai padamu.
Tapi tahu tidak? dari banyaknya hal yang ku tulis tentangmu, sebenarnya tak ada satupun yang benar-benar menggambarkanmu. Aku ingat kau tersenyum, tapi aku tak tahu senyum macam apa itu. Aku ingat tatapmu, tapi aku tak tahu untuk siapa itu. Aku ingat suaramu, tapi aku tak tahu apa arti tiap kalimatmu.
Sedangkan aku, dengan segala kekurangan akal sehatku masih merangkai sejarah rindu tanpa arah ini.
Sekali lagi, aku tak sedang menunggu apapun. Aku hanya sedang merangkai riwayat rindu dalam sejarah yang berkepanjangan.
메타데이터
- post_id
- c90692c0b8a9
- slug
- riwayat-rindu-dalam-sejarah-yang-berkepanjangan-c90692c0b8a9
- url
- https://medium.com/@pherie/riwayat-rindu-dalam-sejarah-yang-berkepanjangan-c90692c0b8a9
- canonical_url
- https://medium.com/@pherie/riwayat-rindu-dalam-sejarah-yang-berkepanjangan-c90692c0b8a9
- author_url
- https://medium.com/@pherie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 20:05:20