Berdaulat di Natuna
Oleh: Naldo Helmys, Pusat Strategi Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri
Berdaulat di Natuna
Oleh: Naldo Helmys, Pusat Strategi Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri
Pintu masuk utara Indonesia itu berada di Kepulauan Natuna. Secara geopolitik maupun geoekonomi lokasinya amat strategis. Gugus pulau terluar yang secara administratif masuk dalam Provinsi Kepulauan Riau itu berbatasan laut dengan Vietnam, Kamboja, Singapura, dan Malaysia. Ia juga berada di perlintasan jalur perdagangan internasional Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Daulat Indonesia di Natuna pun jadi niscaya!
Taman Bumi Natuna
Banyak upaya dilakukan untuk menjaga halaman depan Nusantara itu. Salah satunya dengan menggali potensi Natuna sebagai taman bumi (geopark) dunia.
Sejak 2016 Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melalui Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) — saat itu masih bernama Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) — telah menginisiasi program pengembangan wilayah kepulauan secara berkelanjutan di Kepulauan Natuna. Langkah ini diambil untuk merealisasikan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dalam hal pengembangan kawasan 3T (Terluar, Terbelakang, dan Tertinggal).
Sebagai tindak lanjut, Kemlu memulai program pengembangan warisan geologi (geopark) Pulau Natuna untuk dicanangkan sebagai Geopark Nasional pada tahun 2018. Kemudian, pada tahun 2019, Natuna dicalonkan sebagai geopark dunia melalui UNESCO Global Geoparks. Proses penerimaan sendiri membutuhkan waktu paling tidak tiga tahun.
Kabupaten dengan luas daratan 2.001,30 km2 itu — lautnya jauh lebih luas mencapai 222.683,29 km2 — kaya akan fitur geologis yang dapat diperuntukkan untuk kegiatan ilmiah, edukasi, maupun wisata. Beberapa di antaranya yaitu Pulau Setanau, Pulau Sabang Mawang, Pulau Akar, Batubi, Kelarik, Pian Padang, Setengar, Pulau Senoa, Gunung Ranai, Tanjung Senubing, Alif Stone, Batu Kasah, Tanjung Datuk, Gua dan Pantai Kamak, Bukit Kapur, Kelarik-Batubi, dan Teluk Butun.

Menariknya Taman Bumi Natuna tidak saja menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya oleh masyarakat setempat. Salah satu unsur budaya yang ada di kawasan taman bumi tersebut misalnya tradisi lisan yang diekspresikan masyarakat secara turun-temurun dalam bentuk berbagai legenda. Sebut saja Legenda Pulau Bunguran dan Kampung Tua Segeram, Legenda Pulau Senua, dan Legenda Kota Ranai. Ada pula legenda mistis seperti Orang Bedung di Gunung Ranai.
Berbagai cerita rakyat tersebut berkaitan erat dengan lokasi atau tempat-tempat di Natuna, sehingga tradisi lisan dan taman bumi menjadi tidak terpisahkan. Setiap cerita juga mengandung pesan moral yang kuat seperti bekerja keras, kepedulian sosial, serta penghormatan dan pengorbanan terhadap orang tua.
Selain cerita atau legenda, objek pemajuan kebudayaan di Natuna juga mencakup adat istiadat seperti upacara pernikahan, kemudian pengetahuan tradisional seperti menganyam rotan, hingga kesenian seperti berdah, mendu, tari zapin tali, hadrah, marawis, dan silat.
Situs Ramsar Dunia
Tak hanya jadi taman bumi, Natuna juga punya potensi untuk jadi Situs Ramsar Dunia. Situs Ramsar atau situs lahan basah (wetland) ditetapkan oleh Konvensi Ramsar tahun 1971. Natuna memiliki lahan basah alami berupa rawa pasang surut air tawar dan air payau, hutan rawa, lahan gambut, dataran banjir, pantai terbuka, estuary, hutan mangrove, dan hamparan lumpur lepas pantai (mud flat). Selain itu juga ada lahan basah buatan seperti waduk, sawah, kolam, dan tambak.
Saat ini di Indonesia sudah tercatat tujuh Situs Ramsar Dunia yaitu Taman Nasional Berbak, Jambi (1991), Suaka Margasatwa Danau Sentarum, Kalimantan Barat (1994), Taman Nasional Wasur, Papua Selatan (2006), Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara (2011), Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan (2011), Suaka Margasatwa Pulau Rambut, DKI Jakarta (2011), dan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah (2013).
Seluruh lahan basah yang ada di Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna sangat relevan untuk dijadikan Situs Ramsar. Wilayah itu dinilai sangat cocok karena lahan basahnya beragam mencakup sungai, danau, rawa, dan mangrove. Namun, masih diperlukan kajian menyeluruh mengenai pemetaan geologi, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Serta diperlukan pula kajian mengenai potensi ekologi, limnologi, dan hidrologi pada situs tersebut.
Tentunya, pengakuan dunia terhadap Natuna, baik dalam bentuk Taman Bumi Global UNESCO maupun Situs Ramsar Dunia hanyalah langkah awal untuk mencapai tujuan yang lebih luas. Apa itu? Tidak lain adalah menjaga kedaulatan Indonesia di daerah terluar seperti Natuna, merawat alam dan budaya di tempat tersebut, serta menyejahterakan masyarakat. Berdaulatlah Indonesia apabila daerah perbatasannya sejahtera dan bangga menjadi bagian dari NKRI.
Anda tertarik ke Natuna?
Artikel ini dibuat secara mandiri untuk mempopulerkan kajian-kajian yang dihasilkan Pusat Strategi Kebijakan Multilateral (PSKM)Kementerian Luar Negeri, bukan rilisan resmi PSKM maupun unit kerja lainnya di Kementerian Luar Negeri. Dibuat untuk tujuan sosialisasi dan edukasi publik.
Terima Kasih
Terima kasih telah membaca artikel ini. Tulisan ini merupakan seri terakhir yang kami rilis untuk mempopulerkan kajian-kajian atau hasil analisa strategi kebijakan yang dipublikasikan Pusat Strategi Kebijakan Multilateral.
Simak kembali seri-seri sebelumnya di sini:
- Indonesia Perlu Strategi Kesehatan Global
- Perjanjian Perdagangan Senjata Tanpa Indonesia
- Indonesia di G20
Politik & Keamanan
Temukan juga kajian-kajian menarik lain dari PSKM dengan ragam topik dari isu politik dan keamanan seperti beasiswa sebagai tools diplomasi, atau diplomasi pertahanan dan keamanan maritim. Kamu mungkin juga tertarik dengan kiprah Indonesia di berbagai forum multilateral seperti Dewan Keamanan PBB, MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turkiye, Australia), atau Kerja Sama Selatan-Selatan. Isu-isu non-arus utama seperti perlindungan terhadap Anak Buah Kapal (ABK) atau isu-isu yang sedang rising semisal diplomasi siber apa lagi Laut China Selatan juga tidak kalah menarik.
Ekonomi & Pembangunan
PSKM juga rutin menerbitkan kajian mengenai isu minyak nabati. Temukan kajian menarik mengenai peran diplomasi dalam pengelolaan industri minyak nabati, hingga kontribusi minyak nabati terhadap pembangunan berkelanjutan. Ada pula laporan berbagai kegiatan masih mengenai minyak nabati seperti masa depan biodiesel Indonesia, atau yang terbaru, strategi kebijakan mengenai minyak nabati. Tentu isu ekonomi menarik lainnya juga ada. Mulai dari diplomasi ekonomi, pembangunan global, pertumbuhan hijau, hingga hak kekayaan intelektual.
Sosial & Budaya
Selain isu Natuna seperti diulas artikel ini, PSKM juga pernah menerbitkan kajian mengenai diplomasi batik. Simak lebih lanjut di sini. Kamu juga dapat berkunjung ke link berikut untuk mengakses seluruh kajian-kajian yang telah dipublikasikan oleh Kementerian Luar Negeri.
메타데이터
- post_id
- c92b2257a04c
- slug
- berdaulat-di-natuna-c92b2257a04c
- url
- https://medium.com/@kajian-pusatmulti/berdaulat-di-natuna-c92b2257a04c
- canonical_url
- https://medium.com/@kajian-pusatmulti/berdaulat-di-natuna-c92b2257a04c
- author_url
- https://medium.com/@kajian-pusatmulti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 14:13:14