← Back to list

Berkunjung ke Museum Tekstil

Oleh: Alvin Try Dandy

Ranakota · 2026-06-06 03:30 · 0 claps · 5.3 min read
#museums #indonesian-culture #architecture #cultural-criticism #batik
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🎨 · Fine Art 🏛️ · Architecture

Berkunjung ke Museum Tekstil

Tampak depan gedung utama Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Tampak depan gedung utama Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Museum Tekstil terletak tidak jauh dari Pasar Tanah Abang, pasar tekstil terbesar Asia Tenggara. Hanya dalam jarak selempar batu, kain diperlakukan berbeda: ada yang luwes berpindah tangan di lapak, ada pula yang terentang diam di balik kaca. Gedung utama museum pun hadir secara kontras di lingkungan tersebut. Temboknya putih, gentengnya merah, serambinya sejuk, halamannya luas, sebagaimana bangunan milik orang Eropa umumnya pada masa Hindia Belanda. Museum Tekstil selalu mengadakan pameran temporer di bangunan ini.

Saya mengunjungi Museum Tekstil pada November 2025 saat Pameran “Merawit Rasa” berlangsung. Pameran ini menampilkan batik Merawit dari Kabupaten Cirebon yang pengerjaannya menggunakan canting halus untuk menghasilkan corak rumit dan renik. Poster catatan pameran menjelaskan batik Merawit selayaknya pidato seorang pejabat yang sedang berpromosi: proses panjang produksinya “merepresentasikan nilai kesabaran, ketekunan, dan kecintaan terhadap warisan leluhur” dan motifnya “menggambarkan kehidupan yang penuh tantangan namun tetap indah bila dijalani dengan ketulusan”.

Pameran “Merawit Rasa” pada November 2025. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Pameran “Merawit Rasa” pada November 2025. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Objek dalam pameran kebanyakan berupa kain panjang yang diproduksi pada tahun 2023–2024. Seperti kebetulan, Sertifikat Indikasi Geografis (hak eksklusif pelindungan, pengolahan, dan pemasaran suatu produk) atas batik Merawit diberikan kepada Kabupaten Cirebon pada November 2024. Tepat di samping poster catatan pameran adalah kain panjang bercorak tambal karya Batik Katura dengan tahun produksi 2024. Kain panjang tersebut didampingkan dengan kain panjang bermotif tambal belah ketupat yang diproduksi pada tahun 1980 serta kain panjang bermotif tambal obar abir yang diproduksi pada tahun 1930. Keputusan kurasi ini terasa seperti sebuah upaya legitimasi. Seolah-olah, produk budaya (atau budaya itu sendiri) baru patut diperhatikan atau diberikan pengakuan setelah ia tua.

(kiri) Kain panjang motif tambal karya Batik Katura, tahun produksi 2024. (tengah) Kain panjang motif tambal belah ketupat, tahun produksi 1980. (kanan) Kain panjang motif tambal obar abir, tahun produksi 1930. Foto oleh Alvin Try Dandy.

(kiri) Kain panjang motif tambal karya Batik Katura, tahun produksi 2024. (tengah) Kain panjang motif tambal belah ketupat, tahun produksi 1980. (kanan) Kain panjang motif tambal obar abir, tahun produksi 1930. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Saya merasa ketiga kain panjang yang disebutkan sebelumnya merepresentasikan karakteristik batik Merawit dengan baik, lebih-lebih kain yang tertua. Saya kagum dengan perpaduan ramai dari corak abstraksi flora dan pola geometris/linier; semua diterakan dengan garis sangat tipis hampir memenuhi permukaan 3 meter persegi. Koleksi pameran berumur lebih muda menampilkan corak lebih harfiah. Sebagai contoh, kain panjang karya Ariri tahun 2023 (motifnya diberi nama Proses Membatik) menampilkan wayang-wayang sedang membatik di taman atau kain panjang karya Pengrajin P3BC tahun 2023 (motifnya diberi nama Batik Nona Belanda) menampilkan perempuan-perempuan bergaun panjang mengumpulkan buah di padang luas berlatar kincir angin. Proses kurasi pameran memungkinkan yang harfiah berdiri di antara yang abstrak, walaupun yang harfiah ini bisa saja tampil sedikit canggung, seolah tidak koheren dengan pakem. Implikasinya lebih tajam daripada mendampingkan kain berusia tua dan muda. Ia meminta tempat dan kita mesti memberinya. Kita mesti menerima bahwa hidup dan berbudaya di era literal berarti pesan harus dibuat dan dibaca secepat mungkin.

(kiri) Kain panjang motif Proses Membatik karya Ariri, tahun produksi 2023. (kanan) Kain panjang motif Batik Nona Belanda karya Pengrajin P3BC, tahun produksi 2023. Foto oleh Alvin Try Dandy.

(kiri) Kain panjang motif Proses Membatik karya Ariri, tahun produksi 2023. (kanan) Kain panjang motif Batik Nona Belanda karya Pengrajin P3BC, tahun produksi 2023. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Saya beranjak dari gedung utama dan menuju bagian belakangnya, Taman Pewarna Alam. Tumbuhan yang ditampilkan sebagai koleksi sebenarnya lumrah ditemui sehari-hari. Tiap tumbuhan disertai catatan kecil: daun pandan menghasilkan warna hijau, daun mangga yang sudah tua menghasilkan warna hijau kekuningan, daun kapuk menghasilkan warna abu-abu. Duduk rehat di taman ini mengingatkan saya pada anak-anak yang menggerus daun, bunga, kapur, atau batu bata untuk bermain memasak/meramu. Betapa menyenangkan. Betapa primordial. Betapa cerdas manusia dalam mencoba dan membuat, dari serat, benang,dan pewarna jadi tekstil hingga garmen.

Suasana Taman Pewarna Alam, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Suasana Taman Pewarna Alam, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Di sudut taman, terdapat paviliun yang menyimpan berbagai alat tenun dari beberapa daerah di Indonesia. Alih-alih dipamerkan sebagaimana layaknya, alat-alat ini diletakkan di ruang yang diterangi jendela dan lampu fluoresens cool white, berubinkan keramik putih, dengan label koleksi berupa kertas putih berukuran A4. Alih-alih memperhatikan pameran, saya lebih memilih untuk hanyut dalam imajinasi sendiri, membayangkan gemertak bilah alat tenun bukan mesin dan penenun yang lihai menambah pakan pada lungsin. Alat-alat tenun ini semestinya bisa tampil lebih hidup. Lewat paviliun alat tenun, Museum Tekstil (kemungkinan besar tanpa ironi) merefleksikan kondisi kontemporer penenun tradisional: dibuat eksotis tapi terpojok, diperhatikan tapi sekenanya, hampir tidak relevan di antara isu fast fashion dan buruknya kondisi kerja pabrik garmen di Asia.

Koleksi alat tenun bukan mesin di Ruang Pengenalan Wastra, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Koleksi alat tenun bukan mesin di Ruang Pengenalan Wastra, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Saya menemukan penghiburan lain di Pendopo Batik. Kendati dinamai pendopo, bangunan ini berdinding kayu, dengan pintu dan jendela berjalusi serta atap kampung dara gepak. Setidaknya, pengunjung museum memang dapat belajar membatik di sini. Wangi malam telah tercium jauh dari ambang pintu. Pengunjung duduk di dingklik, bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang serius menghadap kainnya di gawangan, ada pula yang saling bercengkerama sambil sesekali menorehkan canting. Semua ini dilatari dengan lagu berbahasa Jawa berirama riang. Siang itu terasa hangat dan cair.

Aktivitas pengunjung di Pendopo Batik, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Aktivitas pengunjung di Pendopo Batik, Museum Tekstil. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Bangunan terakhir yang saya kunjungi adalah Galeri Batik. Galeri ini dibangun pada Oktober 2010 dan khusus memamerkan ragam-ragam batik di Indonesia. Bangunan ini terlihat seperti rumah-rumah priayi bergaya New Indies, seolah-olah ingin tampil satu zaman lebih maju daripada gedung utama museum. Sebagai bangunan yang dirancang sebagai ruang pamer, Galeri Batik tidak mampu menggugah saya dengan caranya menampilkan koleksi. Kain-kain panjang dipajang dalam vitrin yang jarak satu sama lainnya tidak memungkinkan pengunjung untuk memandang objek secara leluasa. Koleksi galeri didominasi batik dari Pulau Jawa, dengan ruang terbesar untuk koleksi batik Jawa Tengah. Koleksi “Batik Luar Jawa” dihimpun sesak jadi satu dan menempati ruang kecil. Tepat di sebelahnya, dengan luas ruang yang sama namun terasa lebih lega, adalah replika kamar yang hanya berisi ranjang empat tiang berseprai batik dan dua kursi berbantal batik.

(kiri atas) Tampak depan Galeri Batik, Museum Tekstil. (kanan atas) Ruang koleksi batik Jawa Barat. (kiri bawah) Ruang replika kamar. (kanan bawah) Ruang koleksi batik Jawa Tengah. Foto oleh Alvin Try Dandy.

(kiri atas) Tampak depan Galeri Batik, Museum Tekstil. (kanan atas) Ruang koleksi batik Jawa Barat. (kiri bawah) Ruang replika kamar. (kanan bawah) Ruang koleksi batik Jawa Tengah. Foto oleh Alvin Try Dandy.

Benak saya masih tertinggal di Museum Tekstil saat saya berjalan menuju Stasiun Tanah Abang hendak pulang. Selain diletakkan dalam vitrin, museum memajang kain panjang dengan cara dibalutkan pada tabung busa agak pipih, sehingga terlihat seperti setengah badan manusia yang memakai sarung. Kunjungan kali ini terasa demikian: setengah, molek tapi terfragmen. Beberapa jenis, proses produksi, dan bahan baku tekstil memang sudah ditampilkan. Namun, narasi apa yang secara sadar dipilih dan diceritakan tentang wastra oleh Museum Tekstil sebagai institusi budaya? Tiap koleksi terasa seperti paragraf-paragraf independen yang kebetulan menempati satu halaman. Pada Juli 2024, saya sempat mengunjungi Museum Tekstil saat Pameran Songket Indonesia tengah berlangsung. Pameran temporer yang menampilkan songket Sumatra, Kepulauan Sunda Kecil, dan Kepulauan Maluku tersebut setidaknya mengimbangi representasi berlebih dari batik dalam museum. Betapa sayang pada kunjungan kali ini, saya merasa bahwa saya baru saja mengunjungi sebuah galeri batik, bukan sebuah museum tekstil. (ATD)


메타데이터
post_id
c97e30abfc2e
slug
berkunjung-ke-museum-tekstil-c97e30abfc2e
url
https://medium.com/@ranakota.id/berkunjung-ke-museum-tekstil-c97e30abfc2e
canonical_url
https://medium.com/@ranakota.id/berkunjung-ke-museum-tekstil-c97e30abfc2e
author_url
https://medium.com/@ranakota.id
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33