← Back to list

Sampah Yang Mengeras

Tak pernah terbiasa untuk bercerita, dari kecil seringnya tersenyum sendirian meskipun banyak amarah yang terasa. Seringnya juga, Aku…

KataCuts · 2026-03-24 12:39 · 0 claps · 2.3 min read
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Sampah Yang Mengeras

Tak pernah terbiasa untuk bercerita, dari kecil seringnya tersenyum sendirian meskipun banyak amarah yang terasa. Seringnya juga, Aku malahan menyalahkan diri dan mewajarkan amarah orang sekitar. Memang aneh.

Sekarang hampir 30. Punggung yang mulai bersuara, lutut yang ikut bersuara juga, tapi anehnya ini hati sama sekali tidak belajar bersuara. Awal tahun ini mulai rutin minta bantuan ke profesional. Sedikit demi sedikit mulai mengerti mengapa aku susah berbicara. Sebenarnya, tidak terlalu banyak yang bisa aku pahami. Bukan karena sang Psikolog yang kurang kompeten. Jujur, dia kompeten sekali. Ini soal Aku sendiri yang benar-benar lupa. Kata dia, “Kamu ini sudah banyak sekali sampah yang dipendam, sudah keras sampai menutupi apa yang harusnya terpikirkan.” Aku hanya diam sambil mencerna itu.

“Harus membuang sampah.” Batinku setiap hari.

Tapi, sampah apa ya yang aku simpan? Kusadari juga detik itu bahwa aku lupa segalanya. Makin menjadi juga suara kepala yang kasar tiada ampun. Kata-kata “Bodoh sekali aku” atau “Mampus kau bingung sendiri sekarang” sudah jadi sarapan setiap pagi. Kadang sampai lupa kalau Aku seharusnya sarapan makanan yang nyata, penuh protein dan serat, bukan sarapan makian. Dalam kurun 2 bulan, aku sudah menghabiskan 10 kilo massa badanku hanya untuk memikirkan semua ini. Tenang, aku juga sudah mencoba untuk mengurainya dalam bentuk jurnal. Tapi setiap aku memegang pena, badanku kaku, kepalaku seakan menabrak dinding tebal yang terbuat dari karbon, pandanganku gelap terbawa ke ingatan yang sama. Ingatan di hari itu, di mana makian terhebat yang pernah aku terima hadir dari seseorang yang kupandang hebat.

Badan gemetar, jantung berdebar seperti akan meledak 3 detik lagi, nafas yang ngos-ngosan seperti dikejar laba-laba raksasa. Terasa seperti kemarin kejadian itu terekam. Aromanya, anginnya, sayup suara kendaraan dan bau rokok kretek yang masih terbang di kamar dan menempel di sela telunjuk dan jari tengah tangan kananku. Aku benar-benar mengingatnya.

Sampai sekarang pun, aku masih menganggap makiannya adalah hal yang wajar. Kembali lagi, selalu mewajarkan amarah orang sekitar. Seharusnya sekarang aku ubah pikiran itu. Bagaimana caranya? Aku tak tahu juga. Aku benar-benar asing di dalam tubuhku. Seperti tulis Haruki Murakami kepada karakternya Tzukuru Tazaki, aku merasa aku ini “Cangkang Kosong”.

Yang Aku heran adalah, jika memang ada satu momen dalam diriku di masa kecil yang membuatku seperti ini, mengapa aku tidak kembali dalam ingatan itu? Malahan aku kembali ke momen yang sebenarnya adalah dampak saja dari masa kecil itu — yang sebenarnya aku tak mengerti juga sebenarnya ada atau tidak — .

Sekarang apapun yang Aku lakukan tak ada rasanya. Dulu Aku suka sekadar genjrang-genjreng gitar di kamar, sekarang sekadar melirik gitar saja aku malas minta ampun. Dulu aku menikmati game semalam suntuk, sekarang duduk di depan komputer saja aku sudah lelah. Aku serasa bukan Aku. Asing maksimal. Aku hanya bisa seperti ini saja, meracau dalam tulisan yang tak ada isinya. Sekadar mengurai apa yang detik ini aku rasakan. “Being present” kalau aku harus meminjam kata Psikolog itu.

Tapi aneh juga karena rasanya aku hanya mengalihkan diriku saja dari pikiran-pikiran aneh yang muncul. Aku berpikir, seharusnya aku hadapi dengan tegas semua perasaan yang muncul ini. Mengapa semua aneh di kepalaku? Apa bisa sebuah kata-kata makian jika diucapkan berkali-kali akan memunculkan efek sejauh ini? Tak bisa apa-apa melihat seorang abuser bisa tersenyum sedang aku jatuh bangun merangkak dengan sisa-sisa luka yang digoreskan, aku ini “Cangkang Kosong” atau “Manekin Hidup”?

Jiwaku habis, ragaku ikut habis. Aku yakin aku bisa selamat. Tapi Aku cukup yakin juga Aku akan kurus kering kerempeng kehabisan darah dan daging serta otak.

“Kalaupun harus tercabut, Aku rela melakukan itu demi ketenangan yang kekal”, doaku lagi setiap sebelum tidur.


메타데이터
post_id
c9980e2bc97c
slug
sampah-yang-mengeras-c9980e2bc97c
url
https://medium.com/@KataCuts/sampah-yang-mengeras-c9980e2bc97c
canonical_url
https://medium.com/@KataCuts/sampah-yang-mengeras-c9980e2bc97c
author_url
https://medium.com/@KataCuts
status
ok
fetched_at
2026-07-11 19:00:18