Danilla Idola Masa Remaja hingga Dewasa ini
Danilla Jelita Poetri Riyadi, atau yang lebih kita kenal dengan nama Danilla, adalah seorang penyanyi dengan banyak penggemar setia —…
Danilla Idola Masa Remaja hingga Dewasa ini

Danilla Jelita Poetri Riyadi, atau yang lebih kita kenal dengan nama Danilla, adalah seorang penyanyi dengan banyak penggemar setia — termasuk saya sendiri. Perjalanan saya mengenal Danilla dimulai pada tahun 2016, ketika saya masih duduk di kelas sebelas SMA. Waktu itu, saya menemukan musiknya melalui platform streaming SoundCloud.
Saya ingat betul, momen itu terjadi ketika saya sedang menggunakan ponsel Android Xiaomi milik saya. Ponsel tersebut terkenal boros baterai dan cepat panas jika dipakai terlalu lama. Lagu pertama Danilla yang saya dengarkan adalah “Ada di Sana”. Tembang ini menjadi teman setia saya di masa-masa galau khas anak SMA. Kini, setiap kali lagu tersebut terputar di telinga, saya langsung teringat kembali pada kenangan indah masa sekolah. Lagu ini pula yang menjadi pintu masuk saya untuk mengidolakan Danilla hingga sekarang.
Selain “Ada di Sana” yang berasal dari album Telisik, saya juga sangat menyukai lagu lainnya yang berjudul “Wahai Kau”. Lagu ini bahkan pernah saya gunakan sebagai “senjata rahasia” untuk merayu perempuan yang sedang saya dekati waktu itu, lewat pesan WhatsApp. Bagaimana tidak, liriknya begitu manis, seperti potongan berikut:
“Wahai kau yang kerap tersenyum manis di benakku Berhentilah agar ku sanggup tidur kali ini.”
Tidak hanya berhenti di album Telisik, saya terus mengikuti karya-karya Danilla hingga saat ini. Salah satu lagu terbaru yang berjudul “Tak”, dirilis pada awal tahun 2024, juga menjadi favorit saya. Lagu ini meninggalkan kesan mendalam berkat liriknya yang sangat pilu:
“Sengaja kurelakan Semua harapanku Di waktu terakhirku Berdua bersamamu Yang tak benar juga tuk menjadi satu.”
Lirik tersebut terasa sangat relevan dengan kehidupan saya, yang masih saja terbelenggu kenangan masa lalu. Mungkin pembaca sekalian juga merasakan hal serupa?
Baru-baru ini, Danilla merilis ulang album Telisik, tepat 10 tahun setelah pertama kali album ini dirilis. Momen ini tentu membuat saya dan banyak penggemar bernostalgia dengan karya-karya awal Danilla. Album ini mengingatkan kembali pada masa-masa ketika Danilla masih malu-malu dan belum sepenuhnya menunjukkan jati dirinya seperti sekarang. Selain itu, album ini membawa saya kembali ke masa-masa manis di tahun tersebut, sekaligus mengingat bagaimana band-band indie mulai bermunculan dan semakin dikenal masyarakat luas. Hingga saat ini, band indie menjadi salah satu elemen penting yang sangat mewarnai perkembangan musik Indonesia.
Pada tahun 2018, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan Danilla. Rasanya sangat haru sekaligus manis. Saat itu, saya meminjam kamera seadanya untuk memotret momen penampilannya di Purwokerto. Meski hasil fotonya tidak maksimal karena fokus utama saya adalah menikmati konsernya, pengalaman tersebut tetap menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya, saya mrebes mili — atau dalam bahasa Indonesia, merasa haru — ketika menonton sebuah konser musik.
Demikian tulisan saya tentang Danilla, idola saya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.
메타데이터
- post_id
- c99dd47b7fd6
- slug
- danilla-idola-masa-remaja-hingga-dewasa-ini-c99dd47b7fd6
- url
- https://medium.com/@mancure/danilla-idola-masa-remaja-hingga-dewasa-ini-c99dd47b7fd6
- canonical_url
- https://medium.com/@mancure/danilla-idola-masa-remaja-hingga-dewasa-ini-c99dd47b7fd6
- author_url
- https://medium.com/@mancure
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21