Berry Stains Part 5-1

Selama ini Jaynendra dan Ingga selalu berhasil menunda pembicaraan pernikahan dengan alasan masih mengejar tujuan masing-masing.
Ingga masih harus menyelesaikan studi lanjutannya, sementara Jaynendra sibuk mengurus pembukaan cabang perusahaan di Singapura. Sayangnya, alasan yang sama tidak bisa dipakai selamanya. "Jadi gimana progres kalian, Dra?" Pradipta Adhikara akhirnya membuka topik itu setelah hampir dua jam membahas pekerjaan. "Pa, kan kita baru bahas ini bulan lalu, loh." "Emang kerjaan kami bisa selesai secepat itu?" "It takes time, Pa. Bahkan tiga puluh persen aja masih belum tercapai." Jaynendra menurunkan kembali sendok yang baru saja terangkat. Tubuhnya masih lelah setelah bekerja keras selama beberapa bulan terakhir. Otaknya pun belum bisa berpikir jernih. Nafsu makannya langsung turun. Bahkan sekarang dia merasa mual. "Iya, Pah. Kuliah Ingga saja masih ada empat semester lagi." Ingga akhirnya ikut berbicara setelah melihat raut wajah Jaynendra yang mulai berubah. "Penelitian Ingga cukup nguras waktu dan tenaga, Pa. Kampus juga meminta untuk segera menyelesain disertasi. Jadi untuk sekarang, aku juga belum bisa fokus ke pernikahan."
Alasannya valid. Sebagai dosen yang sedang menempuh studi lanjut, Ingga memang memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit. "Kalian ini kenapa sibuk banget, sih?" Pradipta menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan kelamaan nundanya." "Umur kamu juga udah nggak muda lagi, Jay." Sambung ibu tirinya, yang otomatis membuat Jaynendra menoleh. Di sampingnya, Mahija bahkan sempat menyentuh paha Jaynendra berusaha untuk menenangkan. "Mah..." Mahija segera menginterupsi ibunya agar berhenti berbicara. Tetapi terlambat, karena ekspresi wajah Jaynendra sudah berubah tidak mengenakkan. Suasana seketika menjadi hening dan canggung.
"Benar apa kata mamamu, Nendra." Pradipta kembali menimpali. "Kalau kalian nggak segera menikah, nanti Papa susah dapat cucu." Jaynendra terkekeh mendengarnya karena dia sangat kesal. "Papah kalo mau punya cucu, gampang sih Pa" Suasana meja makan langsung hening. "Bahkan tanpa nikah pun Nendra bisa kasih papa cucu dalam waktu setahun aja" Pradipta langsung meletakkan sendoknya dengan keras. Membuat seisi meja kaget. "Maksud kamu apa, Jaynendra Adhikara!" Jaynendra membenarkan posisi duduknya dengan santai. Tatapannya bergantian mengarah pada mereka satu-persatu kecuali Mahija. Ujung bibirnya terangkat sedikit. Senyuman yang lebih mirip ejekan itu sebenarnya dia tujukan kepada dirinya sendiri.
"Pa.. semua orang juga sudah tau, kalo Nendra bisa mengandung." Kalimat itu membuat meja makan menjadi sunyi. "Nendra bisa kasih Papa cucu kapan saja..., Bahkan tanpa menikah" Jaynendra menyandarkan tubuhnya ke kursi Semuanya terdiam. Mahija menatap kakak sambungnya tak percaya "Nendra bisa pakai donor sperma, kalo memang itu yang Papa mau" Lanjut Jaynendra menatap nyalang Ayahnya. "JANGAN GILA YA KAMU, JAYNENDRA" Pradipta spontan berdiri dan membentak keras sehingga beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah mereka, tangannya memukul meja dengan geram. "JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN KAMU.." "Papah suruh kamu menikah dengan Ingga, supaya kamu ga perlu menjalani hal-hal seperti itu" "ini kamu malah mau punya anak tanpa pasangan?" "Pah, sudah Pah" Sekar, istri Pradipta berusaha untuk menenangkan suaminya sebelum suasana semakin memburuk. "Nendra, kamu jangan berfikir seperti itu" Nada suara sekar jauh lebih lembut "Minta maaf sama papa kamu, dan juga Ingga" "Itu tidak pantas, Nendra" Jaynendra menghembuskan napas panjang, lalu tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia. "Minta maaf?" Jaynendra bangkit dari kursinya, semua mata di meja tersebut fokus kepadanya. "Loh, bukannya papah yang memancing terlebih dahulu" "Saya hanya memberikan saran saja, tidak perlu terlalu dipusingkan" "Nendra!!!" Bentak Pradipta lagi, namun kali ini Jaynendra sudah tidak peduli. Ia menggeser kursinya ke belakang lalu membalikkan badan. Sebelum pergi, pandangannya berhenti pada Sekar. Tatapannya dingin, membuat wanita paruh baya tersebut menahan napas. "Maaf saya belum terbiasa dipanggil Nendra oleh anda, Mama Sekar" Suara Jaynendra terdengar tenang namun menusuk, membuat raut wajah sekar berubah tidak enak. "Karena hanya keluarga inti saja yang memanggil saya seperti itu" lanjutnya. Setelah mengatakan itu, Jaynendra melangkah pergi meninggalkan meja makan. " ANAK KURANG AJAR" "MAU KEMANA KAMU NENDRA..." Pradipta hampir mengejarnya jika Mahija tidak segera berdiri dan menahannya. "Pa, sudah Pa" Mahija menahan Pradipta "Biar saya yang menyusul Mas Jay" Namun sebelum Mahija melangkahkan kaki, sebuah suara memotong "Aku aja yang susul Kak Jay" Ingga berdiri sambil mengambil tasnya di kursi. "Soalnya aku kan tunangannya Kak Jay"
Mahija langsung terdiam. Langkahnya seketika terhenti. Ingga menundukkan kepala kepada orang tua Jaynendra. "Saya pergi dulu ya, Pa, Ma" Kemudian ia menoleh ke arah Mahija,
" Kak Mahi..." Mahija menatap Ingga, yang tersenyum kepadanya. Entah kenapa, senyuman itu membuat dada Mahija sesak. Dia tidak tau harus melakukan apa. Mahija hanya bisa melihat punggung wanita itu yang pergi menjauh. Membawanya kepada realitas bahwa dia bukan lagi orang yang berhak mengejar Jaynendra untuk dimiliki.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — - Di lokasi tak jauh dari restoran, sebatang rokok sudah terselip di bibir Jaynendra, tanpa berniat dia nyalakan. "I thought you quit smoking, kak" Suara wanita yang mendekat membuat pandangannya beralih, lalu tersenyum. "I do, That’s why i don’t carry a lighter anymore, but this" Jawab Jaynendra menarik rokok yang ada di mulutnya untuk ditunjukkan pada Ingga, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak. Jaynendra berhenti merokok, sejak dia menjadikan Agra menjadi sugar babynya . Agra pernah protes kalau bau tubuh Jaynendra seperti bapak-bapak umur lima puluh tahunan. Selain itu, rasanya saat dicium. Semenjak itu Jaynendra berusaha berhenti merokok, tetapi untuk orang yang sudah kecanduan seperti dirinya, langsung berhenti total tentu sangatlah sulit. Sehingga Jaynendra sesekali tetap merokok tanpa membakarnya. Terlebih jika dia ingin memakai jasa Agra, dia tidak boleh sama sekali menyentuh rokok.
Diantara semua sugar baby yang dia pelihara, hanya Agra yang berani menyuruhnya untuk berhenti merokok. Si bawel itu. "haha..” Jaynendra tertawa pelan mengingat tingkah aneh sugar babynya itu. Ingga yang menyadari perubahan ekspresi Jaynendra menatapnya dalam. "Kak..." "Hmm..." "Berondong kakak itu.. siapa namanya?" Ingga tanpa basa basi langsung menanyakan siapa laki-laki muda yang dia lihat bersama Jaynendra di hotel ketika di Jakarta. Jaynendra hanya memandang Ingga tanpa menjawab pertanyaannya. "Aku juga lihat kalian kemarin pas makan malam di food center" Ingga kembali melanjutkan "He looks young," "Did you check his ID?" Ingga ingin mencairkan suasana tetapi tidak bisa. Kali ini Ingga membalas tatapan Jaynendra. Mata bulat hitam yang dilihat Jaynendra saat ini masih sama seperti sepasang mata remaja yang pertama kali ditemuinya dulu. Ingga dan Jaynendra, sudah mengenal sejak lama. Perbedaan usia tujuh tahun membuat Jaynendra selalu memperlakukan Ingga sebagai adik saja, tidak lebih. Namun, Ingga tidak berpikir demikian. Rasa kagum Ingga bermula karena orang tuanya terus menerus mengelukannya sebagai anak unggulan di keluarga Adhikara. Lama-kelamaan kekaguman itu berubah menjadi obsesi. Jaynendra menjadi pria yang diidamkan Ingga untuk dijadikan tumpuan terakhir dalam hidupnya.
Ingga sangat patah hati ketika dia mengetahui Jaynendra memiliki kekasih. Tidak hanya sekali. Jaynendra dulunya dikenal sebagai casanova yang sering berganti kekasih dalam waktu singkat. Tetapi ketika Ingga hampir menyerah kala itu, ia mengetahui fakta jika Jaynendra sengaja menyebarkan rumor tersebut dikarenakan lelah dikejar-kejar oleh para pengagumnya. Kenyataan itu mebuat Ingga semakin yakin untuk mengejar Jaynendra. Sampai akhirnya, Ingga mendapati Jaynendra sedang menjalin hubungan serius dengan asisten pribadinya sendiri. Mahija Pratama. Ingga membencinya. Bertahun-tahun dia menunggu untuk memiliki Jaynendra, tetapi kesempatan itu hilang lagi.
Ingga yang sedang terluka hatinya, mengadu kepada orang tuanya. Karena rasa sayang yang teramat besar, kedua orang tua Ingga menghubungi orang tua Jaynendra untuk menjodohkan mereka berdua, dengan iming-iming pengembangan usaha bagi keluarga Adhikara.
Jaynendra sempat menolak perjodohan tersebut, hanya saja hatinya goyah ketika sang ayah yang menjadi orang tua tunggal itu jatuh sakit setelah mereka bertengkar hebat. Ibu Jaynendra sudah pergi meninggalkannya sejak kecil, sehingga Jaynendra sangat terikat kepada Ayahnya. Apapun yang Pradipta suruh pasti akan Jaynendra kerjakan. Begitu pula perihal perjodohan ini. Jaynendra dan Mahija yang masih memiliki hubungan terpaksa harus putus. Namun setelah beberapa lama, mereka kembali berhubungan secara diam-diam. Ingga tidak mau melepaskan Jaynendra, dan Jaynendra juga tidak mau melepas Mahija. Ingga yang lagi-lagi merasa terkhianati oleh Jaynendra, kembali berusaha untuk membuat mereka berpisah dan tidak akan bisa untuk kembali bersama, sekuat apapun usahanya. Ingga lalu berusaha mendekatkan Pradipta Adhikara dan Sekar Ayuningrum agar mereka menikah. Kesendirian yang terlalu lama, membuat Pradipta dengan cepat menautkan hatinya kepada Sekar tanpa Ingga berusaha keras. Pernikahan mereka membuat hubungan Jaynendra dan Mahija benar-benar selesai. Terlebih ketika Pradipta mengambil hak asuh Mahija secara legal, sehingga nama belakang Mahija diganti menjadi Adhikara.
Hubungan keduanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah sekalipun, norma masyarakat tidak akan membenarkan hubungan saudara tiri ini. Ingga seharusnya senang, tetapi ternyata Jaynendra masih di luar jangkauannya. Jaynendra diketahui memelihara pemuda yang umurnya masih muda, bahkan lebih muda dari Ingga untuk digunakan sebagai pelampiasannya.
Salah satunya adalah Agra. Pemuda yang dibawa Jaynendra ke Singapura, merupakan pemuda kesekian yang dia lihat setahun ini. Sesakit itukah berpisah dengan Mahija? Kenapa bukan dia saja yang menjadi pengalihan. Hati Ingga hancur lagi.
Bahkan dalam pertengkaran di meja makan dengan Pradipta tadi, Jaynendra pun tidak memperhitungkan kehadiran Ingga di dalam keputusannya untuk mengambil donor sperma. Kenapa harus pemuda-pemuda itu yang tidur dengan Jaynendra. Kenapa bukan dia. Ingga sudah putus asa, sampai akhirnya dia menyerah. Menyerah akan cintanya Jaynendra. 'kamu itu udah kakak anggap sebagai adik, Ingga' 'Kakak sebenarnya ga bisa, kalau harus menikah sama kamu' Kalimat menyakitkan itu sering muncul disaat-saat seperti ini. Ingga selama ini berusaha untuk menahan Jaynendra pergi dengan menunda-nunda pernikahan. Karena Ingga yakin, dengan mempercepat pernikahan semakin cepat juga Jaynendra mencari cara untuk pergi. Keduanya masih terdiam dalam keheningan malam, saling menatap jauh ke dalam manik mata masing-masing. "Ingga.." Akhirnya Jaynendra membuka suara Namun Ingga lebih dulu menggeleng "Ingga tau apa yang kakak mau bilang" Ingga menghirup udara malam Singapura perlahan mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Tapi bolehkan Kak, Ingga berharap ada secuil rasa suka ke aku? bukan sebagai seorang adik. “ Suara Ingga bergetar. Pertanyaan itu mengiris hati Jaynendra, karena dia tidak mau menyakiti Ingga. Tapi kali ini dia harus tegas, karena dia tidak akan bisa mengubah perasaannya kepada Ingga sampai kapanpun. Kebisuan Jaynendra sudah cukup menjadi jawaban, membuat mata Ingga memanas lalu dia perlahan air matanya jatuh. Sendirian. Tanpa adanya rengkuhan hangat dari Jaynendra.
메타데이터
- post_id
- c9f12cd9911e
- slug
- berry-stains-part-5-1-c9f12cd9911e
- url
- https://medium.com/@PandanEspresso/berry-stains-part-5-1-c9f12cd9911e
- canonical_url
- https://medium.com/@PandanEspresso/berry-stains-part-5-1-c9f12cd9911e
- author_url
- https://medium.com/@PandanEspresso
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 06:47:43