#181: Merasa Takut
“Saya merasa takut tak mampu..ternyata?”
#181: Merasa Takut
“Saya merasa takut tak mampu..ternyata?”
Saat menerima berita bahwa paper saya diterima pada sebuah simposium internasional di Malaysia baru-baru ini, saya terpikir banyak hal. Bisakah saya mempresentasikannya nanti? Apakah cukup baik dan membuat banyak orang tertarik padanya?
Baca selengkapnya klik TAUTAN UNTUK TEMAN
Photo by Benjamin Wedemeyer on Unsplash
Pemikiran itu mengganggu, terutama ia muncul, hadir dalam pikiran berulang kali saat saya mulai merapikan penulisan papernya untuk diterbitkan dalam ***prosiding (berupa buku pdf).***
Kekhawatiran itu berusaha saya tekan, ketakutannya saya kunyah perlahan dan saya makan. Sebab rasa khawatir tersebut membuat saya teringat tulisan Ki Hadjar Dewantoro (KHD), pada bukunya tentang “Pendidikan.” Sepertinya ada buah pikir KHD yang akan menguatkan saya.
“Dari teori konvergensi, watak manusia kemudian dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama dinamakan intelligibel, yakni yang berhubungan dengan kecerdasan angan-angan atau pikiran (intelek), dan yang dapat berubah menurut pengaruh pendidikan dan keadaan. Sedangkan yang kedua dinamakan bagian yang biologis, yakni yang berhubungan dengan dasar hidup manusia dan yang dikatakan tidak akan dapat berubah lagi selama hidup”
Saya akan memfokuskan mencari solusi ketakutan saya, dengan berfokus pada pemikiran KHD tentang intelligibel, yang ia sebutkan dapat berubah karena pengaruh. Intelligibel adalah hal-hal terkait keadaan diri berupa kelemahan pikiran, kebodohan, kurang cepatnya berpikir dan lainnya. Pendek kata, keadaan pikiran, serta pula kecakapan untuk menimbang-nimbang atau merasa-rasakan kuat lemahnya kemauan.
Menjadi Berani
KHD melanjutkan dalam tulisannya “seringkali anak yang “penakut” itu sesudah mendapat didikan yang baik, lalu hilang rasa takutnya. Ini sebenarnya bukanlah anak itu lalu menjadi orang yang berwatak pemberani, hanya saja rasa takutnya (yang asli) itu tidak nampak, oleh karena ia sudah mendapat kecerdasan pikiran, hingga pandai menimbang-nimbang dan memikir-mikir, kemudian dapat memperkuat kemauannya untuk tidak takut.”
“Itu semuanya dapat menutup rasa takutnya yang asli tadi. Oleh karena ketakutannya itu hanya tertutup saja oleh pikirannya, maka anak tersebut ada kalanya diserang rasa takut dengan tiba-tiba, yaitu ketika pikirannya tidak bekerja. Kalau ia tidak mengusahakan berpikir, maka seketika itu dorongan dasar biologisnya akan ia turuti dan ia menjadi penakut kembali.”

Giliran saya presentasi (sumber: pribadi)
“Demikian pula, orang yang bertabiat pemalu, pemarah, dan yang lainnya. Selama ia sempat memikir-mikirkan segala keadaan yang ia alami, dapat juga ia nantinya tidak memperturutkan nafsunya untuk tunduk pada dorongan semata, tetapi jika pikirannya bergerak, ia gunakan maka ia akan mampu mengelola rasa tersebut.”
Mengalami Peristiwa
Semenjak membaca bagian tulisan KHD tersebut beberapa tahun lalu, saya kerap membaca ulang jika sedang galau.
Tentu saja, membaca untuk menguatkan kesadaran bahwa melalui pendidikan, kelemahan seseorang dapat tersiasati. Dengan begitu, ia mampu menjadi orang yang selamat dan bahagia dalam kehidupannya.
Ini berarti, ia mampu menggunakan kekuatan dirinya untuk menghadapi tantangan kehidupannya. Soalan, cabaran atau chalenges tidak ia jauhi. Tetapi ia pahami bahwa itu adalah ruang dan peluang untuk menguatkan dirinya sendiri.
Sama seperti yang saya alami kemarin. Ketika akhirnya tampil di podium untuk membagikan gagasan pemikiran saya dalam bentuk penelitian yang dilakukan.
Saya menulis sebuah penelitian tentang bagaimana peluang dan peran TBM yang sebaiknya melakukan perluasan peran, agar tetap relevan dalam perubahan jaman. Tulisan atau artikel penelitian saya itu dapat dibaca di sini.
Meski grogi mulanya, saya kira saya bisa membawakan presentasinya dengan baik. Walau ada sedikit kendala teknis, misalnya slidenya yang cepat sekali berpindah sebab nampaknya pointernya sangat peka dengan sentuhan.
Sebuah Pertemuan
Apa yang kemarin saya alami, dapat menjadi batu pijakan ketika akan mengalami hal lainnya. Berbicara di depan banyak orang, dalam sebuah kesempatan internasional.
Boleh saja kita tinggal di sebuah kota kecil, tetapi sebaiknya pemikiran kita mesti melampaui sekat-sekat kota, daerah, wilayah. Pengalaman membuat perspektif kita meluas dan berkembang.
Pertemuan kemarin, yang diikuti 200an peserta, dengan 20 pemakalah dari enam negara membuat saya berjejaring dan berkenalan dengan beberapa peneliti dan pegiat dari Singapura, Malaysia, termasuk dari China.
Di hari terakhir, peneliti yang mengajar di salah satu perguruan tinggi di China mengajak kami berkeliling bersama. Saya bersama tiga orang teman dari Indonesia. Kami diajak ke salah satu tempat melihat benda-benda antik di pasar seni Malaysia. Yang mengagetkan ketika sampai di sana, mendengar lagu timur “ngapain repot” yang sangat hit saat ini diputar dengan keras.

Bersama Dr. Ng Siaw Hung (sebelah saya), orang Malaysia dengan garis Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Pontianak. Ia mengajar di Guangxi Minzu University. Yang lainnya ada Dr. Puguh, juga Mbak Retha, pengajar dari Ilmu Perpustakaan UI, dan Mpok Iyah dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Pada makan siang selepas Dr. Ng presentasi, ia kemudian akan makan siang di ruangan makan. Ketika sementara berdiri dan mencari tempat duduk, saya melihatnya sedang (seperti) mencari teman. Saya mengambil inisiatif untuk mengajaknya makan bersama dengan teman-teman peneliti dari Indonesia, kebetulan ada satu kursi yang masih kosong.
Dari ajakan itu, ia menyambutnya. Dia datang, duduk dan berdiskusi. Saya yang pamit sebentar ke belakang, ketika kembali melihatnya sudah asyik saja ngobrol dengan yang lain. Iseng saya tanya, apakah teman-teman lain sudah kenalan secara formal, artinya jabat tangan begitu dengannya, ternyata belum.
Jadilah, kali kedua saya berinisiatif kembali berkenalan secara formal, menceritakan siapa nama dan kami dari mana. Obrolan ringan dan receh yang kemudian mencairkan suasana. Dari sanalah, dari inisiatif-inisiatif kecil, dari dorongan untuk mengenal, belajar, mendengarkan, dan terkoneksi kemudian kami yang duduk satu meja itu merasa saling terhubung. Akhirnya, datanglah tawaran untuk berkeliling ke lokasi sekitar kami tinggal.
Dari rasa takut, muncul keberanian. Yang ternyata melalui pembelajaran, percobaan, keberanian mengalami maka pikiran kita mampu menyiasati rasa takut yang mulanya hadir pada diri.
Sekali lagi, dari rasa takut di awal, yang dibutuhkan hanya satu langkah kecil. Pikiran yang mau terus bergerak.
메타데이터
- post_id
- ca01d64ab2af
- slug
- 181-merasa-takut-ca01d64ab2af
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/181-merasa-takut-ca01d64ab2af
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/181-merasa-takut-ca01d64ab2af
- author_url
- https://medium.com/@dayourifanto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 05:19:05