“Percayalah!Sebelum Kau Pinang Dia, Pinanglah Seorang Guru”
Dengan penuh kesadaran, sayaberani memberikan judul yang seolah seperti orang yang sudah menikah memberikan petuah kepada handai taulan…
“Percayalah! Sebelum Kau Pinang Dia, Pinanglah Seorang Guru”

Dengan kesadaran yang perlahan tumbuh di tengah hiruk-pikuk ujian pascasarjana dan dinamika tugas mengajar, saya memberanikan diri memberi judul yang barangkali terdengar seperti wejangan seorang yang telah lama berumah tangga.
Akhir-akhir ini, saya sengaja mengalokasikan sebagian energi untuk menelusuri makna pernikahan, tentang keluarga, nafkah, mahar, relasi, dan segala ruang di antaranya. Saya menyebutnya sebagai agenda mendesak: menelaahnya terlebih dahulu, bukan tergesa-gesa melakukannya. Meski, mungkin saja suatu hari pelaksanaannya pun menuntut dorongan yang sama kuatnya.
Dalam benak saya muncul kesadaran baru bahwa jika terus larut dalam hobi, apalagi yang begitu menyenangkan seperti berlari, saya akan terlalu nyaman merasa muda, seolah waktu tak pernah menepuk bahu. Bukan berarti hobi itu keliru, hanya saja ada sisi diri yang perlu diingatkan untuk tidak terlena.
Saya telah membaca sejumlah buku yang membahas pernikahan, baik dari perspektif Islam maupun psikologi umum. Semuanya menawarkan sudut pandang yang menarik, dan saya merasa keduanya perlu diramu secara seimbang agar perjalanan hidup kelak berjalan dalam harmoni.
Namun ada satu perkara yang tak henti bergema di pikiran saya. Entah mengapa, padahal topik ini jarang diangkat dalam berbagai podcast pernikahan. Mungkin karena saya seorang pendidik, sehingga saya melihat betapa besarnya pengaruh pendidikan, atau lebih tepatnya relasi guru dan murid, yang dijalani dengan sehat. Ia meninggalkan jejak, membentuk karakter, dan menghadirkan perubahan. Dan saya mulai menyadari bahwa kualitas relasi itu, dalam bentuknya yang paling manusiawi, juga memiliki tempat yang amat penting dalam perjalanan sebuah pernikahan.
Carilah Guru
Anda mungkin membayangkan jika suatu saat nanti semua persiapan meminang telah kaupegang. Sejumlah harta. Sebongkah emas. Bermacam-macam seserahan. Bertumpuk-tumpuk pula buku pranikah di lemari kamarmu.
Sebagai lelaki pun engkau telah rajin berolahraga, menjaga pola makan, diet dari gula dan soda, rajin sikat gigi, belajar mengatur keuangan, bahkan sampai menghindari segala undangan kegiatan yang membuat dirimu boros. Bagi saya, ada satu yang mungkin anda lupakan, engkau luput satu hal. Yaa seorang guru, bagi menambat jiwamu yang kosong dari cahaya yang bernama iman.
Bisa jadi engkau sudah merasa cukup. Percaya diri karena merasa cukup dengan riwayat menempuh pendidikan di pesantren. Mungkin paman atau kakekmu adalah ustadz kondang. Barangkali calon mertuamu adalah juru dakwah ternama.
Bagian yang saya tekankan dalam ini, semuanya tentang belajar mengikat diri dari gelombang laut besar di usia dewasa bernama kesesatan. Percayalah, kelak engkau akan sibuk mencari nafkah. Akhir pekanmu akan sulit diluangkan. Sejak hari ini, belumlah terlambat mencari guru itu.
Media sosial atau video kajian keislaman mungkin bisa menjadi obat bius bagi kebodohan kita barang sejenak. Tetapi, yang harus kita sadari video-video dan unggahan itu tak akan menegur kelakuanmu bila keliru. Unggahan-unggahan itu tak akan membuat hafalan quranmu bertambah atau sifat kenanak-kanakanmu berubah.
Video-video itu tak akan dengan berani meluruskan keegoisanmu, tidak pula sungguh-sungguh menenangkanmu dari segala bencana rumah tetangga yang membayang kelak.
Hanya gurumu, hanya guru sekali lagi, yang dapat memberimu telinga lapang itu.
Calon suami yang baik, engkau selalu berjanji akan mengajari anakmu cahaya demi cahaya bernama Islam. Engkau selalu bersumpah menjadi lelaki baik yang saleh di depan calon perempuanmu.
Jangan ragu-ragu. Carilah guru. Mintalah ia menyimak hafalan quranmu. Mohonkan padanya, merangkai untai demi untai hukum ibadah, halal dan haram, adab dan akhlak. Tautkan doamu dengan doanya. Jadilah lajang yang rendah hati, dengan bijak mau mengakui kebodohannya.
Akan datang, sekali lagi akan datang masa-masa saat engkau begitu dekat dengan kesesatan, terlalu jauh dari sholat, dan istrimu tidak mampu mengingatkanmu, karena engkau begitu dominan. Karena anda begitu kuat, begitu lantang dengan ketergelinciran itu.
Meski istrimu seorang hafizah, meski engkau seorang hafiz, meski keluargamu adalah rantai sebuah pondok pesantren besar, di saat itu, hanya gurumu saja yang terus kau kunjungi sepekan sekali, yang mampu menamparmu dari kesatan itu.
Ini semua karena engkau lelaki. Allah menciptakan laki-laki lebih kuat dari perempuan mana pun di bumi ini. Dari lisanmulah, anak akan belajar bereaksi pada segala takdir yang menimpanya. Dari caramu berkehendaklah, anakmu akan belajar memilih mana kehendak baik, mana kehendak buruk.
Pasang-Surut Hubungan
Coba saya berikan contoh cerita seperti ini.
Sepasang kekasih berkenalan. Mereka tidak berasal dari kalangan orang yang memang belajar agama secara akademik, tetapi juga tidak berusaha mencari guru atau mencari pandangan-pandangan keagamaan. Memang, keduanya dikenal lurus-lurus saja. Sholat, liwa waktu sehari. Puasa Ramadhan. Cukup melek zakat dan cukup menutup aurat.
Mereka menjalani proses perkenala antar keluarga. Lalu, tak lama kemudian, menikah. Sampai di sini, semua tampak baik-baik saja. Pagi hari mereka masihlah penuh canda, dan keromantisan masih menghiasi ruang keluarga mereka.
Tetapi, suatu saat, sang suami mulai menampakkan tanda-tanda kelelahan. Kelelahan itu, datang dari pekerjaannya yang benar-benar tidak bisa dijeda. Datang pula kelelahan itu dari istrinya yang terus mengeluh. Datang juga dari ketakutannya untuk keluar dari tempat kerja lama karena ada yang harus ditanggung di rumah.
Sang istri, pun begitu. Ia mulai merasa jengkel dan bosan dengan suaminya. Kelelahan telah membuat sang suami menjadi kasar, jadi suka mengeluarkan nada tinggi di rumah dan itu sangat menyakitkan bagi sang istri.
Sindiran-sindiran mulai dilayangkan. Sang suami, yang tidak peka, memilih istirahat di luar rumah, di kafe, atau pergi bersama teman, karena istrinya menambah kelelahan baru. Sang istri yang merasa tak didengarkan mulai menampakkan gejala tertekan dan depresi.
Ia mulai sering menangis sendiri. Ia mulai ingin pergi. Mulai ingin menikmati hidup tanpa laki-laki.
Mereka terlanjur tak punya tempat bertanya. Saat suami dan istri secara terpisah bertanya kepada teman, nasihat yang datang cuman sebatas, “Kalau aku jadi kamu….”
“Kalau menurutku sih…”
“In my opinion…”
Akhirnya, saran-saran itu tidaklah memberikan jalan keluar. Saran-saran itu berubah jadi benang kusut yang makin memperumit masalah. Sepasang suami istri itu hanya menjalani rumah tangga dengan insting dan kutipan, bukan dengan ilmu.
Sementara, bila ada kajian, atau kesempatan belajar yang datang, dalam hati masing-masing sudah ada prasangka buruk atau hambatan; kami sibuk, kami sudah tua, kami sudah tak punya waktu dan biaya untuk ikut hal-hal semacam itu…
Begitulah akhirnya mereka justru termakan berita-berita atau artikel sepintas lalu, yang akhirnya, bukannya memberikan solusi dan berusaha menengahi keadaan, malah memberikan jalan bagi pertengkaran baru. Muncullah istilah-istilah toxic marriage,toxic masculinity, dan lain-lain sebagainya.
Warna istilah itu, selalu diarahkan untuk menghancurkan lembaga keluarga dan pada gilirannya membuat para perempuan membebaskan diri dari aturan agama yang di-framing seakan-akan menekan.
Bagi saya, berkeluarga dengan insting saja itu sangat mengerikan. Komunikasi antara dua manusia yang berbeda itu sangatlah melelahkan kalau tidak disertai pemahaman mengenai masing-masing fitrahnya. Bekerja sama sebagai keluarga itu sangat sulit kalau tidak paham apa tugas keluarga dan apa yang diinginkan Islam dari keluarga umatnya.
Janganlah malu. Carilah guru. Datanglah ke masjid dekat rumahmu. Sapalah lelaki tua itu; guru di masjid yang selalu mengenalimu tetapi tidak pernah kautemui itu.
Carilah guru. Sambungkan ibadahmu dengan ibadah Rasulullah, melalui guru itu.
Jadilah lelaki yang layak ditiru oleh anaknya kelak. Lelaki, yang adabnya kepada guru akan membuat anaknya segan berbuat maksiat. Lelaki, yang kisahnya saat mencari ilmu yang menjaga anaknya dari setan-setan kecil dalam wujud kalimat, “Ayah saja malas belajar agama”
Jadilah lelaki yang memutus mata rantai mantra hitam semua anak di dunia ini, “Ayah saja tidak pernah sholat….”
“Ayah saja tidak pernah mengaji….”
“Ayah saja tidak hafal Al-Qur’an….”
“Ayah saja gengsian…..”
“Ayah saja tidak belajar agama….”
Jangan jadi sebab tangisan istrimu kelak karena alasan sederhana:
“Suami saya tidak paham agama. Di waktu muda dia tidak mau berguru karena merasa cukup….”
“Suami saya tidak pernah imami sholat keluarga karena tidak mengerti caranya….”
“Suami saya boros, lalai, pemarah, karena taka da yang bisa menegurnya….”
Sahabat, sudah saatnya kita merancang keluarga semacam apa yang ingin kita bangun. Sudah saatnya menggambar masa depan dengan jelas dan melempar cita-cita besar. Keluarga muslim adalah keluarga yang penuh dengan cita-cita. Keluarga yang diarahkan oleh ilmu, yang dibina oleh guru. Bukan keluarga naluri semata-mata.
메타데이터
- post_id
- ca1fdcf8f0a8
- slug
- percayalah-sebelum-kau-pinang-dia-pinanglah-seorang-guru-ca1fdcf8f0a8
- url
- https://medium.com/@faiz.amanatullah09/percayalah-sebelum-kau-pinang-dia-pinanglah-seorang-guru-ca1fdcf8f0a8
- canonical_url
- https://medium.com/@faiz.amanatullah09/percayalah-sebelum-kau-pinang-dia-pinanglah-seorang-guru-ca1fdcf8f0a8
- author_url
- https://medium.com/@faiz.amanatullah09
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 04:21:51