← Back to list

Fact check with Joycelline

“Pada nanyain lo nih.”

haechansplit · 2025-10-03 20:01 · 2 claps · 7.1 min read
#alternative-universe #ospek
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Fact check with Joycelline

“Pada nanyain lo nih.”

Tadi pagi setelah Joy mengetuk pintu kamar Kaylie — meski seperti ingin mendobrak, akhirnya keduanya sepakat untuk mulai berkeliling Bali hari ini. Perhentian pertama mereka ada di salah satu caffe and bar yang ada di bibir pantai Canggu.

Kaylie yang duduk di depan Joy mendongak tak tertarik. Ia memutar bola matanya malas, kemudian melanjutkan memakan cookies di hadpannya. “Mereka tau gue sama lo?”

“Kagak. Ini Zetta sama Jeffryan aja, sih, nanya, gue ada liat lo gak.”

Kaylie mengangguk saja kemudian menyeruput minumnya.

“Lo rencana mau kabur berapa lama, dah?”

“Nggak tau juga.”

Tatapan Joy sekarang berubah jadi lebih iba. Sudah empat hari mereka berdua bersembunyi dari dunia. Hari pertama sampai ketiga Kaylie hanya berdiam diri di dalam villa. Bahkan Joy tak tau apa yang dilakukan gadis itu dalam kamarnya. Di pagi hari ketika Joy ingin pergi berolahraga, ia selalu menyempatkan diri mengetuk pintu Kaylie. Namun, hari pertama dan kedua gadis itu baru bangun pukul 3 sore. Di hari ketiga, ia terbangun hanya untuk minum. Sedangkan Joy punya banyak teman yang bisa ia kunjungi di sini, jadi setelah berolahraga ia akan pergi bermain bersama temannya. Pulang larut, pintu kamar Kaylie sudah kembali terkunci.

Joy tidur di kamar utama, di samping kamar Kaylie. Mereka hanya dibatasi tembok, namun nyaris 3 hari Joy tetap tak bisa melihat temannya itu. Terkadang Joy mengajak mengobrol, tapi Kaylie tetap berada di dalam kamar. Obrolan terbatas karna pintu, Joy pada akhirnya akan menyerah dan memberikan Kaylie tenang yang ia butuhkan.

Jadi meski sudah nyaris satu minggu bersama, hingga hari keempat ini, mereka belum saling mengetahui motif masing-masing untuk kabur. Namun, melihat sikap Kaylie yang lebih muram dari biasanya, Joy menebak permasalahan gadis itu pasti lebih berat.

“Masalah lo, tuh, sama si Doy, ya?” tanya Joy kini meletakkan ponselnya dan menatap Kaylie penuh.

Ada jeda yang cukup panjang, Joy bisa melihat Kaylie sedang ragu untuk mengungkapkannya. Joy jadi segan, takut pertanyaannya melewati batas.“Kalau lu nggak mau cerita gapapa, sih.”

“Lo dulu, deh, kenapa ke sini sendirian.”

Wajah Joy berubah seketika, dengan semangat mulai menceritakan kisahnya, “Bokap gue sama bokap Selena temenan. Kemarin waktu Selena seminar proposal, bokapnya bikin SW[1] nyelamatin Selena. Dari situ bokap selalu nanyain kenapa gue belum seminar proposal. Selena juga jadi ikut ngerecokin gue tiap hari, gue tau, sih, maksud Selena baik mau nyemangatin gue buat ngerjain. Cuman gue, tuh, males ngerjain kalau dipaksa. Ya udah daripada semua orang maksa gue, mending gue kabur.”

Tawa Kaylie pecah, bukan karena cerita Joy lucu. Gadis itu bisa melihat kesamaan di antara mereka. Keduanya kesulitan mengikuti ekspetasi orang tua, terlebih pada masa skripsi ini. Bukannya berkurang, malah semakin banyak beban yang ditaruh.

Joy menatap Kaylie jengkel, tersinggung dengan tawa gadis itu. Kaylie yang menyadarinya buru-buru menjelaskan, meski kesusahan menahan tawanya. “Gue nggak ngetawain lo. Cuman, masalah kita ternyata mirip.”

“Kenapa lo? Perasaan lu baru semhas[2], paling cepet lagi dari semua orang. Apaan masalah orang tua lu?”

Pernyataan Joy itu ada benarnya, seharusnya dia tidak perlu merasa terbebani lagi. Namun nyatanya, ia malah makin merasa terdesak.

“Bokap gue, tuh, kinda control freak. Dia kayak punya jadwal dan aturan yang harus gue turutin tiap saat. Lo tau paling anehnya, gue udah punya schedule dari sempro sampe semhas. Berapa jam gue ngerjain skripsi, berapa lama bisa berhenti, berapa lama durasi makan gue.”

Joy tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya, bahkan kini ia sudah mengangga dengan wajah melongo. Kaylie yang melihat itu jadi tertawa, kemudian melemparkan tisu ke wajah gadis itu. “Biasa aja.”

Tisue itu jatuh ke tangan Joy setelah kena tepat ke wajahnya, gadis itu mendelik kemudian melempar kembali ke Kaylie. “No offense, tapi bokap lu freak aja sih.”

None taken. Bokap juga galak, makanya gue, tuh, dari kecil nurut aja sama dia. Tapi akhir-akhir ini tuh rasanya gue overwhelmed buat ngikutin semua kemauan dia. Gue pusing sama skirpsi terus bokap masih nuntun ini itu, harus ngabarin tiap saat dimana aja, harus ngasih tau progress.”

Joy kini menganggung, paham pasti berat untuk diatur-atur seperti itu. “Jadi ini tuh kayak bentuk rebellious lu karena diatur-atur bokap lu?”

“Daripada mau berontak, gue lebih pengen nunjukin kecewa gue.” Kaylie memberi jeda, memberishkan remahan cookies yang terjatuh di celananya. “Gue udah berusaha yang terbaik, Joy. Gue udah ngikutin time line bokap gue tapi ternyata gue masih terlambat seminggu dari harapan bokap gue. Kayaknya dari situ Papa jadi makin ngedesak gue. Bahkan sampe nyalahin gue, nyalahin cowok gue, tau apa yang paling aneh? Kucing gue juga ikut salahin katanya bikin gue gak konsentrasi.”

Joy terbawa suasana, sudah ingin menepuk bahu Kaylie sebelum gadis itu memberikan penjelasan terakhirnya yang malah membuat Joy terbahak seketika. “Kenapa, tuh, kucing ikut disalahin?”

“Bokap tau gue dulu nggak suka kucing, sekarang sok melihara. Kucing gue ganggu konsentrasi buat ngerjain skripsi katanya. Terus dia nyalahin Doy bilang kalau itu pasti hasutan Doy.”

“Bokap lu se-gak suka itu sama Doy apa gimana, sih? Masa perkara kucing aja jadi salah Doy.” Tanya Joy ditengah tawanya yang sudah pecah.

Kaylie tersenyum tipis, “Dari dulu bokap emang galak sama semua cowok yang deket sama gue. Karena gue anak satu-satunya dan cewek. Jadi aturannya emang dari dulu banyak banget. Katanya demi keselamatan gue, lah. Terus mungkin Papa makin galak karena hubungan gue sama Doy kelihatan serius.”

“Lah, bukannya Doy sering mampir ke rumah lu yang di Bekasi?”

“Emang sering.”

“Terus nggak ada progress tuh hubungan mereka membaik?”

Kaylie menggeleng lemah, “Kalau ketemu di rumah, Doy main sama nyokap gue. Mana habis semhas kemarin hubungan mereka makin buruk.”

“Kenapa?” Joy mendekat, makin tertarik dengan cerita Kaylie.

“Lo liat kan kemarin waktu gue semhas bonyok gue dateng?”

Joy mengangguk dengan semangat.

“Bonyok dateng disupirin Jeffryan.”

“PANTES JEFFRYAN SAMA DOY HARI ITU KAYAK MAU BUNUH-BUNUHAN!” Teriak kaget Joy mengundang perhatian dari pengunjung caffee lain, beberapa memberikan tatapan sinis yang membuat Kaylie memukul tangan temannya itu.

“Biasa aja, ih!”

I almost had a heart attack!” seru Joy berlebihan.

“Ya, apa lagi gue waktu itu.” Balas Kaylie lemas, “Doy bete karena itu tapi dia juga nggak bisa marah sama gue. Habis itu gue juga jadi berantem sama Bokap. Habis marah sama Bokap gue juga jadi berantem sama Jeffryan, Zetta.”

“Intinya gue nyalahin Jeffryan yang mau-mau aja disuruh bokap gue. Terus Jeffryan dia cuman mau bantu dan segan nolak permintaan Bokap gue. Menurut gue alasannya sampah, tapi Zetta belain Jeffryan. Makanya sampe sekarang, nih, kita berantem.”

Joy menyeruput minum Kaylie, sembari menangguk setuju. Kaylie yang melihat itu mendelik sebal, “Lo juga setuju sama mereka apa sama gue?”

“Sama mereka, sih. Ya gimana, jir, coba lu jadi Jeffryan. Bokap gue minta tolong dianterin ke sempro gue. Lo nolak nggak?”

“Ya kalau lu udah ada cowok, gue ngabarin cowok lu dulu lah.”

“Tapi bokap gue mintanya lu, kalau lu lempar ke orang lain bisa aja bokap gue nganggep lu nggak mau bantuin dan itu nggak sopan. Lu bisa tetep nolak? Lagian kalau mau ngabarin juga ya buat apa kalau akhirnya tetep dianter sama Jeffryan. Cuman bikin cowok lu marah lebih cepet. Sebenernya emang semua posisi Jeffryan bakal bikin Doy tersinggung.” Jawaban Joy yang begitu santai itu membuat Kaylie jadi tertegun.

Mungkin Jeffryan benar, dia bias.

Kaylie menunduk mulai menyadari salah satu kesalahannya. Dunianya memang terlalu berpusat di Deandoy, sampai dia menyakiti teman-temannya karena Deandoy.

“Gue berlebihan, ya, belain cowok gue?” tanya Kaylie dengan nada sedih.

Aktivitas Joy yang tadinya menikmati makanan sembari mendengar cerita Kaylie jadi terhenti. Ia menatap cewek itu dengan serius. “Nah, tapi lu juga nggak berlebihan. Wajar, sih, lo belain Doy. Gue juga jadi Doy gila. Udah dibikin tersinggung, tapi gak bisa marah. Ke Bokap lu nggak mungkin, ke Jeffryan, temen-temen lu malah bela Jeffryan. Ya kasian juga kalau gak ada yang belain dia ‘kan. Lagian siapa lagi yang bisa paham perasaan dia sebaik lo? Gue, sih, nggak ngerasa lu berlebihan ya.”

Kaylie diam mengangguk setuju, merasa akhirnya ada yang paham dengan perasaannya.

“Tapi, Kay, karena kita lagi ngomongin ini gue mau nanya sama lu.”

“Apa?”

Tatapan Joy nampak makin serius, “Jujur aja, lo tau ‘kan sebenernya kalau Jeffryan masih suka sama lo?”

Hening panjang melanda. Joy diam menunggu jawaban, sedangkan Kaylie malah berperang dalam pikirannya sendiri.

Entah bagaimana cara Joy membuat tenggorokan Kaylie rasanya tercekik. Bibirnya kelu, tak dapat ia gerakan. Padahal otaknya sudah menginstruksikan pelafalan kata “tidak” seperti biasanya. Namun, kali ini rasanya berbeda, hati Kaylie ragu. Kaylie tak mengetahuinya? Atau selama ini dia berusaha tak mengindahkan perasaan Jeffrryan?

Kaylie menunduk, membuat Joy seketika paham. “Lo tau, tapi ragu.”

“Gue dari SMA udah kenal dia, Joy, menurut gue emang sikap dia dari SMA sampe sekarang nggak berubah. Ya, di otak gue selama ini, emang kayak gitu cara dia care sama temennya.” Raut wajah Kaylie kelihatan frustrasi.

“Ya itu salahnya, Kay. Waktu SMA dia suka ke lo. Kalau sampai sekarang sikap dia nggak berubah, artinya sampai sekarang dia masih suka sama lo! Harusnya kalau dia udah moveon sikap dia berubah, nggak care berlebihan kayak waktu kalian SMA.”

Tembakan Joy tepat sasaran. Peluru tersebut berhasil menembus pikiran Kaylie. Membuka pikiran gadis itu lebih lebar. Akhirnya hati dan pikirannya menyadari, perasaan Jeffyan yang selama ini dipinggirkan.

Kaylie bergerak gusar, ia mengacak rambutnya. Kemudian kepalanya ia jatuhkan di atas meja. “Anjing, lah.”

Joy yang menyaksikan itu hanya menggeleng saja, sembari menikmati minuman pesanannya. “Gimana, ya, Kay. Gue rasa marah cowok lu kemarin itu akumulasi dari semua rasa cemburunya. Masalahnya, gue yang cuman outsider aja sadar kalau perasaan suka Jeffryan itu sering banget bikin keadaan antara kalian jadi canggung. Tapi kalian bertiga malah milih buat tetep temenan, temen deket lagi.”

“Kalau kalian bertiga tetep deket, kejadian kayak gini bakal sering keulang. Jeffryan juga jadi jahat ke Deandoy, karena tau ngerusak suasana tapi tetep ada di antara kalian berdua. Lo juga jahat,” Joy berhenti, menunjuk Kaylie, “Nggak ngehargai cowok lo kalau masih deket Jeffryan padahal tau Doy cemburu.”

Napas Kaylie rasanya tercekat, untuk beberapa detik, kalimat Joy barusan terngiang ngiang di kepalanya.

Bukan hanya Papa Kaylie dan Jeffryan yang tak menghargai Deandoy.

Tapi Kaylie dari awal tak menghargai posisi kekasihnya.

Kaylie mengerang makin kesal. Fakta yang Joy beberkan terlalu pahit untuk Kaylie terima. Terlalu tepat dan cepat, Kaylie tak punya waktu untuk mengelak.

“Tai, lah, makin bete gue tiap lu buka mulut.”

“Sama-sama.” Balas Joy sembari tertawa. Sedangkan Kaylie di hadapnya hanya bisa merenggek sedih menyadari kesalahannya.

Kemarin selama mengurung diri di kamar villa, Kaylie sudah mencoba berdamai. Mencoba memaafkan kesalahan orang lain padanya. Namun, Kaylie lupa, bukan hanya dia yang punya amarah. Ada Jeffyan yang harus menerima sumpah serapah. Ada Deandoy yang Kaylie tinggalkan padahal tengah gundah.

Joy benar, Kaylie jahat. Kalau dari awal dia mau mengakui sikap Jeffryan yang berlebihan, mungkin tak akan ada kejadian kemarin. Mungkin Kaylie yang tak akan menghindar seperti ini. Kaylie tak akan merasa ada sesuatu yang memisahkan mereka. Kalau dari awal Kaylie mengakui, memang harus ada jarak antara dirinya dan Jeffryan.


[1] Snap WhatsApp

[2] Semhas kependekan dari seminar hasil, salah satu tahap proses pengerjaan skripsi.


메타데이터
post_id
ca2e8026266f
slug
fact-check-with-joycelline-ca2e8026266f
url
https://medium.com/@rruthagnes/fact-check-with-joycelline-ca2e8026266f
canonical_url
https://medium.com/@rruthagnes/fact-check-with-joycelline-ca2e8026266f
author_url
https://medium.com/@rruthagnes
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21