Sore yang tak di rencanakan di Taman Lestari
Sore itu, Selasa di awal tahun 2026, langit di Sleman terlihat berbeda. Cahaya matahari masih bertahan lebih lama dari biasanya, tidak…
Sore yang tak di rencanakan di Taman Lestari
Sore itu, Selasa di awal tahun 2026, langit di Sleman terlihat berbeda. Cahaya matahari masih bertahan lebih lama dari biasanya, tidak tergesa-gesa tenggelam. Warna langit perlahan berubah, menciptakan suasana yang jarang kutemui di hari-hari biasa. Udara terasa lebih ringan, dan sore itu seolah memberi isyarat agar aku berhenti sejenak dari rutinitas yang selama ini berjalan tanpa jeda.
Aku yang awalnya hanya berniat diam di kos akhirnya memutuskan keluar. Aku ingin sekadar mencari angin dengan mengendarai motor kesayanganku, dan memberi ruang bagi pikiranku untuk beristirahat. Tidak ada rencana khusus, tidak ada tujuan yang jelas. Aku hanya mengikuti jalan, membiarkan sore itu membawaku ke mana saja. Pikiranku seakan berbisik bahwa aku tidak boleh melewatkan momen langka ini dan harus benar-benar menikmatinya, tanpa tergesa atau beban apa pun. Soalnya, kapan lagi kan? Sore hari disini langitnya sangat bagus?.
Di perjalanan, tanpa tujuan apa pun, aku melewati Taman Lestari (embung di belakang kampus UII). Aku melambat, lalu berpikir sebentar, “ah, apa ke sini aja ya?” Rasanya menarik sih, berhenti sejenak dan menikmati sore di tempat ini, apalagi langit sedang bagus-bagusnya, seperti sayang kalau dilewatkan begitu saja. Aku pun berbelok, memarkir motor, dan mulai melangkah menyusuri taman dengan perasaan yang ringan, seolah memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti sejenak.
Setibanya di sana, aku melihat matahari yang masih menyinari area taman, perlahan bersiap berganti peran dengan bulan. Di sekitarnya berdiri pohon beringin yang kokoh, instalasi menara besi yang menjulang, dan ruang terbuka hijau yang terasa lapang. Angin sore berhembus, membawa suasana yang menenangkan. Awalnya aku mengira tempat ini akan sepi, hanya ruang singgah yang tenang. Namun anggapan itu berubah ketika aku mulai menyusurinya.
Taman itu hidup.
Ada orang-orang yang datang bersama teman, membawa jajanan lalu duduk berkelompok sambil menikmati dan bercanda. Ada yang sibuk membuat video untuk kebutuhan konten atau mungkin untuk tugas, ada yang mengerjakan tugas kelompok, ada pula yang berjalan santai atau berolahraga ringan. Di beberapa sudut, suara roda skateboard bergesekan dengan permukaan taman terdengar jelas, diselingi tawa kecil atau ekspresi kesal saat seseorang terjatuh lalu mencoba lagi. Semua orang tampak menikmati sore dengan caranya masing-masing, tanpa saling mengganggu.
Di tengah suasana itu, aku bertemu seorang teman sejurusanku yang ternyata juga sedang menikmati sore yang terasa jarang. Kami duduk bersama, berbincang tanpa topik berat, hanya membiarkan percakapan mengalir dari hal-hal sederhana. Ia membawa jajanan yang kemudian kami nikmati sambil memperhatikan sekitar. Tidak ada pembahasan penting, namun kehadirannya membuat suasana terasa hangat. Kadang, kebersamaan memang tidak selalu membutuhkan kata-kata besar untuk terasa berarti.
Perhatianku kembali tertuju pada sekelompok orang yang sedang bermain skateboard. Melihat mereka jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi membuatku tertarik. Dulu aku pernah mencoba skateboard, tetapi gagal. Aku masih ingat bagaimana sulitnya menjaga keseimbangan dan bagaimana rasa takut menguasai tubuh. Namun sore itu, melihat keberanian orang-orang asing yang terus mencoba, aku memberanikan diri untuk mencoba kembali.
Ternyata memang tidak mudah. Tubuh harus stabil, pikiran harus tenang, dan rasa ragu harus ditekan. Aku terjatuh, tertawa kecil, lalu mencoba lagi. Bukan soal berhasil atau tidak, tetapi tentang keberanian untuk mengulang sesuatu yang dulu sempat membuatku menyerah. Di momen itu, aku menyadari bahwa mencoba kembali bukan selalu tentang pencapaian, melainkan tentang menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Lebih dari itu, sore itu juga membawaku pada keberanian lain, yaitu untuk berkenalan dengan orang baru. Hal yang sebelumnya kadang kuhindari karena terasa canggung dan menakutkan. Namun di taman itu, semuanya terasa lebih cair. Percakapan sederhana bisa dimulai, candaan kecil bisa muncul, dan rasa asing perlahan memudar. Aku menyadari bahwa tembok yang selama ini kubangun ternyata tidak setebal yang kubayangkan.
Aku meninggalkan taman itu dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena keindahan langit sore, tetapi karena ada keberanian kecil yang tumbuh dalam diriku. Aku tidak hanya menikmati cahaya senja dan keramaian sederhana, tetapi juga meruntuhkan sebagian tembok dalam diriku sendiri. Ternyata rasanya lega. Ternyata menyenangkan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk terbuka.
Saat matahari sudah mulai benar-benar tenggelam dan cahaya mulai meredup, aku pulang dengan langkah yang lebih ringan menuju motorku, lalu mengendarainya pelan sambil menikmati detik-detik akhir sebelum sore itu benar-benar berakhir. Sampai di kos, aku merasa tenang, seperti seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan tugas besar yang selama ini membebani pikirannya. Perjalanannya memang singkat dan tidak pernah masuk rencana, tapi justru di ruang yang biasa itulah aku menemukan sesuatu yang berarti. Kadang, perjalanan tidak perlu jauh cukup berhenti sejenak, memberi diri sendiri kesempatan, dan membiarkan sore mengajarkan keberanian dengan cara yang sederhana.
메타데이터
- post_id
- ca5d7d7a27b0
- slug
- sore-yang-tak-di-rencanakan-di-taman-lestari-ca5d7d7a27b0
- url
- https://medium.com/@rafiavansyahh/sore-yang-tak-di-rencanakan-di-taman-lestari-ca5d7d7a27b0
- canonical_url
- https://medium.com/@rafiavansyahh/sore-yang-tak-di-rencanakan-di-taman-lestari-ca5d7d7a27b0
- author_url
- https://medium.com/@rafiavansyahh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:25:32